KOMPAS.com – Kemarahan kerap dianggap sebagai emosi yang harus dihindari.
Tak sedikit orang merasa bangga karena mengaku “tidak pernah marah” atau selalu mampu menahan emosi.
Namun, menurut penulis buku Good Anger, Sam Parker, anggapan tersebut belum tentu benar.
Seseorang yang merasa tidak pernah marah bisa jadi sebenarnya hanya terbiasa memendam amarah.
“Ketika orang berkata, ‘Saya tidak pernah marah,’ yang sebenarnya mereka maksud adalah mereka sangat pandai menahan amarah, sering kali dengan mengorbankan diri sendiri,” kata Parker, dikutip dari The Guardian, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, kemarahan bukanlah emosi yang buruk.
Sama seperti sedih, takut, atau bahagia, marah merupakan respons alami yang membantu seseorang mengenali ketika ada batasan yang dilanggar, kebutuhan yang tidak terpenuhi, atau ketidakadilan yang dialami.
Yang perlu dipelajari bukanlah menghilangkan rasa marah, melainkan mengelolanya dengan cara yang sehat.
Mengapa amarah tidak sebaiknya dipendam?
Parker menjelaskan bahwa banyak orang terbiasa menyamakan kemarahan dengan agresi atau kekerasan. Padahal, keduanya berbeda.
Agresi merupakan perilaku, sedangkan kemarahan adalah emosi.
Seseorang bisa merasakan marah tanpa harus melampiaskannya dengan cara yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sebaliknya, memendam amarah dalam waktu lama justru dapat menimbulkan dampak negatif.
Menurut Parker, kemarahan yang terus ditekan dapat memperpanjang respons stres tubuh, termasuk meningkatkan kadar hormon kortisol yang berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan.
Ia juga menemukan bahwa orang yang terbiasa menekan amarah kerap mengalami kecemasan, karena emosi tersebut tidak pernah benar-benar diproses.
Cara mengelola amarah dengan lebih sehat
Alih-alih menekan atau meluapkan amarah secara berlebihan, Parker menyarankan beberapa cara yang lebih sehat untuk mengelola emosi tersebut.
1. Akui bahwa Anda sedang marah
Langkah pertama adalah menerima bahwa rasa marah memang sedang muncul.
Mengakui emosi bukan berarti membenarkan tindakan agresif.
Sebaliknya, hal ini membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Dengan mengenali emosi, seseorang dapat berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan.
2. Cari tahu penyebab sebenarnya
Menurut Parker, kemarahan sering kali bukan semata-mata disebabkan oleh orang lain.
Emosi tersebut justru dapat menjadi petunjuk bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi, batasan yang dilanggar, atau pengalaman masa lalu yang belum selesai.
Karena itu, cobalah bertanya kepada diri sendiri mengenai alasan di balik kemarahan yang muncul.
3. Salurkan melalui aktivitas fisik
Parker mengaku mulai memahami emosinya setelah rutin berlatih tinju.
Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, jogging, menari, atau olahraga lainnya dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan sehingga emosi menjadi lebih terkendali.
Cara ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar melampiaskan amarah dengan berteriak atau memukul benda.
4. Ekspresikan lewat cara yang kreatif
Selain bergerak, kemarahan juga dapat disalurkan melalui kegiatan kreatif.
Menulis jurnal, menggambar, melukis, atau menuangkan perasaan dalam bentuk karya dapat membantu seseorang memahami emosinya tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
5. Putuskan langkah yang perlu diambil setelah emosi mereda
Setelah perasaan lebih tenang, barulah tentukan apakah situasi tersebut memang memerlukan tindakan.
Dalam beberapa kondisi, seseorang mungkin perlu menyampaikan keberatan, menetapkan batasan, atau melakukan percakapan yang sulit dengan orang lain.
Namun, ada pula situasi yang cukup diselesaikan dengan memahami emosi yang muncul tanpa harus bereaksi berlebihan.




