Jakarta (ANTARA) – Pernah memikirkan kemungkinan buruk dari sebuah kejadian, lalu pikiran tersebut terus berputar meski situasinya sudah berubah? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pikiran negatif dapat semakin sulit dilepaskan ketika berinteraksi dengan emosi dan kebiasaan memikirkan suatu masalah berulang kali.
Menurut laporan laman Psychology Today, Senin (31/8) waktu setempat, penelitian tersebut menemukan bahwa seseorang dapat terjebak pada penafsiran negatif terhadap situasi yang sebenarnya masih memiliki banyak kemungkinan.
Misalnya, ketika pesan yang dikirim kepada teman tidak kunjung dibalas, seseorang mungkin awalnya berpikir temannya sedang sibuk. Namun, setelah melihat temannya aktif di media sosial, muncul pikiran bahwa dirinya sedang dihindari atau membuat temannya kesal.
Masalahnya bukan sekadar munculnya pikiran negatif, melainkan kemampuan untuk mengubah pandangan tersebut ketika ada informasi baru. Seseorang mungkin tetap menganggap temannya marah meski kemudian mendapat penjelasan bahwa temannya memang sedang sibuk.
Penelitian Lisa M. W. Vos dan rekannya dari Tilburg University dan KU Leuven melibatkan 179 orang dewasa dengan tingkat gejala depresi dan kecemasan yang beragam. Para peserta mengikuti penelitian selama 14 hari dan mendapat enam pertanyaan singkat setiap hari mengenai kondisi mental serta cara mereka menafsirkan berbagai situasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang mengalami lebih banyak gejala depresi dan kecemasan sosial cenderung lebih sulit melepaskan penafsiran negatif.
Para peneliti juga menemukan adanya hubungan timbal balik antara pikiran negatif dan emosi. Ketika seseorang lebih sulit melepaskan penafsiran negatif, mereka kemudian cenderung mengalami lebih banyak emosi negatif. Sebaliknya, ketika suasana hati memburuk, seseorang juga lebih mungkin mempertahankan penafsiran negatif terhadap situasi yang belum jelas.
Kebiasaan memikirkan masalah yang sama berulang kali atau rumination juga ikut memperkuat siklus tersebut. Penafsiran negatif dapat membuat seseorang terus memikirkan masalah, sementara kebiasaan tersebut kemudian membuat pikiran negatif semakin sulit dilepaskan.
Jonas Everaert, Ph.D., salah satu peneliti sekaligus asisten profesor psikologi klinis di Tilburg University dan peneliti senior di KU Leuven, menjelaskan bahwa hubungan tersebut menunjukkan adanya pengaruh dua arah antara pikiran dan emosi.
Menurut temuan tersebut, kesehatan mental bukan berarti seseorang harus selalu berpikir positif. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk meninjau kembali pikiran ketika situasi berubah atau muncul informasi baru.
Dengan kata lain, ketika sebuah pikiran negatif muncul, seseorang tidak harus langsung menggantinya dengan pikiran positif. Ia dapat mencoba mempertimbangkan kemungkinan penjelasan lain dan melihat apakah ada informasi baru yang dapat mengubah pandangan awal.
Para peneliti juga menilai bahwa mengelola emosi dapat membantu seseorang berpikir lebih fleksibel. Mengurangi tekanan, menghentikan kebiasaan memikirkan masalah berulang kali, mencari dukungan dari orang lain, atau mengalihkan perhatian pada pengalaman positif dapat menjadi beberapa cara yang perlu diteliti lebih lanjut.
Meski demikian, penelitian tersebut masih menunjukkan hubungan antarproses psikologis dan belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah strategi tertentu benar-benar dapat membantu seseorang lebih mudah melepaskan penafsiran negatif.




