Jakarta, CNN Indonesia — Pernah mendengar anggapan bahwa makan di tempat yang kurang bersih bisa menyebabkan hepatitis? Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua jenis hepatitis dapat menular melalui makanan.
Hepatitis merupakan peradangan pada organ hati (liver). Penyakit ini tidak hanya disebabkan oleh infeksi virus, tetapi juga bisa dipicu konsumsi alkohol berlebihan, paparan zat beracun, efek samping obat-obatan, hingga penyakit autoimun.
Hepatitis dapat bersifat akut atau berlangsung dalam waktu singkat. Namun, penyakit ini juga bisa berkembang menjadi kronis dan berlangsung selama bertahun-tahun. Pada kondisi kronis, hepatitis berisiko menyebabkan sirosis, gagal hati, hingga kanker hati.
Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat lima jenis virus utama penyebab hepatitis, yakni hepatitis A, B, C, D, dan E. Meski sama-sama menyerang hati, masing-masing memiliki cara penularan, tingkat keparahan, serta penanganan yang berbeda.
Apakah hepatitis bisa menular lewat makanan?
Jawabannya adalah ya, tetapi hanya pada jenis hepatitis tertentu.
Menurut WHO, hepatitis A (HAV) ditularkan melalui jalur fekal-oral, yakni ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita hepatitis A. Risiko penularan meningkat di wilayah dengan sanitasi yang buruk atau akses air bersih yang terbatas.
Virus hepatitis A juga dikenal cukup tahan terhadap lingkungan. WHO menyebut virus ini tidak selalu mati melalui metode pengolahan makanan yang umumnya efektif membunuh bakteri. Artinya, makanan yang tampak bersih belum tentu bebas dari virus apabila proses pengolahan dan kebersihan lingkungannya tidak terjaga.
Hal serupa juga berlaku pada hepatitis E (HEV). Virus ini umumnya menyebar melalui konsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi.
Pada sebagian besar orang, infeksi hepatitis E bersifat akut dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, pada ibu hamil, terutama yang memasuki trimester ketiga, infeksi hepatitis E dapat meningkatkan risiko gagal hati hingga kematian.
Penularan hepatitis melalui makanan bukan sekadar dugaan. Hepatitis A merupakan salah satu penyebab utama wabah penyakit akibat pangan yang terkontaminasi.
Salah satu wabah terbesar pernah terjadi di Shanghai, China, pada 1988. Sekitar 300 ribu orang dilaporkan terinfeksi hepatitis A setelah mengonsumsi makanan laut yang telah terkontaminasi virus.
Temuan yang dimuat dalam International Journal of Food Microbiology juga menyebut hepatitis A sebagai penyebab utama wabah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui makanan (foodborne virus) di berbagai negara.
Sementara itu, hepatitis E juga semakin sering dikaitkan dengan penularan melalui pangan, terutama akibat konsumsi daging babi atau produk olahannya yang mentah maupun kurang matang.
Mengapa hepatitis B, C, dan D tidak menular lewat makanan?
Berbeda dengan hepatitis A dan E, virus hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), dan hepatitis D (HDV) tidak ditularkan melalui makanan atau minuman. WHO menjelaskan, hepatitis B menyebar melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, hubungan seksual, serta penularan dari ibu ke bayi saat proses persalinan.
Sementara itu, hepatitis C sebagian besar ditularkan melalui paparan darah, misalnya akibat penggunaan jarum suntik secara bergantian atau penggunaan alat medis yang tidak steril. Adapun hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang telah terinfeksi hepatitis B karena virus ini membutuhkan HBV untuk berkembang biak.
Dengan demikian, makan bersama, berbagi makanan, atau mengonsumsi masakan yang dibuat oleh penderita hepatitis B maupun hepatitis C tidak akan menyebabkan penularan penyakit tersebut.
Cara mencegah hepatitis
Karena hepatitis A dan hepatitis E berkaitan erat dengan kebersihan makanan serta air, pencegahannya dapat dilakukan melalui beberapa langkah sederhana berikut:
- Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
- Mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang.
- Memastikan air minum berasal dari sumber yang aman.
- Menjaga kebersihan peralatan makan dan lingkungan.
- Mendapatkan vaksin hepatitis A bagi kelompok yang direkomendasikan.
Sementara itu, pencegahan hepatitis B dilakukan melalui vaksinasi, menghindari kontak dengan darah yang terkontaminasi, tidak berbagi jarum suntik, serta menerapkan hubungan seksual yang aman.




