Iman kepada Hari Akhir Menumbuhkan Optimisme dan Sikap Pantang Menyerah

Iman kepada Hari Akhir Menumbuhkan Optimisme dan Sikap Pantang Menyerah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mukhlis Rahmanto menjelaskan bahwa keimanan kepada hari akhir semestinya melahirkan sikap optimis dan mental pantang menyerah dalam menghadapi kehidupan. Keyakinan terhadap adanya kehidupan setelah dunia menjadi dasar bagi seorang Muslim untuk tetap berharap ketika menghadapi ketidakadilan maupun kegagalan.

Hal itu disampaikan Mukhlis dalam kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, pada Senin (31/08). Menurutnya, kehidupan dunia tidak selalu memberikan hasil yang sesuai dengan harapan manusia. Ada hak yang belum diperoleh, perjuangan yang belum berhasil, dan persoalan yang tidak terselesaikan. Namun, kondisi tersebut tidak semestinya membuat seorang Muslim kehilangan harapan.

Mukhlis memberikan contoh seseorang yang kehilangan hak atas tanah meskipun telah menempuh berbagai jalur hukum. Dalam kondisi demikian, seseorang mungkin merasa kalah dan mengalami ketidakadilan. Namun, menurutnya, seorang Muslim tetap memiliki alasan untuk optimis karena kehidupan dunia bukan tempat berakhirnya seluruh proses keadilan.

“Adanya akhirat ini itu bagian dari kita untuk bersikap optimis. Semua yang tidak terselesaikan di dunia, semua yang dizalimi di dunia, semua yang dirugikan oleh manusia lain di dunia itu nanti akan diadili di pengadilan akhirat,” jelasnya.

Menurut Mukhlis, keyakinan terhadap hari akhir juga memiliki konsekuensi moral. Orang yang meyakini adanya pertanggungjawaban di akhirat akan berhati-hati dalam mengambil hak orang lain, menzalimi sesama, atau melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

Sebaliknya, kehidupan dunia tidak semestinya dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ketika seseorang mengalami kegagalan setelah melakukan berbagai ikhtiar, ia tetap harus meyakini bahwa Allah memiliki ketetapan dan perhitungan yang lebih luas daripada apa yang dapat dilihat manusia.

Sikap optimis tersebut, lanjut Mukhlis, juga diajarkan Rasulullah Saw melalui konsep al-fa’l, yaitu optimisme. Salah satu bentuknya adalah membiasakan diri mengucapkan kalimat yang baik atau al-kalimah al-hasanah.

“Rasulullah Saw sangat menyukai al-fa’l, yaitu rasa optimis,” ujarnya.

Karena itu, Mukhlis mengajak umat Islam menjaga ucapan ketika menghadapi berbagai keadaan. Ketika mendapatkan ujian, seseorang perlu bersabar dan memohon pertolongan Allah. Ketika memperoleh kesenangan, seseorang harus bersyukur.

Menurutnya, dua sikap tersebut menjadi dasar sederhana dalam menjalani kehidupan, meskipun pelaksanaannya membutuhkan latihan.

“Diuji kita bersabar, meminta tolong kepada Allah. Kalau kita dalam keadaan senang, kita harus bersyukur,” katanya.

Mukhlis juga mengaitkan optimisme dengan kekuatan seorang mukmin. Ia mengutip hadis Nabi Saw, al-mu’minul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallāhi minal mu’minidh-dha‘īf, bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.

Kekuatan tersebut, menurut Mukhlis, tidak terbatas pada kekuatan fisik, tetapi juga mencakup kekuatan mental dan rohani. Seorang Muslim dituntut untuk bersemangat melakukan berbagai hal yang memberikan manfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

“Bersemangatlah atas hal-hal yang itu akan memberikan kemanfaatan kepadamu baik di dunia maupun di akhirat,” tuturnya.

Karena itu, menghadapi kesulitan tidak berarti seseorang berhenti berusaha. Mukhlis mendorong umat Islam tetap bekerja, mencari rezeki, melakukan ikhtiar, dan tidak mudah menyerah. Pada saat yang sama, seluruh usaha tersebut harus disertai permohonan pertolongan kepada Allah.

Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki banyak keinginan. Namun, tidak seluruh keinginan tersebut dapat diwujudkan karena manusia tetap berada dalam ketentuan Allah.

Mukhlis mencontohkan perjalanan hidup dua tokoh dalam film Laskar Pelangi. Ada anak yang memiliki kemampuan akademik tinggi tetapi tidak dapat melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sebaliknya, ada anak yang kemampuan akademiknya biasa saja tetapi memiliki kesempatan menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral.

Menurutnya, perbedaan perjalanan hidup tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki cita-cita dan keinginan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah.

“Kalau Allah tidak mentakdirkan, kita tidak akan bisa sampai kepada keinginan itu. Itulah makna bahwasanya kita menganggap hidup ini adalah ujian,” katanya.

Karena itu, Mukhlis mengajak jamaah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keinginan manusia dapat berkembang tanpa batas, sementara kemampuan manusia memiliki keterbatasan. Kesadaran tersebut penting agar seseorang tidak menjadikan kegagalan memenuhi seluruh keinginan sebagai alasan untuk berputus asa.

Menurut Mukhlis, seorang Muslim perlu menggabungkan optimisme, ikhtiar, doa, kesabaran, dan tawakal. Optimisme tidak berarti menunggu keadaan berubah tanpa usaha, tetapi tetap bergerak sambil menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/09/iman-kepada-hari-akhir-menumbuhkan-optimisme-dan-sikap-pantang-menyerah/