Cegah Pita Palsu, Pabrik Rokok Bakal Dipasangi Mesin Canggih

Cegah Pita Palsu, Pabrik Rokok Bakal Dipasangi Mesin Canggih

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menyiapkan mesin dilengkapi teknologi mengecek keaslian pita cukai rokok. Langkah ini diambil untuk mencegah peredaran pita cukai palsu

Mesin tersebut berbasis teknologi track and trace, dan rencananya ditempatkan di pabrik-pabrik rokok.

“Namanya track and trace dari satu perusahaan baru. Sehingga nanti kita akan taruh mesinnya di pabrik rokok, mesin penghitung, kan pakai teknologi yang lebih baru, dalam waktu dekat akan diterapkan, mungkin dalam setengah tahun ke depan akan full semuanya,” terang Purbaya di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026).

Menurut Purbaya, dengan langkah tersebut tindakan penyelewengan dari pabrik-pabrik rokok dapat terdeteksi.

“Kita juga lebih mudah mendeteksi kalau ada yang menggelap-gelap. Karena ya pitanya itu, pita baru itu bisa di-scan pakai handphone, segala macam, bisa ketahuan dari mana pabriknya, segala macam, jadi enggak bisa macam-macam,” tutur Purbaya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan masih beredarnya pita cukai palsu, Purbaya mengakui potensi pelanggaran oleh oknum tertentu masih ada. Kendati demikian, dengan sistem yang akan disiapkan dipastikan celah pemalsuan akan semakin sempit.

“Pakai teknologi baru itu enggak bisa dipalsu lagi,” ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan, pemerintah menyiapkan rencana penambahan layer baru dalam struktur cukai rokok. Namun, rencana tersebut masih harus dibahas terlebih dahulu bersama Komisi XI DPR.

Ia optimistis penerapan layer baru dapat menekan peredaran rokok ilegal. Purbaya telah bertemu dengan para pelaku rokok ilegal. Dalam momen itu, Purbaya memberikan kesempatan agar mereka dapat beralih ke jalur legal melalui rencana tersebut.

“Yakin. Saya sudah ketemu para pelaku rokok ilegal itu, atau beberapa orang intinya. Saya bilang saya kasih ruang di situ, nanti kalau sudah jadi, masuk situ Anda ke layar baru itu. Kalau Anda masih main-main, saya sikat,” jelas Purbaya.

Sumber : https://finance.detik.com/industri/d-8637419/cegah-pita-palsu-pabrik-rokok-bakal-dipasangi-mesin-canggih

Generasi Boomers Hemat Berkat Tak Beli 6 Hal Ini

Generasi Boomers Hemat Berkat Tak Beli 6 Hal Ini

Liputan6.com, Jakarta – Generasi baby boomers, layaknya generasi lainnya, selalu mencari tips pengeluaran yang dapat menekan budget mereka agar bisa hemat. Pensiun maupun tidak, boomers yang hemat menerapkan pengeluaran cermat dan tabungan bijak untuk mengontrol finansial mereka.

Melansir GOBankingRates, Senin (17/8/2026), seorang baby boomer dan guru yang sudah pensiun dari Kota New York, Denise, membagikan beberapa hal yang tidak pernah dibeli oleh generasi boomers yang hemat.

6 Hal yang Tidak Pernah Dibeli Generasi Boomers Hemat:

1.Makan Malam Rutin di Restoran

New York memiliki banyak restoran mahal, yang disarankan oleh Denise untuk dihindari. Sebagai penggantinya, ambil kesempatan ini untuk memasak hidangan yang lezat.

“Karena punya lebih banyak waktu, saya jadi tertarik dengan buku resep,” ujar Denise.

“Saya sudah menemukan sangat banyak buku resep menarik di toko loak atau toko online. Saya punya lebih banyak waktu untuk mendalami memasak dan menjelajahi hidangan yang berbeda agar makan di rumah terasa lebih menarik. Sebanyak 75% dari waktu saya makan itu dihabiskan di rumah,” lanjutnya.

Saat sedang istirahat dari memasak, Denise berusaha menghadiri acara happy hour dan menikmati menu makan siang spesial untuk bersosialisasi di lingkungan sekitar tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

2.Pakaian dan Barang Mewah

Generasi boomer yang hemat biasanya tidak berbelanja di toko-toko mewah kelas atas seperti Bergdorf Goodman dan Neiman Marcus. Namun, itu tidak berarti mereka harus mengorbankan kualitas.

Denise mengatakan bahwa dia menemukan penawaran menarik untuk merek-merek berkualitas di toko konsinyasi dan toko barang bekas yang mendukung berbagai organisasi. “Dengan membeli barang bekas yang masih dalam kondisi baik, meskipun itu hanya peralatan rumah tangga, saya turut mendukung [lembaga nirlaba] dan berkontribusi dalam upaya daur ulang,” ujarnya.

3.Pendidikan Mahal

Karyawan seringkali harus membayar biaya pendidikan lanjutan sendiri saat atasan mereka tidak menyediakannya. Selain itu, orang dengan ketertarikan lain, seperti penulis dan seniman, membayar biaya tidak sedikit untuk kelas yang mendalami kesenian mereka.

“Sebagai seniman murni, selama bertahun-tahun saya telah menghabiskan ribuan dolar untuk mengikuti kelas seni dan membeli perlengkapan seni,” kata Denise.

“Setiap kelas ini (biayanya) antara US$ 200 (Rp 3,5 juta) hingga US$ 300 (Rp 5,3 juta) per bulan. Mengikuti kelas enam atau tujuh hari seminggu bisa jadi sangat mahal.”

Setelah pensiun, Denise mencari cara lain untuk membawa kesenian ke dalam komunitas lokalnya tanpa membayar ratusan dolar AS demi kelas profesional.

“Saya mengikuti berbagai organisasi seni dan bahkan mendirikannya juga,” kata Denise.

4.Liburan Mahal

Banyak guru berlibur panjang setiap musim panas, dan beberapa destinasi wisata terhitung mahal. Setelah pensiun, Denise memutuskan untuk berlibur di wilayah lokal untuk menghemat.

“Ada banyak pilihan wisata sehari yang menarik yang bisa dinikmati dengan Metro North atau Long Island Railroad, di mana semua bisa mengunjungi berbagai macam tempat,” kata Denise.

“Rutenya sudah dirancang dengan baik dan harganya terjangkau,” ujar dia.

5.Aktivitas dan Hiburan

Hiburan seperti tiket teater cukup mahal, terutama saat musim liburan. Meskipun berfoya-foya sesekali itu wajar, Denise menyarankan untuk lebih kreatif dengan aktivitas yang hemat, bahkan tidak memakan biaya.

“Saya sudah mengikuti berbagai tur jalan kaki, termasuk tur kuliner di Lower East Side, pameran lampu liburan, seni jalanan di Soho, dan tur ‘Haunted East Village,’” kata Denise.

Dia juga mengunjungi perpustakaan lokal untuk mengikuti ceramah dan kelas, serta menjadi bagian dari komite pelestarian sejarah yang melibatkan penelitian di perpustakaan. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya membangkitkan minatnya, tetapi juga membuatnya tetap sibuk tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

6.Perlindungan Kesehatan Tanpa Membaca Ketentuannya

Sebagai generasi baby boomer, penting untuk melindungi keuangan dengan melakukan pengecekan yang cermat.

“Saya harus berhati-hati terhadap perubahan dalam program kesehatan,” kata Denise.

“Pihak asuransi kesehatan saya mengirimkan (surat) yang menyatakan bahwa mereka kini bermitra dengan CVS, tapi apa artinya itu? Apakah itu berarti mereka ingin Anda pergi ke CVS untuk vaksin flu?”

Denise menyarankan para lansia untuk sangat waspada terhadap perubahan dalam cakupan layanan kesehatan, dan selalu memilih penyedia layanan yang tergabung dalam jaringan.

Generasi baby boomer harus selalu membaca ketentuan-ketentuan kecil terkait program-program yang diklaim sebagai program yang lebih baik bagi para lansia dan pensiunan (karena seringkali kenyataannya tidak demikian).

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8269602/generasi-boomers-hemat-berkat-tak-beli-6-hal-ini

Raup Rp17,1 Triliun, Harita Nickel Siap Sulap Panas Sisa Jadi Listrik 50 MW

Raup Rp17,1 Triliun, Harita Nickel Siap Sulap Panas Sisa Jadi Listrik 50 MW

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel mencatatkan pendapatan Rp17,1 triliun sepanjang semester I 2026. Optimalisasi kapasitas produksi dan peningkatan penjualan bijih nikel menjadi penopang kinerja perseroan di tengah tekanan industri nikel global.

Direktur Keuangan Harita Nickel Suparsin Darmo Liwan mengatakan perseroan tetap mengedepankan efisiensi dan keandalan produksi pada seluruh rantai bisnisnya yang terintegrasi.

“Sepanjang semester pertama tahun ini, industri nikel global masih mengalami berbagai tantangan. Dalam kondisi tersebut, kami tetap berfokus menjaga operasional yang efisien, andal, dan terukur di seluruh rantai nilai terintegrasi. Optimalisasi kapasitas produksi mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja penjualan di sejumlah segmen,” ujar Suparsin dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip Rabu (12/8/2026).

Dalam laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, Harita Nickel mencatat peningkatan penjualan bijih nikel dibandingkan semester I tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut ditopang beroperasinya fasilitas tambang baru milik PT Gane Tambang Sentosa (GTS) sejak kuartal III 2025. Tambahan lini produksi fasilitas pirometalurgi PT Karunia Permai Sentosa (KPS) turut memberikan kontribusi terhadap kinerja operasional perseroan.

Pada segmen pirometalurgi, penjualan feronikel juga meningkat secara tahunan. Kenaikan itu terutama didorong tambahan output dari lini produksi fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) milik KPS.

Sementara itu, penjualan produk High Pressure Acid Leach (HPAL) pada segmen hidrometalurgi dipengaruhi oleh jadwal pengiriman.

Harita Nickel terus mengoptimalkan kegiatan operasional dari penambangan hingga pengolahan nikel. Penambahan kapasitas produksi di sejumlah fasilitas dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan fleksibilitas operasional sekaligus menjaga pasokan kepada pelanggan.

Perseroan juga memperkuat praktik usaha yang bertanggung jawab sebagai bagian dari strategi menjaga keandalan produksi dan menopang pertumbuhan jangka panjang.

Mengubah Panas Sisa Menjadi Listrik

Di tengah ekspansi produksi, Harita Nickel melanjutkan sejumlah inisiatif dekarbonisasi untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.

Salah satunya adalah penerapan teknologi waste heat recovery pada fasilitas HPAL. Teknologi tersebut memanfaatkan panas sisa dari kegiatan operasional untuk menghasilkan energi listrik.

Fasilitas itu dirancang memiliki kemampuan menghasilkan listrik hingga 50 megawatt (MW). Pengerjaannya ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026.

Sumber : https://www.inilah.com/raup-rp171-triliun-harita-nickel-nckl-siap-sulap-panas-sisa-jadi-listrik-50-mw

Grab Indonesia ajak para mitra bersinergi untuk berkembang

Grab Indonesia ajak para mitra bersinergi untuk berkembang

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan layanan transportasi berbasis aplikasi Grab Indonesia mengajak para mitra perusahaan, termasuk pengemudi ojek dan pedagang, bersinergi untuk berkembang.

Dalam rangkaian acara perayaan hari ulang tahun ke-81 RI, Chief Executive Officer Grab Indonesia ⁠Neneng Goenadi menyampaikan bahwa kemerdekaan memberikan kesempatan untuk terus berkembang.

“Kita memaknai bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada kebebasan yang kita miliki hari ini, tetapi kemerdekaan juga memberikan kesempatan untuk terus berkembang, menentukan pilihan, dan memperjuangkan masa depan yang kita inginkan,” katanya pada acara peluncuran GrabAcademy di Jakarta pada Selasa.

Ia mengatakan bahwa para mitra menyampaikan keinginan mereka untuk mengembangkan diri dalam berbagai acara diskusi dengan perusahaan.

Misalnya, ada pengemudi ojek yang ingin menjadi pengemudi mobil, pengemudi yang ingin beralih menjadi pedagang mitra, mitra yang ingin menjadi kreator konten, dan mitra yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Oleh karena itu, ia melanjutkan, perusahaan melalui GrabAcademy mengadakan pelatihan untuk mendukung peningkatan kapasitas para mitra.

Program itu menawarkan kesempatan belajar dan mengasah keterampilan kepada pengemudi maupun pedagang mitra Grab Indonesia yang ingin meningkatkan kapasitas dan menjajaki peluang lain dalam ekosistem usaha perusahaan.

GrabAcademy pertama kali dihadirkan pada 2018 sebagai pustaka video pelatihan dasar bagi mitra pengemudi.​​​​​​​

Selanjutnya, GrabAcademy menghadirkan kelas reguler daring dan pelatihan tatap muka bagi para pedagang mitra.

Kegiatan pelatihan bagi mitra pedagang mencakup materi tentang pengelolaan toko, pesanan dan menu, promosi, periklanan, pelayanan pelanggan, keuangan, dan pemanfaatan teknologi digital.

“Sampai sekarang sudah 1,15 juta mitra pengemudi mengakses GrabAcademy, dan lebih dari 204.000 sudah menyelesaikan semua modulnya,” kata Neneng.​​​​​​​​​​​​​

GrabAcademy kini diresmikan sebagai wadah “Mitra Naik Kelas”, yang membantu para mitra meningkatkan keterampilan dan menjajaki peluang baru.

“Ini yang kami katakan makna mengenai peluang tanpa batas. Jadi menghadirkan tentunya lebih banyak jalan bagi mitra untuk menentukan masa depannya,” kata Neneng.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5690045/grab-indonesia-ajak-para-mitra-bersinergi-untuk-berkembang

Harga Kripto 11 Agustus 2026: Bitcoin dan Ethereum Melemah, XRP Masih Tertekan

Harga Kripto 11 Agustus 2026: Bitcoin dan Ethereum Melemah, XRP Masih Tertekan

Liputan6.com, Jakarta – Harga kripto jajaran teratas mayoritas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 07.15 WIB. Koreksi terjadi pada bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), XRP, dan sejumlah altcoin besar lainnya, meski beberapa aset seperti solana (SOL) dan tron (TRX) masih mencatat penguatan dalam sepekan terakhir.

Mengutip coinmarketcap.com, harga kripto kapitalisasi pasar terbesar bitcoin (BTC) turun 1,86% dalam 24 jam terakhir. Namun, selama sepekan terakhir BTC masih menguat 0,79%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi US$ 63.914,53 atau sekitar Rp 1,14 miliar dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.800 per dolar AS.

Harga Ethereum (ETH) juga melemah 2,57% dalam 24 jam terakhir. Meski begitu, selama tujuh hari terakhir ETH masih bertambah 0,75%. Kini, harga Ethereum berada di level US$ 1.871,80 atau sekitar Rp 33,32 juta.

Sementara itu, harga tether (USDT) relatif stabil dengan penurunan tipis 0,02% dalam 24 jam terakhir dan tidak berubah dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga USDT berada di posisi US$ 0,9990.

BNB dan Solana Masih Bertahan

Harga binance coin (BNB) terkoreksi 1,07% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih mencatat kenaikan 1,65% dalam sepekan. Saat ini, harga BNB berada di posisi US$ 598,92.

Adapun USDC bergerak stabil di sekitar US$ 0,9998, dengan kenaikan 0,01% dalam 24 jam terakhir dan 0,01% dalam sepekan terakhir.

Harga XRP melemah 2,32% dalam 24 jam terakhir dan turun 5,96% dalam tujuh hari terakhir. Kini, harga XRP berada di posisi US$ 1,00, sekaligus menjadi salah satu kripto dengan pelemahan terdalam selama sepekan terakhir.

Di sisi lain, solana (SOL) turun 1,31% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih menguat 3,21% dalam sepekan. Saat ini, harga SOL berada di posisi US$ 75,82.

Harga tron (TRX) masih mampu mencatat kenaikan 0,06% dalam 24 jam terakhir dan naik 0,56% dalam sepekan, dengan harga berada di level US$ 0,3305.

Hyperliquid dan Dogecoin Masih Tertekan

Sementara itu, hyperliquid (HYPE) justru menjadi salah satu aset dengan koreksi harian terbesar di jajaran teratas setelah turun 1,53% dalam 24 jam terakhir. Meski demikian, selama sepekan terakhir HYPE masih menguat 1,97% dengan harga berada di US$ 54,94.

Harga dogecoin (DOGE) juga melemah 0,14% dalam 24 jam terakhir dan turun 0,66% dalam sepekan. Kini, harga DOGE berada di posisi US$ 0,06965.

Selain itu, cardano (ADA) turun 2,93% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,00% dalam sepekan, sedangkan chainlink (LINK) justru menguat 1,00% dalam sehari dan naik 1,58% dalam tujuh hari terakhir ke level US$ 8,30.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global tercatat turun 1,23% menjadi US$ 2,18 triliun. Dengan asumsi kurs Rp 17.800 per dolar AS, nilai kapitalisasi pasar tersebut setara sekitar Rp 38.804 triliun.

Volume perdagangan kripto global dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 55,27 miliar, menunjukkan aktivitas transaksi masih cukup tinggi meski pasar bergerak di zona merah.

Sumber : https://www.liputan6.com/crypto/read/8266699/harga-kripto-11-agustus-2026-bitcoin-dan-ethereum-melemah-xrp-masih-tertekan

S&P: Industri Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Juli 2026

S&P: Industri Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Juli 2026

Liputan6.com, Jakarta – Aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan perbaikan pada awal kuartal III 2026. Hal itu tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global, dengan indeks naik menjadi 50,2 pada Juli 2026, setelah sebelumnya berada di level 46,9 pada Juni.

Kenaikan tersebut menandai sektor manufaktur kembali memasuki zona ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Indeks di atas level 50 menunjukkan aktivitas bisnis mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan, data survei Juli menunjukkan volume produksi sektor manufaktur Indonesia kembali meningkat. Hal ini sebagian didorong oleh stabilnya penerimaan pesanan baru.

“Berdasarkan laporan para responden, perusahaan mulai melihat adanya peningkatan kepercayaan pelanggan. Namun, pemulihan yang lebih kuat masih tertahan oleh dampak berlanjutnya kenaikan harga,” kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).

Menurut survei tersebut, perbaikan aktivitas manufaktur didorong oleh mulai pulihnya produksi serta stabilnya pesanan baru setelah sempat mengalami penurunan tajam pada Juni. Sejumlah pelaku industri juga melaporkan meningkatnya kepercayaan pelanggan yang membantu mendorong permintaan.

Meski demikian, pemulihan belum berlangsung sepenuhnya. Kenaikan harga bahan baku masih menjadi tantangan utama yang membatasi laju pertumbuhan sektor manufaktur Indonesia.

Optimisme Pelaku Industri

Laporan S&P Global juga menunjukkan perusahaan mulai meningkatkan jumlah tenaga kerja setelah empat bulan melakukan pengurangan karyawan. Di sisi lain, tekanan terhadap kapasitas produksi mulai meningkat seiring bertambahnya pesanan yang harus diselesaikan.

Selain itu, tingkat optimisme pelaku industri terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan ke depan menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir. Harapan tersebut didorong oleh ekspektasi meningkatnya penjualan dan membaiknya kepercayaan pelanggan.

Usamah Bhatti menambahkan, “Kondisi tersebut turut mendorong meningkatnya optimisme terhadap prospek usaha dalam satu tahun ke depan. Tingkat kepercayaan perusahaan menjadi yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, didukung harapan bahwa pertumbuhan penjualan dan kepercayaan pelanggan akan terus menguat.”

Meski indikator utama menunjukkan perbaikan, S&P Global mengingatkan bahwa tekanan biaya akibat mahalnya bahan baku serta lemahnya permintaan ekspor masih menjadi tantangan yang perlu diwaspadai dalam beberapa bulan mendatang.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8260773/sampp-industri-manufaktur-indonesia-kembali-ekspansi-di-juli-2026

Cara Bos Hermes Prediksi Kenaikan Penjualan: Pantau Harga Daging Babi

Cara Bos Hermes Prediksi Kenaikan Penjualan: Pantau Harga Daging Babi

Jakarta – Bos Hermes punya cara unik untuk memprediksi penjualan produknya. Selagi selalu memastikan brand high end asal Prancis itu selalu memberi pelayanan terbaik, ia juga memantau ‘pergerakan’ dengan melihat harga daging babi. Dikatakan bahwa cara tersebut selalu berhasil untuk memperkirakan kapan orang-orang akan membeli tas lagi.
Ketua eksekutif Hermès, Axel Dumas, memiliki metode tersendiri saat mengukur kemungkinan kenaikan kembali penjualan Hermes, terutama di China. Bukan nilai tukar mata uang setempat tapi melihat harga daging babi di pasaran.

“Daging babi terutama dikonsumsi saat jamuan makan dan restoran, ini merupakan indikator yang baik untuk perayaan di China,” kata Axel Dumas kepada para analis saat presentasi pendapatan semester pertama beberapa waktu lalu.

“Aku tidak mengatakan bahwa semua klien kami sensitif terhadap harga daging babi, namun aku menunggu kenaikan harga, yang akan menjadi indikator optimisme dan keinginan untuk sesuatu yang menyenangkan,” jelasnya dilansir Business of Fashion.

Menurut Axel, ketika harga daging babi naik, artinya banyak orang bisa mengeluarkan cukup banyak uang untuk bersenang-senang dan makan enak. Hal itu dijadikan pertanda bahwa situasi ekonomi sedang membaik dan potensi kenaikan penjualan begitu juga untuk membeli barang-barang tersier.

Di China, sayangnya kini pasar barang mewah dilaporkan sedang terpukul keras karena konsumen membatasi pengeluaran mereka. Padahal pelanggan di Negeri Tirai Bambu adalah salah satu pendorong utama bagi industri ini. Meskipun Hermès International SCA melaporkan pertumbuhan penjualan kuartal kedua yang sesuai dengan ekspektasi, tidak adanya pemulihan penjualan di China disebut oleh para analis sebagai kekhawatiran.

Alex Dumas pun mengakui bahwa pasar China masih belum pulih. Hal ini mendorongnya untuk mengawasi tidak hanya pasar properti di sana tetapi juga harga daging babi.

Sayangnya, harga babi di China sepertinya belum bisa memberinya rasa lega. Harga grosir daging tersebut mencapai titik terendah dalam 16 tahun pada bulan lalu. Meski para pedagang telah mendapat bantuan dari pemerintah untuk membatasi produksi, pemulihan harganya kemungkinan akan memakan waktu lama.

Penjualan barang-barang kulit Hermès memang sedang tidak memenuhi ekspektasi investor. Hal itu meningkatkan kekhawatiran karena brand tersebut bergantung pada pasar China yang juga sedang melemah. Sahamnya Hermes disebut anjlok sebanyak 11,5 persen pada hari Rabu dan mencapai level terendah sejak Januari 2023.

Hermès memang populer di China dibanding banyak pesaing brand high end lain. Negara tersebut menghasilkan sekitar 43 persen pendapatan perusahaan pada akhir Juni. Sebagai catatan, untuk brand-brand di bawah grup LVMH, Asia selain Jepang menyumbang 29 persen pendapatan pada periode yang sama.

Sumber : https://wolipop.detik.com/fashion-news/d-8599761/cara-bos-hermes-prediksi-kenaikan-penjualan-pantau-harga-daging-babi

Melayang di atas sungai dan jalan, investasi pedestrian deck Dukuh Atas Rp 300 M

Melayang di atas sungai dan jalan, investasi pedestrian deck Dukuh Atas Rp 300 M

PT MRT Jakarta (Perseroda) akan menggelontorkan investasi sekitar Rp 300 miliar untuk membangun jembatan pejalan kaki (Pedestrian Deck) Dukuh Atas berbentuk bundar, sehingga dikenal dengan jembatan donat.

Jembatan penyebrangan ini akan menyambungkan Stasiun KRL Sudirman, MRT Dukuh Atas, Stasiun KRL BNI City, hingga stasiun LRT Jabodebek dan LRT Jakarta. Kawasan Dukuh Atas saat ini terbagi menjadi empat kuadran akibat perpotongan dua infrastruktur utama, yakni Sungai Ciliwung dan Jalan Sudirman, sehingga menyulitkan aksesibilitas pejalan kaki.

Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan, mengatakan proyek ini telah menyelesaikan desain dasar (basic design) dan memulai proses tender kontraktor.

Sebelumnya, perusahaan telah melakukan kajian pra uji kelayakan (feasibility study/FS) dengan pemerintah Jepang melalui Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism (MLIT) dan Urban Renaissance.

“Ini lagi tender ya. Tapi kita sudah umumin kemarin (investasi) roughly Rp 300-an miliar,” ungkap Agus kepada awak media di kantor PT MRT Jakarta Transport Hub Dukuh Atas, Kamis (30/7).

Agus menjelaskan, sejauh inii pendanaan pembangunan akan didukung sepenuhnya dari MRT Jakarta, tanpa penanaman modal swasta (private placement), sehingga aset yang akan dibangun menjadi hak milik perusahaan bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

“Kalau misalnya ada pendanaan lain, nanti larinya ke isu aset. Kalau sekarang, kalau kita bangun dengan dana MRT, asetnya punya MRT jadi ketika nanti kita bangun di atas (lahan) Pemprov, urusan asetnya enak, bahwa kita menyewa lahan Pemprov, asetnya punya MRT,” tuturnya.

Dia pun menargetkan pada November 2026, pekerjaan Pedestrian Deck Dukuh Atas bisa dimulai oleh kontraktor yang terpilih, dan proyek diharapkan dapat rampung pada akhir tahun 2028.

“Basic design sudah selesai, sekarang kita lagi tender kontraktor, dengan harapan mudah-mudahan di November bisa on board kontraktornya ya, targetnya mudah-mudahan beres di akhir 2028,” tutur Agus.

Buka Potensi Naming Rights

Sementara itu, TOD Planning Department Head PT MRT Jakarta, Sagita Devi, menambahkan bahwa investasi bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Ke depannya, perusahaan membuka kemungkinan menerima pinjaman (loan).

“Untuk saat ini sebagian akan menggunakan dana MRT, sebagian kita sedang rencananya akan menggunakan loan,” kata Sagita.

Sagita menjelaskan, MRT Jakarta juga akan membuka kemungkinan kerja sama komersial untuk penamaan Pedestrian Deck alias naming rights. Saat ini pencarian mitra tengah dilakukan perusahaan.

“Kemarin juga Pak Gubernur (DKI Jakarta) juga sempat meng-encourage untuk para pemilik lahan dan pemilik gedung di sini untuk dapat mengambil naming rights-nya ini sendiri, karena Pedestrian Deck Dukuh Atas ini kan juga bisa menjadi salah satu ikon baru di Jakarta,” jelasnya.

Pasalnya, dia menilai bahwa Pedestrian Deck Dukuh Atas akan menjadi percontohan bagi proyek serupa di kemudian hari, karena kompleksitas jembatan ini yang harus melintasi sungai, jalan raya, hingga jalan layang (fly over).

“Mungkin di luar negeri ada yang Cincin Donut juga, cuma memang situasi kondisinya juga tantangannya berbeda karena enggak melewati sungai, enggak melewati ada flyover. Jadi ini juga bisa jadi salah satu pembelajaran arsitektur dan sipil,” ungkap Sagita.

Sumber : https://www.msn.com/id-id/berita/other/melayang-di-atas-sungai-dan-jalan-investasi-pedestrian-deck-dukuh-atas-rp-300-m/ar-AA295G6q?ocid=msedgdhp&pc=U531&cvid=6a6c20f4f779453b9ab94da9dab2bcf1&ei=43

Astra Catatkan Pendapatan Rp 157,9 Triliun Semester I 2026

Astra Catatkan Pendapatan Rp 157,9 Triliun Semester I 2026

Liputan6.com, Jakarta – Grup Astra merilis laporan kinerja keuangan untuk periode semester I 2026 yang berakhir pada 30 Juni 2026. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, perusahaan mencatatkan pertumbuhan yang solid pada sektor otomotif dan jasa keuangan, meskipun harus menghadapi tantangan pelemahan di sektor solusi pertambangan dan alat berat.

Mengutip laporan kinerja perusahaan, Kamis (30/7/2026, secara keseluruhan, Grup Astra membukukan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 157,9 triliun. Angka ini sedikit mengalami penurunan sebesar 3% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencapai Rp 162,8 triliun.

Sementara itu, laba bersih Grup Astra tanpa memperhitungkan non-recurring items tercatat sebesar Rp 14,8 triliun, atau turun 7% dari tahun sebelumnya. Penurunan ini utamanya disebabkan oleh minimnya kontribusi dari divisi pertambangan emas, melemahnya penjualan alat berat, serta turunnya volume jasa penambangan dan batu bara.

Jika memperhitungkan non-recurring items yang utamanya berupa kerugian penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment) sebesar Rp 2,3 triliun, total laba bersih Grup tercatat menjadi Rp 12,5 triliun, atau turun 19% dibandingkan tahun lalu yang berada di angka Rp 15,5 triliun. Dari sisi pemegang saham, nilai aset bersih per saham Grup Astra naik tipis 1% menjadi Rp 5,7 triliun.

Fokus pada Tiga Bisnis Inti dan Aksi Korporasi

Sejalan dengan dinamika bisnis, Astra pada Mei 2026 lalu telah mengumumkan strategy roadmap baru yang dirancang untuk memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. Strategi ini ditopang oleh empat pilar, yakni Focus (fokus pada tiga bisnis inti), Clarity (pengelolaan bisnis turunan yang sinergis), Discipline (disiplin alokasi modal), dan Commitment (komitmen transformasi kepemimpinan).

Tiga bisnis inti (core businesses) yang kini menjadi fokus utama Grup adalah otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan & alat berat. Bisnis di luar ketiga sektor tersebut kini dilaporkan secara terpadu dalam segmen lain-lain.

Sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham, Astra dan anak usahanya, United Tractors (UT), gencar melakukan pembelian kembali saham (share buyback).

Sejak November 2025 hingga akhir Juni 2026, keduanya telah merampungkan program buyback senilai total Rp 7,4 triliun. Tak berhenti di situ, program baru juga telah disiapkan yaitu, Astra mengalokasikan dana hingga Rp 8 triliun untuk 12 bulan ke depan, sementara UT menyiapkan hingga Rp 2 triliun untuk periode tiga bulan yang dimulai pada Juli 2026.

Rincian Kinerja per Sektor Bisnis

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah gambaran performa masing-masing lini bisnis Astra selama semester pertama 2026:

Sektor Otomotif

Sektor ini menjadi salah satu penopang utama dengan raihan laba bersih mencapai Rp 5,9 triliun, tumbuh 9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya penjualan mobil baru dan kontribusi kuat dari divisi Komponen (laba naik 23% menjadi Rp 921 miliar). Di pasar roda dua yang secara nasional mencapai 3,1 juta unit, penjualan motor Honda ikut naik 1% dan kokoh mendominasi dengan 77% pangsa pasar. Di segmen roda empat, penjualan mobil nasional naik 16% menjadi 437.000 unit, di mana penjualan mobil Grup Astra naik 10%. Toyota dan Daihatsu tetap menjadi primadona di Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar sebesar 51%.

Jasa Keuangan

Bisnis Jasa Keuangan juga tampil prima dengan peningkatan laba bersih sebesar 6% menjadi Rp 4,6 triliiun. Angka pembiayaan baru di sektor konsumen naik 10% menjadi Rp 61,8 triliun. Laba bersih dari pembiayaan sepeda motor naik 4% menjadi Rp 2,4 triliun, sementara pembiayaan mobil naik 6% menjadi Rp 1,2 triliun. Sektor asuransi Grup juga tak mau kalah dengan menyumbang laba bersih Rp 906 miliar (tumbuh 7%).

Sektor Solusi Pertambangan & Alat Berat

Sektor ini mengalami koreksi cukup dalam. Laba bersih (tanpa non-recurring items) tercatat Rp 2,7 triliun, anjlok 46%. Hal ini dipicu oleh terhentinya operasional tambang emas Martabe pada awal tahun yang membuat penjualan emas terjun bebas dari 125.000 ons menjadi hanya 23.000 ons (meski kini sudah beroperasi kembali). Selain itu, penurunan kuota produksi batu bara nasional (RKAB) membuat penjualan alat berat Komatsu anjlok 27% menjadi 1.994 unit dan volume pengupasan lapisan tanah turun 10%. Jika ditambah dengan kerugian non-recurring di divisi panas bumi dan nikel sebesar Rp 2,1 triliun, total laba bersih yang dilaporkan dari sektor ini tersisa Rp 607 miliar (turun 88%).

Segmen Lain-lain

Segmen ini (di luar tiga bisnis inti) justru mencatatkan performa gemilang dengan laba bersih (tanpa non-recurring items) naik 31% menjadi Rp 1,6 triliun. Kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit di divisi agribisnis, serta kontribusi industrial warehouse platform baru di divisi properti menjadi motor penggerak utamanya.

Pandangan Manajemen ke Depan

Menyikapi hasil kinerja semester pertama ini, Presiden Direktur Astra, Rudy, menyampaikan optimisme serta pandangan strategis perusahaan ke depannya. “Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan” katanya Rudy dikutip dari keterangan resmi perusahaan.

“Pada Mei 2026, kami mengumumkan strategi korporasi baru yang bertujuan untuk memberikan imbal hasil pemegang saham yang stabil dan berkelanjutan. Strategi tersebut mencakup fokus pada tiga Core Businesses Grup, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan dan Solusi Pertambangan & Alat Berat; kerangka alokasi modal yang lebih disiplin, termasuk dividen dan share buyback; serta komitmen untuk bertransformasi melalui penyelarasan kepemimpinan,” tambahnya.

Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp 2 triliun untuk tiga bulan ke depan.

Sebelumnya, sejak November 2025, Astra dan UT telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp 7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Selain itu, Astra juga telah manjalankan penyelarasan insentif manajemen melalui program MSOP.

Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.

“Kami akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.”

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8258405/astra-catatkan-pendapatan-rp-1579-triliun-semester-i-2026

Arsitektur Ekspansi Bisnis: Membangun Ekosistem Anak Perusahaan Lewat Reinvestasi Laba dan Kolaborasi

Arsitektur Ekspansi Bisnis: Membangun Ekosistem Anak Perusahaan Lewat Reinvestasi Laba dan Kolaborasi

Kediri – Bagi banyak wirausahawan, memperluas jangkauan bisnis hingga memiliki puluhan anak perusahaan (holding group) sering kali dianggap sebagai pencapaian puncak. Namun, di balik ambisi ekspansi tersebut, bayang-bayang kegagalan akibat inefisiensi operasional, hilangnya fokus manajemen, hingga krisis likuiditas selalu mengintai. Lantas, bagaimana strategi taktis membangun ekosistem bisnis menggurita yang tangguh dan berkelanjutan?

Dalam sebuah sesi pemikirannya, Eggy Adityawan, CEO dari Trina Group, membagikan cetak biru (blueprint) praktis mengenai arsitektur ekspansi multi-PT. Ia menekankan tiga pilar utama: pengelolaan laba terstruktur, pembatasan diversifikasi bidang lewat kolaborasi, serta pemilihan model bisnis kemitraan yang terukur.

1. Strategi Keuangan: Sinergi Reinvestasi Laba Ditahan

Langkah awal yang fundamental dalam arsitektur ekspansi bisnis tidak berawal dari mencari pendanaan luar atau modal ventura, melainkan dari kedisiplinan alokasi arus kas internal (retained earnings). Banyak pengusaha terjebak dengan menarik laba bersih bisnis untuk konsumsi pribadi (prive) terlalu dini.

Pak Eggy Adityawan menyarankan model akumulasi laba bertingkat. Seluruh pengurus dan manajerial di setiap entitas bisnis difungsikan secara profesional dengan remunerasi gaji, sementara dividen/laba bersih dialokasikan khusus untuk melahirkan entitas PT baru secara sistematis.

“Kalau di perusahaan kita yang pertama itu dari sudut pandang keuangan… kita ada PT A, PT B, PT C, stakeholder semua dan lain-lain itu sistemnya gaji semua. Labanya kita bikin untuk PT D. PT A, PT B, PT C, PT D semua labanya kita bikin PT E.”

— Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Melalui metode ini, ekspansi anak perusahaan berfungsi bak bola salju (snowball effect). Kemampuan modal untuk mendirikan PT baru akan semakin kuat seiring bertambahnya jumlah entitas yang beroperasi dan menyumbangkan labanya ke dalam ekosistem entitas berikutnya.

2. Batas Diversifikasi & Sinergi Kolaborasi Strategic Joint Venture

Kesalahan umum pebisnis pemula adalah over-diversification—masuk ke terlalu banyak industri yang tidak saling terkait tanpa penguasaan kompetensi inti. Untuk menjaga kapabilitas manajemen, Eggy Adityawan memberikan batasan ketat mengenai jumlah sektor usaha yang digarap.

“Masukannya jangan lebih dari 3, 4 bidang, itu udah maksimal. Boleh lebih diversifikasinya lebih dari satu perusahaan, akan tetapi kalian harus kolaborasi.”

— Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Bagaimana jika sebuah grup ingin mengekspansi lini baru tanpa melampaui batas kapabilitas eksekutifnya? Jawabannya terletak pada Kolaborasi Kompetensi (Joint Venture). Daripada membangun kapabilitas baru dari nol yang berisiko tinggi dan memakan waktu lama, gabungkan dua keahlian matang dari dua pihak berbeda untuk membentuk PT baru.

“Misalkan di perusahaan kita produksi contohnya pupuk, kita kolaborasi dengan digital marketing yang ahli juga. Akhirnya kedua kompetensi ini kita gabung, akhirnya bisa menambah satu, dua PT lagi dan selanjutnya.”

— Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Konsep Sinergi:

  • Perusahaan A (Ekspertis Manufaktur/Produksi Pupuk) + Perusahaan B (Ekspertis Digital Marketing) = PT Baru (Entitas Komersialisasi & Penjualan Masif). Langkah ini memangkas kurva belajar (learning curve) dan mempercepat penetrasi pasar.

3. Model Bisnis Kemitraan: Skalabilitas Tinggi vs. Hambatan “Own Brand”

Pilar ketiga dalam memosisikan bisnis agar dapat mengekspansi puluhan perusahaan terletak pada pemilihan model operasional. Membangun merek sendiri (own brand) memang menawarkan kendali penuh dan margin potensial yang tinggi, namun menyimpan biaya Research & Development (R&D) serta ketidakpastian yang besar.

Pak Eggy Adityawan membandingkan proses panjang own brand dengan kemitraan strategis bernilai tinggi seperti bermitra dengan BUMN atau korporasi besar (contohnya Pertamina).

“Contoh kita mitra dengan berbagai brand, salah satunya Pertamina. Itu SOP, KPI, semuanya itu sudah jelas untuk harga beli, harga jual, dan lain-lain, kita tinggal menjalankannya saja.”

— Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Sebaliknya, ketika pebisnis memaksakan diri membangun seluruh variabel bisnis dari nol di tiap anak perusahaan, kecepatan ekspansi akan terhambat secara drastis.

“Tapi kalau kita membuat brand sendiri, harga jual sendiri, HPP sendiri, itu akan susah untuk diversifikasi sampai puluhan perusahaan. Itu sedikit dari saya, semoga bermanfaat.”

— Eggy Adityawan, CEO Trina Group

Kesimpulan

Ekspansi menuju holding grup berskala besar bukanlah soal seberapa banyak ide yang bisa diwujudkan secara mandiri, melainkan seberapa disiplin alokasi keuangan modal internal, seberapa fokus manajemen menjaga kompetensi inti (maksimal 3–4 bidang), serta seberapa cerdas memanfaatkan struktur bisnis kemitraan yang sudah teruji untuk dikloning secara cepat.