TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -Kebiasaan merokok masih menjadi penyebab utama terjadinya kanker paru. Namun, ancaman penyakit ini juga mengintai perokok pasif.
Dokter spesialis paru Linda Masniari mengatakan, orang yang tidak merokok tetapi sering terpapar asap rokok juga memiliki risiko mengalami kanker paru.
“Kalau menjadi perokok pasif, risiko kanker paru meningkat sekitar 20 sampai 30 persen,” kata Linda Masniari dalam media talk di kawasan Karet Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).
Dalam asap rokok mengandung ribuan bahan kimia dan zat penyebab kanker (karsinogen) seperti yang dihirup oleh perokok aktif.
Menurut dr. Linda, hubungan antara paparan asap rokok dan kanker paru sangat kuat sehingga upaya berhenti merokok menjadi langkah penting dalam menurunkan risiko penyakit tersebut.
Kanker paru di Indonesia banyak ditemukan pada usia di atas 50 tahun.
Karena itu, deteksi dini menjadi penting terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko.
“Di Indonesia, kanker paru paling banyak ditemukan pada usia sekitar 52 tahun ke atas. Karena itu skrining sebaiknya mulai dipertimbangkan sejak usia 40 tahun untuk kelompok berisiko,” katanya.
Skrining dapat membantu menemukan kanker paru lebih awal, sebelum muncul gejala yang berat. Hal ini penting karena kanker paru pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan yang khas.
Selain pemeriksaan rutin, upaya pencegahan juga harus dimulai dari lingkungan terdekat.
“Kalau ada keluarga seperti orang tua, suami, abang, atau kakak yang masih merokok, perlu diajak berhenti merokok. Hubungan antara rokok dan kanker paru sangat kuat,” pesan dr. Linda.
Faktor Lingkungan
Selain rokok, faktor lingkungan seperti polusi udara juga dapat meningkatkan risiko kanker paru yaitu adanya komponen particle matter (PM) atau partikel halus di udara.
“Particle matter, terutama PM 2,5, juga berpengaruh. Setiap peningkatan satu unit particle matter dapat meningkatkan risiko kematian akibat kanker paru sekitar 8 persen,” jelas dia.
Masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat polusi tinggi sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan, terutama kelompok yang memiliki faktor risiko.
Selain mengurangi paparan polusi, masyarakat juga perlu menerapkan gaya hidup sehat dan menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko kanker paru.
“Kalau udara di lingkungan sekitar tidak bagus, sebisa mungkin kurangi paparan. Karena udara yang tidak sehat dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan, termasuk kanker paru,” ujarnya.




