Pramono Jajal Lari 10K Jakarta Running Festival: Jujur Ngos-ngosan

Pramono Jajal Lari 10K Jakarta Running Festival: Jujur Ngos-ngosan

Liputan6.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut ambil bagian dalam ajang lari kategori 10 kilometer (10K) pada Jakarta Running Festival (JRF) yang digelar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (25/10/2026) pagi.

Pramono menyatakan, penyelenggaraan Jakarta Running Festival 2026 memberikan kesan positif dan menggembirakan. Dia berharap JRF dapat menjadi contoh penyelenggaraan ajang lari di Indonesia.

“Menurut saya ini bisa menjadi role model maraton ataupun half marathon maupun 10 kilo, 5 kilo yang ada di Indonesia. Sekali lagi saya ingin menyampaikan mengucapkan terima kasih kepada Jakarta Running Festival atas penyelenggaraan yang sungguh sangat baik dan berkesan,” kata Pramono.

Pramono berhasil menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 1 jam 49 menit. Dia mengungkapkan, catatan waktu yang diraihnya kali ini masih berada di atas rekor pribadi yang pernah dicapai sebelumnya, yakni 1 jam 32 menit.

Meski belum berhasil memecahkan rekor pribadinya, Pramono mengaku menikmati jalannya perlombaan, terutama berkat dukungan dan semangat masyarakat yang berjejer di sepanjang rute lari.

“Memang hari ini tidak memecahkan rekor. Enggak PB (personal best), dulu 1 jam 32. Saya sebenarnya, kalau mau jujur, sudah ngos-ngosan. Tetapi karena yang membuat semangat pertama cheering-nya, yang kedua memang yang minta foto banyak banget. Tapi saya sungguh-sungguh menikmati dan selamat kepada JRF,” jelas Pramono.

Singkat

Pramono mengatakan, persiapannya untuk mengikuti JRF cukup singkat karena waktu istirahatnya terbatas menjelang perlombaan.

“Persiapannya saya sebenarnya semalam pengin tidur jam 21.00, tapi mungkin baru tidur jam 01.00, jam 03.00 sudah bangun, karena flag off jam 04.00 pagi tadi,” tandas Pramono.

Lebih lanjut, Pramono juga menyoroti kualitas udara di Jakarta yang berada di angka 65–66. Dia menilai, upaya menjaga kualitas udara menjadi hal penting untuk mendukung kenyamanan masyarakat saat berolahraga di Ibu Kota.

“Banyak sekali yang mengucapkan terima kasih karena udaranya yang sangat baik, dan juga pelaksanaannya berlangsung dengan tertib. Saya mengucapkan terima kasih karena udaranya yang sangat baik, dan juga pelaksanaannya luar biasa,” ucapnya.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/8320753/pramono-jajal-lari-10k-jakarta-running-festival-jujur-ngos-ngosan

Double Job Makin Menjamur, Peluang Kerja Fresh Graduate Terancam?

Double Job Makin Menjamur, Peluang Kerja Fresh Graduate Terancam?

Liputan6.com, Jakarta – Fenomena pekerja yang menjalani lebih dari satu pekerjaan sekaligus atau double job kian marak di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Tekanan biaya hidup, kenaikan upah riil yang terbatas, hingga berkembangnya ekosistem pekerjaan fleksibel atau gig economy membuat banyak pekerja mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan fenomena tersebut mencerminkan semakin terbatasnya daya beli pekerja di tengah meningkatnya kebutuhan hidup. Kondisi ini diperberat oleh rata-rata upah riil yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan, bahkan mengalami kontraksi.

“Ini selaras dengan tingkat rata-rata upah riil yang dalam beberapa tahun ini stagnan, bahkan cenderung kontraksi. Sehingga ini memaksa para pekerja mencari berbagai macam jenis pekerjaan lebih dari satu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujar Faisal kepada Liputan6.com, ditulis Minggu (25/10/2026).

Menurut Faisal, fenomena double job tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. Di kawasan perkotaan, pekerja kelas menengah ke bawah kerap harus menjalani dua hingga tiga pekerjaan sekaligus agar dapat memenuhi kebutuhan dasar.

“Kalau mereka hanya mengandalkan satu pekerjaan, daya beli mereka akan rendah dan bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar setiap harinya,” imbuhnya.

Tekanan Generasi Z, Cicilan, hingga Godaan Media Sosial

Tekanan ekonomi juga dirasakan pekerja muda, terutama generasi Z dan milenial. Pengamat ekonomi Universitas Padjadjaran, Ida Primiana, menjelaskan bahwa kelompok ini menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok sekaligus tuntutan finansial, mulai dari cicilan kendaraan hingga keinginan memiliki rumah yang harganya semakin sulit dijangkau.

Di sisi lain, paparan media sosial turut memengaruhi pola konsumsi. Promosi, diskon, dan beragam produk berharga murah di platform digital dapat mendorong pengeluaran, sementara kenaikan pendapatan belum tentu mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.

“Kondisi ekonomi saat ini serba naik dan mahal, sementara kenaikan pendapatan tidak sepadan. Di sisi lain, media sosial mendorong pola hidup lebih konsumtif,” tutur Ida kepada Liputan6.com.

Menurutnya, pekerja muda yang masih memiliki waktu dan tenaga di luar jam kerja cenderung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari penghasilan tambahan.

“Tuntutan hidup tinggi, mereka butuh rumah dan kendaraan dengan cicilan yang tidak kecil. Selama mereka punya waktu dan tenaga lebih di luar jam kantor, mereka manfaatkan untuk ‘mendua’ demi menutup kebutuhan itu,” paparnya.

Sektor IT Jadi Primadona, Fresh Graduate Hadapi Persaingan

Tren double job juga terlihat di bidang teknologi informasi (IT), digitalisasi, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kebutuhan terhadap tenaga terampil membuka peluang bagi praktisi berpengalaman untuk mengambil proyek lepas atau freelance dari perusahaan lain di luar pekerjaan utama.

Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan bagi pasar kerja, terutama bagi lulusan baru. Perusahaan dapat memilih tenaga ahli berpengalaman untuk mengerjakan proyek tertentu tanpa harus merekrut karyawan tetap. Situasi ini berpotensi memperketat persaingan bagi pencari kerja pemula.

“Bagi lulusan perguruan tinggi (baru), situasinya cukup berat. Pekerjaan yang ada justru banyak diserap oleh mereka yang sudah matang dan berpengalaman. Akhirnya persaingan makin ketat dan lowongan kerja untuk pemula sulit bertambah,” jelas Ida.

Meski demikian, menurut Ida, double job tidak serta-merta menurunkan produktivitas di pekerjaan utama. Pekerja yang mengambil pekerjaan tambahan umumnya merupakan tenaga profesional yang telah berpengalaman dan mampu mengatur waktu dengan baik.

Praktik Sembunyi-Sembunyi dan Perlindungan Pekerja

Di tengah meningkatnya tren double job, sebagian pekerja masih menjalankan pekerjaan tambahan secara diam-diam, terutama pada malam hari atau akhir pekan. Ida menjelaskan, kondisi ini berkaitan dengan kontrak kerja di perusahaan utama yang dapat membatasi pekerjaan lain di luar jam kantor.

Akibatnya, pekerjaan sampingan berpotensi dijalankan tanpa kejelasan status dan perlindungan kerja yang memadai.

Direktur Program Indef Eisha Maghfiruha Rachbini, menjelaskan bahwa fenomena double job tidak terlepas dari dua faktor struktural, yakni berkembangnya model kerja fleksibel melalui gig economy dan terbatasnya daya serap sektor formal yang mendorong pertumbuhan pekerjaan informal.

Seiring perubahan pola kerja tersebut, perlindungan bagi pekerja dengan hubungan kerja yang semakin beragam menjadi perhatian penting.

“UU Ketenagakerjaan yang berlaku saat ini telah mengakui jenis-jenis pekerjaan baru yang fleksibel, seperti pekerja platform digital, gig worker, pekerja mitra, hingga sektor informal. Tujuannya jelas, agar mereka yang bekerja secara mandiri maupun sampingan tetap memiliki kepastian hak dan terlindungi oleh jaminan sosial ketenagakerjaan,” tegas Eisha.

Perlindungan tersebut dinilai penting agar pekerja yang mengandalkan penghasilan dari pekerjaan tambahan tetap memiliki akses terhadap jaminan sosial ketenagakerjaan, perlindungan keselamatan kerja, dan kepastian hak sesuai ketentuan yang berlaku.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8315463/double-job-makin-menjamur-peluang-kerja-fresh-graduate-terancam

Kacamata Pintar Meta Dipastikan Masuk Indonesia, Berapa Harganya?

Kacamata Pintar Meta Dipastikan Masuk Indonesia, Berapa Harganya?

Jakarta, CNN Indonesia — Kacamata pintar teranyar besutan Meta, Ray-Band Audio AI dan Ray-Ban Meta Gen 3 bakal diboyong ke Indonesia. Simak spesifikasi dan keunggulan yang dibawanya.

Kacamata Ray-Band Audio AI yang dirancang khusus untuk audio tanpa kamera, sementara Ray-Ban Meta Gen 3 yang masih menyematkan kamera dengan dukungan teknologi audio Dolby Atmos.

CEO Mark Zuckerberg mengenalkan dua kacamata AI ini dalam acara peluncurannya yang bertajuk “Meta Connect” pada Rabu (23/9).

Kacamata ini telah tersedia di beberapa negara baru seperti Singapura, Korea Selatan, Meksiko. Uni Emirat Arab dan segera hadir di Brasil. Nantinya, Meta menyebut jajaran kacamata AI besutannya ini akan diekspansi ke beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, Turki, dan Ploandia pada akhir tahun ini.

Meta menyebut kacamata AI besutannya ini ditujukan untuk berbagai kalangan. Perusahaan akan menggelontorkan 100 pilihan kacamata berbeda dari berbagai merek seperti Ray-Ban, Oakley, dan Meta Glasses pada akhir tahun ini.

Meta mengintegrasikan agen AI Muse ke perangkat ini. Dengan kemampuan ini, pengguna bisa mengelola kegiatan sehari-hari seperti mengatur jadwal atau memberi pengingat tanpa membuka ponsel.

“Hari ini di Connect, kami mengumumkan Ray-Ban Meta Audio, kacamata pertama kami, dan ekspansi terbesar kami dalam kacamata AI hingga saat ini melalui kemitraan kami dengan EssilorLuxottica,” tulis Meta dalam keterangannya, Rabu (23/9).

Ray-Ban Meta Audio
Menjadi kacamata audio-only pertama dari Meta, Ray-Band Meta Audio menggabungkan teknologi earbud dengan AI. Kacamata ini disebut dapat digunakan untuk mendengarkan musik dan podcast, menerima panggilan, dan berbicara dengan asisten AI tanpa menggunakan tangan.

Perangkat hanya berbobot 43 gram yang nyaman dipakai seharian. Perangkat disebut dapat digunakan hingga 12 jam hanya dalam satu kali pengisian daya dan tambahan hingga 48 jam dari wadah pengisian daya yang disertakan.

Ray-Ban Meta Audio tersedia dalam 23 kombinasi warna dan lensa dalam dua varian seperti Clubmaster yang tampil dengan siluet terinspirasi retro, dan Burbank berbentuk persegi panjang klasik.

Ray-Ban Meta (Gen 3)
Ray-Ban Meta (Gen 3) menggabungkan kemampuan kamera dengan teknologi audio Dolby Atmos yang dibawanya. Perangkat menyematkan kamera 12MP dengan perekaman video 3K Ultra HD yang dapat digunakan untuk mengambil foto serta video tanpa perlu memegang kacamata untuk disimpan maupun dibagikan ke orang lain.

Kamera ini dilengkapi dengan fitur baru yang memungkinkan pengguna memilih foto dengan bingkai terbaik. Serupa dengan generasi sebelumnya, kacamata ini dilengkapi dengan lampu LED bawaan yang berfungsi membantu orang lain ketika pengguna sedang mengambil foto atau video.

Untuk daya tahan baterai, Ray-Ban Meta (Gen 3) disebut bertahan hingga sembilan jam. Perangkat dilengkapi dengan enam mikrofon terbaru yang disebut mengurangi lebih dari 90 persen suara bising.

Perangkat akan dilengkapi dengan kemampuan perekaman video dalam Dolby Atmos dengan suara spasial 360 derajat pada akhir tahun.

Kacamata ini hadir dalam 27 kombinasi warna dan lensa dalam 3 gaya seperti Aviator, Zena (bingkai cat-eye) dan Wayfarer. Khusus edisi Aviator akan tersedia terbatas dengan warna terinspirasi dari gaya vintage.

Harga dan ketersediaan
Kedua kacamata AI ini sudah bisa dipesan dan akan dikirimkan pada tanggal 13 Oktober di Amerika Serikat. Belum dipastikan kapan tepatnya kedua perangkat ini akan masuk ke Indonesia.

Berikut daftar harga kacamata Ray-Ban Meta Audio dan Ray-Ban Meta (Gen 3) di Amerika Serikat.

Ray-Ban Meta Audio: mulai USD$349 (Rp6,25 juta).
Ray-Ban Meta (Gen 3): mulai USD$449 (Rp8,05 juta).

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260925144221-206-1408167/kacamata-pintar-meta-dipastikan-masuk-indonesia-berapa-harganya

Uban Muncul di Usia 20-an, Normalkah atau Ada Penyebabnya?

Uban Muncul di Usia 20-an, Normalkah atau Ada Penyebabnya?

Liputan6.com, Jakarta – Munculnya beberapa helai uban saat masih berumur 20-an mungkin terasa mengejutkan. Namun, kondisi tersebut ternyata tidak sesering yang dibayangkan dan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan.

Mengutip Cosmopolitan pada Rabu, 23 September 2026, tidak ada usia yang benar-benar dianggap sebagai waktu ‘normal’ seseorang mulai beruban.

Sebagian orang mungkin hanya menemukan beberapa helai rambut putih, sementara yang lain mengalami perubahan warna rambut dalam jumlah lebih banyak.

Menurut dermatolog Mona Gohara, MD, waktu munculnya uban sangat dipengaruhi oleh faktor genetik.

Mengapa Rambut Bisa Berubah Menjadi Abu-Abu?

Warna rambut ditentukan oleh jumlah dan kombinasi melanin yang terdapat di dalam folikel rambut. Seiring bertambahnya usia, produksi melanin di folikel rambut secara bertahap menurun.

“Produksi melanin pada folikel rambut menurun seiring waktu,” kata Gohara.

Ketika jumlah melanin berkurang, rambut kehilangan sebagian pigmennya sehingga mulai terlihat abu-abu. Sementara itu, rambut yang benar-benar putih tidak memiliki pigmen sama sekali.

Menurut Gohara, kebanyakan orang mulai melihat uban pada pertengahan usia 30-an.

Meski demikian, uban dapat muncul lebih awal, termasuk pada usia 20-an dan, dalam beberapa kasus, sejak akhir masa remaja.

Faktor Genetik Berpengaruh

Jika orang tua atau kakek-nenek mengalami uban lebih awal, kemungkinan seseorang mengalami hal serupa juga menjadi lebih besar.

Gohara menjelaskan bahwa ketika rambut mulai beruban lebih dini, kondisi tersebut sering kali bersifat turun-temurun. Artinya, waktu dan seberapa cepat rambut berubah warna banyak ditentukan oleh faktor genetik.

Selain faktor keturunan, proses penuaan tetap menjadi alasan utama rambut kehilangan pigmen.

Namun, Gohara menyebut stres oksidatif, faktor gaya hidup, serta kondisi kesehatan tertentu juga dapat mempercepat munculnya uban, meski kondisi medis merupakan penyebab yang lebih jarang.

Kekurangan Vitamin hingga Masalah Tiroid

Dalam beberapa kasus, uban yang muncul terlalu dini dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan atau kekurangan nutrisi tertentu.

Gohara menyebut kekurangan vitamin B12, masalah pada kelenjar tiroid, dan gangguan pada kelenjar pituitari dapat menyebabkan uban muncul lebih awal.

Sebuah penelitian terhadap orang berusia di bawah 20 tahun yang mengalami uban dini menemukan kadar tembaga yang lebih rendah pada kelompok tersebut.

Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan hubungan tersebut secara menyeluruh.

Oleh sebab itu, Gohara mengingatkan agar seseorang tidak mendiagnosis dirinya sendiri. Jika mencurigai adanya masalah kesehatan atau kekurangan nutrisi, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebab yang sebenarnya.

Benarkah Stres Bisa Bikin Uban?

Hubungan antara stres dan uban juga menjadi salah satu hal yang banyak diperbincangkan.

Menurut Gohara, penelitian memang menunjukkan bahwa stres dapat berkontribusi terhadap berkurangnya sel punca yang berperan dalam mempertahankan warna rambut.

Namun, ia menegaskan bahwa rambut tidak akan berubah menjadi abu-abu dalam semalam hanya karena mengalami stres. Stres kronis berpotensi mempercepat proses tersebut.

Selain itu, kebiasaan merokok juga dikaitkan dengan uban dini. Cosmopolitan menyebut penelitian menemukan perokok memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar mengalami uban prematur dibandingkan mereka yang tidak merokok.

Bisakah Uban Dicegah atau Dikembalikan?

Untuk uban yang terutama dipengaruhi faktor genetik, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.

Namun, jika uban berkaitan dengan masalah kesehatan atau kekurangan vitamin tertentu, kondisi tersebut mungkin dapat diperbaiki setelah penyebabnya ditangani.

Gohara juga memperingatkan agar tidak mudah percaya pada produk yang mengklaim dapat mengembalikan warna rambut.

Menurutnya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung penggunaan pil, losion, atau ramuan tertentu untuk membalikkan uban.

Dengan demikian, munculnya uban pada usia 20-an atau bahkan akhir masa remaja tidak selalu perlu dikhawatirkan.

Namun, jika kemunculannya disertai kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan tertentu, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan penyebabnya.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8296538/uban-muncul-di-usia-20-an-normalkah-atau-ada-penyebabnya

Cuaca Panas dan Lembap Bikin Ketombe Makin Parah

Cuaca Panas dan Lembap Bikin Ketombe Makin Parah

Liputan6.com, Jakarta – Ketombe yang banyak muncul saat cuaca panas dan lembap dapat berkaitan dengan meningkatnya keringat, produksi minyak, serta penumpukan sel kulit mati dan sisa produk perawatan rambut di kulit kepala.

Dilansir dari Innovist, Selasa (22/9/2026), kombinasi panas, kelembapan, dan keringat dapat membuat kulit kepala menjadi lebih berminyak dan memperburuk ketombe serta iritasi.

Kelembapan sendiri tidak secara langsung menyebabkan ketombe. Namun, kondisi kulit kepala yang hangat dan berminyak dapat mendukung aktivitas Malassezia, jenis ragi yang berkaitan dengan ketombe pada orang yang rentan.

Bagaimana Lembap Membentuk Ketombe?

Ketika cuaca lembap, produksi keringat pada kulit kepala dapat meningkat, kemudian bercampur dengan sebum atau minyak alami kulit kepala, sel kulit mati, serta sisa produk rambut.

Penumpukan tersebut dapat membuat kulit kepala terasa lebih berminyak dan tidak nyaman sekaligus membuat rasa gatal dan serpihan ketombe semakin terlihat.

Pada orang yang rentan mengalami ketombe, kelebihan minyak dapat mendukung aktivitas Malassezia. Proses tersebut dapat berkontribusi terhadap iritasi dan peradangan kulit kepala, sehingga pengelupasan kulit meningkat dan serpihan semakin terlihat.

Keringat dan Minyak Turut Berpengaruh

Keringat turut memperburuk keadaan ketika dibiarkan terlalu lama. Selain menciptakan lingkungan yang lembap, keringat dapat bercampur dengan minyak dan sisa produk rambut.

Kombinasi kelembapan, garam, dan minyak juga berpotensi mengiritasi kulit kepala, terutama pada kulit yang sensitif. Menggaruk kulit kepala yang gatal kemudian dapat meningkatkan iritasi dan membuat serpihan semakin terlihat.

Sementara itu, ketombe lebih sering berkaitan dengan kelebihan minyak, iritasi, dan Malassezia, sedangkan kulit kepala kering umumnya berkaitan dengan kurangnya kelembapan.

Ketombe cenderung menghasilkan serpihan yang lebih besar dan berminyak, sementara kulit kepala kering biasanya menghasilkan serpihan yang lebih kecil dan kering.

Cara Menekan Produksi Ketombe

Untuk membantu mengendalikan ketombe saat cuaca lembap, menjaga kebersihan kulit kepala menjadi langkah penting.

Rambut perlu dicuci secara teratur untuk menghilangkan keringat, minyak berlebih, sel kulit mati, dan sisa produk. Frekuensi mencuci rambut pun dapat disesuaikan dengan kondisi kulit kepala serta intensitas keringat dan minyak.

Selain menjaga kebersihan, sejumlah bahan aktif umum digunakan dalam produk antiketombe., seperti salicylic acid yang membantu mengangkat sel kulit mati dan serpihan, piroctone olamine untuk membantu mengelola jamur Malassezia, dan lainnya.

Yang paling penting adalah kebiasaan sehari-hari juga harus diperhatikan.

  • Menggaruk atau mengorek kulit kepala sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan iritasi.
  • Penggunaan produk penata rambut yang berat perlu dibatasi jika menyebabkan penumpukan.
  • Sisir dan sikat rambut perlu dijaga kebersihannya.
  • Kulit kepala juga sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama dalam kondisi berkeringat atau lembap.

Ketombe umumnya dapat dikelola melalui perawatan kulit kepala yang konsisten dan penanganan yang sesuai. Namun, kondisi ini dapat kembali muncul karena ketombe merupakan masalah kulit kepala yang cenderung berulang.

Sumber : https://kesehatan.liputan6.com/info-sehat/read/8296238/cuaca-panas-dan-lembap-bikin-ketombe-makin-parah

Financial Boundary, Cara Menetapkan Batas Sehat agar Uang Tak Mudah Dipinjam Teman

Financial Boundary, Cara Menetapkan Batas Sehat agar Uang Tak Mudah Dipinjam Teman

Liputan6.com, Jakarta – Financial boundary menjadi batas penting dalam menjaga kesehatan finansial sekaligus hubungan dengan orang-orang terdekat. Keinginan membantu teman atau keluarga memang wajar, tapi kebiasaan mengiyakan setiap permintaan bantuan dapat membuat kondisi keuangan pribadi ikut terabaikan.

Melansir Money 101, Rabu, 16 September 2026, batasan finansial membantu seseorang menentukan sejauh mana ia bersedia terlibat dalam urusan uang orang lain. Tanpa batas yang jelas, persoalan finansial dapat memicu stres, rasa kesal, bahkan tekanan keuangan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Situasi yang menguji batasan tersebut bisa muncul dalam keseharian. Mulai dari ketika teman meminta pinjaman, mengajak menjadi penjamin, meminta ikut menandatangani utang, hingga mengharapkan bantuan untuk berbagai pengeluaran.

Kondisi serupa juga dapat terjadi ketika orangtua atau anggota keluarga terus memberikan dukungan finansial kepada anak yang sudah dewasa di luar rencana. Keadaan darurat keluarga menjadi situasi lain yang kerap membuat seseorang sulit mempertimbangkan kemampuan finansialnya sendiri.

Dorongan untuk segera membantu bisa membuat kebutuhan seperti pembayaran tagihan, tabungan, atau target keuangan pribadi terabaikan. Membantu orang terdekat tetap dapat dilakukan, tetapi keputusan tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan.

Financial boundary bukan tentang menutup diri dari kebutuhan orang lain, melainkan menetapkan batas agar kepedulian tidak berujung pada masalah finansial maupun ketegangan dalam hubungan.

Langkah sederhana dapat dimulai dengan menetapkan jumlah yang mampu diberikan, mempertimbangkan kebutuhan pribadi, serta berani mengatakan tidak ketika permintaan mulai melewati batas yang telah ditentukan tanpa merasa bersalah berlebihan.

Menetapkan Batas Bantuan Finansial

Setelah memahami pentingnya batasan, langkah berikutnya adalah menentukan seperti apa batas yang sesuai dengan kondisi Anda. Jangan menunggu sampai merasa tertekan baru membuat aturan. Batas yang disiapkan sejak awal dapat membantu Anda merespons permintaan uang dengan lebih tenang.

Salah satu caranya adalah menetapkan aturan yang jelas, misalnya memutuskan untuk tidak meminjamkan uang kepada teman atau keluarga. Jika masih ingin membantu, tentukan nominal yang memang sanggup diberikan tanpa mengganggu kebutuhan sendiri.

Penting juga membedakan antara membantu karena pilihan dan membantu karena merasa wajib. Anda boleh mengatakan tidak ketika permintaan tersebut berada di luar kemampuan.

Jika tidak dapat memberikan uang, bukan berarti Anda tidak bisa membantu. Tawarkan dukungan non-finansial, seperti membantu mencari informasi, menyusun alternatif solusi, atau mengarahkan mereka pada sumber bantuan yang relevan.

Menyampaikan Batas dengan Tegas dan Empati

Menentukan batas memang penting, tetapi cara menyampaikannya juga tidak kalah penting, padahal batas finansial dapat disampaikan tanpa membuat percakapan menjadi konflik.

Mulailah dengan jujur, tetapi tetap menunjukkan empati. Anda dapat mengakui situasi orang tersebut, lalu menjelaskan bahwa kondisi keuangan Anda membuat bantuan dalam bentuk uang belum memungkinkan.

Sampaikan keputusan dengan jelas dan tenang. Jika belum yakin, Anda tidak harus langsung memberikan jawaban. Beri waktu untuk mempertimbangkan permintaan agar keputusan tidak dibuat karena tekanan sesaat. Tidak masalah untuk menunda respons ketika seseorang kesulitan mengatakan tidak secara spontan.

Saat menolak, hindari meminta maaf secara berlebihan. Anda tetap dapat menghargai situasi orang lain tanpa merasa bersalah karena menjaga batas keuangan sendiri.

Tanda Bantuan Finansial Mulai Tidak Sehat

Membantu orang lain sesekali berbeda dengan terus-menerus merasa harus menyediakan uang.

Salah satu tandanya adalah permintaan uang muncul terlalu sering atau jumlahnya terus meningkat. Anda juga perlu memperhatikan perasaan sendiri. Jika mulai merasa cemas, tertekan, atau kesal setiap kali diminta membantu, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali batas yang dibuat.

Kondisi keuangan juga menjadi penanda penting. Jika tagihan, tabungan, atau tujuan finansial mulai terganggu, kebutuhan Anda sendiri perlu diperhatikan.

Tanda lainnya adalah ketika bantuan tidak lagi dipandang sebagai pemberian sukarela, melainkan sesuatu yang dianggap wajib. Memperjelas batas dapat membantu mengurangi ekspektasi yang tidak sesuai.

Bantuan yang diberikan sesuai kemampuan dapat membuat dukungan terasa lebih sehat dan terukur. Batas yang jelas juga dapat membantu melindungi kesejahteraan finansial dan hubungan personal.

Sumber : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8292863/financial-boundary-cara-menetapkan-batas-sehat-agar-uang-tak-mudah-dipinjam-teman

Jam Berapa Waktu Sholat Tahajud yang Paling Utama? Simak Rincian dan Panduannya

Jam Berapa Waktu Sholat Tahajud yang Paling Utama? Simak Rincian dan Panduannya

Liputan6.com, Jakarta – Sholat tahajud merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, jam berapa waktu sholat tahajud yang paling utama?

Sebagaimana diketahui, Ibadah ini dikerjakan pada malam hari, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 79: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai suatu ibadah tambahan bagimu), mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”.

H. Sayuti dalam Tuntunan Shalat Tahajud menjelaskan bahwa sholat tahajud adalah sholat yang dikerjakan pada waktu malam dan sesudah tidur, meskipun tidurnya hanya sebentar. Jika dilakukan tanpa tidur sebelumnya, maka tidak dinamakan sholat tahajud, melainkan sholat sunnah biasa.

Kembali ke pembahasan semula, para ulama telah membagi malam menjadi tiga bagian untuk menunaikan sholat tahajud. Semuanya diperbolehkan dan sama-sama utama.

Lantas, kapan waktu yang paling utama dan istimewa? Mari simak ulasan berikut ini.

Waktu Sholat Tahajud Terbaik dan yang Paling Utama

Waktu pelaksanaan sholat tahajud adalah setelah sholat Isya hingga terbit fajar (waktu Subuh). Namun, para ulama membagi malam menjadi tiga bagian, dan masing-masing memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda.

1. Sepertiga Malam Pertama (sekitar pukul 19.00–22.00). Ini adalah waktu yang utama untuk melaksanakan sholat tahajud. Waktu ini dimulai setelah sholat Isya dan berakhir sekitar pukul 22.00.

2. Sepertiga Malam Kedua (sekitar pukul 22.00–01.00). Ini adalah waktu yang lebih utama dibandingkan sepertiga pertama. Pada waktu ini, suasana semakin tenang dan kekhusyukan lebih mudah diraih.

3. Sepertiga Malam Terakhir (sekitar pukul 01.00 hingga masuk waktu Subuh). Inilah waktu yang paling utama.

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menegaskan bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling utama untuk sholat tahajud. Ia berkata: “Dan yang paling utama dalam sholat tahajud adalah di sepertiga malam terakhir. Sebagaimana diriwayatkan dari Amr bin ‘Absa, ia berkata: ‘Aku bertanya, “Ya Rasulullah, malam yang mana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Sepertiga malam terakhir, sholatlah sebanyak yang engkau mampu.”‘” (HR Abu Dawud).

Rasulullah SAW juga bersabda: “Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya” (HR Ahmad).

Drs. Moh. Rifai dalam Risalah Tuntunan Shalat Lengkap mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir dan berfirman: “Barangsiapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaannya. Dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.”

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “jam berapa waktu sholat tahajud yang paling utama” adalah sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga menjelang Subuh. Namun, jam pastinya berbeda di setiap daerah.

Contohnya, jika Maghrib pukul 18.00 dan Subuh pukul 04.30, maka sepertiga malam terakhir dimulai sekitar pukul 01.00 hingga 04.30. Yang terpenting adalah menghitung pembagian malam dari waktu Maghrib hingga Subuh setempat, bukan berpatokan pada satu jam tertentu.

Panduan Tata Cara Sholat Tahajud

Niat Sholat Tahajud

Niat merupakan rukun yang harus ada dalam setiap sholat, termasuk sholat tahajud. Niat diucapkan dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Lafazh niat sholat tahajud adalah:

Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushalli sunnatat tahajjudi rak’ataini lillahi ta’ala

Artinya: “Aku berniat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala”.

Tata Cara Sholat Tahajud

Tata cara sholat tahajud pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya. Berikut langkah-langkahnya menurut Tuntunan Shalat Tahajud karya H. Sayuti dan Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karya Drs. Moh. Rifai:

1. Bangun dari tidur dan berwudhu. Setelah bangun tidur pada malam hari setelah sholat Isya, dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat.

2. Membaca niat dan takbiratul ihram. Niat diucapkan dalam hati bersamaan dengan mengangkat kedua tangan dan membaca “Allahu Akbar”.

3. Membaca doa Iftitah. Dianjurkan membaca doa iftitah sebagaimana bacaan sholat pada umumnya.

4. Membaca Surat Al-Fatihah dan surat pendek. Pada setiap rakaat, membaca Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan membaca surat atau ayat Al-Qur’an.

5. Rukuk, i’tidal, sujud, dan duduk antara dua sujud. Dilaksanakan sebagaimana sholat biasa, dengan membaca bacaan yang telah diajarkan.

6. Duduk tasyahud akhir dan salam. Sholat tahajud dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dan setiap dua rakaat diakhiri dengan salam. Jumlah rakaatnya minimal dua dan maksimal tidak terbatas.

7. Membaca dzikir dan doa setelah sholat tahajud. Setelah salam, dianjurkan membaca istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan sholawat, kemudian dilanjutkan dengan doa-doa mustajab.

Doa-Doa Setelah Sholat Tahajud

Setelah menunaikan sholat tahajud, dianjurkan untuk membaca dzikir terlebih dahulu, seperti istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan sholawat Nabi, kemudian dilanjutkan dengan memanjatkan doa-doa mustajab.

1. Doa Panjang dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad SAW setiap kali bangun malam untuk sholat tahajud. Doa ini berisi pujian kepada Allah, pengakuan iman, dan permohonan ampunan. H. Sayuti dalam Tuntunan Shalat Tahajud dan Drs. Moh. Rifai dalam Risalah Tuntunan Shalat Lengkap sama-sama mencantumkan doa ini sebagai doa utama setelah sholat tahajud. Imam an-Nawawi juga mencantumkan doa ini dalam kitab al-Adzkar halaman 25.

Arab: اَللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهُمَّ لَكَ اَسْلَمْتُ وَبِكَ اَمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَاِلَيْكَ اَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَاِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْلِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا اَخَّرْتُ وَمَا اَسْرَرْتُ وَمَا اَعْلَنْتُ وَمَا اَنْتَ اَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. اَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَاَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَاِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ. وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ

Latin: Allāhumma rabbanā lakal hamdu. Anta qayyimus samāwāti wal ardhi wa man fī hinna. Wa lakal hamdu anta malikus samāwāti wal ardhi wa man fī hinna. Wa lakal hamdu anta nūrus samāwāti wal ardhi wa man fī hinna. Wa lakal hamdu antal haq. Wa wa’dukal haq. Wa liqā’uka haq. Wa qauluka haq. Wal jannatu haq. Wan nāru haq. Wan nabiyyūna haq. Wa Muhammadun shallallāhu ‘alaihi wa sallama haq. Was sā’atu haq. Allāhumma laka aslamtu wa bika āmantu wa ‘alaika tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khāshamtu wa ilaika hākamtu faghfirlī mā qaddamtu wa mā akhkhartu wa mā asrartu wa mā a’lantu wa mā anta a’lamu bihī minnī. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru lā ilāha illā anta. Wa lā haula wa lā quwwata illā billāh.

Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau penegak langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau penguasa langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta siapa saja yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi itu benar, Nabi Muhammad SAW itu benar, dan hari Kiamat itu benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan-Mu aku berhukum, dan kepada-Mu aku meminta keputusan. Maka ampunilah dosa-dosaku, baik yang terdahulu maupun yang akhir, yang tersembunyi maupun yang tampak, dan apa yang Engkau lebih mengetahui tentangnya daripada aku. Engkau Dzat yang terdahulu dan yang terakhir, tiada Tuhan selain Engkau, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” (HR Bukhari no. 1120 dan Muslim).

2. Doa Singkat Kebaikan Dunia dan Akhirat

H. Sayuti dan Drs. Moh. Rifai juga menganjurkan doa singkat yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana yang sering dipanjatkan Rasulullah SAW.

Arab: رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbanā ātinā fid dunyā hasanatan wa fil ākhirati hasanatan wa qinā ‘adzāban nār.

Artinya: “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (QS Al-Baqarah: 201).

Keutamaan Sepertiga Malam Terakhir sebagai Waktu Sholat Tahajud

Sepertiga malam terakhir memiliki keutamaan yang sangat istimewa dibandingkan waktu-waktu lainnya. Berikut keutamaan-keutamaannya:

1. Waktu Mustajab untuk Berdoa

Sepertiga malam terakhir adalah waktu terbaik untuk bermunajat kepada Allah. Pada saat itu, Allah SWT turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni” (HR Bukhari dan Muslim). Doa yang dipanjatkan pada waktu ini lebih mudah diijabah.

2. Mendapat Kedekatan dengan Allah SWT

Orang yang bangun di sepertiga malam terakhir untuk sholat tahajud berada dalam kondisi paling dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam, yaitu pada sepertiga malam yang terakhir” (HR Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa istimewanya waktu tersebut.

3. Terbebas dari Ikatan Setan

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa setan mengikat tengkuk seseorang dengan tiga ikatan ketika tidur. Jika seseorang bangun dan berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, lepaslah ikatan kedua. Dan jika ia sholat malam, lepaslah ikatan terakhir. Sehingga keesokan harinya ia menjadi bersemangat dalam beribadah, terlepas dari segala ikatan kesempitan jiwa, dan terlindungi dari rasa malas (HR Bukhari dan Muslim).

4. Dijanjikan Surga dan Ruangan yang Istimewa

Sholat tahajud pada sepertiga malam terakhir menjadi sebab turunnya rahmat Allah dan dijanjikannya surga serta ruangan yang istimewa bagi orang yang mengerjakannya.

5. Meninggikan Derajat dan Membuka Pintu Rezeki

Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang mengerjakan sholat malam dan membuka pintu rezeki bagi mereka.

6. Menjadi Kebiasaan Orang-Orang Saleh

Sholat tahajud adalah amalan yang diwarisi dari para nabi dan orang-orang saleh sebelum kita. Rasulullah SAW bersabda: “Kerjakanlah sholat malam, sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan” (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim).

Pertanyaan Seputar Waktu Sholat Tahajud

1. Jam berapa waktu sholat tahajud yang paling utama?

Waktu paling utama sholat tahajud adalah sepertiga malam terakhir, yaitu sekitar pukul 01.00 hingga menjelang Subuh. Namun, jam pastinya berbeda di setiap daerah karena mengikuti waktu Maghrib dan Subuh setempat. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni menegaskan bahwa sepertiga malam terakhir adalah waktu paling utama untuk sholat tahajud.

2. Apakah boleh sholat tahajud jam 12 malam?

Boleh. Waktu sholat tahajud dimulai setelah sholat Isya hingga sebelum Subuh. Jam 12 malam atau pukul 00.00 termasuk dalam sepertiga malam kedua (sekitar pukul 22.00–01.00), yang merupakan waktu yang lebih utama dibandingkan sepertiga pertama. Meskipun bukan waktu paling utama, sholat tahajud pada jam tersebut tetap sah dan berpahala.

3. Apakah sholat tahajud harus tidur dulu?

Ya, menurut pendapat yang kuat (mu’tamad) dalam mazhab Syafi’i, sholat tahajud harus dikerjakan setelah tidur, meskipun hanya sebentar. Jika tidak tidur sama sekali, sholat malam yang dikerjakan tidak disebut tahajud, melainkan qiyamul lail atau sholat sunnah malam biasa. Namun, sholat tersebut tetap sah dan berpahala.

4. Bagaimana cara menghitung sepertiga malam terakhir?

Cara menghitung sepertiga malam terakhir adalah dengan membagi waktu dari Maghrib hingga Subuh menjadi tiga bagian. Misalnya, jika Maghrib pukul 18.00 dan Subuh pukul 04.30, maka durasi malam adalah 10,5 jam. Sepertiga malam terakhir dimulai setelah 7 jam dari Maghrib, yaitu sekitar pukul 01.00, hingga pukul 04.30. Yang terpenting adalah menghitung berdasarkan jadwal sholat di daerah masing-masing.

5. Apakah sholat tahajud bisa dilakukan setelah sholat Witir?

Boleh. Sholat tahajud dapat dilakukan setelah sholat Witir, karena sholat tahajud adalah sholat sunnah yang tidak terikat dengan sholat Witir. Namun, yang lebih utama adalah menjadikan sholat Witir sebagai penutup sholat malam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. Jika seseorang sudah sholat Witir lalu ingin sholat tahajud, maka sholat Witirnya tidak perlu diulang.

Sumber : https://www.liputan6.com/islami/read/8291452/jam-berapa-waktu-sholat-tahajud-yang-paling-utama-simak-rincian-dan-panduannya

Menunda Bayar Utang Padahal Mampu, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Menunda Bayar Utang Padahal Mampu, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

KOMPAS.com – Utang merupakan salah satu bentuk tolong-menolong yang dibenarkan dalam Islam.

Seseorang yang meminjam harta memiliki kewajiban mengembalikannya sesuai kesepakatan, sedangkan pemberi pinjaman dianjurkan bersikap lapang dada kepada orang yang benar-benar mengalami kesulitan.

Namun, bagaimana jika seseorang sebenarnya mampu melunasi utang, tetapi sengaja menunda pembayarannya?

Dalam fikih Islam, tindakan tersebut bukan sekadar kurang baik, melainkan termasuk perbuatan zalim yang mendapat peringatan tegas dari Rasulullah SAW melalui hadis sahih.

Menunda Utang Padahal Mampu Adalah Kezaliman

Dalil paling jelas mengenai persoalan ini berasal dari hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA.

Rasulullah SAW membedakan antara orang yang benar-benar tidak mampu dengan orang yang sengaja menunda pembayaran meski memiliki kemampuan.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Maṭlul-ghaniyyi ẓulmun.

Artinya: “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman.” (HR Sahih al-Bukhari No. 2400; Sahih Muslim No. 1564).

Para ulama menjelaskan bahwa kata al-ghani dalam hadis ini berarti orang yang memiliki kemampuan melunasi utang.

Sementara maṭl bermakna sengaja menunda atau mengulur-ulur pembayaran tanpa alasan yang dibenarkan.

Karena itu, larangan ini tidak ditujukan kepada orang miskin, melainkan kepada mereka yang sebenarnya sanggup memenuhi kewajibannya.

Islam Membedakan Mampu dan Tidak Mampu

Al-Qur’an memberikan perlindungan kepada orang yang benar-benar mengalami kesulitan ekonomi.

Allah SWT memerintahkan agar pemberi utang memberikan tenggang waktu hingga keadaan debitur membaik.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah Ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wa in kāna żū ‘usratin fanaẓiratun ilā maisarah, wa an taṣaddaqū khairul lakum in kuntum ta‘lamūn.

Artinya: “Jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan sebagian atau seluruh utang itu, itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Ayat ini menunjukkan keseimbangan ajaran Islam. Debitur yang mampu tidak boleh menunda pembayaran, sedangkan kreditur juga tidak boleh menekan orang yang benar-benar kesulitan. Keadilan diwujudkan dengan melihat kondisi masing-masing pihak.

Mengapa Penundaan Disebut Zalim?

Dalam fikih, zalim berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau merampas hak orang lain.

Ketika seseorang mampu membayar tetapi sengaja mengulur waktu, ia sedang menahan hak yang seharusnya segera diterima pemiliknya.

Penundaan semacam ini juga dapat menimbulkan dampak sosial yang besar.

Pemberi pinjaman mungkin membutuhkan uang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, membayar biaya pendidikan, atau menjalankan usahanya.

Karena itu, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai bentuk kezaliman, bukan sekadar kelalaian administratif.

Adab Seorang Muslim Ketika Berutang

Islam tidak melarang seseorang berutang selama dilakukan untuk kebutuhan yang dibenarkan dan disertai niat melunasinya.

Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan agar utang dicatat dengan jelas, memiliki kesepakatan waktu pembayaran, serta dipenuhi tepat waktu ketika telah mampu.

Para ulama juga menganjurkan agar seseorang tidak mengambil utang melebihi kemampuannya.

Prinsip ini bertujuan menjaga kehormatan diri sekaligus menghindarkan seseorang dari kesulitan memenuhi kewajibannya di kemudian hari.

Bagaimana Jika Belum Mampu Melunasi?

Berbeda dengan orang yang sengaja menunda, seseorang yang benar-benar tidak memiliki kemampuan justru dianjurkan bersikap jujur kepada pemberi utang.

Ia sebaiknya menjelaskan kondisinya, meminta penangguhan, dan tetap memiliki niat kuat untuk melunasi ketika Allah memberikan kelapangan rezeki.

Di sisi lain, pemberi utang memperoleh pahala besar apabila memberi tenggang waktu atau bahkan mengikhlaskan sebagian utang sebagai sedekah.

Inilah bentuk kasih sayang yang diajarkan Al-Qur’an dalam menjaga hubungan antarsesama.

Utang Adalah Amanah yang Harus Ditunaikan

Islam memandang utang sebagai amanah, bukan sekadar transaksi keuangan. Karena itu, kemampuan finansial harus diiringi tanggung jawab moral untuk segera mengembalikan hak orang lain tanpa menunggu ditagih berulang kali.

Apabila telah memiliki kemampuan, menunda pembayaran justru termasuk perbuatan zalim sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW.

Sebaliknya, melunasi utang tepat waktu menjadi cerminan kejujuran, amanah, dan akhlak seorang Muslim yang menjaga hak sesama manusia.

Sumber : https://cahaya.kompas.com/aktual/26I23142846890/menunda-bayar-utang-padahal-mampu-bagaimana-hukumnya-dalam-islam

Korupsi Bukan Cuma Soal Uang, Al-Qur’an Ungkap Dosa di Baliknya

Korupsi Bukan Cuma Soal Uang, Al-Qur’an Ungkap Dosa di Baliknya

Korupsi bukan sekadar persoalan mengambil uang atau menyalahgunakan jabatan. Dalam perspektif Islam, praktik tersebut menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni pengkhianatan terhadap amanah.

Praktik korupsi merupakan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri, orang lain, kelompok atau golongan. Semua itu merupakan pengkhianatan terhadap amanah dan sumpah jabatan.

Karena itu, persoalan korupsi tidak hanya berkaitan dengan kerugian negara atau pelanggaran aturan. Bagi seorang Muslim, penyalahgunaan jabatan juga menyangkut pertanggungjawaban moral dan agama di hadapan Allah SWT.

Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan tegas agar manusia tidak mengkhianati amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Amanah Bukan Formalitas

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat al-Anfal ayat 27:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَخُوۡنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوۡلَ وَتَخُوۡنُوۡۤا اَمٰنٰتِكُمۡ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal: 27).

Ayat tersebut menempatkan amanah sebagai sesuatu yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Ketika seseorang menerima jabatan, kewenangan, anggaran, atau tanggung jawab publik, terdapat kepercayaan yang melekat di dalamnya.

Dari sudut pandang ini, korupsi tidak berhenti pada tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak. Penyalahgunaan kewenangan menunjukkan adanya amanah yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya.

Jabatan Harus Adil

Kewajiban menjaga amanah juga ditegaskan Allah SWT dalam Quran Surat al-Nisa’ ayat 58:

اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُكُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهۡلِهَا ۙ وَاِذَا حَكَمۡتُمۡ بَيۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡكُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمۡ بِهٖ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيۡعًۢا بَصِيۡرًا‏

Artinya: “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS al-Nisa’: 58).

Pesan ayat ini menjadi relevan dalam kehidupan publik. Kekuasaan bukan ruang untuk mendapatkan keuntungan pribadi, melainkan tanggung jawab yang harus digunakan secara adil dan sesuai haknya.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan seorang pemegang jabatan tidak semata-mata dapat dilihat dari capaian administratif atau popularitas. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah amanah yang dipercayakan kepadanya telah dijalankan secara benar?

Dosa dan Tanggung Jawab

Mengkhianati amanah disebut sebagai salah satu karakter orang-orang munafik dan termasuk perbuatan dosa yang dibenci Allah SWT. Karena itu, praktik korupsi dalam perspektif Islam bukan sekadar persoalan administratif, tetapi juga perbuatan yang berkaitan dengan dosa dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Perspektif ini memperluas cara melihat pemberantasan korupsi. Penegakan hukum tetap diperlukan untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran, tetapi pencegahan juga membutuhkan kesadaran bahwa setiap kekuasaan merupakan amanah.

Seorang pejabat, pengelola anggaran, maupun siapa pun yang memperoleh kewenangan publik pada akhirnya tidak hanya berhadapan dengan aturan manusia.

Ia juga membawa tanggung jawab moral atas kepercayaan yang diterimanya.

Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa amanah harus diberikan kepada yang berhak dan kekuasaan harus dijalankan dengan keadilan.

Karena itu, korupsi dalam perspektif Islam dapat dipahami sebagai persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hilangnya uang negara, tetapi merupakan rusaknya amanah yang seharusnya digunakan untuk kepentingan orang banyak.

sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/korupsi-bukan-cuma-soal-uang-al-quran-ungkap-dosa-di-baliknya

Saat Jabatan Jadi Ujian, Islam Ingatkan Bahaya Kekuasaan yang Disalahgunakan

Saat Jabatan Jadi Ujian, Islam Ingatkan Bahaya Kekuasaan yang Disalahgunakan

Jabatan kerap dipandang sebagai simbol kehormatan, kedudukan, dan pencapaian. Namun, perspektif Islam menempatkan jabatan dalam posisi yang jauh lebih berat, yakni amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam sebuah jabatan bukan semata-mata tingginya kedudukan, besarnya kewenangan, atau banyaknya penghormatan yang diterima.

Yang menjadi pertaruhan justru bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk menegakkan keadilan dan memenuhi kepentingan orang yang dilayani.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا 

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisa: 58)

Ayat tersebut menegaskan amanah harus diberikan kepada orang yang berhak dan mampu menjalankannya.

Dalam konteks jabatan, prinsip ini memiliki konsekuensi besar: kekuasaan tidak semestinya menjadi sarana memenuhi kepentingan pribadi, kelompok, atau ambisi tertentu.

Sebaliknya, jabatan merupakan tanggung jawab untuk menjalankan tugas secara benar, jujur, dan adil.

Jabatan Jadi Ujian

Dalam Islam, kedudukan juga dapat menjadi bentuk ujian. Sebagaimana harta dan anak, kekuasaan dapat menguji sejauh mana seseorang mampu menjaga keimanan ketika memperoleh keistimewaan dan kewenangan.

Allah SWT berfirman:

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ

Artinya: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS Al-Anfal: 28)

Prinsip tersebut dapat menjadi refleksi bagi siapa pun yang memperoleh kekuasaan. Jabatan yang digunakan dengan amanah dapat menjadi ladang amal dan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebaliknya, ketika kewenangan melahirkan kesombongan, ketidakadilan, atau penyalahgunaan kepentingan, kedudukan justru dapat menjadi ujian yang berujung pada dosa.

Karena itu, Islam tidak hanya menuntut seseorang mampu memegang jabatan, tetapi juga mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki kekuasaan.

Kekuasaan tak Mutlak

Persoalan paling penting dalam amanah jabatan adalah menjaga keputusan agar tidak dikendalikan hawa nafsu. Allah SWT berfirman:

 ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS Al-Ma’idah: 8)

Pesan tersebut menempatkan keadilan sebagai prinsip utama dalam menjalankan kewenangan. Keputusan tidak seharusnya ditentukan oleh kepentingan pribadi, kelompok, maupun ambisi mempertahankan kekuasaan.

Pada akhirnya, kekuasaan juga bukan milik manusia secara mutlak. Allah SWT memberikan dan mencabut kerajaan atau kekuasaan sesuai kehendak-Nya.

Allah SWT berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ 

Artinya: “Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS Ali Imran: 26)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa jabatan memiliki batas waktu, sedangkan pertanggungjawaban atas amanah tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan kursinya.

Karena itu, jabatan semestinya dipandang sebagai ladang amal, bukan panggung kebanggaan.

Kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kemampuan menjauhkan kepentingan pribadi dari kewenangan menjadi bagian penting dari amanah tersebut.

Sebab, yang akhirnya bernilai bukan berapa tinggi seseorang pernah menduduki jabatan, melainkan bagaimana ia menggunakan kewenangan itu ketika dipercaya.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/saat-jabatan-jadi-ujian-islam-ingatkan-bahaya-kekuasaan-yang-disalahgunakan