Penyebab kaki sering kram saat tidur dan cara mengatasinya

Penyebab kaki sering kram saat tidur dan cara mengatasinya

Jakarta (ANTARA) – Kaki kram saat tidur merupakan kondisi yang kerap dialami, akibat kontraksi otot secara tiba-tiba yang menimbulkan rasa nyeri, terutama pada bagian betis, paha, atau telapak kaki.

Kram kaki saat malam hari atau nocturnal leg cramps dapat membuat seseorang terbangun karena rasa sakit yang muncul secara mendadak. Kondisi ini biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit, kemudian meninggalkan rasa pegal pada area otot yang mengalami kram.

Meski penyebab pastinya belum selalu diketahui, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kaki kram saat tidur, mulai dari kelelahan otot, kurang aktivitas fisik, posisi tidur tertentu, hingga gangguan keseimbangan cairan dan mineral dalam tubuh.

1. Otot mengalami kelelahan

Aktivitas fisik yang berlebihan, seperti olahraga dengan intensitas tinggi atau berdiri dalam waktu lama, dapat membuat otot kaki mengalami kelelahan. Kondisi tersebut dapat memicu kontraksi otot yang tidak terkendali saat tubuh sedang beristirahat.

2. Kurang cairan tubuh

Dehidrasi dapat memengaruhi fungsi otot dan saraf. Ketika tubuh kekurangan cairan, keseimbangan elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium dapat terganggu sehingga meningkatkan risiko terjadinya kram otot.

3. Posisi tidur tertentu

Posisi kaki saat tidur juga dapat menjadi salah satu pemicu. Ketika kaki berada dalam posisi tertentu dalam waktu lama, misalnya telapak kaki menekuk ke bawah, otot betis dapat menjadi tegang dan lebih mudah mengalami kram.

4. Bertambahnya usia

Kram kaki saat tidur lebih sering dialami oleh orang dewasa dan lanjut usia. Hal ini berkaitan dengan perubahan massa otot, fungsi saraf, serta kondisi metabolisme tubuh yang dapat berubah seiring bertambahnya usia.

5. Kondisi kesehatan tertentu

Dalam beberapa kasus, kaki kram yang sering terjadi dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan ginjal, diabetes, gangguan tiroid, anemia, atau masalah saraf. Jika kram terjadi terus-menerus dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis diperlukan.

Cara mengatasi kaki kram saat tidur

Saat kaki mengalami kram secara tiba-tiba, beberapa langkah berikut dapat membantu meredakan rasa nyeri:

  1. Lakukan peregangan otot secara perlahan, terutama dengan menarik jari kaki ke arah tubuh.
  2. Pijat lembut bagian kaki yang mengalami kram agar otot lebih rileks.
  3. Berdiri dan berjalan perlahan untuk membantu mengendurkan otot.
  4. Gunakan kompres hangat untuk membantu meredakan ketegangan otot.
  5. Pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan setiap hari.

Cara mencegah kaki kram saat tidur

Untuk mengurangi risiko kram kaki berulang, beberapa kebiasaan dapat diterapkan, seperti melakukan peregangan kaki sebelum tidur, menjaga asupan cairan, rutin melakukan aktivitas fisik ringan, serta menghindari posisi tidur yang membuat otot kaki terlalu tegang.

Selain itu, penggunaan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas dan menjaga pola hidup sehat juga dapat membantu menjaga kondisi otot tetap baik.

Apabila kram kaki terjadi sangat sering, berlangsung lama, disertai pembengkakan, mati rasa, kelemahan otot, atau perubahan warna kulit, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5675453/penyebab-kaki-sering-kram-saat-tidur-dan-cara-mengatasinya

Sukun Berpotensi Jadi ‘Superfood’, Ini Manfaatnya

Sukun Berpotensi Jadi ‘Superfood’, Ini Manfaatnya

Jakarta, CNN Indonesia — Sukun lebih dikenal sebagai camilan goreng yang kriuk. Tapi di baliknya, ternyata ada banyak manfaat yang bisa didapat.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Profesor Edi Santosa bahkan menyebut, sukun berpotensi menjadi ‘super food’ di masa depan Indonesia.

“Suatu pangan dapat disebut ‘super food’ jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa anutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim,” jelas Edi, melansir detikhealth.

Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, lanjut Edi, sukun memenuhi ketiga kriteria tersebut.

Sukun punya sederet keunggulan ketimbang bahan pangan karbohidrat populer lainnya. Tak cuma kaya serat dan memiliki indeks glikemik rendah, sukun juga menyimpan banyak vitamin dan mineral penting.

Sejumlah riset menunjukkan, sukun mengandung vitamin C, vitamin A, folat, zat besi, hingga zinc. Kesemuanya dinilai krusial dalam mendukung pemenuhan gizi sekaligus membantu menekan angka stunting di Indonesia.

Sukun, lanjut Edi, juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik jika dibandingkan dengan singkong.

“Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi. Jadi, tidak perlu dipertentangkan,” ujar dia.

Pohon tahunan ini juga dikenal tangguh menghadapi cuaca ekstrem. Sukun bisa tumbuh di wilayah bercurah hujan tinggi maupun daerah tandus.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260729184128-262-1386313/sukun-berpotensi-jadi-superfood-ini-manfaatnya

Self-Care Makin Penting untuk Kesehatan, tapi Tetap Butuh Dukungan Sistem Medis

Self-Care Makin Penting untuk Kesehatan, tapi Tetap Butuh Dukungan Sistem Medis

KOMPAS.com – Perawatan kesehatan mandiri atau self-care semakin dipandang sebagai bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, tetapi praktik ini tidak seharusnya berjalan sendiri tanpa dukungan sistem kesehatan formal.

Riset terbaru Economist Enterprise yang didukung Bayer menunjukkan, self-care berpotensi membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus mengurangi beban sistem layanan medis.

Dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Senin (27/7/2026) menyebutkan, praktik self-care diperkirakan dapat memberikan manfaat ekonomi tahunan hingga sekitar 179 miliar dollar AS.

Di tengah tantangan berupa pertambahan populasi lansia, meningkatnya penyakit kronis, kekurangan tenaga medis, serta ketidakmerataan akses layanan kesehatan, self-care dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan.

Namun, riset tersebut menekankan bahwa manfaat self-care baru dapat dirasakan secara maksimal jika masyarakat mendapatkan dukungan yang tepat.

Self-care bukan pengganti layanan kesehatan

Dalam riset tersebut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan self-care secara luas sebagai kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk mengelola kesehatan serta kesejahteraan mereka.

Praktiknya dapat mencakup berbagai hal, mulai dari menjalani pola hidup sehat dan melakukan pencegahan penyakit hingga memanfaatkan perangkat digital, melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri, serta menggunakan obat bebas tanpa resep dokter.

Scientist pada Departemen Kesehatan Seksual, Reproduksi, Maternal, Anak, Remaja, dan Lansia WHO, dr. Manjulaa Narasimhan, mengatakan self-care merupakan bagian penting dalam perawatan kesehatan.

“Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan. Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang,” kata dr. Manjulaa.

Meski demikian, self-care bukan dimaksudkan untuk menggantikan sistem kesehatan formal. Sebaliknya, praktik ini dapat menjadi bagian yang melengkapi layanan kesehatan selama masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang terpercaya, layanan yang terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas.

Dengan dukungan tersebut, self-care dapat membantu memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat pencegahan dan intervensi dini, serta mendorong masyarakat lebih aktif dalam menjaga kesehatannya.

Tiga hal yang dibutuhkan agar self-care efektif

Riset Economist Enterprise juga menyoroti tiga prioritas yang perlu diperhatikan agar self-care dapat menjadi bagian yang lebih efektif dalam sistem kesehatan.

Pertama, komitmen kebijakan perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Setiap negara membutuhkan tata kelola dan pembagian tanggung jawab yang jelas, serta koordinasi antarpemangku kepentingan agar kebijakan tidak berhenti pada pengakuan formal.

Kedua, akses terhadap dukungan yang tepercaya dan merata perlu diperluas. Produk dan layanan yang terjangkau, informasi yang andal, mekanisme pembiayaan yang sesuai, serta dukungan yang relevan dengan kondisi masyarakat menjadi bagian penting dalam penerapan self-care.

Ketiga, sistem kesehatan membutuhkan landasan bukti, pengukuran, dan akuntabilitas yang lebih kuat.

Hal ini diperlukan untuk memantau keamanan, mengukur hasil kesehatan, serta menghasilkan data yang dapat digunakan untuk menentukan arah kebijakan dan investasi.

Di Indonesia, riset tersebut mencontohkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang mempromosikan gaya hidup sehat, sanitasi, edukasi kesehatan mandiri, serta penggunaan obat secara bertanggung jawab di lingkungan sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.

Self-care perlu terhubung dengan jalur rujukan

Director General Global Self-Care Federation, Greg Perry, menegaskan bahwa perawatan mandiri tidak bertujuan memindahkan tanggung jawab sistem kesehatan kepada masyarakat.

“Self-care tidak bertujuan melepaskan tanggung jawab sistem kesehatan. Sebaliknya, produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang dilengkapi oleh informasi akurat justru menciptakan ruang kapasitas bagi jalur rujukan,” ujar Perry.

Dengan demikian, masyarakat tetap dapat memperoleh penanganan medis di fasilitas kesehatan ketika membutuhkan perawatan profesional.

Temuan Economist Enterprise menyimpulkan bahwa dengan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, serta sistem dukungan yang diperkuat, self-care dapat menjadi bagian awal dari sistem kesehatan yang lebih preventif dan proaktif.

Artinya, perawatan kesehatan mandiri tidak hanya tentang keputusan individu untuk menjaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang memastikan masyarakat dapat melakukannya secara aman, terjangkau, dan berdasarkan informasi yang dapat dipercaya.

Sumber : https://health.kompas.com/read/26G27154139268/self-care-makin-penting-untuk-kesehatan-tapi-tetap-butuh-dukungan-sistem-medis

Nyeri Pinggang Bisa Jadi Gejala Batu Saluran Kemih, Kenali Pemicunya

Nyeri Pinggang Bisa Jadi Gejala Batu Saluran Kemih, Kenali Pemicunya

KOMPAS.com – Munculnya batu di batu saluran kemih merupakan salah satu penyakit yang sering diderita orang usia produktif. Penyakit ini bisa menimbulkan gejala nyeri hebat di pinggang dan tetap terasa menusuk meski sudah berganti posisi. Meski jumlah kasusnya terus meningkat, tapi belum banyak orang yang peduli dengan penyakit ini.

Batu saluran kemih adalah massa keras seperti batu yang terletak di sepanjang saluran kemih manusia. Batu ini bisa terbentuk dari proses pembuangan sisa metabolisme yang tidak lancar, sebagai akibat dari kurang minum air putih. Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan mengonsumsi minuman manis.

“Indonesia sebagai negara tropis membuat masyarakat lebih rentan mengalami dehidrasi. Jika asupan cairan kurang, kristal dalam urine lebih mudah mengendap dan lama-kelamaan membentuk batu,” jelas dr. Boyke Budiman Sumantri Sp.U di acara pembukaan Urology & Nephrology Center Bethsaida Hospital Gading Serpong, Tangerang.

Dokter yang menjadi Ketua Urologi dan Neprology Clinic Bethsaida Hospital ini menambahkan, batu saluran kemih termasuk kasus yang paling sering ditemui di praktik dokter urologi.

Penangangan modern batu ginjal dan saluran kemih

Batu saluran kemih yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan sumbatan aliran urine, infeksi, hingga pembengkakan ginjal (hidronefrosis). Menurut dr.Boyke, bila berlangsung lama, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gagal ginjal permanen.

Untuk penanganan batu saluran kemih, Bethsaida Hospital Gading Serpong menyediakan berbagai pilihan tindakan sesuai indikasi medis, meliputi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Ureteroscopy (URS), Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS), Mini Percutaneous Nephrolithotomy (Mini PCNL), hingga pemasangan Double J (DJ) Stent. Sementara itu, penanganan gangguan prostat mencakup terapi medis, biopsi prostat, Transurethral Resection of the Prostate (TURP), hingga Holmium Laser Enucleation of the Prostate (HoLEP).

Ditambahkan dr. Donny Eka Putra, Sp.U., Subsp.TRK(K), penanganan batu saluran kemih akan mempertimbangkan ukuran dan lokasi batu, kondisi anatomi saluran kemih, tingkat sumbatan, hingga kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh.

“Dukungan teknologi seperti Laser Magneto membantu kami bekerja dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, sementara pasien yang membutuhkan rekonstruksi saluran kemih memungkinkan kami menangani kasus yang lebih kompleks, mulai dari penyempitan, cedera, hingga kelainan struktur saluran kemih dalam satu layanan yang berkesinambungan,” katanya.

Selain batu saluran kemih, pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH) juga menjadi penyakit yang banyak dialami pria seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini menyebabkan aliran urine terhambat sehingga penderitanya sering mengeluhkan sulit buang air kecil, pancaran urine melemah, atau merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong.

Deteksi dini kesehatan ginjal

Dari sisi nefrologi atau penyakit ginjal, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH, FINASIM mengingatkan pentingnya melakukan deteksi dini, terutama pada mereka yang memiliki penyakit kronis seperti hipertensi atau diabetes.

“Penyakit ginjal sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan yang khas. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah yang sangat penting untuk mencegah penurunan fungsi ginjal yang lebih berat,” katanya.

Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga seperti kista ginjal, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.

“Pemeriksaan secara berkala sangat penting agar gangguan dapat ditemukan lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi penyakit ginjal kronis,” kata dr.Mutalib.

Sumber : https://health.kompas.com/read/26G30191500568/nyeri-pinggang-bisa-jadi-gejala-batu-saluran-kemih-kenali-pemicunya

6 Biji Tersehat yang Kaya Nutrisi, Ada Biji Labu hingga Chia Seed

6 Biji Tersehat yang Kaya Nutrisi, Ada Biji Labu hingga Chia Seed

Jakarta – Tak hanya jadi camilan, konsumsi biji-bijian seperti chia seed dan kuaci punya banyak manfaat. Ini kandungan nutrisi dan khasiatnya untuk tubuh.

Biji-bijian kecil ternyata menyimpan banyak nutrisi penting untuk tubuh. Mulai dari serat, protein, lemak sehat, hingga senyawa penting yang dibutuhkan tubuh.

Tak hanya jadi taburan makanan, tetapi juga bisa disajikan sebagai pilihan camilan sehat. Beberapa biji juga dikenal sebagai superfood karena punya manfaat kesehatan.

Konsumsinya bisa membantu mendukung kesehatan jantung, pencernaan, hingga daya tahan tubuh. Ada banyak pilihan biji sehat yang bisa dikonsumsi setiap hari.

Dikutip dari Healthline (21/7) berikut beberapa jenis biji-bijian dengan kandungan nutrisi tinggi dan manfaat baik untuk tubuh:

1. Flaxseed

Flaxseed atau biji rami kaya serat dan omega-3 (ALA). Agar omega-3 terserap optimal, sebaiknya konsumsi dalam bentuk bubuk atau biji yang sudah digiling.

Setiap 100 gram flaxseed mengandung 534 kalori, 18 gram protein, dan 27 gram serat. Biji ini juga menyediakan 6,5 gram omega-3 serta 1,7 gram omega-6.

Flaxseed juga mengandung vitamin B1, magnesium, mangan, dan antioksidan lignan. Konsumsi sekitar 2 sdm flaxseed giling per hari diyakini baik untuk kesehatan jantung.

2. Chia Seed

Chia seeds dikenal sebagai biji kaya nutrisi yang mengandung serat dan omega-3. Biji ini juga memiliki kandungan polifenol antioksidan yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas.

Dalam 100 gram chia seeds terkandung 517 kalori, 17 gram protein, vitamin B1 sebanyak 0,5 mg, magnesium 326 mg, dan mangan 7,3 mg.

Kandungan serat dalam chia seeds membantu menjaga kesehatan pencernaan. Omega-3 dan antioksidannya juga berperan mendukung kesehatan jantung serta mengurangi stres oksidatif.

3. Hemp Seed

Masih berasal dari tanaman ramai, hemp seed dijuluki sebgai superfood. Hemp seed kaya protein berkualitas tinggi, lemak sehat omega-6 dan omega-3. Biji ini juga mengandung vitamin E, D, A, serta asam amino esensial.

Dalam 100 gram hemp seeds terkandung sekitar 31,6 gram protein, 48 gram lemak, 4 gram serat, serta berbagai mineral seperti magnesium, fosfor, dan kalium.

Kandungan polifenol dan terpenoid pada hemp seeds memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Nutrisi ini membantu menjaga kesehatan tubuh serta mendukung pola makan seimbang.

4. Biji Wijen

Wijen termasuk biji-bijian kaya nutrisi yang sering diolah menjadi minyak wijen, tahini, hingga susu wijen. Biji kecil ini mengandung lemak sehat, protein, dan antioksidan.

Dalam 100 gram wijen terkandung sekitar 573 kalori, 17 gram protein, 50 gram lemak, 12 gram serat, serta mineral seperti kalsium, magnesium, dan fosfor.

Kandungan sesamin dan sesamol pada wijen memiliki efek antioksidan dan antiperadangan. Nutrisi ini dapat membantu menjaga kesehatan jantung, menurunkan kolesterol, serta mendukung kesehatan kulit.

5. Biji Labu

Biji labu kaya nutrisi seperti serat, lemak sehat, asam amino, dan antioksidan. Biji ini mengandung tokoferol serta karotenoid yang baik untuk tubuh.

Sebanyak 100 gram pumpkin seeds mengandung 559 kalori, protein 30 gram, lemak sehat 49 gram, dan serat 6 gram. Kandungan mineralnya juga cukup melimpah.

Mengonsumsi biji labu dapat membantu menjaga kesehatan jantung, mengontrol gula darah, dan melawan peradangan. Selain itu, juga mendukung pencernaan serta membantu menjaga kesehatan hati.

6. Biji Bunga Matahari

Biji bunga matahari atau yang juga dikenal kuaci kaya protein, lemak tak jenuh, serat, vitamin E, selenium, zinc, dan berbagai mineral. Biji ini sering dijadikan camilan sehat.

Setiap 100 gram sunflower seeds menyimpan 18,9 gram protein dan beragam mineral, seperti 4,37 mg zat besi, 2,65 mg mangan, serta 302 mg magnesium.

Kandungan lemak sehat seperti asam linoleat dan oleat dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Biji ini juga memiliki antioksidan yang mendukung perlindungan sel tubuh.

Sumber : https://food.detik.com/info-sehat/d-8597092/6-biji-tersehat-yang-kaya-nutrisi-ada-biji-labu-hingga-chia-seed

Tak Mau Dikalahkan Usia, Kakek Umur 90 Tahun Masih Kuat Ikut Half Marathon

Tak Mau Dikalahkan Usia, Kakek Umur 90 Tahun Masih Kuat Ikut Half Marathon

Jakarta – Seorang kakek berusia 90 tahun membagikan rutinitas yang dilakukan dalam menjaga kebugarannya. Dia masih kuat menjalani marathon di usia senjanya.

Pria bernama Yul Kwon ini mengikuti BMO Vancouver Half Marathon pada bulan Mei lalu, dengan catatan waktu tiga jam, 50 menit, dan 33 detik. Kebugaran sudah menjadi bagian penting dari hidupnya sejak dia berusia 40-an. Ketika itu, dia mulai bermain tenis, meski harus berhenti setelah mengalami cedera siku.

Dia kemudian mengikuti lomba lari 10 km sebelum akhirnya mencoba half marathon pertamanya sejauh 21 km tiga tahun kemudian. Pada usia 68 tahun, Kwon mengikuti full marathon pertamanya di Brisbane dengan catatan waktu empat jam delapan menit.

Kemudian, pada usia 80 tahun, dia mengikuti lomba lagi dengan catatan waktu empat jam 31 menit. Dia rutin mengikuti marathon hingga tahun 2019 saat COVID-19 menyebar. Setelah perlombaan kembali digelar pada tahun 2022, Kwon fokus pada lari setengah marathon.

Selain mengikuti lomba marathon, apa saja yang dilakukan kakek ini untuk menjaga kesehatannya?

1. Makan Makanan Sehat

Kwon mempertahankan berat badannya di angka 55 kg. Dia menjaga asupan makanan dan lebih menyukai diet Mediterania.

Untuk sarapan, Kwon makan yoghurt dan oatmeal dengan buah beri. Sementara itu, saat makan siang, dia mengonsumsi buah, setengah muffin, dan telur rebus atau salad.

Untuk makan malam, dia memilih salmon, makerel, atau ayam. Dua hingga tiga kali sebulan, dia menyantap masakan Korea seperti kimchi dan sup tahu dengan nasi.

2. Menjaga Waktu Tidur

Tidur sangat penting bagi Kwon. Dia tidur sebelum pukul 23.00 dan memulai harinya pada pukul 06.00.

3. Olahraga setelah Bangun Tidur

Setelah bangun pukul 06.00, Kwon memulai harinya dengan peregangan, kemudian melakukan plank, squat, dan latihan berdiri dengan satu kaki. Setiap dua hari sekali, dia berlari sejauh 10 km.

“Kesehatan adalah yang terpenting, jadi saya memprioritaskan olahraga harian saya,” kata pria Korea-Kanada ini.

Sumber : https://health.detik.com/kebugaran/d-8597341/tak-mau-dikalahkan-usia-kakek-umur-90-tahun-masih-kuat-ikut-half-marathon

Terungkap Lewat Studi, Jenis Kopi Ini Bisa Bikin Awet Muda dan Panjang Umur

Terungkap Lewat Studi, Jenis Kopi Ini Bisa Bikin Awet Muda dan Panjang Umur

Jakarta – Bagi para pencinta kopi, mengawali hari dengan secangkir kopi hangat tentu jadi ritual wajib yang sulit dilewatkan. Berbagai studi sebelumnya sudah membuktikan mengonsumsi kurang dari empat cangkir kopi hitam tanpa gula setiap hari, punya segudang manfaat untuk kesehatan dan bikin panjang umur.
Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal NPJ Science of Food mengungkapkan fakta menarik lainnya. Efek kopi terhadap penuaan tubuh ternyata sangat bergantung pada cara penyajiannya, antara kopi saring (filtered coffee) vs kopi instan.

Kopi Saring Bikin Awet Muda

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data dari hampir 49.500 partisipan yang terdaftar di UK Biobank, dengan rata-rata usia 56,4 tahun. Selain mengisi kuesioner mengenai pola makan dan kebiasaan minum kopi, usia biologis para peserta juga diukur secara ketat.

Sebagai informasi, usia biologis menggambarkan kondisi kerusakan tubuh pada tingkat seluler, berbeda dari usia kronologis (jumlah tahun manusia hidup). Pengukuran ini dilakukan melalui tiga indikator utama:

  • Panjang telomer leukosit relatif (pelindung DNA pada sel).
  • Percepatan PhenoAge atau pengukuran dengan indikator tes darah rutin untuk memperkirakan tingkat penuaan sel, risiko penyakit, dan kesehatan secara keseluruhan.
  • Percepatan usia biologis Metode Klemera-Doubal atau Klemera-Doubal Method (KDM).

Hasilnya, orang-orang yang rutin meminum kopi saring mencatatkan skor percepatan usia biologis yang lebih rendah serta memiliki telomer yang lebih panjang. Dalam dunia medis, indikator ini erat kaitannya dengan proses penuaan yang lebih sehat dan lambat.

Sebaliknya, mereka yang gemar mengonsumsi kopi instan justru menunjukkan skor percepatan usia yang lebih tinggi dan ukuran telomer yang lebih pendek.

“Konsumsi kopi saring berkaitan dengan penurunan risiko penuaan biologis. Sebaliknya, kopi instan justru berhubungan dengan peningkatan risiko percepatan penuaan,” tulis kesimpulan studi tersebut, dikutip dari Huffington Post.

Tips Maksimalkan Manfaat Kopi

Ingin tetap mendapatkan manfaat kesehatan yang maksimal dari secangkir kopi favoritmu? Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

  • Hindari gula tambahan: Meminum kopi tanpa gula atau pemanis buatan adalah kunci utama agar manfaat antioksidannya tidak rusak.
  • Pilih kopi saring: Menggunakan filter atau penyaring saat menyeduh kopi dinilai lebih aman dan berkhasiat bagi kesehatan sel tubuh dibandingkan kopi instan.
  • Waktu minum yang tepat: Menikmati sajian berkafein setelah selesai sarapan diketahui dapat mengoptimalkan manfaat kesehatannya bagi tubuh.

Meskipun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti, tak ada salahnya mulai beralih ke kopi saring untuk menjaga tubuh tetap awet muda.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8597444/terungkap-lewat-studi-jenis-kopi-ini-bisa-bikin-awet-muda-dan-panjang-umur#google_vignette

Bukan Cuma Apa yang Dimakan, Waktu Makan Bisa Pengaruhi Kesehatan Otak

Bukan Cuma Apa yang Dimakan, Waktu Makan Bisa Pengaruhi Kesehatan Otak

Jakarta – Kesehatan otak bisa dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. Namun, ternyata bukan hanya itu, waktu makan juga dapat memengaruhinya.

Penelitian menemukan adanya kaitan potensial antara kesehatan otak dan jadwal makan. Hasilnya menunjukkan bahwa membatasi waktu makan pada jam-jam tertentu setiap hari dapat membantu menjaga kemampuan kognitif tetap baik seiring bertambahnya usia.

Dikutip dari laman New York Post, studi nutrisi dan kognitif dari Rutgers University yang dipresentasikan dalam pertemuan American Society for Nutrition pada Juli 2026 mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan hanya dalam rentang waktu 8-9 jam per hari serta berhenti makan sekitar empat jam sebelum tidur berpotensi meningkatkan fungsi kognitif pada orang dewasa yang lebih tua.

Penelitian ini melibatkan 47 perempuan berusia 50-79 tahun dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang mengikuti program penurunan berat badan selama enam bulan.

Seluruh peserta diminta mengurangi asupan energi harian sebanyak 500 kalori. Namun, sebanyak 26 peserta juga diminta menghabiskan seluruh makanan mereka dalam waktu maksimal sembilan jam setiap hari, sedangkan peserta lainnya tetap makan seperti biasa dalam rentang sekitar 12 jam.

Kelompok yang menjalani pembatasan waktu makan umumnya makan mulai pukul 10.00 hingga 18.00, atau sekitar delapan jam setiap hari. Sementara itu, kelompok pembanding menghabiskan waktu makan rata-rata selama 12 jam.

Setelah enam bulan, kedua kelompok mengalami penurunan berat badan yang hampir sama, yakni sekitar 15 pon atau 6,8 kg. Meski demikian, peserta yang menerapkan pola makan dalam jendela waktu delapan jam memperoleh hasil lebih baik pada tes yang mengukur kemampuan perencanaan spasial dan pemecahan masalah.

Selain itu, kelompok dengan pembatasan waktu makan juga melakukan lebih sedikit kesalahan pada tes yang menilai kemampuan memori dan proses belajar.

Obesitas diketahui menjadi salah satu faktor risiko penurunan fungsi kognitif karena kelebihan jaringan lemak dapat memicu peradangan yang berpotensi merusak otak. Oleh karena itu, menurunkan berat badan memang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak.

“Menurunkan berat badan saja akan mencegah sebagian penurunan kognitif yang berkaitan dengan penuaan,” kata peneliti utama studi, Sue Shapses.

Namun, karena kedua kelompok kehilangan berat badan dalam jumlah yang serupa tetapi menunjukkan hasil tes kognitif yang berbeda, para peneliti menduga bahwa pembatasan waktu makan menjadi faktor yang berperan dalam perbedaan tersebut.

“Hasil ini menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengingat informasi saat menjalankan aktivitas sehari-hari serta mengurangi kesalahan yang berkaitan dengan memori, perhatian, dan pemecahan masalah,” kata Shapses.

Meski demikian, penelitian ini masih berskala kecil. Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan apakah manfaat terhadap fungsi kognitif juga berlaku pada populasi yang lebih luas, sekaligus menjelaskan mekanisme yang membuat waktu makan dapat memengaruhi kesehatan otak.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8597445/bukan-cuma-apa-yang-dimakan-waktu-makan-bisa-pengaruhi-kesehatan-otak

Asbes Masih Banyak Digunakan, Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?

Asbes Masih Banyak Digunakan, Apa Bahayanya Bagi Kesehatan?

Asbes telah lama digunakan sebagai bahan bangunan karena relatif murah, kuat, dan tahan panas. Di Indonesia, bahan ini masih dapat ditemukan pada atap, plafon, pipa, sekolah, rumah, gudang, dan bangunan industri. Karena penggunaannya begitu umum, sebagian masyarakat menganggap asbes aman.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (IARC) menyatakan bahwa semua jenis asbes dapat menyebabkan kanker pada manusia. WHO juga memperkirakan lebih dari 200.000 kematian setiap tahun berkaitan dengan pajanan asbes di tempat kerja. Bahaya asbes sering tidak disadari karena gangguan kesehatan dapat baru terlihat bertahun-tahun setelah pajanan.

Karena itu, masyarakat dan pekerja perlu mengetahui kapan asbes dapat melepaskan serat berbahaya, siapa yang paling berisiko, serta langkah pencegahan yang perlu dilakukan.

Apa itu Asbes?

Asbes adalah kelompok mineral alami yang tersusun atas serat-serat sangat halus dan kuat. Sifatnya yang tahan panas, api, dan bahan kimia membuat asbes dahulu banyak digunakan pada atap, plafon, pipa, bahan isolasi, serta berbagai produk industri.

Bahan yang mengandung asbes dapat melepaskan serat ketika rusak, lapuk, dipotong, dibor, diamplas, dipecahkan, atau dibongkar. Serat tersebut sangat kecil sehingga tidak terlihat oleh mata dan dapat melayang di udara lalu terhirup. Karena itu, material yang diduga mengandung asbes tidak boleh ditangani sembarangan.

Siapa yang Berisiko?

Risiko terbesar terdapat pada orang yang bekerja langsung dengan bahan mengandung asbes atau berada di lokasi yang menghasilkan debu asbes. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain:

  • Pekerja konstruksi yang memasang, memotong, mengebor, atau membongkar material bangunan.

  • Pekerja renovasi, pembongkaran, dan pemeliharaan gedung, terutama pada bangunan lama.

  • Pekerja pabrik yang memproduksi atau mengolah lembaran atap, plafon, pipa, atau produk lain yang mengandung asbes.

  • Pekerja galangan kapal, industri otomotif, dan industri lain yang masih memiliki bahan isolasi atau komponen lama berbahan asbes.

  • Anggota keluarga pekerja yang dapat terpajan debu dari pakaian, sepatu, atau peralatan kerja yang dibawa pulang.

  • Masyarakat di sekitar bangunan rusak atau kegiatan pembongkaran yang tidak dikendalikan dengan baik.

Besarnya risiko dipengaruhi oleh jumlah serat yang terhirup, seberapa sering dan lama pajanan terjadi, serta mutu pengendalian di tempat kerja. Tidak semua orang yang terpajan akan mengalami penyakit, tetapi risiko meningkat seiring bertambahnya pajanan.

Mengapa Asbes Berbahaya?

Ketika terhirup, serat asbes dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sulit dikeluarkan oleh tubuh. Serat yang menetap dapat memicu peradangan dan kerusakan jaringan dalam jangka panjang.

Dampaknya tidak selalu langsung terasa. Penyakit akibat asbes umumnya memiliki masa laten yang panjang dan dapat baru muncul 10-40 tahun atau lebih setelah pajanan pertama. Inilah sebabnya seseorang dapat merasa sehat saat ini, meskipun pernah terpajan bertahun-tahun sebelumnya.

Apa Dampak pajanan Asbes terhadap Kesehatan?

pajanan asbes terutama dapat merusak paru-paru dan selaput paru. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan asbes meliputi:

  1. Asbestosis

Asbestosis adalah gangguan paru yang akibat penumpukan debu yang mengandung serat asbes terperangkap di dalam kantong udara dalam paru-paru (alveoli) dan membentuk jaringan parut, sehingga paru-paru menjadi kaku.  Keluhannya dapat berupa sesak napas yang makin berat, batuk menetap, dan mudah lelah. Kerusakan yang sudah terjadi umumnya tidak dapat pulih sepenuhnya.

  1. Kanker paru

Asbes meningkatkan risiko kanker paru. Risiko menjadi jauh lebih tinggi pada orang yang terpajan asbes dan juga merokok. .

  1. Mesothelioma

Kanker ganas yang paling sering menyerang selaput paru (pleura). Kanker ini jarang, tetapi memiliki hubungan yang kuat dengan pajanan asbes.

Karena penyakit-penyakit tersebut dapat berkembang perlahan, pencegahan pajanan jauh lebih penting daripada menunggu munculnya keluhan.

Kapan Harus ke Dokter?

Orang yang pernah atau masih bekerja dengan bahan mengandung asbes perlu memperhatikan perubahan pada pernapasan. Periksakan diri ke dokter apabila mengalami:

  • Batuk yang menetap atau tidak membaik.
  • Sesak napas, terutama jika semakin berat saat beraktivitas.
  • Nyeri dada yang tidak diketahui penyebabnya.
  • Batuk berdarah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Keluhan pernapasan disertai riwayat pajanan asbes.

Riwayat pekerjaan sangat penting untuk disampaikan kepada dokter, termasuk jenis pekerjaan, lama bekerja, dan aktivitas yang mungkin menghasilkan debu asbes. Pekerja yang masih berisiko juga perlu mengikuti pemeriksaan kesehatan berkala melalui program kesehatan kerja, meskipun belum memiliki keluhan.

Bagaimana Mencegah pajanan Asbes?

Pencegahan berfokus pada mencegah serat asbes terlepas dan terhirup. Untuk masyarakat maupun pekerja, langkah yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Hindari merusak bahan yang mengandung asbes

Hindari memotong, mengebor, mengamplas, atau memecahkan bahan yang diduga mengandung asbes tanpa prosedur yang aman. Kegiatan tersebut dapat melepaskan serat asbes ke udara sehingga mudah terhirup.

  1. Gunakan metode kerja yang aman

Apabila harus menangani bahan yang mengandung asbes, lakukan dengan cara yang dapat mengurangi terbentuknya debu, misalnya membasahi permukaan terlebih dahulu dan menghindari penggunaan alat yang menghasilkan banyak debu.

  1. Gunakan alat pelindung diri yang sesuai

Pekerja yang berisiko terpajan perlu menggunakan alat pelindung diri yang sesuai, terutama respirator partikulat yang memenuhi standar. Penggunaan masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap serat asbes.

  1. Jaga kebersihan diri setelah bekerja

Setelah selesai bekerja, cuci tangan dan mandi bila memungkinkan serta ganti pakaian kerja sebelum pulang. Langkah ini membantu mencegah serat asbes terbawa ke rumah dan mengurangi risiko pajanan bagi anggota keluarga.

  1. Jangan membuang limbah asbes sembarangan

Bahan atau limbah yang mengandung asbes harus ditangani dan dibuang sesuai dengan peraturan yang berlaku agar tidak mencemari lingkungan dan membahayakan masyarakat di sekitarnya.

  1. Ikuti pemeriksaan kesehatan berkala

Bagi pekerja yang berisiko terpajan asbes, pemeriksaan kesehatan berkala penting dilakukan sebagai bagian dari program kesehatan kerja untuk membantu mendeteksi gangguan kesehatan sedini mungkin.

Mencegah pajanan jauh lebih baik daripada mengobati penyakit akibat asbes. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten, risiko gangguan kesehatan akibat pajanan asbes dapat dikurangi.

Peran Tempat Kerja

Tempat kerja memiliki peran penting dalam melindungi pekerja dari bahaya pajanan asbes. Upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan penggunaan alat pelindung diri, tetapi harus dimulai dengan mengurangi atau mengendalikan sumber pajanan di lingkungan kerja.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh tempat kerja antara lain:

  • Mengidentifikasi bahan yang mengandung asbes, terutama pada bangunan atau peralatan lama, sehingga dapat dilakukan penanganan yang aman.

  • Mengurangi pelepasan debu asbes, misalnya dengan menerapkan metode kerja yang aman, menggunakan ventilasi atau sistem penyedot debu yang sesuai, serta menghindari cara kerja yang menghasilkan banyak debu.

  • Menyediakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai, seperti respirator partikulat, serta memastikan pekerja mengetahui cara menggunakan, melepas, dan merawat APD dengan benar.

  • Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai bahaya asbes, cara kerja yang aman, serta prosedur penanganan dan pembuangan limbah yang benar.

  • Menyediakan fasilitas kebersihan, seperti ruang ganti, tempat mencuci tangan, dan bila memungkinkan fasilitas mandi, agar serat asbes tidak terbawa pulang melalui pakaian atau peralatan kerja.

  • Melaksanakan pemantauan lingkungan dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi pekerja yang berisiko terpajan sesuai dengan program kesehatan kerja dan ketentuan yang berlaku.

Dengan menerapkan pengendalian risiko secara menyeluruh, tempat kerja dapat mengurangi pajanan asbes dan melindungi kesehatan pekerja, sekaligus mencegah dampak terhadap keluarga dan lingkungan sekitar.

Sumber : https://ayosehat.kemkes.go.id/asbes-masih-banyak-digunakan-apa-bahayanya-bagi-kesehatan

Waspada DBD di Musim Kemarau: Cuaca Panas Bukan Berarti Bebas Nyamuk

Waspada DBD di Musim Kemarau: Cuaca Panas Bukan Berarti Bebas Nyamuk

Banyak orang mengira Demam Berdarah Dengue (DBD) hanya meningkat saat musim hujan. Padahal, memasuki musim kemarau, risiko DBD tetap perlu diwaspadai. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa nyamuk akan lebih sering menggigit ketika suhu meningkat, sehingga musim kemarau justru dapat meningkatkan potensi kasus DBD. Sementara itu, genangan air di bak mandi, ember, talang air, hingga barang bekas masih menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD.

Apa Itu DBD dan Bagaimana Gejalanya?

DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejala yang umum muncul antara lain:

  • Demam tinggi mendadak.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Nyeri di belakang mata.
  • Mual dan muntah.
  • Ruam kemerahan.
  • Perdarahan pada kondisi yang lebih berat.

Apabila mengalami demam tinggi selama 2–3 hari disertai gejala tersebut, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Data DBD di Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga minggu ke-17 tahun 2024 tercatat 88.593 kasus DBD dengan 621 kasus kematian di Indonesia. Angka ini mencakup 456 kabupaten/kota di 34 provinsi, dengan kematian terjadi di 174 kabupaten/kota di 28 provinsi. Data ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman kesehatan yang nyata dan memerlukan kewaspadaan sepanjang tahun.

Cara Mencegah DBD dengan 3M Plus

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan masyarakat untuk menerapkan 3M Plus sebagai langkah pencegahan utama DBD:

  • Menguras tempat penampungan air secara rutin.
  • Menutup rapat tempat penyimpanan air.
  • Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air.
  • Plus: menggunakan lotion antinyamuk, memasang kawat kasa atau kelambu, menghindari menggantung pakaian terlalu lama, serta melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala.

Selain 3M Plus, Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa vaksin DBD kini sudah tersedia dan telah mendapatkan persetujuan dari BPOM sebagai salah satu upaya perlindungan tambahan. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk informasi lebih lanjut mengenai vaksinasi DBD.

Komitmen Nasional Pengendalian DBD

Sebagai bagian dari upaya jangka panjang, Indonesia bersama WHO telah meluncurkan Strategi Nasional Pengendalian Dengue 2021–2025. Strategi ini mencakup enam pendekatan utama, mulai dari penguatan pengelolaan vektor nyamuk, peningkatan tata laksana kasus, hingga pengembangan inovasi dan riset berbasis bukti untuk menekan beban penyakit dengue di Indonesia.

Musim kemarau bukan berarti bebas dari ancaman DBD. Dengan menerapkan 3M Plus secara konsisten dan meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala awal, kita dapat melindungi diri dan keluarga dari penyakit ini sepanjang tahun.

Sumber : https://www.biofarma.co.id/id/announcement/detail/waspada-dbd-di-musim-kemarau-cuaca-panas-bukan-berarti-bebas-nyamuk