Tidak banyak hadis yang memuat peringatan sekeras sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengenai salat. Salah satunya adalah hadis tentang salat Asar yang ditunda hingga menjelang matahari terbenam.
Dalam hadis ini, Nabi bahkan mengulang tiga kali kalimat yang sama sebagai bentuk penegasan agar umat Islam benar-benar memperhatikannya.
Pengulangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar tentang terlambat menunaikan salat. Rasulullah sedang mengungkap penyakit hati yang dapat menggerogoti kualitas keimanan seseorang tanpa disadari.
Fenomena menunda salat hingga akhir waktu menjadi salah satu persoalan yang kerap terjadi di tengah kehidupan modern.
Kesibukan pekerjaan, aktivitas bisnis, pendidikan, hingga hiburan digital sering kali membuat salat bergeser dari prioritas utama menjadi aktivitas yang dikerjakan ketika seluruh urusan dunia dianggap selesai.
Padahal, dalam pandangan Islam, kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah tidak hanya diukur dari apakah ia masih sempat menunaikan salat, tetapi juga dari bagaimana ia memuliakan waktu yang telah ditetapkan Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ, تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ, تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ. يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ. قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا, لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيْهَا إِلَّا قَلِيْلًا
Artinya: “Itu adalah salatnya orang-orang munafik, itu adalah salatnya orang-orang munafik, itu adalah salatnya orang-orang munafik.
Salah seorang dari mereka duduk hingga sinar matahari telah menguning, tatkala itu ia sedang berada di antara dua tanduk setan atau pada dua tanduk setan.
Maka dia bangkit untuk salat, dia salat empat rakaat dengan sangat cepat (seperti burung mematuk makanan), dia tidak mengingat Allah padanya kecuali sangat sedikit.” (HR. Sunan Abu Dawud No. 350).
Bukan Sekadar Terlambat, tetapi Gambaran Kondisi Hati
Hadis tersebut tidak sedang menyatakan setiap orang yang pernah terlambat salat otomatis menjadi munafik. Para ulama menjelaskan Rasulullah sedang menggambarkan karakter dan kebiasaan orang munafik dalam memperlakukan salat.
Ada tiga ciri yang disebutkan secara berurutan.
Pertama, mereka sengaja menunda salat hingga waktu hampir habis.
Kedua, ketika akhirnya berdiri menunaikan salat, mereka melakukannya dengan sangat tergesa-gesa, tanpa ketenangan dan tanpa kekhusyukan.
Ketiga, mereka sangat sedikit mengingat Allah dalam salatnya sehingga ibadah hanya menjadi gerakan fisik yang kehilangan ruh.
Ketiga ciri ini menunjukkan persoalan utama bukan terletak pada gerakan salat, melainkan pada cara seseorang memandang kewajiban tersebut. Ketika salat hanya diposisikan sebagai beban yang harus segera diselesaikan, maka nilai spiritualnya perlahan menghilang.
Mengapa Rasulullah Mengulanginya Tiga Kali?
Salah satu bagian paling menarik dari hadis ini adalah pengulangan kalimat, تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ “Itu adalah salatnya orang-orang munafik,” sebanyak tiga kali.
Dalam tradisi penyampaian Rasulullah, pengulangan memiliki makna yang sangat penting. Nabi biasa mengulang suatu peringatan apabila perkara tersebut memiliki dampak besar terhadap keselamatan agama seseorang.
Artinya, ancaman dalam hadis ini tidak boleh dipahami secara ringan. Rasulullah ingin agar umat Islam melakukan evaluasi terhadap kualitas salatnya, bukan sekadar memastikan bahwa kewajiban tersebut telah gugur.
Tantangan Muslim Modern
Di era digital, bentuk “menunda salat” sering kali tidak lagi disebabkan oleh kemalasan semata. Notifikasi telepon genggam, rapat kerja, media sosial, hiburan digital, hingga aktivitas ekonomi yang berlangsung tanpa jeda membuat banyak orang menempatkan salat sebagai agenda terakhir.
Ironisnya, seseorang dapat terlihat sangat disiplin terhadap jadwal pekerjaannya, tetapi justru paling longgar ketika menyangkut waktu salat.
Di sinilah hadis Rasulullah menjadi sangat relevan. Bahaya terbesar bukan sekadar kehilangan waktu salat di awal waktu, melainkan ketika hati mulai merasa bahwa urusan dunia lebih penting daripada memenuhi panggilan Allah.
Alarm Muhasabah Sebelum Terlambat
Hadis ini sejatinya merupakan alarm untuk melakukan muhasabah. Rasulullah tidak sedang menutup pintu harapan, melainkan mengingatkan umat Islam agar tidak membiarkan kebiasaan buruk berubah menjadi karakter.
Selama seorang Muslim masih berusaha memperbaiki diri, menjaga salat pada waktunya, menghadirkan kekhusyukan, serta memperbanyak zikir kepada Allah di dalam salat, maka ia sedang menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang diperingatkan Rasulullah.
Pada akhirnya, hadis ini mengajarkan ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya mampu menunaikan salat, tetapi juga menjadikan salat sebagai prioritas utama yang membentuk seluruh ritme kehidupannya.
Sebab, ketika salat mulai kehilangan posisi istimewanya, saat itulah hati perlu bertanya apakah yang berubah hanyalah jadwal, atau justru kualitas iman yang perlahan memudar?




