Kesuksesan dalam dunia bisnis sering kali bukan hanya hasil dari kerja keras di usia dewasa, tetapi juga buah dari pendidikan dan kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil. Hal inilah yang dapat kita pelajari dari perjalanan hidup Bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group.
Lahir dan besar di Kediri, Jawa Timur, Bapak Eggy berasal dari keluarga yang sejak dahulu berprofesi sebagai wiraswasta. Jiwa berbisnis yang dimiliki orang tuanya ternyata menurun kepadanya dan terus berkembang hingga kini. Berkat kerja keras dan pengalaman panjang, beliau dipercaya memimpin sekitar 60 perusahaan (PT) serta lebih dari 30 merek (brand) di bawah naungan Trisna Group.
Namun, perjalanan tersebut tidak dimulai dengan kemewahan. Justru sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, beliau sudah diajarkan untuk memahami arti bekerja dan menghargai hasil usaha.
Belajar Bekerja Sejak Usia Dini
Saat anak-anak lain menghabiskan masa liburan untuk bermain, Bapak Eggy justru diajak orang tuanya membantu pekerjaan di pabrik pupuk milik keluarga. Salah satu tugas yang beliau lakukan adalah menempelkan stiker pada botol produk.
Menariknya, pekerjaan tersebut bukan sekadar membantu orang tua. Beliau juga diberikan upah atau tambahan fee atas hasil kerjanya. Dari pengalaman sederhana itu, beliau belajar bahwa setiap usaha memiliki nilai dan setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan imbalan.
Pelajaran ini membentuk pola pikir bahwa rezeki diperoleh melalui kerja keras, bukan hanya menunggu pemberian.
Belajar Investasi Sejak SD
Selain diajarkan bekerja, orang tua Bapak Eggy juga mengenalkan konsep investasi sejak usia yang sangat muda.
Ketika Hari Raya tiba dan beliau menerima uang dari tante, om, pakde, maupun bude, uang tersebut tidak langsung dihabiskan untuk membeli mainan atau kebutuhan konsumtif. Sebaliknya, orang tuanya memberikan nasihat sederhana namun sangat berharga.
“Uangmu ini beli ayam saja. Nanti yang mengelola dulu bude.”
Ayam tersebut kemudian dipelihara hingga berkembang biak. Dari hasil berkembangnya ternak itu, nilai aset yang dimiliki pun terus bertambah.
Melalui pengalaman tersebut, Bapak Eggy memahami bahwa uang tidak selalu harus dihabiskan. Jika dikelola dengan benar, uang dapat berkembang dan menghasilkan nilai yang lebih besar di masa depan.
Pendidikan Finansial Dimulai dari Rumah
Kisah masa kecil Bapak Eggy menunjukkan bahwa pendidikan finansial tidak harus diajarkan melalui teori yang rumit. Orang tuanya memberikan pelajaran langsung melalui pengalaman nyata.
Beliau belajar bekerja untuk memperoleh penghasilan, belajar menghargai uang hasil jerih payah, dan belajar menginvestasikan uang agar terus berkembang. Nilai-nilai sederhana inilah yang kemudian menjadi pondasi kuat dalam membangun jiwa kewirausahaan.
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
Ada beberapa pelajaran berharga dari masa kecil Bapak Eggy Adityawan:
- Biasakan anak menghargai proses kerja sejak usia dini.
- Ajarkan bahwa setiap penghasilan berasal dari usaha yang dilakukan.
- Kenalkan konsep investasi sedini mungkin, meskipun dalam bentuk yang sederhana.
- Tanamkan pola pikir untuk membangun aset, bukan sekadar menghabiskan uang.
- Pendidikan karakter dan finansial yang dimulai dari keluarga akan menjadi bekal berharga di masa depan.
Perjalanan Bapak Eggy Adityawan membuktikan bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak dapat menjadi fondasi lahirnya seorang pengusaha besar. Kesuksesan bukan hanya dibangun oleh peluang, tetapi juga oleh nilai-nilai kehidupan yang diajarkan sejak dini oleh keluarga.




