Chrome vs Edge, Mana yang Lebih Ringan untuk Laptop dan PC RAM 8 GB?

Chrome vs Edge, Mana yang Lebih Ringan untuk Laptop dan PC RAM 8 GB?

Di dunia browser web, ada satu aplikasi yang paling digandrungi oleh banyak orang, yaitu Google Chrome.

Berdasarkan data Statcounter Global Stats, jumlah pengguna Chrome di seluruh dunia mencapai 68.22 persen, sementara Edge yang merupakan aplikasi bawaan Windows 10 dan 11, jumlah penggunanya hanya sekitar 5.37 persen per Juli 2026.

Fitur dan fungsi yang ditawarkan kurang lebih sama, lantas apa yang membuat keduanya memiliki jumlah pengguna yang jauh berbeda?

Untuk menjawab hal tersebut, tim inilah.com mencoba menggunakan kedua aplikasi browser ini di laptop berkapasitas RAM 8 GB:

Kelebihan dan Kekurangan Google Chrome

Merupakan browser web yang dikembangkan oleh Google sejak tahun 2008. Sejak pertama kali dirilis, Chrome menjadi salah satu browser paling populer di dunia.

Terlepas dari popularitasnya, Google Chrome memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan menurut pengalaman tim inilah.com, seperti:

1. Tampilan Halaman Utama

Tampilan halaman utama Google Chrome sangat sederhana, hanya berupa kolom pencarian langsung di Google dan shortcut untuk menuju website yang telah disimpan sebelumnya.

2. Terdapat Fitur Split Screen

Fitur Split Screen pada Google Chrome bisa ditemukan dengan mudah dengan hanya mengklik kanan di bagian tab.

Fitur ini juga ada di Microsoft Edge. Akan tetapi cara pengaktifannya membutuhkan langkah-langkah yang cukup panjang dan tidak ada fitur shortcut untuk mengaktifkannya.

3. Fitur Reading Mode

Terdapat fitur Reading Mode di mana pengguna bisa membaca artikel atau jurnal tanpa adanya gangguan iklan.

Bagian terbaiknya, terdapat banyak tools pendukung yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, seperti memilih jenis Font, Line Height, Letter Spacing, dan tema.

Di Reading Mode juga terdapat fitur ‘dibacakan’ atau “Read Aloud”. Hal yang patut disayangkan, fitur ini hanya bisa diaktifkan dalam mode membaca, tidak seperti Microsoft Edge yang bisa menggunakannya kapan pun saat dibutuhkan.

4. Performa Chrome

Dengan membuka 4 tab (ChatGPT, Inilah.com, YouTube Music, dan YouTube), Chrome hanya memakan memori sebesar 1.8 GB.

Angka tersebut bisa dibilang standar dan cukup ramah bagi pengguna laptop atau komputer dengan RAM terbatas, seperti 8GB.

5. Fitur dan Tools Terbatas

Hal yang sangat disayangkan pada Google Chrome adalah fitur yang terbatas, seperti tidak ada fitur bawaan langsung untuk meringkas artikel ke Gemini dan Summarize Video.

Meski terbatas, Google Chrome jauh lebih diminati oleh banyak orang di seluruh dunia karena mungkin yang dicari bukan fitur gimmick, melainkan kesederhanaan dan kecepatan.

Kelebihan dan Kekurangan Microsoft Edge

Microsoft Edge adalah browser web yang dikembangkan oleh Microsoft. Browser ini menjadi aplikasi bawaan Windows 10 dan Windows 11, menggantikan Internet Explorer.

Secara fitur dan fungsi yang sama seperti browser web pada umumnya. Tetapi, ada beberapa fitur yang memudahkan pengguna untuk browsing di Microsoft Edge, seperti:

1. Customize Edge

Microsoft Edge memberi kebebasan kepada pengguna untuk kustomisasi panel menu. Dengan adanya fitur ini, pengguna bebas memilih tools apa saja yang muncul di quick panel.

Misalnya saja, tools Split Screen untuk melihat dua website berbeda dalam satu halaman yang sama.

2. Banyak Tools

Microsoft Edge memiliki banyak tools yang dapat digunakan untuk membantu pengguna dalam mengerjakan pekerjaan.

Menurut tim inilah.com, beberapa tools yang bermanfaat untuk pekerjaan kami adalah seperti:

  • Split Screen: untuk melihat dan membandingkan dua berita yang berbeda dalam satu halaman.
  • Read Aloud: fitur di mana pengguna akan dibacakan isi berita atau tulisan oleh Microsoft Edge.
  • Reading Mode: fitur untuk membaca berita, artikel, dan lainnya dengan tampilan yang lebih sederhana, agar lebih fokus dan tidak terdistraksi dengan adanya iklan.
  • Summarize with Copilot: bisa meminta bantuan Copilot dari Microsoft untuk meringkas isi berita atau jurnal tertentu langsung di dalam browser.
  • Summarize Video: fitur yang muncul saat menonton video di YouTube, di mana pengguna bisa meminta Copilot untuk meringkas video yang sedang ditonton.
  • Group Tab: fitur yang memungkinkan pengguna untuk mengelompokkan beberapa tab terbuka ke dalam satu kategori.

3. Fitur Screen Capture

Windows memang menyediakan tools screen capture bernama Snipping Tools, tetapi fiturnya sedikit berbeda dengan yang dimiliki Microsoft Edge.

Di Microsoft Edge, tools Screen Capture mereka menyediakan 3 pilihan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan pengguna:

  • Capture Area: menangkap layar sesuai dengan area yang ditentukan.
  • Capture Screen Area: menangkap seluruh layar yang terlihat.
  • Capture Full Page: menangkap seluruh isi halaman.

Terlihat sederhana, tetapi fitur ini cukup berguna untuk mendokumentasikan suatu berita atau informasi dalam waktu ringkas.

4. Homepage Edge

Buat penulis dan jurnalis seperti tim inilah.com, fitur ini oke banget karena kita bisa langsung melihat berita apa saja yang sedang trending.

Selain melihat berita, kita disajikan informasi penting lainnya seperti cuaca, harga saham, dan masih banyak lainnya.

5. Performa Edge

Saat menggunakan Microsoft Edge selama kurang lebih 30 hingga 60 menit dengan hanya membuka 4 tab saja (ChatGPT, YouTube, Inilah.com, dan YouTube Music), Microsoft Edge memakan memori yang cukup besar, sekitar 2,2 GB.

Bagi yang menggunakan perangkat dengan RAM kecil (8GB), hal ini bisa menjadi masalah karena semakin banyak tab yang dibuka, semakin besar memori yang digunakan oleh aplikasi.

6. Terlalu Banyak Jendela

Saat menggunakan pintasan keyboard (Alt + Tab) untuk berpindah antar jendela atau aplikasi, Microsoft Edge menampilkan terlalu banyak jendela.

Bagi beberapa orang, mungkin hal ini sangat membantu karena bisa langsung menuju tab yang dituju.

Namun, menurut opini pribadi tim inilah.com, fitur ini sangat mengganggu dan terlihat berantakan. Tapi itu semua balik lagi ke preferensi masing-masing.

Jadi, Kamu Tim Mana? Chrome atau Edge?

Saat mencoba Microsoft Edge selama kurang lebih 30 hingga 60 menit, tim inilah.com cukup suka dengan fitur yang dimiliki pada browser ini, terutama Read Aloud dan Summarize Video langsung ke Copilot.

Hal yang tidak disukai hanyalah tampilan pintasan untuk berpindah antar-jendela yang menampilkan banyak jendela sehingga terlihat sangat berantakan atau tidak beraturan.

Di sisi lain, Chrome menghadirkan fitur dan tools yang lebih sederhana. Meski demikian, tim inilah.com jauh lebih nyaman menggunakannya karena tampilan berpindah antar-jendelanya terlihat lebih tertata dan rapi.

Sumber : https://www.inilah.com/chrome-vs-edge-mana-yang-lebih-ringan-untuk-laptop-dan-pc-ram-8-gb

Smartphone Terendam Air, Jangan Masukkan ke Dalam Beras

Smartphone Terendam Air, Jangan Masukkan ke Dalam Beras

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Smartphone yang terkena atau terendam air tidak boleh ditangani sembarangan.

Kesalahan saat melakukan pertolongan pertama justru dapat memicu korsleting, korosi, hingga kerusakan yang lebih parah.

Meski banyak smartphone terbaru memiliki ketahanan terhadap air atau percikan dengan standar seperti IPX5, IPX7, dan IPX8, sejumlah bagian tetap berisiko kemasukan air.

“Meskipun banyak smartphone terbaru memiliki kemampuan tahan air atau percikan dengan standar seperti IPX5, IPX7, dan IPX8, bagian konektor pengisian daya, speaker, mikrofon, serta lubang earphone tetap berisiko kemasukan air,” ungkap Nakamura, seorang ahli ponsel di Jepang, kepada Tribunnews.com, Jumat (15/8/2026).

Berikut sejumlah hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika smartphone terkena atau terendam air:

Jangan Mengisi Daya Saat Masih Basah

Smartphone yang masih basah tidak boleh langsung dihubungkan dengan pengisi daya, kabel USB, earphone, maupun perangkat lainnya.

Air yang terdapat pada konektor USB Type-C atau Lightning dapat menyebabkan korsleting dan berpotensi merusak smartphone maupun perangkat yang tersambung.

Beberapa model smartphone memiliki sensor yang dapat mendeteksi kelembapan pada konektor.

Perangkat kemudian akan menampilkan peringatan dan menonaktifkan fungsi pengisian daya.

Selama peringatan tersebut masih muncul, pengguna sebaiknya tidak menghubungkan perangkat apa pun ke konektor.

Jangan Membiarkan Air Laut atau Air Kotor Menempel

Ketahanan air pada smartphone umumnya diuji dalam kondisi tertentu, seperti menggunakan air tawar pada suhu normal.

Perlindungan tersebut tidak serta-merta berarti perangkat aman dari air laut, air kolam renang, air panas, air mandi, atau air berlumpur.

Kandungan garam, klorin, pasir, dan kotoran dapat meningkatkan risiko korosi serta mengganggu komponen internal.

Jika smartphone terkena air laut atau cairan kotor, perangkat dapat dibilas secara perlahan menggunakan air tawar atau air keran, jika tindakan tersebut memang diperbolehkan dalam petunjuk resmi produsen.

Jangan Membilas dengan Aliran Air Terlalu Kuat

Saat membersihkan sisa garam atau kotoran, hindari menempatkan smartphone langsung di bawah aliran air keran yang deras.

Tekanan air yang terlalu kuat berpotensi menembus celah pada lapisan pelindung perangkat.

Karena itu, pembilasan sebaiknya dilakukan dengan aliran air yang lembut dan hati-hati, serta hanya jika sesuai dengan panduan produsen.

Jangan Memasukkan Smartphone ke Dalam Beras

Mengeringkan smartphone dengan cara memasukkannya ke dalam beras mentah merupakan metode yang masih sering beredar di media sosial.

Namun, cara tersebut tidak dianjurkan.

Partikel kecil atau debu dari beras dapat masuk ke konektor, speaker, dan lubang mikrofon.

Selain mengganggu fungsi perangkat, sisa material tersebut berpotensi memperparah masalah yang sudah terjadi.

Jangan Mengeringkan dengan Panas Berlebihan

Pengguna juga sebaiknya tidak menggunakan sumber panas secara langsung, seperti pengering rambut dengan suhu tinggi, untuk mempercepat proses pengeringan.

Panas berlebihan dapat merusak komponen dan baterai. Perubahan suhu yang ekstrem juga dapat memicu kondensasi di bagian dalam perangkat.

Karena itu, smartphone sebaiknya dikeringkan secara alami di tempat yang kering dan memiliki sirkulasi udara baik.

Pertolongan Pertama yang Tepat

Untuk smartphone yang memang memiliki ketahanan terhadap air, arahkan speaker, mikrofon, dan konektor ke bawah.

Gunakan kain bersih dan lembut untuk mengusap permukaan perangkat, kemudian tepuk secara perlahan agar air yang berada di bagian luar dapat keluar.

Setelah itu, biarkan smartphone mengering secara alami selama beberapa waktu. Jangan terburu-buru menyalakan atau mengisi daya perangkat sebelum konektor benar-benar kering.

Sementara itu, untuk smartphone yang tidak memiliki ketahanan terhadap air, segera matikan perangkat. Keringkan bagian luarnya menggunakan kain bersih dan jangan mencoba menyalakan perangkat berulang kali untuk mengecek kondisinya.

Jika smartphone tetap tidak berfungsi setelah proses pengeringan, pengguna sebaiknya membawanya ke pusat layanan resmi untuk pemeriksaan.

Apabila perangkat kembali menyala, segera lakukan pencadangan data penting.

Pemeriksaan lebih lanjut tetap disarankan, terutama jika smartphone sempat terendam cukup lama atau terkena air laut maupun cairan lainnya.

Sumber : https://tribunnews.com/techno/7869310/smartphone-terendam-air-jangan-masukkan-ke-dalam-beras

Google mungkinkan hapus tanda air terlihat pada gambar dan video AI

Google mungkinkan hapus tanda air terlihat pada gambar dan video AI

Jakarta (ANTARA) – Pengguna layanan kecerdasan artifisial (AI) Google akan dapat menghapus watermark atau tanda air yang terlihat dari gambar maupun video, kata Wakil Direktur Google Josh Woodward melalui unggahan di media sosial.

Opsi untuk memasang dan menghapus tanda air tersebut akan tersedia untuk model AI Nano Banana, Omni, dan Lyria. Pada ketiga model AI itu setiap konten biasanya ditandai oleh Google dengan ikon kilauan yang familiar untuk menunjukkan konten buatan AI, menurut laporan laman Endgadget, Jumat (14/8).

Fitur tersebut juga disiapkan hadir di Gemini maupun layanan editor video dari Google bernama Flow.

Perusahaan teknologi beberapa waktu belakangan menggunakan tanda air atau keterangan lainnya jika sebuah konten dibuat dengan AI, untuk membedakan dengan konten yang dibuat secara manual. Google memastikan konten-konten video maupun gambar yang dibuat model AI mereka tetap disertai oleh tanda air, namun, yang bersifat tidak terlihat.

Tanda yang dimaksud adalah SynthID dan metadata C2PA. Keduanya mungkin sulit diidentifikasi oleh pengguna biasa atau masyarakat awam dan mereka harus melakukan pencarian lebih dalam untuk mengecek kedua hal itu.

Woodward mengatakan fitur opsi menghilangkan tanda air pada konten AI buatan Google itu dirilis hampir di banyak negara kecuali “di negara-negara yang diwajibkan oleh hukum untuk mempertahankannya”.

Fitur itu artinya tidak akan tersedia di Uni Eropa yang baru-baru ini mengumumkan aturan mengenai transparansi AI dan mewajibkan tanda air perlu terlihat pada konten AI yang “tampak autentik”. Tidak hanya itu, Korea Selatan juga telah melakukan langkah serupa di awal 2026.

Tanda air terkadang menjadi penghalang bagi pengguna yang memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan kreatif.

“Kami tengah menyeimbangkan antara kendali kreatif dan keamanan,” kata Woodward.

Penanda untuk konten AI saat ini tengah menjadi salah satu sorotan banyak pihak secara global. Selain Google, terbaru ada Suno yang menawarkan layanan AI untuk membuat musik dan mengumumkan sistem pelabelan untuk menunjukkan kontennya memang dibuat oleh AI.

Pelabelan itu juga dapat berfungsi untuk menunjukkan konten buatan AI itu dapat diidentifikasi juga oleh platform audio lainnya.

Selain itu, Anthropic juga mengumumkan bahwa mereka telah menambahkan penanda konten AI yang tidak terlihat berbasis C2PA pada konten teks ataupun file yang dihasilkan oleh Claude.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5695788/google-mungkinkan-hapus-tanda-air-terlihat-pada-gambar-dan-video-ai?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=editor_picks

WhatsApp bakal perangi “scammers” dengan fitur pengingat berbasis AI

WhatsApp bakal perangi “scammers” dengan fitur pengingat berbasis AI

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi, Meta, tengah menyiapkan fitur barunya untuk memerangi para penipu digital atau scammers di layanan WhatsApp bernama Scam Alert.

Fitur ini sudah dalam tahapan pengujian beta, memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI). Cara kerjanya adalah dengan menjalankan model pembelajaran mesin di perangkat untuk menandai pesan penipuan.

Dilaporkan Cnet, Kamis (13/8) waktu setempat, Meta menjanjikan bahwa data yang dikumpulkan AI tersebut tidak akan menganggu privasi obrolan pengguna . Tidak akan ada percakapan yang dibagikan ke WhatsApp, Meta, maupun entitas lainnya.

Agar bisa menjajal fitur ini, pengguna nantinya harus mengaktfikan Scam Alert di menu pengaturan WhatsApp.

Ketika diaktifkan nantinya akan ada AI yang diunduh secara otomatis ke ponsel pengguna untuk kemudian mempelajari pesan-pesan penipuan. Pengguna dapat menonaktifkan fitur ini kapan saja.

Scam Alert akan beroperasi di latar belakang dengan mengklasifikasikan pesan teks masuk dari pengirim yang tidak dikenal.

Aplikasi ini menganalisis pola komunikasi yang terkait dengan penipuan seperti permintaan informasi pribadi, nada mendesak, dan taktik membangun kepercayaan yang disengaja digunakan dalam penipuan berbasis hubungan romantis atau kerap dikenal sebagai love scamming.

WhatsApp nantinya bakal menampilkan notifikasi peringatan potensi penipuan dalam pesan yang hanya akan dilihat oleh penerima apabila terdeteksi ada pesan penipuan.

Untuk menindak lanjuti notifikasi tersebut, pengguna dapat memblokir pengirim pesan, melaporkan percakapan, mengabaikan notifikasinya, atau mempercayai pengirim yang tidak dikenal.

Opsi terakhir akan menghapus tanda peringatan dan menghentikan pemberitahuan di masa mendatang untuk percakapan tersebut.

Karena ini adalah AI yang terus belajar, nantinya pengguna bakal diarahkan untuk memilih membagikan lima pesan terakhir dari pengirim terpercaya langsung ke WhatsApp untuk membantu menjaga keakuratan model membedakan pesan penipuan dan pesan yang sifatnya komunikasi sehari-hari.

Bagian fitur ini tidak terjadi secara otomatis dan pengguna harus memilih untuk membagikan data tersebut.

Fitur Scam Alert masih dalam versi beta terbatas sehingga belum semua pengguna bisa menggunakannya, Meta juga belum mengumumkan jadwal peluncuran publik penuh fitur tersebut.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5693933/whatsapp-bakal-perangi-scammers-dengan-fitur-pengingat-berbasis-ai

Meta bagikan 15.000 kacamata AI untuk penyandang tunanetra di Irlandia

Meta bagikan 15.000 kacamata AI untuk penyandang tunanetra di Irlandia

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi Meta dikabarkan membagikan sebanyak 15.000 kacamata pintar hasil kolaborasinya dengan Ray-Ban kepada para penyandang tunanetra dan orang dengan gangguan penglihatan di Irlandia.

Langkah itu dilakukan Meta di tengah banyaknya protes mengenai privasi menyoal kacamata pintarnya yang ditenagai kecerdasan artifisial (AI).

Mengutip Engadget, Kamis (13/8), bantuan itu diserahkan Meta melalui badan amal nasional untuk tunanetra Irlandia bernama Vision Ireland.

Kacamata dari Meta itu dari awal memang memiliki fitur-fitur yang bisa membantu orang dengan masalah penglihatan misalnya membacakan teks dengan lantang dan mengidentifikasi objek di sekitar pengguna.

Pengguna bisa meminta kacamata pintar itu untuk mendeskripsikan lingkungan mereka guna membantu pengguna menyelesaikan aktivitasnya dengan cara yang lebih aman.

Tidak hanya bisa membacakan teks, kacamata berbasis AI itu juga bisa membalas teks yang ada di ruang obrolan sehingga mempermudah penggunanya untuk berinteraksi secara digital.

Meta juga bekerja sama dengan jaringan Be My Eyes, sehingga pengguna dapat menghubungi sukarelawan melalui kacamata mereka. Para sukarelawan Be My Eyes kemudian dapat membantu mereka dengan tugas-tugas sederhana seperti memilih pakaian atau menemukan jenis susu yang tepat di toko kelontong.

Sebenarnya kacamata pintar tersebut memiliki banyak kegunaan namun di balik itu semua saat ini Meta justru mendapatkan banyak respons negatif.

Hal itu dikarenakan kacamata itu dapat merekam orang secara diam-diam tanpa persetujuan. Hal ini juga makin memanas ketika ada layanan yang menawarkan untuk menonaktifkan LED perekam di kacamata pintar tersebut.

Hal itu dapat membuat objek yang direkam lengah karena seharusnya LED itu menyala jika pengguna kacamata pintar Meta sedang melakukan perekaman video.

Meta sebenarnya telah menanggapi hal ini dengan menjanjikan penonaktifkan kamera di kacamata buatan apabila terdeteksi ada yang LED-nya sengaja dinonaktifkan.

Terlepas dari kontroversi tersebut, harapannya kacamata yang dibagikan secara gratis dan tidak dipungut biaya bagi penyandang tunanetra itu diharapkan dapat membantu para penerimanya untuk menjalani kesehariannya dengan lebih mudah lewat dukungan teknologi.

Ke depannya Vision Ireland bakal memilih penerima yang memenuhi syarat dan akan membekali mereka dengan pelatihan dan dukungan langsung agar bisa memanfaatkan fitur-fitur kacamata AI Meta dengan baik.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5694115/meta-bagikan-15000-kacamata-ai-untuk-penyandang-tunanetra-di-irlandia

Instagram Ganti Logo Setelah 10 Tahun Tak Berubah, Ini Kata Netizen

Instagram Ganti Logo Setelah 10 Tahun Tak Berubah, Ini Kata Netizen

Jakarta, CNN Indonesia — Instagram mengganti logo teks yang biasa bertengger di bagian atas aplikasi tersebut setelah satu dekade tidak berubah.

Perubahan tersebut diumumkan oleh Bos Instagram Adam Mosseri di akun pribadinya pada Kamis (13/8).

“Logo teks di bagian atas aplikasi ini tidak pernah berubah selama 10 tahun, jadi sudah waktunya untuk diperbarui,” kata Mosseri.

Ia mengatakan logo tersebut kini hadir lebih rapi dan modern, tetapi tetap mengacu pada ciri khas Instagram.

“Tampilannya kini lebih rapi dan modern, dengan sentuhan yang mengacu pada desain aslinya serta kesederhanaan dan keahlian yang selalu menjadi ciri khas Instagram,” lanjut Mosseri.

Mosseri sadar perubahan ini akan memicu respons pengguna. Ia lantas mengunggah pengumuman serupa di akun Threads untuk melihat respons publik.

Salah satu respons datang dari akun @mummy_barrow yang menyebut Meta melakukan perubahan yang tak penting sembari mengabaikan apa yang benar-benar diinginkan pengguna.

“Dan dalam episode hari ini tentang hal-hal yang telah dilakukan Meta-yang sebenarnya tidak kami minta-sementara mereka mengabaikan apa yang sebenarnya diinginkan para penggunanya,” katanya pada Kamis (13/8).

Senada, akun @kelseycombe mengatakan alih-alih melakukan perubahan desain, ia membutuhkan Instagram menjadi platform yang lebih aman.

Ia mengaku beberapa kali menjadi korban stalking dan pelecehan di platform tersebut.

“Hei, jadi daripada memikirkan soal desain, bisakah kalian fokus membuat ruang-ruang ini lebih aman bagi para perempuan?,” katanya.

“Sudah berkali-kali aku diintai dan dilecehkan di sini, tapi timmu mengabaikannya selama berbulan-bulan,” imbuhnya.

Sementara itu, pengguna lain menyindir logo teks tampak seperti “Instagzam” alih-alih Instagram.

“Sepertinya nama ini berubah menjadi Instagzam,” tulis akun @mylifeofpics.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260814131413-185-1392269/instagram-ganti-logo-setelah-10-tahun-tak-berubah-ini-kata-netizen

Google Izinkan Toko Aplikasi Android Pihak Ketiga di Play Store

Google Izinkan Toko Aplikasi Android Pihak Ketiga di Play Store

Liputan6.com, Jakarta – Google mulai membuka akses distribusi toko aplikasi pihak ketiga melalui Google Play Store.

Langkah ini memungkinkan pengguna Android di Amerika Serikat (AS) untuk menemukan dan memasang toko aplikasi alternatif langsung dari Play Store, setelah perjalanan panjang yang berkaitan dengan persoalan hukum dan persaingan di ekosistem aplikasi.

Untuk tahap awal, Aptoide Games menjadi yang pertama tersedia di Play Store. Toko aplikasi tersebut berfokus kepada game, dan menawarkan berbagai judul gratis maupun berbayar.

Namun, fitur ini belum berlaku secara global karena distribusi toko aplikasi pihak ketiga tersebut. Saat ini hanya tersedia bagi pengguna di Negeri Paman Sam.

Google menjelaskan, pengguna dapat menemukan toko aplikasi pihak ketiga melalui halaman khusus di Play Store. Akses tersebut bisa dilakukan melalui tautan langsung, menu akun Google Play, halaman kategori aplikasi, maupun pencarian dengan kata kunci seperti “App Store” atau nama toko aplikasi tertentu.

Disitat dari 9to5google, Kamis (13/8/2026), dalam penerapannya Google tetap memberlakukan kebijakan Play Store terhadap toko aplikasi pihak ketiga.

Namun, perusahaan menegaskan tidak akan meninjau setiap aplikasi yang tersedia di dalam toko-toko tersebut. Google juga tidak bertanggung jawab untuk mengelola pembaruan aplikasi maupun sistem pembayaran yang digunakan oleh toko pihak ketiga.

Proses pemasangan Aptoide Games dari Play Store juga dibuat relatif sederhana, serupa dengan ketika pengguna memasang aplikasi Android pada umumnya.

Setelah toko aplikasi terpasang, pengguna dapat mengunduh aplikasi atau gim yang tersedia di dalamnya tanpa perlu melewati mekanisme keamanan tambahan.

Pengujian Instal Game

Dalam pengujian yang dilakukan 9to5Google, game Clash of Kings yang diunduh melalui Aptoide dapat digunakan dengan lancar. Satu-satunya langkah tambahan yang muncul adalah konfirmasi dengan menekan opsi “Install” setelah proses pengunduhan aplikasi selesai.

Kehadiran toko aplikasi pihak ketiga langsung di Google Play Store menjadi perubahan penting dalam cara pengguna Android memperoleh aplikasi dan game.

Langkah ini juga memberikan jalur yang lebih praktis bagi layanan seperti Epic Games untuk mendistribusikan toko aplikasi alternatif, tanpa membuat pengguna harus melalui proses instalasi yang rumit.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8268175/google-izinkan-toko-aplikasi-android-pihak-ketiga-di-play-store

YouTube Ubah Aturan Monetisasi Buat Kreator, Ini Poin-poinnya

YouTube Ubah Aturan Monetisasi Buat Kreator, Ini Poin-poinnya

Jakarta, CNN Indonesia — YouTube mengubah sejumlah aturan monetisasi dalam YouTube Partner Program (YPP), termasuk syarat bagi kreator baru dan mekanisme pendapatan dari Shorts.

Perubahan tersebut diumumkan YouTube dalam blog resminya pada 10 Agustus 2026 dan akan mulai berlaku pada 1 Februari 2027.

“Para kreator dapat meninjau dan menyetujui ketentuan baru tersebut di YouTube Studio, yang akan mulai berlaku pada 1 Februari 2027,” tulis YouTube dalam pengumuman tersebut, Senin (10/8).

YouTube menyebut ini sebagai perubahan signifikan pertama pada YPP sejak 2018. Saat ini, program tersebut telah diikuti lebih dari 3 juta kreator.

Berikut sejumlah perubahan yang diumumkan YouTube.

1. Premium Lite diperluas

YouTube akan memperluas Premium Lite ke seluruh negara tempat YouTube Premium tersedia.

Layanan ini menawarkan pengalaman menonton sebagian besar konten tanpa gangguan, bisa diputar secara offline, dan berjalan di latar belakang.

Kreator memperoleh pendapatan dari langganan tersebut melalui kumpulan pendapatan khusus untuk setiap jenis langganan.

Sebanyak 30 persen dari pendapatan bersih langganan Premium dan 60 persen dari Premium Lite dialokasikan ke kumpulan pendapatan tersebut.

Dana kemudian didistribusikan kepada kreator berdasarkan waktu tonton dan jumlah tayangan dari pelanggan.

Dari distribusi tersebut, kreator mendapatkan bagi hasil sebesar 55 persen untuk video berdurasi panjang dan 45 persen untuk Shorts.

YouTube menyebut kreator secara rata-rata memperoleh pendapatan lebih tinggi ketika pengguna berlangganan Premium dibandingkan saat pengguna menonton iklan.

2. Syarat pendapatan Shorts berubah

YouTube juga mengubah cara distribusi pendapatan Shorts. Mulai 1 Februari 2027, kreator harus memiliki 10 juta tayangan Shorts yang memenuhi syarat dalam 90 hari terakhir agar bisa mendapatkan bagi hasil dari iklan dan langganan di Shorts.

Kanal yang berada di bawah ambang tersebut tetap menjadi bagian dari YPP dan masih dapat memperoleh pendapatan dari konten berdurasi panjang.

Kemudian, bagi hasil Shorts akan kembali aktif secara otomatis ketika channel kembali mencapai 10 juta tayangan dalam 90 hari.

YouTube menyebut kreator yang saat ini sudah memperoleh pendapatan signifikan dari Shorts kemungkinan tidak akan banyak terdampak perubahan tersebut.

Selain itu, YouTube akan memperluas peluang pendapatan melalui program insentif baru.

Program tersebut antara lain mencakup bonus YouTube Shopping, insentif untuk kesepakatan dengan merek, serta tambahan pendapatan bagi kreator yang memulai dan mengembangkan tren.

Rincian lebih lanjut mengenai program insentif tersebut akan diumumkan kemudian.

3. Syarat masuk YPP diperketat untuk kreator baru

YouTube juga menaikkan persyaratan bagi kreator baru yang ingin memperoleh bagi hasil dari iklan dan Premium.

Kreator baru harus memiliki 8.000 jam waktu tonton yang memenuhi syarat dalam 365 hari terakhir.

Alternatifnya, kreator harus mengumpulkan 20 juta tayangan Shorts yang memenuhi syarat dalam 90 hari terakhir.

Perubahan tersebut hanya berlaku bagi kreator baru yang mendaftar ke YPP.

Kreator yang sudah berada dalam YPP tidak terdampak aturan masuk baru tersebut.

YouTube mengatakan persyaratan untuk fitur Fan Funding dan produk belanja tidak berubah.

Perusahaan milik Google ini menyebut perubahan dilakukan seiring pertumbuhan penggunaan YouTube.

YouTube saat ini mencatat lebih dari 200 miliar tayangan Shorts setiap hari dan lebih dari 1 miliar jam waktu tonton di televisi setiap hari.

Kreator dapat meninjau dan menyetujui ketentuan baru melalui YouTube Studio sebelum aturan mulai berlaku pada 1 Februari 2027.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260813114927-185-1391783/youtube-ubah-aturan-monetisasi-buat-kreator-ini-poin-poinnya

Anthropic bakal tandai teks yang dihasilkan oleh model AI-nya

Anthropic bakal tandai teks yang dihasilkan oleh model AI-nya

Jakarta (ANTARA) – Anthropic dikabarkan bakal memberikan tanda khusus atau watermark untuk teks yang dihasilkan oleh model-model kecerdasan artifisial-nya (AI) termasuk Claude untuk mematuhi peraturan yang berlaku di Eropa.

Pembuat model AI itu mengonfirmasi penandaan itu dalam halaman dukungan yang telah mereka perbarui.

Dalam laporan TechCrunch, Selasa (11/8) waktu setempat, aturan yang berlaku di Eropa tersebut mengacu pada UU AI Uni Eropa mengenai transparansi kode yang mulai berlaku pada 2 Agustus 2026.

Perusahaan-perusahaan AI diwajibkan untuk memberikan tanda pada konten yang dihasilkan oleh AI maupun diedit oleh AI dengan cara yang dapat diidentifikasi oleh sistem lain.

Anthropic menyatakan bahwa semua model yang dirilis setelah 2 Agustus akan secara otomatis memiliki teknologi untuk memberi tanda khusus pada teks yang dihasilkan komputer dan juga pada file. Untuk file, perusahaan menggunakan standar terbuka C2PA.

Penandaan itu juga bakal diperluas ke model-model AI yang lama dan menambahkan untuk teks yang dihasilkan nantinya tanda yang diberikan bakal ikut berpindah saat pengguna menyalin maupun menempel teksnya.

“Karena watermark merupakan bagian dari teks, watermark akan ikut berpindah bersama teks saat disalin dan ditempel di tempat lain, dan mungkin tetap ada meskipun ada beberapa pengeditan,” demikian bunyi pernyataan Claude.

Perusahaan tersebut mencatat bahwa penambahan watermark akan diterapkan pada berbagai produk seperti API platform Claude, Claude, Claude Code, Claude Cowork, dan Claude Tag.

Kini, berbagai platform berlomba-lomba memberi tanda khusus pada konten yang dihasilkan AI setelah mendapat kecaman dari pengguna dan untuk menghindari pengawasan regulasi.

Misalnya platform musik AI Suno mengatakan akan memberi tanda pada lagu-lagu yang dibuat di platformnya setelah serangkaian tantangan hukum.

Lalu pada Juli, layanan buletin Substack bekerja sama dengan Pangram untuk menandai konten yang dihasilkan AI. CEO perusahaan tersebut Chris Best, mengecam Claudefishing, istilah yang digunakan untuk orang-orang yang menggunakan AI untuk menghasilkan konten.Selain Anthropic, perusahaan lain seperti Black Forest Labs, Google, Meta, Microsoft, OpenAI, dan Synthesia telah berkomitmen untuk mematuhi kode etik Uni Eropa.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5690423/anthropic-bakal-tandai-teks-yang-dihasilkan-oleh-model-ai-nya

7 AI untuk Notulen Rapat yang Mengubah Cara Meeting, Catatan Otomatis dalam Hitungan Menit

7 AI untuk Notulen Rapat yang Mengubah Cara Meeting, Catatan Otomatis dalam Hitungan Menit

Rapat atau meeting merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih untuk berdiskusi, menyamakan tujuan, menyelesaikan permasalahan, maupun mengambil keputusan terkait pekerjaan.

Agar hasil pembahasan rapat tidak terlupakan dan dapat dijadikan sebagai acuan, setiap rapat perlu didokumentasikan dalam bentuk notulen.

Seiring perkembangan teknologi, proses pembuatan notulen kini dapat dilakukan secara otomatis dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI).

AI notulen mampu merekam percakapan, membuat transkrip, menyusun ringkasan, serta mengidentifikasi poin-poin penting dan tindak lanjut (action items) dari hasil rapat.

Dengan demikian, Anda dapat lebih fokus mengikuti jalannya diskusi tanpa harus sibuk mencatat setiap pembahasan.

Lantas, aplikasi AI apa saja yang dapat digunakan untuk membantu proses pembuatan notulen rapat?

Daftar AI Terbaik untuk Membuat Notulen Rapat

Berikut adalah beberapa rekomendasi aplikasi AI yang dapat digunakan untuk membantu proses pembuatan notulen rapat secara otomatis:

1. Gemini AI

Tim INILAHcom mencoba memanfaatkan Gemini AI untuk membuat notulen atau catatan ringkas.

Namun, prosesnya bukan dengan merekam percakapan secara langsung menggunakan Gemini AI. Sebagai gantinya, tim menggunakan audio yang diambil dari salah satu video Shorts di akun YouTube INILAHcom.

Audio tersebut kemudian diunggah ke Gemini AI dengan permintaan untuk mengubahnya menjadi teks (transkrip).

Setelah proses transkripsi selesai, Gemini AI kembali diminta untuk menyusun hasil transkrip tersebut menjadi sebuah notulen atau catatan tertulis yang ringkas.

Hal yang cukup menarik, Gemini AI juga menampilkan durasi proses pengerjaannya.

Seluruh proses, mulai dari mengubah audio menjadi teks hingga menyusun notulen, hanya membutuhkan waktu sekitar 25 detik.

Dalam waktu yang relatif singkat tersebut, hasil yang diberikan tergolong sangat memuaskan.

Gemini AI tidak hanya menghasilkan transkrip audio yang lengkap, tetapi juga menyusun notulen dengan informasi yang runtut dan mudah dipahami.

Yang lebih mengesankan, Gemini AI turut memberikan kesimpulan dari isi pembahasan. Padahal, kesimpulan tersebut tidak diminta secara khusus oleh tim INILAHcom.

Fitur tambahan ini membuat hasil akhirnya terasa lebih lengkap dan siap digunakan.

Secara keseluruhan, tim INILAHcom merasa sangat puas dengan hasil yang diberikan oleh Gemini AI.

Kecepatan proses, kelengkapan transkrip, kualitas notulen, serta adanya kesimpulan otomatis menjadi nilai tambah yang membuat pengalaman menggunakan Gemini AI terasa sangat membantu.

2. Perplexity

Untuk mendapatkan perbandingan yang setara, tim INILAHcom menggunakan parameter yang sama saat menguji Perplexity.

Audio yang digunakan berasal dari salah satu video di akun YouTube INILAHcom.

Selanjutnya, dengan prompt yang sama seperti pada pengujian sebelumnya, tim INILAHcom meminta Perplexity untuk mengubah audio tersebut menjadi teks sekaligus membuat notulen dari isi pembahasan.

Dari hasil pengujian tersebut, tim INILAHcom menemukan bahwa Perplexity tidak menampilkan hasil konversi audio ke dalam bentuk transkrip teks secara terpisah.

Sebaliknya, AI ini langsung menyajikan notulen berdasarkan isi audio yang diberikan.

Menariknya, Perplexity turut memberikan informasi tambahan berupa topik pembahasan dan nama pembicara yang terdapat di dalam audio.

Hal ini menjadi perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan Gemini AI, sekaligus menjadi nilai tambah karena tim INILAHcom dapat mengetahui siapa yang sedang berbicara pada setiap pembahasan.

Untuk hasil notulennya sendiri, Perplexity mampu menyusun ringkasan yang cukup baik dan lengkap.

Isi notulen mencakup pembahasan dari awal hingga akhir video, dengan penjelasan yang runtut sehingga mudah dipahami.

Selain itu, Perplexity juga memberikan kesimpulan dari hasil notulen yang telah dibuat.

Fitur ini menjadi salah satu kesamaan dengan Gemini AI, karena keduanya sama-sama mampu menyajikan ringkasan akhir yang memudahkan pengguna memahami inti pembahasan.

Secara keseluruhan, tim INILAHcom menilai Perplexity sangat dapat diandalkan untuk membuat notulen secara otomatis.

Kemampuannya dalam merangkum isi audio, menampilkan informasi mengenai topik dan pembicara, serta memberikan kesimpulan menjadikannya pilihan yang sangat berguna bagi Anda yang merekam rapat dalam bentuk audio dan ingin memperoleh notulen secara cepat dan praktis.

3. ClickUp

ClickUp merupakan platform manajemen proyek yang dilengkapi dengan fitur AI, yaitu ClickUp Brain, untuk membantu pengelolaan tugas dan dokumentasi rapat.

Melalui fitur AI Notetaker, ClickUp dapat bergabung ke rapat Zoom, Google Meet, maupun Microsoft Teams untuk merekam percakapan, membuat transkrip, dan menyusun ringkasan secara otomatis.

Keunggulan ClickUp adalah kemampuannya mengubah hasil rapat menjadi action items yang dapat langsung dibuat sebagai tugas lengkap dengan penanggung jawab dan tenggat waktu.

Selain itu, aplikasi ini menyediakan fitur pencarian berbasis AI untuk menemukan kembali informasi dari rapat sebelumnya.

Namun, sebagian besar fitur AI, termasuk AI Notetaker, hanya tersedia pada paket berlangganan berbayar.

4. tl;dv

tl;dv (Too Long; Didn’t View) merupakan aplikasi pencatat rapat berbasis AI yang mampu merekam, mentranskripsi, dan merangkum hasil rapat secara otomatis pada platform, seperti Google Meet, Zoom, dan Microsoft Teams.

Aplikasi ini banyak digunakan karena mampu mempercepat proses dokumentasi rapat.

Keunggulan tl;dv meliputi dukungan lebih dari 30 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, kemampuan mengenali pembicara, serta fitur Ask tl;dv yang memungkinkan pengguna mencari informasi tertentu dari isi rapat tanpa membaca seluruh transkrip.

Selain itu, versi gratisnya telah menyediakan fitur perekaman dan transkripsi tanpa batas untuk Google Meet dan Zoom.

Meskipun demikian, akurasi transkripsi dapat menurun pada percakapan yang menggunakan bahasa gaul, singkatan, atau disampaikan dengan tempo yang cepat.

5. Otter.ai

Otter.ai merupakan aplikasi asisten rapat berbasis AI yang dapat merekam percakapan, membuat transkrip secara real-time, dan menghasilkan notulen rapat secara otomatis.

Aplikasi ini dapat digunakan untuk rapat daring maupun tatap muka dan dikenal memiliki akurasi yang tinggi, terutama untuk percakapan berbahasa Inggris.

Fitur unggulan Otter.ai meliputi transkrip langsung selama rapat, OtterPilot yang dapat bergabung otomatis ke platform Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams, serta Otter Chat untuk menelusuri kembali informasi dari rapat yang telah berlangsung.

Namun, dukungan terhadap Bahasa Indonesia masih terbatas sehingga hasil transkripsi pada percakapan berbahasa Indonesia atau campuran sering kali kurang akurat.

6. Read.ai

Read.ai merupakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang berfungsi untuk merekam, mentranskripsi, dan merangkum hasil rapat secara otomatis.

Aplikasi ini dapat digunakan pada berbagai platform konferensi video, seperti Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams, serta mendukung pencatatan rapat secara langsung.

Keunggulan Read.ai terletak pada kemampuannya menghasilkan ringkasan rapat yang berisi poin-poin penting, keputusan, dan action items secara otomatis.

Selain itu, aplikasi ini dapat mengenali pembicara, mengelompokkan pembahasan berdasarkan topik, serta menganalisis tingkat partisipasi setiap peserta selama rapat.

Read.ai juga menyediakan fitur Search Copilot yang memudahkan pengguna mencari informasi atau keputusan dari rapat sebelumnya tanpa harus membaca seluruh transkrip.

7. Krisp

Krisp merupakan aplikasi AI yang awalnya dikembangkan sebagai teknologi peredam kebisingan (noise cancellation) dan kini dilengkapi dengan fitur AI Meeting Assistant untuk merekam, mentranskripsi, serta membuat ringkasan rapat secara otomatis.

Aplikasi ini dapat digunakan pada berbagai platform konferensi, seperti Zoom, Google Meet, dan Microsoft Teams.

Salah satu keunggulan Krisp adalah proses pencatatan rapat yang dilakukan tanpa menggunakan bot, sehingga tidak menampilkan akun tambahan di dalam ruang rapat.

Selain menghasilkan transkrip yang akurat, Krisp juga mampu mengidentifikasi pembicara, menyusun ringkasan, serta mengekstraksi action items dari hasil diskusi.

Teknologi peredam kebisingannya juga membantu meningkatkan kualitas audio sehingga hasil transkripsi menjadi lebih akurat.

Namun, sebagian besar fitur AI untuk pencatatan dan ringkasan rapat hanya tersedia pada paket berlangganan berbayar.

Sumber : https://www.inilah.com/ai-untuk-notulen-rapat