Arsitektur Ekspansi Bisnis: Membangun Ekosistem Anak Perusahaan Lewat Reinvestasi Laba dan Kolaborasi

Arsitektur Ekspansi Bisnis: Membangun Ekosistem Anak Perusahaan Lewat Reinvestasi Laba dan Kolaborasi

Kediri – Bagi banyak wirausahawan, memperluas jangkauan bisnis hingga memiliki puluhan anak perusahaan (holding group) sering kali dianggap sebagai pencapaian puncak. Namun, di balik ambisi ekspansi tersebut, bayang-bayang kegagalan akibat inefisiensi operasional, hilangnya fokus manajemen, hingga krisis likuiditas selalu mengintai. Lantas, bagaimana strategi taktis membangun ekosistem bisnis menggurita yang tangguh dan berkelanjutan?

Dalam sebuah sesi pemikirannya, Eggy Adityawan, CEO dari Trina Group, membagikan cetak biru (blueprint) praktis mengenai arsitektur ekspansi multi-PT. Ia menekankan tiga pilar utama: pengelolaan laba terstruktur, pembatasan diversifikasi bidang lewat kolaborasi, serta pemilihan model bisnis kemitraan yang terukur.

1. Strategi Keuangan: Sinergi Reinvestasi Laba Ditahan

Langkah awal yang fundamental dalam arsitektur ekspansi bisnis tidak berawal dari mencari pendanaan luar atau modal ventura, melainkan dari kedisiplinan alokasi arus kas internal (retained earnings). Banyak pengusaha terjebak dengan menarik laba bersih bisnis untuk konsumsi pribadi (prive) terlalu dini.

Pak Eggy Adityawan menyarankan model akumulasi laba bertingkat. Seluruh pengurus dan manajerial di setiap entitas bisnis difungsikan secara profesional dengan remunerasi gaji, sementara dividen/laba bersih dialokasikan khusus untuk melahirkan entitas PT baru secara sistematis.

“Kalau di perusahaan kita yang pertama itu dari sudut pandang keuangan… kita ada PT A, PT B, PT C, stakeholder semua dan lain-lain itu sistemnya gaji semua. Labanya kita bikin untuk PT D. PT A, PT B, PT C, PT D semua labanya kita bikin PT E.”

Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Melalui metode ini, ekspansi anak perusahaan berfungsi bak bola salju (snowball effect). Kemampuan modal untuk mendirikan PT baru akan semakin kuat seiring bertambahnya jumlah entitas yang beroperasi dan menyumbangkan labanya ke dalam ekosistem entitas berikutnya.

2. Batas Diversifikasi & Sinergi Kolaborasi Strategic Joint Venture

Kesalahan umum pebisnis pemula adalah over-diversification—masuk ke terlalu banyak industri yang tidak saling terkait tanpa penguasaan kompetensi inti. Untuk menjaga kapabilitas manajemen, Eggy Adityawan memberikan batasan ketat mengenai jumlah sektor usaha yang digarap.

“Masukannya jangan lebih dari 3, 4 bidang, itu udah maksimal. Boleh lebih diversifikasinya lebih dari satu perusahaan, akan tetapi kalian harus kolaborasi.”

Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Bagaimana jika sebuah grup ingin mengekspansi lini baru tanpa melampaui batas kapabilitas eksekutifnya? Jawabannya terletak pada Kolaborasi Kompetensi (Joint Venture). Daripada membangun kapabilitas baru dari nol yang berisiko tinggi dan memakan waktu lama, gabungkan dua keahlian matang dari dua pihak berbeda untuk membentuk PT baru.

“Misalkan di perusahaan kita produksi contohnya pupuk, kita kolaborasi dengan digital marketing yang ahli juga. Akhirnya kedua kompetensi ini kita gabung, akhirnya bisa menambah satu, dua PT lagi dan selanjutnya.”

Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Konsep Sinergi:

  • Perusahaan A (Ekspertis Manufaktur/Produksi Pupuk) + Perusahaan B (Ekspertis Digital Marketing) = PT Baru (Entitas Komersialisasi & Penjualan Masif). Langkah ini memangkas kurva belajar (learning curve) dan mempercepat penetrasi pasar.

3. Model Bisnis Kemitraan: Skalabilitas Tinggi vs. Hambatan “Own Brand”

Pilar ketiga dalam memosisikan bisnis agar dapat mengekspansi puluhan perusahaan terletak pada pemilihan model operasional. Membangun merek sendiri (own brand) memang menawarkan kendali penuh dan margin potensial yang tinggi, namun menyimpan biaya Research & Development (R&D) serta ketidakpastian yang besar.

Pak Eggy Adityawan membandingkan proses panjang own brand dengan kemitraan strategis bernilai tinggi seperti bermitra dengan BUMN atau korporasi besar (contohnya Pertamina).

“Contoh kita mitra dengan berbagai brand, salah satunya Pertamina. Itu SOP, KPI, semuanya itu sudah jelas untuk harga beli, harga jual, dan lain-lain, kita tinggal menjalankannya saja.”

Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Sebaliknya, ketika pebisnis memaksakan diri membangun seluruh variabel bisnis dari nol di tiap anak perusahaan, kecepatan ekspansi akan terhambat secara drastis.

“Tapi kalau kita membuat brand sendiri, harga jual sendiri, HPP sendiri, itu akan susah untuk diversifikasi sampai puluhan perusahaan. Itu sedikit dari saya, semoga bermanfaat.”

Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Kesimpulan

Ekspansi menuju holding grup berskala besar bukanlah soal seberapa banyak ide yang bisa diwujudkan secara mandiri, melainkan seberapa disiplin alokasi keuangan modal internal, seberapa fokus manajemen menjaga kompetensi inti (maksimal 3–4 bidang), serta seberapa cerdas memanfaatkan struktur bisnis kemitraan yang sudah teruji untuk dikloning secara cepat.

Tiga Taman Nasional Resmi Jadi BLU, Tak Lagi Bergantung APBN

Tiga Taman Nasional Resmi Jadi BLU, Tak Lagi Bergantung APBN

Liputan6.com, Jakarta – Tiga destinasi wisata alam unggulan Indonesia, yakni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Gunung Rinjani, resmi menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU). Status baru ini memberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan untuk mempercepat pembangunan fasilitas, meningkatkan layanan ekowisata, sekaligus memperkuat konservasi kawasan.

Penetapan tersebut merujuk pada Keputusan Menteri Keuangan Nomor 186 Tahun 2026 tertanggal 22 Juli 2026. Tiga unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Kehutanan itu kini menjadi satuan kerja (satker) yang menerapkan PPK-BLU.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, penerapan BLU menjadi bagian dari transformasi pengelolaan taman nasional agar semakin profesional dan mampu memberikan pelayanan publik berkualitas.

“Penerapan status BLU pada TN Bromo Tengger Semeru, TN Komodo, dan TN Gunung Rinjani adalah wujud komitmen Kementerian Kehutanan untuk menghadirkan pelayanan publik yang cepat, responsif, dan bertaraf internasional,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/7/2026).

“Fleksibilitas yang diberikan bukan untuk mencari keuntungan, melainkan agar pendapatan dari layanan dapat langsung diputar kembali untuk membiayai operasional, perlindungan kawasan, serta pengembangan fasilitas yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan wisatawan,” tambah dia.

Dengan skema tersebut, pendapatan dari layanan taman nasional dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pengelolaan kawasan dengan tetap mengedepankan akuntabilitas dan tata kelola yang baik.

Pembiayaan Inovatif

Penerapan BLU juga akan diperkuat melalui Satgas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional. Satgas tersebut bertugas mendampingi pengembangan pembiayaan berkelanjutan melalui skema inovatif, kemitraan strategis, serta optimalisasi nilai jasa lingkungan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.

Raja Juli berharap kombinasi skema BLU dan pembiayaan inovatif dapat meningkatkan kemandirian finansial kawasan konservasi sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Melalui kolaborasi antara status BLU dan keberadaan Satgas Pembiayaan Inovatif Taman Nasional, kita mendorong kedaulatan finansial kawasan konservasi agar tidak bergantung pada APBN. Ini adalah bentuk nyata efisiensi dan transparansi anggaran negara demi menjaga kelestarian alam Indonesia sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan,” tegas Menhut Raja Juli Antoni.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Satyawan Pudyatmoko menjelaskan, skema PPK-BLU akan mengadopsi praktik manajemen modern, mulai dari perencanaan bisnis dan pengendalian biaya hingga pengukuran kinerja serta manajemen risiko.

Siapkan Kelembagaan dan Regulasi Turunan

Menurut Satyawan, status BLU memungkinkan pengelola tiga taman nasional merespons kebutuhan pemeliharaan kawasan maupun peningkatan layanan pengunjung dengan lebih cepat tanpa melalui proses anggaran yang panjang.

“Status BLU memungkinkan ketiga balai taman nasional merespons kebutuhan pemeliharaan kawasan dan peningkatan layanan pengunjung secara cepat tanpa terhambat proses birokrasi anggaran yang panjang. Tata kelola ini mengacu pada UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, PP No. 23 Tahun 2005 (j.o. PP No. 74 Tahun 2012), serta PMK No. 129 Tahun 2020. Kinerja setiap satker akan diukur dengan ketat melalui Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Rencana Bisnis Anggaran (RBA) yang transparan,” jelas Satyawan Pudyatmoko.

Dalam enam bulan ke depan, Kemenhut akan fokus menyiapkan kelembagaan dan regulasi turunan, termasuk aturan mengenai struktur organisasi serta tarif layanan BLU.

“Langkah konkret kami dalam enam bulan ke depan adalah menyiapkan dan mengawal penterbitan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) terkait SOTK Satker BLU serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai Tarif Layanan BLU. Kami memastikan transisi ini berjalan mulus sehingga kualitas layanan pemanfaatan jasa lingkungan dan perlindungan keanekaragaman hayati dapat segera terakselerasi,” pungkas Dirjen KSDAE.

Dengan perubahan tersebut, Kemenhut berharap Bromo Tengger Semeru, Komodo, dan Gunung Rinjani dapat menjadi contoh pengelolaan taman nasional yang menggabungkan konservasi, kemandirian finansial, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8254627/tiga-taman-nasional-resmi-jadi-blu-tak-lagi-bergantung-apbn

Wamenaker: Pelatihan Vokasi Nasional siapkan SDM dunia usaha-industri

Wamenaker: Pelatihan Vokasi Nasional siapkan SDM dunia usaha-industri

Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengatakan program Pelatihan Vokasi Nasional menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja, produktif, dan sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.

Wamenaker dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu, menilai perubahan pasar kerja yang berlangsung semakin cepat menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan industri.

“Pelatihan vokasi bukan sekadar memberikan keterampilan, tetapi menjadi investasi untuk menyiapkan SDM yang siap bekerja, produktif, dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha maupun dunia industri,” ujar Afriansyah.

Pada 2026 Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sendiri menargetkan 300 ribu peserta mengikuti berbagai program Pelatihan Vokasi Nasional di seluruh Indonesia, katanya menjelaskan.

Target tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan berbasis kompetensi sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Selain memperluas akses pelatihan, Kemnaker juga memberikan perhatian kepada pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) serta masyarakat yang membutuhkan peningkatan kompetensi.

Melalui program reskilling dan upskilling, peserta dibekali keterampilan baru agar memiliki peluang lebih besar untuk kembali bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.

“Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak perubahan ekonomi tetap memiliki kesempatan meningkatkan kompetensinya. Dengan keterampilan baru, mereka memiliki peluang untuk kembali bekerja atau membangun usaha sendiri,” kata Afriansyah.

Lebih lanjut ia mengatakan penyelenggaraan pelatihan vokasi perlu disesuaikan dengan potensi unggulan setiap daerah agar kompetensi yang diperoleh peserta benar-benar selaras dengan kebutuhan pasar kerja.

Di Sumatera Barat, misalnya, pengembangan kompetensi diarahkan pada sektor jasa, perdagangan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi salah satu penopang perekonomian daerah.

Untuk mendukung upaya tersebut, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) juga ia sebut perlu terus mengoptimalkan jejaring kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, dan UMKM guna meningkatkan penyerapan lulusan pelatihan sekaligus produktivitasnya.

“Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan pelatihan di dunia kerja sekaligus membuka peluang lahirnya wirausaha baru yang dapat menggerakkan perekonomian daerah,” ujar Wamenaker.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5666343/wamenaker-pelatihan-vokasi-nasional-siapkan-sdm-dunia-usaha-industri

Analisis Degree of Operating Leverage sebagai Alat Evaluasi Risiko dan Pertumbuhan Bisnis

Analisis Degree of Operating Leverage sebagai Alat Evaluasi Risiko dan Pertumbuhan Bisnis

Kediri – Dalam praktik bisnis, peningkatan penjualan sering kali dianggap sebagai indikator utama keberhasilan perusahaan. Asumsi yang umum berkembang adalah bahwa apabila penjualan meningkat sebesar 10%, maka laba perusahaan juga akan meningkat dengan persentase yang sama. Kenyataannya, hubungan antara penjualan dan laba operasional tidak selalu bersifat proporsional. Pada banyak perusahaan, kenaikan penjualan yang relatif kecil dapat menghasilkan peningkatan laba operasional yang jauh lebih besar. Sebaliknya, penurunan penjualan dalam persentase yang kecil juga dapat menyebabkan penurunan laba yang jauh lebih besar.

Fenomena tersebut terjadi karena adanya perbedaan struktur biaya yang dimiliki setiap perusahaan, khususnya komposisi antara biaya tetap (fixed costs) dan biaya variabel (variable costs). Perusahaan dengan proporsi biaya tetap yang tinggi akan menunjukkan karakteristik pertumbuhan laba yang berbeda dibandingkan perusahaan yang sebagian besar biayanya bersifat variabel.

Untuk memahami hubungan tersebut, dikenal suatu konsep dalam analisis keuangan yang disebut Degree of Operating Leverage (DOL). Analisis ini tidak hanya digunakan untuk mengukur sensitivitas laba operasional terhadap perubahan penjualan, tetapi juga menjadi salah satu alat penting dalam mengevaluasi risiko operasional, perencanaan kapasitas produksi, serta pengambilan keputusan investasi.

Pengertian Degree of Operating Leverage

Degree of Operating Leverage (DOL) merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat sensitivitas Earnings Before Interest and Tax (EBIT) terhadap perubahan penjualan (sales atau revenue).

Dengan kata lain, DOL menjelaskan seberapa besar persentase perubahan laba operasional yang akan terjadi apabila penjualan mengalami perubahan dalam persentase tertentu.

Secara konseptual, DOL dapat dipahami sebagai pengaruh struktur biaya operasional terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin besar proporsi biaya tetap yang dimiliki perusahaan, semakin besar pula perubahan EBIT yang dihasilkan akibat perubahan penjualan.

Oleh karena itu, DOL sering digunakan sebagai indikator untuk menilai seberapa besar efek pengungkit (operating leverage) yang dimiliki suatu perusahaan.

Konsep Dasar yang Mendasari DOL

Untuk memahami DOL secara menyeluruh, terlebih dahulu perlu dipahami beberapa komponen utama yang membentuk laba operasional perusahaan.

Penjualan (Revenue)

Penjualan merupakan seluruh pendapatan yang diperoleh perusahaan dari aktivitas operasional sebelum dikurangi berbagai biaya.

Biaya Variabel (Variable Cost)

Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara langsung mengikuti volume penjualan atau volume produksi.

Contohnya meliputi:

  • bahan baku,
  • kemasan,
  • komisi penjualan,
  • biaya distribusi berdasarkan jumlah produk.

Semakin tinggi penjualan, semakin besar biaya variabel yang dikeluarkan perusahaan.

Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya relatif tidak berubah dalam periode tertentu, meskipun volume penjualan mengalami kenaikan maupun penurunan.

Contohnya meliputi:

  • biaya sewa gedung,
  • gaji pegawai tetap,
  • penyusutan mesin,
  • asuransi,
  • biaya administrasi tertentu.

Karakteristik utama biaya tetap adalah tetap harus dibayar meskipun perusahaan tidak melakukan penjualan.

Earnings Before Interest and Tax (EBIT)

EBIT merupakan laba operasional yang diperoleh perusahaan sebelum memperhitungkan beban bunga dan pajak.

EBIT digunakan karena mencerminkan kemampuan operasional perusahaan dalam menghasilkan laba tanpa dipengaruhi oleh keputusan pendanaan maupun kebijakan perpajakan.

Dengan demikian, EBIT memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kinerja operasional perusahaan.

Mekanisme Terjadinya Degree of Operating Leverage

Konsep DOL muncul akibat keberadaan biaya tetap dalam struktur biaya perusahaan.

Apabila suatu perusahaan memiliki biaya tetap yang besar, maka pada saat penjualan meningkat, tambahan pendapatan tersebut tidak lagi digunakan untuk menutup biaya tetap yang telah dibayarkan sebelumnya. Sebagian besar tambahan pendapatan hanya akan dikurangi oleh biaya variabel sehingga menghasilkan peningkatan EBIT yang relatif lebih besar.

Sebaliknya, ketika penjualan mengalami penurunan, biaya tetap tetap harus dibayar sehingga penurunan EBIT dapat terjadi dalam persentase yang lebih besar dibandingkan penurunan penjualan.

Dengan demikian, biaya tetap berfungsi sebagai pengungkit (leverage) yang memperbesar perubahan laba operasional.

Rumus Degree of Operating Leverage

Secara umum, DOL dihitung menggunakan rumus berikut.

DOL = Persentase Perubahan EBIT ÷ Persentase Perubahan Penjualan

Rumus tersebut menunjukkan bahwa DOL merupakan rasio antara perubahan laba operasional dengan perubahan penjualan.

Sebagai ilustrasi:

  • Penjualan meningkat sebesar 10%.
  • EBIT meningkat sebesar 25%.

Maka:

DOL = 25% ÷ 10% = 2,5

Nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap kenaikan penjualan sebesar 1% akan diikuti kenaikan EBIT sekitar 2,5%.

Sebaliknya, apabila penjualan turun sebesar 1%, maka EBIT diperkirakan akan turun sekitar 2,5%, dengan asumsi struktur biaya perusahaan tidak mengalami perubahan.

Interpretasi Nilai DOL

Nilai DOL memberikan informasi mengenai tingkat sensitivitas laba operasional perusahaan.

DOL Rendah

Perusahaan dengan DOL rendah memiliki perubahan EBIT yang relatif kecil terhadap perubahan penjualan.

Karakteristiknya antara lain:

  • proporsi biaya tetap relatif rendah,
  • risiko operasional lebih kecil,
  • pertumbuhan laba cenderung lebih stabil.

DOL Tinggi

Perusahaan dengan DOL tinggi menunjukkan perubahan EBIT yang jauh lebih besar dibandingkan perubahan penjualan.

Karakteristiknya meliputi:

  • proporsi biaya tetap tinggi,
  • potensi pertumbuhan laba lebih besar,
  • risiko operasional juga lebih tinggi.

Perusahaan dengan DOL tinggi dapat memperoleh peningkatan laba yang sangat cepat ketika penjualan meningkat. Namun pada kondisi penjualan menurun, perusahaan juga berpotensi mengalami penurunan laba yang signifikan.

DOL sebagai Alat Evaluasi Risiko

Salah satu fungsi utama DOL adalah membantu manajemen mengukur tingkat risiko operasional perusahaan.

Perusahaan dengan DOL tinggi memiliki ketergantungan yang lebih besar terhadap tingkat penjualan. Oleh karena itu, perubahan kondisi pasar, penurunan permintaan, atau meningkatnya persaingan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap laba operasional.

Sebaliknya, perusahaan dengan DOL rendah cenderung memiliki stabilitas laba yang lebih baik karena struktur biaya tetapnya relatif kecil.

Dengan demikian, DOL dapat digunakan sebagai indikator awal dalam mengevaluasi tingkat risiko operasional suatu perusahaan.

DOL sebagai Alat Evaluasi Pertumbuhan Bisnis

Selain digunakan untuk mengukur risiko, DOL juga memiliki peran penting dalam mengevaluasi potensi pertumbuhan perusahaan.

Ketika perusahaan mempertimbangkan investasi pada mesin baru, pembangunan fasilitas produksi, atau pembukaan cabang baru, manajemen perlu memahami bagaimana perubahan struktur biaya tersebut akan memengaruhi laba operasional di masa mendatang.

Investasi yang meningkatkan biaya tetap akan menyebabkan nilai DOL meningkat. Kondisi tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan laba yang lebih cepat apabila target penjualan berhasil dicapai. Namun apabila pertumbuhan penjualan tidak sesuai harapan, peningkatan biaya tetap justru dapat menurunkan profitabilitas perusahaan.

Oleh karena itu, analisis DOL sering digunakan sebagai dasar dalam penyusunan strategi ekspansi bisnis.

Kelebihan dan Keterbatasan Analisis DOL

Kelebihan

  • Mengukur sensitivitas laba operasional terhadap perubahan penjualan.
  • Membantu manajemen dalam menyusun target penjualan.
  • Mendukung analisis risiko operasional.
  • Menjadi dasar evaluasi investasi aset tetap.
  • Membantu proses perencanaan pertumbuhan perusahaan.

Keterbatasan

Meskipun memiliki manfaat yang besar, DOL juga memiliki beberapa keterbatasan.

Perhitungan DOL umumnya mengasumsikan bahwa biaya tetap dan biaya variabel tidak berubah selama periode analisis. Dalam praktiknya, perusahaan dapat mengalami perubahan kapasitas produksi, perubahan harga bahan baku, maupun perubahan kebijakan operasional yang menyebabkan struktur biaya berubah.

Selain itu, DOL lebih tepat digunakan untuk analisis jangka pendek dibandingkan analisis jangka panjang, karena perubahan struktur biaya dalam jangka panjang sering kali cukup signifikan.

Kesimpulan

Degree of Operating Leverage merupakan salah satu alat analisis yang digunakan untuk mengukur sensitivitas laba operasional terhadap perubahan penjualan. Analisis ini memberikan pemahaman mengenai bagaimana struktur biaya, khususnya biaya tetap, memengaruhi pertumbuhan maupun penurunan laba operasional perusahaan.

Perusahaan dengan DOL yang tinggi memiliki peluang memperoleh pertumbuhan laba yang lebih besar ketika penjualan meningkat, namun juga menghadapi risiko operasional yang lebih tinggi apabila penjualan mengalami penurunan. Sebaliknya, perusahaan dengan DOL yang rendah cenderung memiliki pertumbuhan laba yang lebih stabil dengan tingkat risiko operasional yang lebih rendah.

Oleh karena itu, DOL tidak hanya berfungsi sebagai alat perhitungan matematis, tetapi juga sebagai instrumen analisis dalam mengevaluasi risiko, merencanakan ekspansi usaha, serta mendukung proses pengambilan keputusan strategis bagi manajemen maupun investor.

Harga Emas Antam Melorot Rp35 Ribu ke Level Rp2,605 Juta Hari ini

Harga Emas Antam Melorot Rp35 Ribu ke Level Rp2,605 Juta Hari ini

Jakarta, CNN Indonesia — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Jumat (24/7). Harga dasar emas Antam ukuran 1 gram kini berada di level Rp2,605 juta per gram, melemah dibandingkan posisi sebelumnya.
Berdasarkan data resmi situs Logam Mulia Antam, harga emas Antam hari ini turun Rp35 ribu dibandingkan harga pada Kamis (23/7) yang berada di level Rp2,640 juta per gram.

Sejalan, harga pembelian kembali juga mengalami pelemahan. Logam Mulia mencatat harga buyback emas Antam hari ini turun Rp50 ribu menjadi Rp2,345 juta per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback saat ini berada di kisaran Rp260 ribu per gram.

Sementara itu, berdasarkan situs HRTA Gold, harga Emasku BSI Gold ukuran 1 gram hari ini berada di level Rp2,425 juta, sedangkan harga buyback dipatok Rp2,304 juta.

Kemudian, berdasarkan situs Galeri24, harga emas Galeri24 dijual Rp2,608 juta per gram, sedangkan emas UBS dibanderol Rp2,620 juta per gram.

Perbedaan harga antarproduk tersebut dipengaruhi oleh produsen, standar cetakan, hingga jalur distribusi masing-masing merek.

Berikut daftar lengkap harga emas Jumat, 24 Juli:

Antam (harga dasar, belum termasuk pajak)

0,5 gram: Rp1.352.500

1 gram: Rp2.605.000

2 gram: Rp5.150.000

3 gram: Rp7.700.000

5 gram: Rp12.800.000

10 gram: Rp25.545.000

25 gram: Rp63.737.000

50 gram: Rp127.395.000

100 gram: Rp254.712.000

250 gram: Rp636.515.000

500 gram: Rp1.272.820.000

1.000 gram: Rp2.545.600.000

BSI Gold (Harga Dasar / Buyback)

0,1 gram: Rp309.000 / Rp230.400

0,25 gram: Rp724.500 / Rp576.000

0,5 gram: Rp1.267.500 / Rp1.152.000

1 gram: Rp2.425.000 / Rp2.304.000

2 gram: Rp4.810.000 / Rp4.608.000

5 gram: Rp11.945.000 / Rp11.520.000

10 gram: Rp23.840.000 / Rp23.040.000

25 gram: Rp59.325.000 / Rp57.600.000

50 gram: Rp118.600.000 / Rp115.200.000

100 gram: Rp237.100.000 / Rp230.400.000

125 gram: Rp295.750.000 / Rp285.500.000

150 gram: Rp354.750.000 / Rp342.600.000

175 gram: Rp413.700.000 / Rp399.700.000

200 gram: Rp472.600.000 / Rp456.800.000

250 gram: Rp590.250.000 / Rp563.375.000

500 gram: Rp1.180.500.000 / Rp1.126.750.000

1.000 gram: Rp2.361.000.000 / Rp2.253.500.000

Galeri24

0,5 gram: Rp1.368.000

1 gram: Rp2.608.000

2 gram: Rp5.153.000

5 gram: Rp12.787.000

10 gram: Rp25.508.000

25 gram: Rp63.425.000

50 gram: Rp126.750.000

100 gram: Rp253.374.000

250 gram: Rp631.878.000

500 gram: Rp1.263.756.000

1.000 gram: Rp2.527.510.000

UBS

0,5 gram: Rp1.416.000

1 gram: Rp2.620.000

2 gram: Rp5.200.000

5 gram: Rp12.850.000

10 gram: Rp25.565.000

25 gram: Rp63.786.000

50 gram: Rp127.310.000

100 gram: Rp254.518.000

250 gram: Rp636.107.000

500 gram: Rp1.270.721.000

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260724093441-92-1384400/harga-emas-antam-melorot-rp35-ribu-ke-level-rp2605-juta-hari-ini

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2,640 Juta per Gram

Harga Emas Antam Naik Jadi Rp2,640 Juta per Gram

Jakarta, CNN Indonesia — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik pada perdagangan Kamis (23/7). Harga dasar emas Antam ukuran 1 gram kini berada di level Rp2,640 juta per gram, menguat dibandingkan posisi sebelumnya.

Berdasarkan data resmi situs Logam Mulia Antam, harga emas Antam hari ini naik Rp5 ribu dibandingkan harga pada Rabu (22/7) yang berada di level Rp2,635 juta per gram.

Sejalan, harga pembelian kembali juga mengalami penguatan. Logam Mulia mencatat harga buyback emas Antam hari ini naik Rp9 ribu menjadi Rp2,395 juta per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya. Selisih antara harga jual dan harga buyback saat ini berada di kisaran Rp245 ribu per gram.

Sementara itu, berdasarkan situs HRTA Gold, harga Emasku BSI Gold ukuran 1 gram hari ini berada di level Rp2,467 juta, sedangkan harga buyback dipatok Rp2,346 juta.

Kemudian, berdasarkan situs Galeri24, harga emas Galeri24 dijual Rp2,619 juta per gram, sedangkan emas UBS dibanderol Rp2,632 juta per gram.

Perbedaan harga antarproduk tersebut dipengaruhi oleh produsen, standar cetakan, hingga jalur distribusi masing-masing merek.

Berikut daftar lengkap harga emas Kamis, 23 Juli:

Antam (harga dasar, belum termasuk pajak)
0,5 gram: Rp1.370.000

1 gram: Rp2.640.000

2 gram: Rp5.220.000

3 gram: Rp7.805.000

5 gram: Rp12.975.000

10 gram: Rp25.895.000

25 gram: Rp64.612.000

50 gram: Rp129.145.000

100 gram: Rp258.212.000

250 gram: Rp645.265.000

500 gram: Rp1.290.320.000

1.000 gram: Rp2.580.600.000

BSI Gold (Harga Dasar / Buyback)

0,1 gram: Rp314.000 / Rp234.600

0,25 gram: Rp736.000 / Rp586.500

0,5 gram: Rp1.288.500 / Rp1.173.000

1 gram: Rp2.467.000 / Rp2.346.000

2 gram: Rp4.894.000 / Rp4.692.000

5 gram: Rp12.155.000 / Rp11.730.000

10 gram: Rp24.260.000 / Rp23.460.000

25 gram: Rp60.375.000 / Rp58.650.000

50 gram: Rp120.700.000 / Rp117.300.000

100 gram: Rp241.300.000 / Rp234.600.000

125 gram: Rp301.000.000 / Rp292.625.000

150 gram: Rp361.050.000 / Rp351.150.000

175 gram: Rp421.050.000 / Rp409.675.000

200 gram: Rp481.000.000 / Rp468.200.000

250 gram: Rp600.750.000 / Rp579.750.000

500 gram: Rp1.201.500.000 / Rp1.159.500.000

1.000 gram: Rp2.403.000.000 / Rp2.319.000.000

Galeri24

0,5 gram: Rp1.374.000

1 gram: Rp2.619.000

2 gram: Rp5.175.000

5 gram: Rp12.841.000

10 gram: Rp25.613.000

25 gram: Rp63.689.000

50 gram: Rp127.277.000

100 gram: Rp254.428.000

250 gram: Rp634.508.000

500 gram: Rp1.269.015.000

1.000 gram: Rp2.538.029.000

UBS

0,5 gram: Rp1.422.000

1 gram: Rp2.632.000

2 gram: Rp5.222.000

5 gram: Rp12.903.000

10 gram: Rp25.671.000

25 gram: Rp64.052.000

50 gram: Rp127.840.000

100 gram: Rp255.577.000

250 gram: Rp638.755.000

500 gram: Rp1.276.010.000.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723100044-92-1383940/harga-emas-antam-naik-jadi-rp2640-juta-per-gram

Kisah matcha lokal dari Jawa Barat – ‘Jangan malu minum matcha Indonesia’

Kisah matcha lokal dari Jawa Barat – ‘Jangan malu minum matcha Indonesia’

Martabak matcha, klepon matcha, cendol matcha, sampai risol matcha—demam bubuk hijau asal Jepang ini tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda di Indonesia. Ternyata, di balik tren yang terus meluas, sebagian besar matcha yang dikonsumsi masyarakat masih berasal dari luar negeri.

Sebagai salah satu negara penghasil terbesar teh di dunia, bisakah Indonesia ikut bermain di pasar yang selama ini masih didominasi Jepang?

Tidak ada sumber yang bisa memastikan kapan matcha mulai masuk ke Indonesia.

Namun, beberapa penggemar matcha mengaku mengenal bubuk hijau itu dari jaringan kedai kopi global sekitar tahun 2000-an, disajikan dalam bentuk minuman yang dicampur dengan susu.

Biasanya, menu itu dijadikan rekomendasi buat orang-orang yang tidak minum kopi.

Meski dikenal sebagai campuran minuman susu, sejatinya matcha berasal dari daun teh hijau yang dihaluskan hingga berbentuk bubuk.

Namun, tidak semua teh hijau bubuk bisa disebut matcha.

Daun teh untuk matcha ditanam dan diolah dengan cara berbeda dibanding teh hijau pada umumnya.

Proses inilah yang menghasilkan cita rasa khas berupa umami dan membuat matcha dilabeli sebagai minuman sehat karena tinggi antioksidan, baik untuk metabolisme, serta memberikan efek fokus yang tenang.

Visualnya yang menarik, berwarna hijau nyentrik, ditambah dengan rasa yang unik dan manfaatnya yang baik, membuat banyak orang terdorong untuk membagikan pengalaman icip-icipnya melalui media sosial.

Popularitas matcha pun meluas jauh melampaui kafe-kafe premium. Matcha bisa ditemukan di kedai pinggir jalan di kota-kota kecil.

Penggunaannya semakin variatif, tidak lagi terbatas pada campuran minuman, tapi juga merambah ke berbagai kreasi makanan.

Popularitas matcha dari lokal hingga global

Sejak awal kemunculannya hingga saat ini, matcha sudah menjangkau masyarakat yang semakin luas, yang artinya juga memperluas pasarnya.

Merisha Ayu, CEO kafe Uji Matcha yang telah berdiri sejak 2017, mengungkap perkembangan pasar matcha sangat signifikan. Hal ini tergambar dari impor matcha untuk kafenya yang meningkat dari tahun ke tahun.

“Saya percaya kedepannya matcha ini masih tetap booming. Apalagi dengan gaya hidup masyarakat atau pasar sekarang, yang mana mereka itu lebih peduli dengan kesehatan dan juga lebih sadar dengan apa yang dikonsumsi,” kata Merisha.

Ruang pertumbuhan pasar matcha di Tanah Air, menurut Merisha, juga masih luas. Apalagi saat ini matcha juga sudah merambah industri kecantikan, digunakan buat skincare hingga parfum.

Perusahaan riset pasar asal India, Mobility Foresight memprediksi, sampai tahun 2031, pasar matcha di Indonesia diperkirakan memiliki laju pertumbuhan tahunan rata-rata hingga 14,8%, didorong oleh kesadaran kesehatan, budaya kafe yang Instagrammable, dan inovasi produk.

Secara global, sejumlah perusahaan riset pasar memprediksi, sampai tahun 2033 pertumbuhan pasar matcha berada di angka 7%—9%.

Melihat pasar yang masih berkembang baik lokal maupun global, seberapa besar potensi Indonesia meramaikan pasar matcha ini, mengingat negara ini berada dalam daftar negara penghasil terbesar teh di dunia?

Petani lokal mengambil kesempatan

Potensi itu rupanya sudah dibaca oleh produsen teh lokal di Ciwidey, Jawa Barat, sekitar satu dekade lalu, ketika matcha mulai populer.

Rizal Firdaus dan keluarganya sudah puluhan tahun berbisnis teh, termasuk teh hitam, teh hijau, teh putih, teh oolong, teh kuning, dan masih banyak jenis lainnya. Pada 2016, barulah Rizal mencoba bereksperimen di matcha.

“Saya melihat yang produksi matcha di Indonesia tidak ada saat itu. Mungkin ada hanya sebatas green tea powder [teh hijau bubuk], tapi matcha masih diambil dari Jepang,” ujarnya.

“Saya berpikir, Indonesia kan punya banyak teh, kenapa tidak kita coba bikin matcha di Indonesia?”

Butuh delapan tahun riset dan pengembangan, sampai akhirnya Rizal percaya diri memasarkan matcha buatannya lebih luas lagi.

Berbekal pengetahuan hasil belajar dari sejumlah literatur dan internet, Rizal mencari kebun teh mana yang daun cocok, sekaligus membimbing petani dan pemetik agar menghasilkan bahan baku terbaik.

Sebab, teh hijau memerlukan perlakuan khusus supaya bisa disebut matcha.

Sekitar dua minggu sebelum panen, tanaman teh harus dinaungi untuk mengurangi paparan sinar matahari.

Teknik ini meningkatkan kandungan L-theanine yang berkontribusi pada rasa umami dan memicu produksi klorofil yang membuat warna matcha lebih hijau cerah, bukan hijau kecoklatan maupun kekuningan.

Pemetikannya pun dilakukan secara manual dan hanya mengambil pucuk-pucuk terbaik.

Setelah dipanen, daun diolah menjadi tencha—bahan baku matcha—lalu digiling menggunakan mesin batu yang dirancang menyerupai penggiling di Jepang, meski batunya berasal dari Majalengka. Bubuk yang dihasilkan kemudian diayak kembali agar lebih halus.

Matcha buatannya saat ini berada di kategori culinary grade, yakni matcha yang dirancang untuk dicampur dengan susu, gula, atau bahan lain.

Dalam istilah pemasaran global, matcha dibagi dalam dua kategori, yaitu ceremonial grade dan culinary grade.

Sementara matcha ceremonial grade merupakan matcha dengan kualitas tertinggi, yang bisa dikonsumsi langsung, tanpa tambahan bahan lain yang dianggap bisa mengubah rasa. Bisa diseduh dan dikonsumsi hanya dengan campuran air.

Rizal mengakui hasil produksinya masih terus disempurnakan. Dibandingkan matcha Jepang di kategori yang sama, tekstur matcha buatan Rizal masih lebih kasar dan rasanya masih lebih sepat dan pahit.

Walaupun begitu, ketika sudah dicampur susu, rasa sepat dan pahitnya juga berkurang.

Di samping itu, “Indo matcha” buatannya juga sebenarnya sudah menemukan pasar sendiri. Produk dari pabriknya di Ciwidey sudah dipasarkan ke kafe-kafe lokal di Bandung dan reseller tanpa merek, atau yang biasa disebut white label.

Kini, Rizal mampu memproses sekitar 300 kilogram pucuk teh per hari, naik jauh dari hanya 20 kilogram saat masa awal percobaan.

“Dengan melihat tren permintaan, Indo matcha yang saya produksi kelihatannya akan terus berkembang. Terutama karena pasokan matcha Jepang yang terbatas saat ini dan kenaikan harganya yang luar biasa, jadi mungkin ada beberapa yang beralih ke Indo matcha,” kata Rizal optimistis.

‘Jangan malu minum matcha Indonesia’

Rizal bukan satu-satunya pemain matcha lokal di Tanah Air. Masih di Jawa Barat, ada juga yang mengembangkan dan jualan matcha lokal.

Ifah Syarifah rupanya juga sudah bertahun-tahun memproduksi matcha lokal. Sama seperti Rizal, dia juga menggandeng sejumlah petani teh untuk memasok daun teh khusus buat produk matchanya.

Dalam sebulan, Ifah bisa mendapatkan pesanan matcha hingga 500 kilogram, lewat merek Arafa Tea maupun tanpa merek alias white label. Dari sekian banyak produksi yang dia jual, katanya, permintaan terhadap matcha mencapai 70%.

Ifah percaya, dengan edukasi, matcha lokal juga bisa diterima pasar lebih luas lagi.

Meski sudah punya pasar sendiri, Ifah masih akan berinovasi agar kualitas matchanya bisa lebih baik lagi, sehingga tidak kalah dengan matcha impor.

“Beda lho, teh impor dengan teh kita. Yang impor sudah lama di gudang. Teh kita masih segar karena langsung dari kebun. Kita tahu ini ditanam oleh siapa, petani siapa. Itu jadi nilai untuk memberdayakan petaninya,” kata Ifah.

“Jangan takut, jangan malu dengan minum matcha Indonesia karena itu punya kita.”

Seberapa besar potensi matcha lokal diterima pasar?

Rizal dan Ifah sudah membuktikan, ternyata tanaman teh yang ditanam di Indonesia bisa dibikin matcha.

Walaupun rasanya memang tidak sama persis dengan matcha Jepang, tapi itu justru bisa jadi ciri khas, kata para ahli.

Menurut para peneliti, secara teknis, teh di Indonesia bisa dibuat jadi matcha, tapi ada beberapa hal yang membuat hasil akhirnya tidak bisa persis sama, yaitu iklim dan jenis tumbuhan tehnya.

Di Jepang, matcha biasanya berasal dari tanaman teh varietas sinensis. Sedangkan tanaman teh yang sudah ditanam di Indonesia umumnya merupakan varietas assamica, yang biasanya jadi bahan dasar teh hitam, dengan rasa sepat yang kuat.

Kualitas matcha terbaik, yang biasanya disebut ceremonial matcha, juga membutuhkan musim dingin yang membuat tanaman teh menyimpan nutrisi dan asam amino lebih banyak, yang pada akhirnya juga menciptakan cita rasa yang berbeda.

“Kalau sinensis rasanya memang lebih lembut, lebih ringan. Jadi kalau misalnya basisnya assamica memang harus ada sistem pengolahan tertentu, penyempurnaan tertentu untuk menghasilkan [rasa sejenis] itu,” kata peneliti sosial ekonomi Pusat Penelitian Teh dan Kini (PPTK) Gambung, Kralawi Sita.

Dia bilang, saat ini, pasar matcha di Indonesia tidak hanya diisi oleh Jepang, tetapi juga China hingga Taiwan.

Ini menggambarkan sebenarnya pasar matcha di Indonesia juga sudah cukup beragam, tidak hanya diisi satu pemain tunggal.

“Jadi memang perlu sentuhan. Kita mungkin tidak bisa sama betul, tetapi kita bisa, mendekati yang mirip. Yang penting konsumen menerima, sambil mengajari, mengedukasi mereka pelan-pelan bahwa ada diversifikasi produk lain,” ujar Sita.

Menurut dia, produsen teh di Indonesia masih bisa mengisi ruang untuk ikut meramaikan pasar.

Bahkan harapannya, tren matcha ini bisa kembali menggairahkan komoditas teh Tanah Air, yang semakin lama semakin tersingkir dari daftar produsen terbesar teh di dunia.

Bikin segmen pasar yang berbeda

Optimisme itu bukan sekadar asumsi. Sejumlah penelitian juga mencoba mengukur sejauh mana peluang matcha lokal diterima konsumen.

Tahun 2022 lalu, Universitas Gadjah Mada (UGM) menerbitkan hasil penelitian soal potensi tanaman teh varietas assamica klon Gambung buat dijadikan matcha, plus bagaimana penerimaan konsumennya.

Hasil penelitiannya membuktikan proses penaungan atau shading pada varietas assamica diperlukan untuk menghasilkan warna matcha yang lebih hijau dan mengurangi rasa sepat.

Sementara itu, hasil uji sensorik terhadap konsumen menemukan fakta bahwa matcha yang lebih disukai adalah yang rasa sepatnya tidak dominan.

Dari skor satu sampai tujuh, matcha lokal yang diteliti UGM mendapat skor di bawah empat, sementara matcha impor yang dijadikan pembanding mendapat skor di atas lima.

Meski dari penelitian itu terungkap bahwa matcha lokal kurang disukai karena masih terlalu sepat, Supriyadi, salah satu peneliti, berpendapat mungkin karakter rasa itu bisa menyasar segmen pasar yang berbeda.

“Kita harus mencoba mencari klon yang paling pas. Kalau masalah teknologi, tidak susah karena buktinya yang dulu green tea (teh hijau) dari assamica juga laku,” tegas guru besar Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM itu.

“Nah ini berarti ada potensi. Matcha itu juga akan mengikuti dengan segmen pasar yang berbeda tentunya.”

Tantangannya satu, katanya, “Bagaimana cara kita mempromosikan produk baru ini?”

Tapi Supriyadi sudah punya jawabannya sendiri. Dia bilang matcha Indonesia lebih tinggi potensinya sebagai antioksidan daripada yang impor.

“Memang kalau orang awam tidak tahu. Mereka menilainya baru di mulut saja, rasa umaminya enggak muncul. [Masalah kandungan] Antioksidan nanti. Kan edukasinya ke situ,” ujar dia.

Untuk saat ini, matcha lokal memang belum bisa sepenuhnya menandingi cita rasa dan tekstur matcha Jepang yang sudah lebih dulu dikenal luas.

Namun, meningkatnya permintaan dan keterbatasan pasokan dari Jepang, yang sempat menjadi isu sejak 2025 lalu, tampaknya bisa membuka ruang lebih besar bagi produsen dalam negeri untuk terus bereksperimen mencari karakter matcha khas Indonesia.

Sumber : https://www.bbc.com/indonesia/articles/c8x2581z7lro

4 Perusahaan Antre IPO, Sektor Saham Ini Mendominasi

4 Perusahaan Antre IPO, Sektor Saham Ini Mendominasi

Liputan6.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat empat perusahaan masih dalam proses penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Dari empat perusahaan itu, sektor saham perawatan kesehatan mendominasi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin menuturkan, hingga 17 Juli 2026 telah tercatat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI. Dana dihimpun dari BEI mencapai Rp 2,16 triliun.

“Hingga saat ini, terdapat empat perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Saidu, Jumat (17/7/2026).

Berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/pojk.04/2017 antara lain dua perusahaan aset skala kecil atau aset di bawah Rp 50 miliar. Kemudian dua perusahaan aset skala besar atau aset di atas Rp 250 miliar.

Sedangkan dilihat dari sektornya, masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan consumer nonsiklikal. Kemudian dua perusahaan dari perusahaan perawatan kesehatan.

Selain itu, BEI juga mencatat 114 emisi dari 62 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) hingga saat ini. Dana dihimpun Rp 103,86 triliun.

“Sampai dengan 17 Juli 2026 terdapat 11 emisi dari 9 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” ujar Saidu.

Sektor penerbit EBUS itu antara lain masing-masing satu perusahaan dari sektor basic materials dan sektor consumer nonsiklikal, lima perusahaan dari sektor energi. Kemudian masing-masing dua perusahaan dari sektor keuangan dan infrastruktur.

BEI juga mencatat hingga 17 Juli 2026, terdapat 15 perusahaan tercatat atau emiten yang telah menerbitkan rights issue. Total nilai rights issue Rp 10,69 triliun. Saidu mengatakan, masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue di BEI dari sektor properti.

BEI: BSA Jadi Emiten Perdana yang IPO pada 2026

Sebelumnya, di tengah dinamika dan ketidakpastian pasar modal yang sempat diwarnai gonjang-ganjing, PT BSA Logistik Indonesia Tbk (WBSA) justru membuka tahun 2026 dengan langkah berani. Perseroan resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia sebagai emiten pertama tahun ini.

“Saya mengucapkan selamat atas pencatatan perdana saham PT BSA Logistik Indonesia TBK yang resmi. Ini menarik nih, menjadi perusahaan pencatatan yang pertama di 2026,” kata Direktur PT Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna, dalam Pencatatan Perdana Saham PT BSA Logistik Indonesia Tbk, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Menurutnya, momentum ini menjadi sinyal penting bahwa minat perusahaan untuk melantai di bursa tetap terjaga, sekaligus menunjukkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia di tengah kondisi yang fluktuatif.

Keandalan Jaringan Distribusi

Nyoman mengatakan pencatatan perdana ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi awal perjalanan BSA Logistik di arena publik dengan berbagai tuntutan dari regulator dan investor.

“Hari ini kita menjadi saksi PT BSA Logistik Indonesia TBK memulai perjalanannya memasuki apa yang kita maksudkan sebagai public arena, arena publik dengan multiple stakeholder,” ujarnya.

Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor logistik, BSA Logistik menghadapi tantangan bisnis yang sangat operasional, sensitif terhadap waktu, dan bergantung pada kualitas layanan.

BEI menilai, keandalan jaringan distribusi, efisiensi operasional, serta ketepatan waktu pengiriman menjadi faktor krusial yang harus dijaga. Keterlambatan dalam pengiriman tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga dapat menggerus kepercayaan pelanggan.

“Oleh karena itu, perseroan diharapkan menjaga keandalan jaringan distribusi, mengoptimalkan efisiensi perusahaan, dan memastikan on-time delivery dan kualitas layanan,” ujarnya.

Sumber : https://www.liputan6.com/saham/read/8248712/4-perusahaan-antre-ipo-sektor-saham-ini-mendominasi

Rahasia Ray-Ban Menguasai Wajah Dunia

Rahasia Ray-Ban Menguasai Wajah Dunia

Liputan6.com, Jakarta – Dalam industri mode global, kacamata hitam (sunglasses) secara tradisional diperlakukan sebagai aksesori musiman, yang merupakan sebuah pelengkap gaya yang hanya dikenakan saat cuaca terik di luar ruangan atau saat berlibur di pantai. Namun, Ray-Ban berhasil memecahkan pakem tersebut secara radikal.

Merek legendaris yang lahir dari kebutuhan militer ini sukses melakukan disrupsi total dengan mengubah produknya dari sekadar pelindung silau menjadi sebuah simbol budaya pop, mahakarya teknologi kecerdasan buatan, sekaligus kebutuhan medis harian yang melekat di wajah konsumen sepanjang hari.

Melalui kombinasi penetrasi budaya lewat Hollywood, dominasi jalur distribusi vertikal yang ketat, serta keberanian melompat ke ranah teknologi masa depan, Ray-Ban membuktikan bagaimana sebuah warisan klasik dapat mendikte arah modernitas tanpa kehilangan jiwanya.

Mengutip artikel Calgary Vision Centre, Senin (20/7/2026), kekuatan fondasi Ray-Ban berakar pada fungsionalitas murni yang kemudian bertransformasi menjadi ikon mode abadi. Ray-Ban pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an atas permintaan pihak militer AS untuk mengatasi masalah pusing dan silau yang dialami para pilot pesawat tempur, yang melahirkan model Aviator yang legendaris.

Kemampuan Ray-Ban untuk terus relevan melampaui berbagai dekade didorong oleh desainnya yang melintasi batas zaman. Ketika model Wayfarer dirilis pada tahun 1950-an dengan material plastik tebal yang mendobrak pakem kacamata logam saat itu, Ray-Ban resmi mengukuhkan posisinya sebagai bagian tak terpisahkan dari subkultur sinema, musik, dan ekspresi gaya hidup global.

Kekuatan Bisnis Ray-Ban

Artikel Fortune Europe membedah bagaimana kekuatan bisnis modern Ray-Ban ditopang oleh ekosistem raksasa induk perusahaannya, EssilorLuxottica. Ray-Ban tidak lagi sekadar dititipkan di toko-toko optik pihak ketiga yang rentan terhadap fluktuasi pasar. Melalui jaringan EssilorLuxottica, mereka menguasai penuh jalur distribusi vertikal (vertical integration). Mereka memiliki dan mengontrol langsung gerai ritel global raksasa seperti Sunglass Hut dan LensCrafters, di samping gerai resmi Ray-Ban Store mereka sendiri.

Penguasaan dari hulu ke hilir ini memberikan keuntungan strategis yang luar biasa: Ray-Ban dapat mendikte tren pasar secara langsung, mengontrol harga agar tidak hancur oleh perang diskon retail, serta menyajikan pengalaman berbelanja premium yang seragam di seluruh penjuru dunia.

Kejayaan komersial Ray-Ban tidak dapat dipisahkan dari kejeniusan mereka dalam memanfaatkan industri sinema sebagai mesin pemasaran organik. Ray-Ban secara konsisten menerapkan strategi penempatan produk (product placement), di mana kacamata mereka tidak sekadar menjadi properti pasif, melainkan representasi emosional dari karakter utama. Strategi ini secara historis berhasil menyelamatkan model-model klasik Ray-Ban dari kepunahan produksi.

Pada awal era 1980-an, lini Wayfarer hampir dihentikan karena hanya terjual 18.000 pasang setahun. Namun, setelah Tom Cruise mengenakan Ray-Ban Wayfarer (RB2140) dalam film Risky Business (1983) dan posternya memperlihatkan ia melirik dari balik lensa hitam tersebut, penjualan langsung meledak hingga 360.000 pasang di tahun pertama karena merepresentasikan pemberontakan remaja yang keren.

Fenomena serupa terulang secara lebih masif melalui film Top Gun (1986). Ray-Ban mengintegrasikan model Aviator (RB3025) sebagai bagian tak terpisahkan dari seragam emosional karakter Maverick yang diperankan Tom Cruise, menjadikannya simbol mutlak bagi maskulinitas, keberanian, dan kultur pilot tempur.

Efeknya, penjualan Aviator melonjak hingga 40% setelah film dirilis. Puluhan tahun kemudian, ketika sekuel Top Gun: Maverick tayang pada tahun 2022, model klasik ini kembali diburu di pasar global, membuktikan kekuatan investasi visual jangka panjang di layar lebar.

Ray-Ban juga berhasil menyuntikkan produknya sebagai penanda identitas mutlak dalam film kultus The Blues Brothers (1980), di mana duo karakter utamanya mengenakan Wayfarer hampir di setiap adegan untuk memperkuat persona misterius yang cool.

Memasuki era 90-an, strategi ini berevolusi menjadi lebih terintegrasi melalui film Men in Black (1997). Will Smith dan Tommy Lee Jones mengenakan Ray-Ban Predator 2 yang secara fungsional masuk ke dalam plot cerita sebagai pelindung mata dari alat penghapus memori (Neuralyzer). Sinergi antara rilis film dan kampanye iklan serentak ini sukses melambungkan penjualan model Predator hingga bernilai jutaan dolar, menegaskan bahwa penonton tidak sekadar membeli kacamata, melainkan membeli karisma dari karakter yang mereka kagumi.

Lompatan Radikal Kacamata Pintar

Dikutip dari Forbes, disrupsi paling radikal dari Ray-Ban terjadi ketika mereka memutuskan untuk melangkah ke ranah kecerdasan buatan melalui kolaborasi strategis bersama Meta. Industri kacamata pintar atau smart glasses sebelumnya kerap kali dikuasai oleh perusahaan teknologi murni yang menghasilkan desain kaku, aneh, dan tidak modis di wajah, seperti yang terlihat pada kegagalan Google Glass di masa lalu. Berkaca dari kegagalan tersebut, Meta mengambil langkah cerdas dengan mendekati Ray-Ban untuk menyatukan dua dunia yang berbeda.

Strategi genius dari kolaborasi ini adalah komitmen untuk tetap mempertahankan bentuk fisik ikonik khas Ray-Ban, seperti siluet model Wayfarer atau Headliner, namun menyuntikkan teknologi canggih berupa kamera 12MP, sistem audio open-ear, dan asisten kecerdasan buatan (Meta AI) langsung ke dalam gagangnya.

Produk ini sukses besar dan meledak di pasaran dengan catatan penjualan mencapai 7 juta unit pada tahun 2025, yang kemudian berlanjut pada lonjakan masif di awal tahun 2026 di mana EssilorLuxottica berhasil melipatgandakan volume penjualan kacamata pintar tersebut. Konsumen berbondong-bondong membelinya bukan sekadar karena perangkat ini merupakan gadget canggih, melainkan karena produk ini adalah sepasang kacamata Ray-Ban yang keren, modis, dan kebetulan memiliki fitur pintar di dalamnya.

Paradigma Penggunaan Kacamata Hitam

Keberhasilan finansial dan teknologi juga diperkuat oleh kemampuan Ray-Ban membalikkan paradigma penggunaan kacamata hitam. Mereka sangat gencar menawarkan opsi kacamata dengan lensa resep dokter (prescription lenses) dan teknologi lensa Transitions yang secara otomatis menggelap saat terkena sinar matahari dan kembali bening di dalam ruangan.

Langkah ini secara genius memperluas utilitas produk mereka, di mana Ray-Ban bukan lagi sekadar aksesori fesyen musiman yang dipakai sesekali, melainkan bertransformasi menjadi kebutuhan medis harian yang krusial untuk mengoreksi penglihatan sekaligus menjaga penampilan penggunanya sepanjang hari.

Sinergi antara ketahanan warisan desain, kekuatan kontrol ritel, serta ketajaman revolusi wearable tech, menegaskan posisi Ray-Ban sebagai inovator paling tangguh di industri kacamata global. Ray-Ban memberikan pelajaran bisnis yang sangat berharga bahwa teknologi masa depan yang canggih tidak akan diadopsi secara luas jika mengorbankan estetika dan kenyamanan manusia.

Dengan tetap memprioritaskan keindahan desain klasik dan kegunaan medis yang jujur, Ray-Ban memastikan bahwa mereka tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman, melainkan tetap menjadi sang pemegang kendali gaya dan visi dunia.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8249795/rahasia-ray-ban-menguasai-wajah-dunia

Brownies Ketan Sidoarjo: Berawal Dari Dapur Rumah Tembus Pasar Global

Brownies Ketan Sidoarjo: Berawal Dari Dapur Rumah Tembus Pasar Global

Jakarta, CNBC Indonesia – Perjalanan sukses UMKM kuliner “It’s Me Time” menjadi bukti bahwa bisnis yang dikelola secara serius dan didukung pendampingan yang tepat dapat tumbuh secara berkelanjutan. Usaha brownies ketan dengan varian unggulan Choco Chip asal Sidoarjo, Jawa Timur, ini dirintis oleh Jalian Setiarsa pada 2 November 2017.

Bermula dari dapur rumah dengan kapasitas produksi sekitar 300 buah per bulan, Arso perlahan melihat peluang untuk mengembangkan usahanya seiring meningkatnya permintaan pasar. Untuk mendukung pengelolaan usahanya yang semakin berkembang, ia mulai menjadi nasabah simpanan BRI sejak tahun 2018 dan menjalin hubungan perbankan yang kemudian membuka akses terhadap berbagai layanan dan solusi finansial BRI.

Pria yang kerap disapa Arso ini mengatakan bahwa dukungan BRI tidak hanya dirasakan dari sisi pembiayaan, tetapi juga dari proses pendampingan yang diberikan secara langsung oleh petugas BRI di lapangan.

“Saya merasakan bagaimana petugas BRI turut memahami kebutuhan usaha kami, memberikan penjelasan dengan ramah, serta membantu proses bisnis saya berjalan lebih mudah dan sesuai kebutuhan bisnis,” ujarnya, Minggu (12/7/2026).

Lebih lanjut, Arso menyebut selama menjadi bagian dari keluarga besar nasabah BRI, dia merasakan betul keseriusan dan komitmen BRI dalam menyokong pelaku usaha cilik. Bahkan, segala dukungan dari petugas BRI menjadi pemantik semangat untuk terus membesarkan usahanya, karena merasa tidak berjalan sendirian dalam menghadapi tantangan modal usaha.

Setelah mantap menjadi nasabah, Arso pun kian melangkah lebih jauh ke dalam ekosistem pembinaan dengan bergabung sebagai salah satu anggota Rumah BUMN BRI. Di sinilah proses transformasi usahanya mulai berlangsung secara lebih terarah. Melalui pendampingan yang diberikan secara rutin, tim Rumah BUMN membantu Arso membenahi berbagai aspek bisnis, mulai dari tata kelola usaha, peningkatan kualitas produksi, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran.

“Petugas Rumah BUMN membimbing It’s Me Time secara mendalam dan intensif untuk membenahi aspek manajerial. Banyak sekali pelatihan-pelatihan bisnis yang makin membuat saya paham dalam mengurus bisnis,” katanya.

Ia menyebut bahwa para mentor mendampingi Arso melakukan penataan tempat kerja, mulai dari memisahkan area dapur produksi dengan tempat tinggal pribadi, hingga memfasilitasi pengurusan berbagai legalitas baku. Berkat bimbingan berkelanjutan tersebut, produk pangan ini berhasil memperoleh berbagai pengakuan resmi dari skala nasional hingga global, meliputi sertifikat PIRT, Halal, GMP, SNI, hingga standar keamanan pangan internasional Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Langkah penataan mutu dan standardisasi itu pun sukses mengantarkan bisnis kuliner ini naik kelas ke level yang jauh lebih tinggi. Pada tahun 2021, volume produksi It’s Me Time melonjak tajam hingga menyentuh angka 20.000 hingga 25.000 buah per bulan, dengan jangkauan pemasaran yang meluas ke Pulau Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan melalui kanal penjualan daring dan luring.

Puncaknya, BRI secara aktif membukakan akses pasar dunia dengan mengikutsertakan mereka pada ajang pameran bergengsi seperti Brilianpreneur, Trade Expo Indonesia, Halal Food Turki, hingga Indonesian Exhibition Australia. Jaringan internasional tersebut berhasil membuahkan transaksi realisasi ekspor ke Turki dan Hong Kong pada 2021, Singapura dan Australia pada 2022, hingga Malaysia pada 2023, yang turut dibarengi raihan penghargaan bergengsi seperti Produk Terbaik No. 1 BRI hingga peringkat utama di ajang SNI Award.

“Kami sangat terbantu dengan adanya program pelatihan rutin, pendampingan yang intens, sampai ke dukungan pembiayaan. Fasilitas-fasilitas inilah yang membuat wawasan kami jadi lebih terbuka dalam mengelola bisnis, sekaligus membuka jalan buat pemasaran produk kami jadi jauh lebih luas,” ungkap Arso.

Senior Executive Vice President Ultra Micro Business BRI M. Candra Utama menegaskan bahwa BRI memiliki komitmen jangka panjang untuk selalu hadir mendampingi perjalanan usaha para pelaku industri kreatif lokal dari akar rumput sebagai upaya untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan.

“BRI berkomitmen untuk terus mendorong UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh dan naik kelas secara berkelanjutan. Melalui Rumah BUMN, kami fokus pada peningkatan kapasitas usaha dan literasi digital agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu tumbuh berkelanjutan dan naik kelas,” pungkas Candra.

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260712210932-25-750235/brownies-ketan-sidoarjo-berawal-dari-dapur-rumah-tembus-pasar-global