Sumber : https://www.islamedia.id/2011/11/belajar-pada-kehidupan-sang-daun.html
Islam
Di Balik Mesin Penggiling Daging Ada Titik Rawan Haram, Perhatikan Catatan Berikut
Jakarta, MUI Digital – Kehalalan produk olahan daging tidak hanya ditentukan oleh jenis hewan dan proses penyembelihannya. Proses penggilingan daging menggunakan mesin juga menjadi salah satu titik kritis yang dapat menentukan status halal suatu produk.
Dikutip dari Jurnal Halal LPPOM pada Rabu (15/7/2026). Hal tersebut disampaikan Rina Maulidiyah, STP, dalam artikel bertajuk Jejak Halal di Balik Mesin Penggiling Daging.
Ia menjelaskan bahwa mesin penggiling daging yang tampak bersih belum tentu memenuhi ketentuan syariat apabila sebelumnya digunakan untuk menggiling bahan haram, seperti daging babi, tanpa proses penyucian yang sesuai.
“Mesin penggiling dapat menjadi penentu status kehalalan produk. Kontaminasi yang tidak terlihat sekalipun dapat menyebabkan produk yang semula halal berubah menjadi tidak halal,” tulisnya.
Rina menjelaskan, mesin penggiling daging digunakan mulai dari skala rumah tangga hingga industri besar.
Untuk kebutuhan rumahan umumnya digunakan blender atau food processor, sedangkan industri menggunakan meat grinder dan bowl cutter yang mampu menghasilkan adonan daging dalam jumlah besar dengan tingkat kehalusan yang tinggi.
Menurutnya, dalam perspektif halal, kebersihan peralatan tidak cukup hanya dilihat secara fisik. Apabila mesin pernah bersentuhan dengan bahan haram atau najis, maka proses penyuciannya harus mengikuti ketentuan syariat Islam.
Dalam kasus najis mughallazah seperti babi dan turunannya, proses penyucian dilakukan melalui sertu, yakni pencucian sebanyak tujuh kali, dengan salah satu tahap menggunakan tanah suci atau bahan lain yang memiliki daya pembersih setara sesuai ketentuan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mewajibkan penerapan Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH) pada proses penggilingan daging guna memastikan seluruh tahapan produksi memenuhi standar halal.
Terdapat sejumlah persyaratan penting yang harus dipenuhi pelaku usaha jasa penggilingan. Pertama, seluruh bahan baku daging wajib berasal dari pemasok yang telah memiliki sertifikat halal dan dapat diverifikasi sebelum diproses.
Kedua, mesin penggiling harus dikhususkan untuk bahan halal (halal dedicated). Apabila sebelumnya digunakan untuk menggiling bahan nonhalal, maka seluruh jalur produksi wajib melalui proses penyucian sesuai ketentuan syariat sebelum kembali digunakan.
Setelah disertifikasi halal, mesin tersebut tidak diperkenankan lagi menangani produk berbahan babi.
Selain itu, pelaku usaha diwajibkan memiliki prosedur pembersihan yang terdokumentasi dengan baik. Mesin harus dibongkar, dibersihkan menggunakan bahan pencuci yang bebas najis, kemudian dilakukan validasi untuk memastikan tidak ada sisa kontaminasi.
Apabila menggunakan metode swab test, media pengujian juga harus dipastikan tidak berasal dari unsur babi.
Seluruh aktivitas pembersihan tersebut harus dicatat sebagai bagian dari implementasi SJPH, mulai dari frekuensi pembersihan, metode yang digunakan, bahan pencuci, hingga petugas yang bertanggung jawab.
Meski regulasi telah tersedia, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di Yogyakarta, masih ditemukan jasa penggilingan daging yang bersedia menggiling daging babi menggunakan mesin yang sama dengan daging halal.
Kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya pemahaman sebagian pelaku usaha terhadap pentingnya sertifikasi halal, terutama di sektor usaha mikro dan kecil.
Banyak pelaku usaha yang masih menganggap kehalalan sepenuhnya menjadi tanggung jawab konsumen, bukan penyedia jasa.
Di samping itu, biaya sertifikasi, proses administrasi, hingga keterbatasan kemampuan menelusuri asal-usul bahan baku (traceability) menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan standar halal.
Aspek teknis juga menjadi perhatian. Sebagian mesin penggiling masih menggunakan material besi cor yang sulit dibersihkan dan berpotensi menyerap lemak. Penggunaan satu mesin untuk berbagai jenis daging tanpa prosedur pembersihan yang benar meningkatkan risiko kontaminasi silang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Rina mendorong adanya edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan kepada pelaku usaha.
Pemerintah, lembaga sertifikasi halal, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dinilai perlu memperluas pelatihan sekaligus memberikan kemudahan pembiayaan sertifikasi halal bagi UMKM.
Ia juga menyoroti pentingnya penggunaan mesin berbahan stainless steel food grade SS 304 yang lebih higienis, tahan karat, dan lebih mudah dibersihkan dibandingkan besi cor.
Sejumlah penelitian turut mendukung pentingnya prosedur pembersihan mesin secara menyeluruh. Penelitian Sunjung Chung dan Rosalee S Hellberg yang dipublikasikan dalam jurnal Food Control (2023) menyebutkan bahwa kontaminasi silang pada produk daging giling dapat dicegah apabila mesin dibersihkan sesuai prosedur yang benar.
Sementara itu, Food and Agriculture Organization (FAO) juga telah menerbitkan panduan teknis mengenai sanitasi peralatan penggilingan daging bagi industri kecil dan menengah.
Rina menegaskan kehalalan bukan sekadar label pada kemasan, melainkan hasil dari proses produksi yang dilakukan secara konsisten dan bertanggung jawab sejak bahan baku, penggunaan peralatan, hingga distribusi produk.
Ia mengajak masyarakat untuk lebih cermat memilih produk maupun jasa penggilingan daging yang telah menerapkan Sistem Jaminan Produk Halal. Status sertifikasi halal dapat dicek melalui layanan resmi BPJPH maupun LPPOM.
“Memastikan kehalalan bukan hanya hak konsumen, tetapi juga tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” tutupnya.
Mengubah Keringat Menjadi Pahala: Niatkan Olahraga untuk Ibadah
Kediri – Bagi sebagian besar orang, olahraga adalah sarana untuk menurunkan berat badan, membentuk otot, menjaga penampilan, atau sekadar menjaga stamina agar tidak mudah lelah. Tentu saja, tujuan-tujuan tersebut tidak salah. Namun, pernahkah kita berpikir untuk membawa aktivitas fisik ini ke level yang lebih tinggi?
Sebagai seorang Muslim, olahraga sebenarnya bisa bernilai jauh lebih mulia dari sekadar urusan fisik. Tujuan utamanya adalah sebagai bentuk syukur dalam rangka menjaga nikmat besar yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan kepada kita: yaitu nikmat kesehatan dan kesempurnaan tubuh agar kita bisa lebih semangat beribadah.
Menjadi “Bahan Bakar” untuk Beribadah
Bayangkan saat Anda sedang melakukan easy run (lari santai) sejauh 3 kilometer di pagi hari. Jika niatnya diubah, setiap langkah kaki kita bukan lagi sekadar membakar kalori, melainkan sarana agar ke depannya kita lebih mudah melangkahkan kaki menuju masjid, untuk umroh, maupun untuk ibadah Haji.
Tubuh yang bugar dan terlatih akan membuat kita lebih kuat untuk salat dan lebih kokoh untuk sujud. Dengan menata niat seperti ini, setiap tetesan keringat saat berolahraga akan langsung mendulang pahala dan menjadi bernilai ibadah di sisi Allah.
Stamina untuk Menjemput Nafkah yang Halal
Selain untuk ibadah ritual, kesehatan yang kita jaga melalui olahraga juga berfungsi sebagai modal utama untuk mencari nafkah. Tubuh yang kuat dan tidak sekadar kuat fisik akan membuat kita lebih bersemangat dalam bekerja menjemput rezeki yang halal untuk keluarga.
Bagi seorang laki-laki, bekerja mencari nafkah yang halal bukanlah tugas biasa—itu adalah termasuk bagian dari jihadnya seorang laki-laki. Maka, olahraga yang kita lakukan untuk mendukung stamina kerja secara tidak langsung menjadi bagian dari persiapan tersebut.
Kesimpulan
Oleh karena itu jamaah sekalian para ikhwan, ketika kita berolahraga maka niatkan bukan cuman sekedar sehat belaka, bukan sekedar kuat belaka. Jadi jadikan ini sebagai sarana untuk lebih kuat beribadah, maka lari kita akan mendulang pahala, maka lari kita akan menjadi bernilai ibadah Insya Allah.
Sumber Materi / Narasumber:
Ustadz Abû Salmâ Muhammad
Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman
Jakarta, MUI Digital — Pada sekitar akhir bulan Juni 2026, publik dikagetkan dengan dugaan sebuah peristiwa intimidasi yang membuat seorang tenaga medis di Nusa Tenggara Timur (NTT) tertekan dan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri.
Peristiwa intimidasi berawal dari pertolongan medis terhadap pasien yang terkena gigitan ular. Diduga dokter yang menangani pasien kurang memberikan penanganan yang maksimal. Tapi hal ini dibantah oleh pihak rumah sakit dan ditegaskan bahwa penanganannya telah sesuai SOP.
Intimidasi menjadi ramai dan pemberitaannya luar biasa viral karena diduga melibatkan anggota legislatif daerah yang terhormat, yang seharusnya berjuang bersama rakyat dalam membenahi berbagai ketimpangan sosial dan persoalan tata kelola daerah, termasuk tata kelola di dunia kesehatan.
Ternyata belakangan terbukti, pasien telah sembuh. Sementara intimidasi yang terlanjur dilakukan telah membuat hidup seorang dokter tertekan dan bahkan merenggut nyawanya. Sungguh ironis.
Memang sekarang ini sejatinya kita hidup di zaman ketika orang merasa bebas berbicara apa saja, tanpa sadar bahwa kata-kata bisa lebih melukai daripada luka fisik. Intimidasi, ejekan, sindiran tajam, bahkan ujaran kebencian kini sering dianggap “hal biasa”.
Di media sosial, di tempat kerja, di rumah tangga, bahkan di mimbar-mimbar yang seharusnya menenangkan, lisan sering berubah menjadi alat kekerasan.
Ironisnya, banyak yang merasa tidak bersalah. “Saya kan cuma ngomong,” begitu dalih yang kerap terdengar. Padahal, dalam pandangan Islam, “cuma kata-kata” justru bisa menjadi sumber kezaliman yang paling berbahaya.
Alquran sejak awal telah mengingatkan dengan tegas: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11). Ayat ini bukan sekadar etika sosial, tetapi peringatan spiritual: merendahkan orang lain sejatinya adalah cermin dari kerendahan diri sendiri.
Lebih jauh lagi, Allah memerintahkan: “Katakanlah perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isra’: 53). Menariknya, para ulama seperti Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini bukan hanya sebagai anjuran berkata baik, tetapi larangan keras terhadap segala ucapan yang berpotensi melukai.
Rasulullah SAW bahkan menempatkan lisan sebagai indikator utama kualitas keislaman seseorang: “Seorang muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis ini, lisan disebut lebih dulu daripada tangan, seakan memberi pesan bahwa kekerasan verbal sering menjadi pintu awal segala bentuk kezaliman.
Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Kita menyaksikan budaya komunikasi yang semakin kasar. Di media sosial, orang berlomba-lomba menjadi paling pedas. Di dunia kerja, sebagian pemimpin merasa wajar merendahkan bawahan demi “kedisiplinan”. Di rumah, kata-kata kasar kerap dianggap bagian dari “mendidik”.
Padahal, psikologi modern telah lama menegaskan bahwa kekerasan verbal dapat meninggalkan luka yang dalam, trauma, hilangnya rasa percaya diri, bahkan depresi. Luka ini tidak terlihat, tetapi menetap. Tidak berdarah, tetapi membekas.
Islam jauh lebih dahulu memahami ini. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa dosa lisan, seperti menghina, mencela, atau mempermalukan, semua bersumber dari penyakit hati, antara lain kesombongan, iri, dan kemarahan yang tak terkendali. Lisan hanyalah pintu keluar sementara, tetapi sumbernya ada di dalam jiwa.
Sementara Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa menyakiti orang lain tanpa hak, baik dengan tangan maupun ucapan, adalah bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada “kata-kata yang sepele” dalam timbangan Allah.
Di era digital, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Ujaran kebencian tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu. Satu kalimat bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik. Yusuf al-Qaradawi menyebut fenomena ini sebagai bentuk baru kezaliman yaitu kekerasan verbal yang terakumulasi dan meluas tanpa kontrol.
Yang lebih mengkhawatirkan, intimidasi kini juga sering tampil dalam bentuk yang halus. Bukan lagi bentakan, tetapi tekanan psikologis. Bukan lagi hinaan langsung, tetapi sindiran yang merendahkan. Bukan lagi ancaman terbuka, tetapi pembungkaman dengan kekuasaan. Semua ini tetaplah kezaliman, meski dibungkus dengan bahasa yang tampak “sopan”.
Di sinilah Islam menawarkan jalan yang sederhana namun mendasar, yaitu mengendalikan lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari). Ini bukan sekadar etika, tetapi disiplin spiritual.
Berbicara dalam Islam bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal dampak. Apakah kata-kata kita menyembuhkan atau melukai? Menguatkan atau meruntuhkan? Mendekatkan atau menjauhkan?
Kita mungkin tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkata kasar. Tetapi kita bisa memutus rantai itu dari diri sendiri. Karena perubahan budaya selalu dimulai dari kesadaran individu.
Lisan adalah amanah. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya justru menyeret ke dalam kehancuran.
Dalam dunia yang semakin bising dan hiruk-pikuk oleh kata-kata, barangkali yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak suara, tetapi lebih banyak kesadaran. Sebab bisa jadi, satu kalimat yang kita anggap biasa adalah luka yang tak pernah sembuh bagi orang lain.
Sumber : https://mui.or.id/baca/opini/intimidasi-dan-kekerasan-verbal-antara-lisan-dan-kezaliman
Hanya Nabi Sulaiman yang Mengerti Bahasa Semut
Nabi Sulaiman dikenal sebagai salah satu nabi yang diberkahi dengan berbagai mukjizat oleh Allah SWT, salah satunya adalah kemampuannya untuk memahami bahasa hewan. Kisah tentang Sulaiman dan semut yang diceritakan dalam Al-Qur’an adalah salah satu kisah yang mengilustrasikan kebijaksanaan dan kemurahan hatinya.
Dalam perjalanan bersama tentaranya, Nabi Sulaiman dan pasukannya sampai di sebuah lembah yang dipenuhi oleh semut. Ketika mereka mendekati lembah tersebut, Ratu Semut yang memimpin koloni melihat kedatangan rombongan Nabi Sulaiman dan segera memberikan peringatan kepada koloni semut lainnya.
Perkataan semut ini diabadikan dalam QS. An-Naml ayat 18:
حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوْا۟ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌۭ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمْلُ ٱدْخُلُوا۟ مَسَـٰكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَـٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ [٢٧:١٨]
“Ketika mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml 18).
Perluasan ayat ini menarik karena seorang ulama besar, Abu Hanifah, ditanya oleh seseorang tentang jenis kelamin semut yang berbicara tersebut. Dalam kitab Madārik at-Tanzīl wa-Ḥaqāʾiq at-Taʾwīl karya Abū al-Barakāt an-Nasafī, Abu Hanifah menjawab bahwa semut itu adalah betina, dengan alasan bahwa Al-Qur’an menggunakan kata “قالت” yang berarti “dia berkata” untuk perempuan. Jika semut tersebut adalah jantan, maka akan digunakan kata “قال” yang berarti “dia berkata” untuk laki-laki.
Karenanya dapat diasumsikan bahwa semut yang berkata itu ialah ratu koloni. Pengetahuan ini menunjukkan betapa detailnya bahasa Al-Qur’an dan bagaimana setiap kata memiliki makna dan konteks yang tepat.
Kembali ke kisah Nabi Sulaiman, mendengar peringatan dari semut tersebut, Nabi Sulaiman tersenyum dan merasa bersyukur atas anugerah kemampuan yang diberikan Allah kepadanya untuk memahami bahasa semut. Dia kemudian memastikan bahwa pasukannya tidak akan membahayakan koloni semut tersebut. Ini menunjukkan betapa bijaksananya Nabi Sulaiman dalam memimpin dan betapa besarnya rasa tanggung jawabnya untuk melindungi semua makhluk, sekecil apapun mereka.
Peristiwa ini diabadikan dalam QS. An-Naml ayat 19:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًۭا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّـٰلِحِينَ [٢٧:١٩]
“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS. An-Naml: 19).
Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting, di antaranya:
Pertama, kepemimpinan yang bijaksana adalah yang memperhatikan kesejahteraan semua makhluk, bukan hanya manusia. Kedua, pentingnya berkomunikasi dan memberi peringatan dalam menghadapi bahaya. Dan ketiga, kebijaksanaan dan pengetahuan adalah anugerah yang harus digunakan untuk kebaikan dan perlindungan bagi semua makhluk hidup.
Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2024/06/mukjizat-nabi-sulaiman-berbicara-dengan-binatang/
7 Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemberat Timbangan Amal, Ringan tapi Berpahala Besar
Liputan6.com, Jakarta – Dalam Islam, nilai pahala tak hanya dilihat dari besarnya amalan atau banyaknya ibadah tersebut. Terdapat berbagai kebiasaan kecil yang menjadi pemberat timbangan amal yang dapat dilakukan secara rutin sehari-hari.
Meski ringan, kebiasaan kecil ini bisa menjadi penentu nasib seseorang pada Yaumul Mizan, hari ketika seluruh amal perbuatan manusia ditimbang dengan keadilan yang sempurna. Allah berfirman: ” Kami akan meletakkan timbangan (amal) yang tepat pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun dirugikan walaupun sedikit. Sekalipun (amal itu) hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47).
Pada hari yang mencekam itu, setiap perbuatan, sebesar gunung atau sekecil debu, akan dipertaruhkan. Di sanalah, kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap sepele justru bisa menjadi penentu antara keselamatan dan kebinasaan.
Abdullah Hamud al-Furaih dalam kitabnya Hadiah Indah: Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari menegaskan bahwa sunnah adalah “hadiah” dari Allah untuk umat ini, karena padanya terkandung berlipat pahala yang tidak Allah karuniakan kepada umat-umat terdahulu.
Lalu, kebiasaan-kebiasaan kecil apa sajakah yang dapat menjadi pemberat timbangan amal kita kelak? Berikut pemaparannya.
1. Dzikir: Dua Kalimat yang Ringan di Lisan, Berat di Timbangan
Dzikir adalah amalan yang paling ringan di lisan namun paling berat di timbangan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘azhim (Mahasuci Allah dan segala pujian bagi-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung).” (HR. Bukhari, no. 6682 dan Muslim, no. 2694).
Ibnu Hajar as-Qalani dalam Muqaddimah Kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa maksud “berat di timbangan” dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah SWT
Imam An-Nawawi juga menukil hadits ini dalam Riyadhus Shalihin dan Al-Adzkar, serta meriwayatkan dari Abu Dzar bahwa dzikir Subhanallah wa bi hamdih adalah dzikir yang paling disukai Allah.
Selain itu, terdapat dzikir yang diajarkan Rasulullah kepada Ummul Mukminin Juwairiyah radhiyallahu ‘anha. Ketika beliau mendapati Juwairiyah masih berdzikir hingga waktu Dhuha, beliau mengajarkan empat kalimat yang jika diucapkan tiga kali, timbangannya menyamai dzikir panjang yang telah ia baca sepanjang pagi:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
“Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatih.” (HR Muslim).
2. Senyuman, Sedekah Paling Ringan yang Mengundang Pahala
Tersenyum adalah salah satu sunnah yang paling mudah dilakukan, namun sering dianggap sepele. Rasulullah SAW bersabda: “Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. At-Tirmidzi).
Abdullah Hamud al-Furaih dalam Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari menjelaskan bahwa disunnahkan untuk tersenyum dan menampilkan wajah yang menyenangkan ketika bertemu dengan orang lain.
Kebiasaan kecil ini memiliki dampak besar, tidak hanya membuat orang lain merasa senang, tetapi juga menjadi sedekah yang memberatkan timbangan amal. Dalam buku yang sama, disebutkan bahwa mengucapkan kata-kata yang baik juga termasuk sedekah, sebagaimana sabda Rasulullah: “Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Siwak, Sunnah Kecil dengan Pahala Besar
Menggunakan siwak untuk membersihkan gigi adalah kebiasaan yang selalu dijaga Rasulullah. Beliau bahkan membawanya ke mana pun beliau pergi. Keutamaan siwak sangat luar biasa. Disebutkan bahwa shalat dua rakaat dengan bersiwak dianggap setara dengan shalat 70 rakaat tanpa bersiwak.
Rasulullah bersabda: “Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kebiasaan kecil ini, menggosok gigi dengan kayu siwak sebelum shalat, bukan hanya menjaga kesehatan mulut, tetapi juga menjadi amalan yang memberatkan timbangan karena mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
4. Berkata Baik atau Diam: Menjaga Lisan, Menjaga Timbangan
Salah satu kebiasaan yang paling berat di timbangan adalah menjaga lisan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Abdullah Hamud al-Furaih menjelaskan bahwa kebiasaan berkata baik termasuk sedekah, dan setiap kata-kata baik yang diucapkan dengan niat karena Allah akan mendatangkan pahala.
Sebaliknya, diam ketika hendak mengucapkan keburukan juga merupakan amalan yang mulia. Kebiasaan sederhana ini—memilih untuk diam daripada berkata buruk—bisa menjadi penentu beratnya timbangan amal kita.
5. Bangun Lebih Awal: Mengais Keberkahan di Waktu Mustajab
Bangun lebih awal, terutama sebelum waktu Subuh, adalah kebiasaan yang diajarkan Rasulullah. Beliau mencontohkan untuk tidak tidur terlalu malam setelah shalat Isya, sehingga dengan sendirinya akan bangun lebih awal.
Waktu sahur dan sepertiga malam terakhir adalah waktu yang penuh keberkahan dan mustajab untuk berdoa.
Kebiasaan ini mungkin terasa berat bagi yang belum terbiasa, namun dampaknya terhadap timbangan amal sangat besar. Setiap langkah menuju masjid di waktu Subuh, setiap doa yang dipanjatkan di waktu sahur, akan menjadi pemberat timbangan kebaikan.
6. Tidur dalam Keadaan Suci dan Menghadap Kanan
Kebiasaan tidur sesuai sunnah juga termasuk amalan ringan yang memberatkan timbangan. Rasulullah mengajarkan: “Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat, lalu berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Tidur dalam keadaan suci membuat malaikat menyertai dan mendoakan kebaikan sepanjang malam. Kebiasaan kecil ini—berwudhu sebelum tidur dan berbaring menghadap kanan—adalah amalan yang sangat ringan namun memiliki pahala yang besar.
7. Makan dan Minum Sambil Duduk
Hal sederhana seperti makan dan minum juga bisa menjadi amalan sunnah yang memberatkan timbangan. Rasulullah SAW mengajarkan untuk makan dan minum dengan duduk, serta menggunakan tangan kanan.
Dalam Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-hari, disebutkan bahwa makan dan minum sambil duduk termasuk kebiasaan yang diajarkan Rasulullah dan menjadi amalan sunnah.
Hikmah Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemberat Timbangan Amal
· Mendekatkan Diri kepada Allah Tanpa Beban: Amalan-amalan kecil seperti dzikir, senyum, dan siwak dapat dilakukan kapan saja tanpa memerlukan waktu, tenaga, atau biaya khusus, namun efeknya sangat besar di sisi Allah.
· Melatih Konsistensi dan Istiqamah: Kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin akan membentuk karakter dan melatih jiwa untuk istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.
· Menjadi Penyelamat di Hari Kiamat: Di hari ketika manusia mencari-cari amal kebaikan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin kita anggap sepele bisa menjadi penentu keselamatan, sebagaimana sabda Rasulullah tentang dua kalimat yang berat di timbangan.
· Menggugurkan Dosa-dosa Kecil: Dzikir dan istighfar yang dibaca secara rutin dapat menghapus dosa-dosa, sebagaimana janji Rasulullah bahwa membaca Subhanallah wa bihamdih 100 kali akan menghapus dosa meski sebanyak buih di lautan.
· Menginspirasi Orang Lain untuk Berbuat Baik: Kebiasaan baik yang kita lakukan akan menjadi teladan bagi orang lain. Setiap orang yang terinspirasi dan mengamalkannya, maka kita akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi pahala mereka.
Pertanyaan Seputar Amalan Ringan
Apa saja amalan ringan yang berat di timbangan di akhirat?
Amalan ringan yang berat di timbangan antara lain dzikir Subhanallahi wa bihamdihi Subhanallahil ‘azhim, tersenyum kepada sesama muslim, menggunakan siwak sebelum shalat, menjaga lisan dari perkataan buruk, dan makan-minum sambil duduk.
Mengapa dzikir dua kalimat bisa berat di timbangan?
Karena dzikir tersebut adalah pujian dan pengagungan kepada Allah yang diucapkan dengan ikhlas. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa beratnya timbangan menunjukkan betapa besarnya pahala yang dijanjikan Allah bagi orang yang mengucapkannya.
Apakah tersenyum termasuk amalan yang berpahala?
Ya, tersenyum kepada sesama muslim adalah sedekah, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ. Kebiasaan ini sangat ringan namun memiliki pahala yang besar dan menjadi pemberat timbangan amal.
Bagaimana cara menghidupkan sunnah-sunnah kecil dalam sehari-hari?
Mulailah dengan kebiasaan sederhana seperti membaca basmalah sebelum makan, menggunakan siwak, tersenyum, membaca dzikir pagi dan petang, serta tidur dalam keadaan suci. Konsistensi adalah kunci utama.
Apa dalil bahwa amal kecil bisa memberatkan timbangan?
Dalilnya adalah firman Allah dalam QS. Al-Anbiya’: 47 bahwa amal seberat biji sawi pun akan didatangkan pahalanya, serta hadits tentang dua kalimat yang ringan di lisan namun berat di timbangan (HR Bukhari dan Muslim).
Salat Sunah Safar: Tata Cara, Niat, Doa, dan Keutamaannya
Sholat safar merupakan salat sunah dua rakaat yang dilakukan sebelum melakukan safar atau perjalanan jauh.
Ibadah itu dilakukan sebagai bentuk ikhtiar atau permohonan perlindungan serta keselamatan kepada Allah SWT.
Amalan ini juga selalu dilakukan Nabi Muhammad SAW ketika hendak bepergian jauh, sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik berikut:
“Nabi Muhammad SAW tidak tinggal di suatu tempat kecuali meninggalkan tempat tersebut dengan salat dua rakaat.”
Lantas, bagaimana tata cara, niat, dan apa keutamaan sholat safar?
Niat Sholat Safar
أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatas safari rak’ataini lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Tata Cara Sholat Safar
Cara salat safar tidak berbeda dengan salat sunah pada umumnya, yakni diawali niat, takbiratul ihram, rukuk, iktidal, sujud, dan tasyahud.
Berikut adalah tata cara sholat safar secara lengkap:
- Membaca niat
- Melakukan takbiratul ihram
- Pada rakaat pertama membaca surah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan surah Al-Kafirun
- Surah lain yang dianjurkan pada rakaat pertama adalah Al-Falaq
- Rukuk, iktidal, sujud
- Berdiri untuk mengerjakan rakaat kedua
- Membaca Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas atau An-Nas
- Melakukan gerakan seperti rakaat pertama
- Setelah salat, dianjurkan memperbanyak membaca ayat kursi dan surah Quraisy
Kapan Waktu Salat Safar?
Salat safar boleh dilakukan kapan pun oleh seorang Muslim yang hendak bepergian jauh. Artinya, boleh dilakukan pada pagi, siang, sore, atau malam sebelum perjalanan.
Doa setelah Salat Safar
Di bawah ini adalah doa yang dibaca setelah mengerjakan salat safar:
اَللهم بِكَ أَسْتَعِيْنُ، وَعَلَيْكَ أَتَوَكَّلُ ، اَللهم ذَلِّلْ لِي صُعُوْبَةَ أَمْرِيْ ، وَسَهِّلْ عَلَيَّ مَشَقَّةَ سَفَرِيْ، وَارْزُقْنِيْ مِنَ الْخَيْرِ أَكْثَرَ مِمَّا أَطْلُبُ، وَاصْرِفْ عَنِّي كُلَّ شَرٍّ، رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ، وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ، اللهم إِنِّي أَسْتَحْفِظُكَ وَأَسْتَوْدِعُكَ نَفْسِيْ وَدِيْنِيْ وَأَهْلِي وَأَقَارِبِي وَكُلَّ مَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ بِهِ مِنْ آَخِرَةٍ وَدُنْيًا، فَاحْفَظْنَا أَجْمَعِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ يَا كَرِيْمُ
Allahumma bika asta’inu, wa ‘alaika atawakkalu. Allahumma zallil li su’ubata amri, wa sahhil ‘alayya masyaqqata safari, warzuqni minal khairi mim ma atlubu, wasrif ‘anni kulla syarr, rabbisrah li sadri wa yassir li amri.
Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu aku memohon pertolongan dan kepada-Mu aku berpasrah. Ya Allah, ringankan kesulitan pada urusanku, mudahkanlah kendala perjalananku, karuniakanlah kebaikan bagiku melebihi apa yang kuminta, palingkanlah segala keburukan dariku. Tuhanku, lapangkanlah hatiku dan mudahkanlah urusanku.”
Apa Keutamaan Salat Safar?
Beberapa keutamaan salat safar di antaranya:
- Memohon perlindungan Allah SWT dari segala keburukan dan bahaya selama perjalanan
- Menghalangi keburukan setelah keluar dari rumah
- Bekal untuk keluarga yang ditinggalkan di rumah
- Mendapat keberkahan dari Allah SWT
Selain itu, mengerjakan salat Safar dan salat sunah lainnya juga bisa menjadi penyempurna salat wajib, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Wa minal laili fatahajjad bihee naafilatal laka ‘asaaa any yab’asaka Rabbuka Maqaamam Mahmoodaa
Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
sumber : https://mozaik.inilah.com/ibadah/salat-sunah-safar-tata-cara-niat-doa-dan-keutamaannya
Sebelum Membicarakan Jelek Saudaramu
Kadang kita membicarakan jelek orang lain (ghibah), padahal diri kita sendiri penuh kekurangan. Seharusnya kita pandai bercermin, melihat kekurangan sendiri.
Sebagian wanita yang berjilbab kecil, kadang berkomentar sinis pada ibu berjilbab syar’i, “Idih, jilbab gede ini, kayak teroris saja.”
Sebagian kita lagi membicarakan kelakuan jelek tetangganya, “Itu loh tetangga kita, punya mobil baru lagi, benar-benar tak pernah puas dengan dunia.”
Sebelum membicarakan jelek saudaramu, coba pikirkan hadits ini.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذْلَ- أَوْ الجَذْعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 592, riwayat yang shahih)
Maksud perkataan sahabat Abu Hurairah di atas adalah sama seperti pepatah dalam bahasa kita “Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak”.
Artinya, aib orang lain sebenarnya kita tidak tahu seluruhnya. Selalu kita katakan mereka jelek, mereka sombong, mereka sok alim, dan cap jelek lainnya. Sedangkan aib kita, kita yang lebih tahu. Kalau aib orang lain kita hanya tahunya “kecil” makanya Abu Hurairah ungkapkan dengan istilah “kotoran kecil di mata”. Namun aib kita, kita yang lebih tahu akan “besarnya”, maka dipakai dalam hadits dengan kata “kayu besar”. Sebenarnya kita yang lebih tahu akan kekurangan kita yang begitu banyak.
So … coba terus introspeksi diri daripada terus membicarakan aib dan kekurangan saudara kita. Cobalah berusaha agar diri kita menjadi lebih baik.
Moga kita dapat hidayah.
Mengaku Ahlus Sunnah namun tidak Berakhlaq
Mengaku Ahlus sunnah, akhlaqnya kok gitu? Ahlus sunnah kok tidak murah senyum pada orang lain? Ahlus sunnah kok enggan mengucapkan salam atau membalas salam orang lain? Ahlus sunnah kok kasar dengan orang tua, keras pada yang lain? Ahlus Sunnah kok cepat mencap sesat orang lain?
Yang benar, Ahlus Sunnah itu mengagungkan akhlaq. Inilah yang dinasehatkan oleh para ulama bahkan diletakkan dalam buku aqidah mereka.
Simak perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Aqidah Al Wasithiyah,
وَيَدْعُونَ إِلَى مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ ، وَمَحَاسِنِ الْأَعْمَالِ ، وَيَعْتَقِدُونَ مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا » .وَيَنْدُبُونَ إِلَى أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ ، وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ .وَيَأْمُرُونَ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ ، وَصِلَةِ الْأَرْحَامِ ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ ، وَالْإِحْسَانِ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَالرِّفْقِ بِالْمَمْلُوكِ .وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْفَخْرِ ، وَالْخُيَلَاءِ ، وَالْبَغْيِ ، وَالِاسْتِطَالَةِ عَلَى الْخَلْقِ بِحَقٍّ أَوْ بِغَيْرِ حَقٍّ .وَيَأْمُرُونَ بِمَعَالِي الْأَخْلَاقِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنْ سَفْسَافِهَا .
“Ahlus Sunnah mengajak untuk berakhlak yang baik dan beramal yang baik. Ahlus Sunnah meyakini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaqnya.”
Ahlus Sunnah menganjurkan untuk menjalin hubungan yang telah terputus denganmu. Engkau diperintah untuk memberi makan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa. Engkau juga diperintah memaafkan orang yang menzhalimi engkau.
Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berbakti pada orang tua dan menjalin hubungan kerabat, juga berbuat baik kepada tetangga, begitu pula pada anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil (yang terputus perjalanan dan kehabisan bekal). Ahlus Sunnah juga memerintahkan berbuat baik pada budak.
Ahlus Sunnah melarang dari sifat berbangga diri dan sombong, juga melampaui batas. Ahlus Sunnah melarang merasa diri lebih mulia dari yang lain baik itu memang benar atau tidak.
Ahlus Sunnah memerintahkan untuk berakhlaq yang mulia dan melarang dari akhlaq yang bejat (jelek). ” Demikian perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Jadi jika mengaku Ahlus Sunnah, berakhlaqlah yang mulia. Jangan berakhlaq bengis, kasar, dan bejat.
Hanya Allah yang memberi taufiq.
Sumber : https://radiomutiaraquran.com/2026/07/14/mengaku-ahlus-sunnah-namun-tidak-berakhlaq/
Kenapa Abu Lahab Sudah Divonis Masuk Neraka, Padahal Ia Masih Hidup Saat Itu?
Sebagian orang mungkin hanya melihat atau membaca Al-Quran dalam sudut pandang halal-haram, dosa-pahala, atau surga-neraka. Padahal lebih dari itu, di dalamnya juga termuat banyak kisah para nabi dan umat terdahulu. Tema tentang kisah ini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan tema hukum. Keseluruhan ayat yang berbicara tentang kisah sebanyak 1600 ayat, sedangkan ayat yang berbicara tentang hukum hanya 330 ayat saja. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar pada sejarah umat terdahulu.
Selain memberikan gambaran dan informasi umat terdahulu, ayat tentang kisah ini juga berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan dan hikmah yang dapat diambil oleh umat mendatang.
Kisah dalam Al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian; pertama, tarikh atau kisah umat-umat terdahulu, bagian ini paling dominan dibandingkan dengan bagian lainnya; kedua, tamsil atau perumpamaan yang berfungsi sebagai pesan moral; dan ketiga, kisah-kisah tentang mitos yang diambil dari komunitas tertentu (Khalafullah 2002: 101).
Takdir Abu Lahab
Salah satu yang menarik dalam tema kisah pada Al-Qur’an adalah surah al-Lahab. Abu Lahab dalam surah ini tidak dijelaskan panjang lebar, sebagaimana kisah-kisah seperti Luqman, keluarga Imran, dan Maryam. Surah ini hanya memuat lima ayat saja, namun Al-Qur’an menyajikannya dengan nada negatif. Bagaimana tidak, surah ini turun sebagai jawaban atas tindakan Abu Lahab terhadap Nabi. Dikisahkan, pada saat itu Nabi mengumpulkan orang-orang Quraisy di bukit Shafa, namun Abu Lahab datang dengan mencela dan menghina Nabi. Oleh karena itu, turunlah surah ini:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal. (Q.S. Al-Lahab, 1-5)
Surah ini tidak hanya mengabarkan tentang kebinasaan Abu Lahab beserta istrinya, melainkan juga menimbulkan pertanyaan jika dikaitkan dengan konsep takdir.
Ketika surah al-Lahab diturunkan, Abu Lahab bersama istrinya masih dalam keadaan sehat dan masih hidup sampai Nabi hijrah ke Madinah. Persoalannya adalah bagaimana mungkin Abu Lahab yang masih hidup di dunia sudah mendapatkan vonis akan masuk neraka. Juga, vonis ini kemudian menjadikan status Abu Lahab tidak akan berubah, walaupun bisa saja Abu Lahab kemudian masuk Islam dengan sebenar-benarnya iman. Lantas, jika hal tersebut terjadi, apakah surah al-Lahab tetap menjadi bagian dari Al-Qur’an?
Mukjizat Al-Qur’an
Seluruh mazhab dan aliran dalam Islam sepakat bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua fase. Fase pertama adalah penurunan secara keseluruhan (jumlatan wahidah), yaitu ketika Allah menurunkannya sekaligus dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah. Fase kedua adalah penurunan secara bertahap, yaitu ketika al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril, berlangsung selama kurang lebih 22 tahun.
Al-Qur’an menjadi simbol mukjizat tertingginya Nabi Muhammad. Sebagai sebuah mahakarya yang amat tinggi, bahkan Allah sampai menantang manusia untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun sampai sekarang, tidak ada satupun karya manusia yang dapat menandinginya.
Kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dengan pemilihan kosa kata yang tidak sembarangan. Setiap kosa kata yang termuat dalam Al-Qur’an memiliki maknanya masing-masing. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Muhammad Syahrur, bahwa pemilihan kosa kata dalam Al-Qur’an tidak serta merta begitu saja, melainkan memiliki isi kandungannya sendiri-sendiri. Sehingga, kosa kata yang digunakan tidak akan pernah sama dengan ayat lainnya, walaupun memiliki arti yang sama, tapi maknanya berbeda.
Dalam konteks tulisan ini, kita mungkin akan setuju dengan pertanyaan tentang takdir Abu Lahab di atas. Namun dalam sudut pandang lain, ada jawaban yang mungkin dapat menjawab kegelisahan tersebut.
Abu Lahab sebenarnya adalah julukan yang diberikan kepada Abdul ‘Uzza oleh ayahnya, Abdul Muthalib. Kata lahab berarti membara atau menyala. Julukan ini diberikan oleh ayahnya karena wajahnya Abdul ‘Uzza sedikit kemerah-merahan. Oleh karena itu, sampai saat ini, Abu Lahab lebih dikenal dibandingkan dengan nama aslinya, Abdul ‘uzza.
Ketika Al-Qur’an menggunakan kata Abu Lahab pada surah al-Lahab, sebenarnya itu menunjukkan makna sifat yang berada pada Abdul ‘Uzza, bukan menunjukkan pribadi Abdul ‘Uzza. Hal ini juga digunakan ketika Allah menyebut Raja Ramses II sebagai Fir’aun yang memiliki sifat yang kejam dan menjadi musuh nabi Musa.
Syekh Mutawalli Sya’rawi menjelaskan bahwa apabila Al-Qur’an menunjuk seseorang dalam salah satu kisahnya dengan nama asli, itu mengisyaratkan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi, tetapi bila menyebut gelar seperti Fir’aun mengisyaratkan bahwa kasus serupa dapat terulang kapan dan di mana saja.
Dengan demikian, kata Abu Lahab dalam surah ini dapat dipahami sebagai gambaran awal bagi orang-orang mendatang yang berpotensi memiliki sifat Abu Lahab.
Ketika Al-Qur’an mengatakan Abu Lahab adalah penduduk neraka, maka itu sangat benar. Karena, pada surah tersebut Abu Lahab dicitrakan sebagai sifat yang suka mencela dan menjadi musuh Islam, sehingga, salah kaprah kemudian mengatakan bahwa surah tersebut tidak memberikan ruang takdir dan kebebasan terhadap manusia.
Abdul ‘Uzza, tetap memiliki kesempatan untuk mendapatkan hidayah Allah, namun sampai akhir hayatnya, ia memilih untuk menjadi musuh Nabi. Andai katapun, Abdul ‘Uzza kemudian memeluk Islam dengan sebenar-benarnya taqwa, surah al-Lahab tetap akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Karena ada dua alasan; pertama, Al-Qur’an memang sudah ada jauh sebelum para nabi dan rasul mulai berdakwah. Sebagaimana disebutkan pada awal paragraf sub judul ini; kedua, surah al-Lahab tidak menunjukkan pribadi yaitu Abdul ‘Uzza, melainkan sifat tercela pada diri Abdul’Uzza.
Oleh karena itu, walaupun Abdul ‘Uzza akhirnya memeluk Islam, surah al-Lahab tetap dapat dipahami sebagai sebuah peringatan agar manusia tidak memiliki sifat tercela dan menjadi musuh Islam. Pesan inilah yang kemudian ingin disampaikan Al-Qur’an kepada umat muslim untuk tidak memiliki sifat tercela sebagaimana Abu Lahab.
Wallahu A’lam.
Sumber : https://islami.co/kenapa-abu-lahab-sudah-divonis-masuk-neraka-padahal-ia-masih-hidup/









