Kemudahan paylater dapat menjadi jebakan bagi keluarga muda ketika keinginan mengikuti tren lebih besar daripada kemampuan mengatur keuangan.
KEMUDAHAN membeli barang tanpa membayar saat itu juga membuat paylater semakin sulit dipisahkan dari gaya hidup masyarakat. Bagi keluarga muda, fasilitas tersebut dapat menjadi jebakan ketika keinginan mengikuti tren lebih besar daripada kemampuan mengatur keuangan.
Hal itu menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam Forum Edukasi Literasi Keuangan Keluarga Muda Tangguh bersama Indah Tri Kurniawati dari Danamon Syariah. Kegiatan itu merupakan rangkaian agenda Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah yang digelar di Ballroom Hotel Dwangsa Solo, Jumat, 7 Agustus 2026.
Menurut Indah, paylater pada dasarnya merupakan bentuk utang dengan skema beli sekarang dan bayar kemudian. Masalah muncul ketika pengguna merasa masih memiliki waktu untuk membayar tagihan.
Pikiran seperti “nanti pasti bisa bayar” justru dapat membuat seseorang mengambil utang berikutnya sebelum menyelesaikan kewajiban sebelumnya. Akibatnya, tagihan berpotensi menumpuk dan membentuk lingkaran utang.
“Ketika kita terjebak dalam konsep beli dulu baru bayar, tagihan bisa semakin menumpuk. Dampaknya bukan hanya terhadap kondisi keuangan, tetapi juga kesehatan mental dan akhirnya dapat memengaruhi pola asuh terhadap anak,” kata Indah.
Ia mengatakan kondisi tersebut semakin relevan di tengah tekanan inflasi dan gaya hidup yang dipengaruhi media sosial. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO ) membuat seseorang terdorong mengikuti tren atau menampilkan gaya hidup tertentu agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan.
Indah menyebut tingkat literasi keuangan nasional Indonesia saat ini mencapai 64,46 persen. Namun, literasi keuangan syariah baru berada di kisaran 43 persen. Menurut dia, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan diperlukan agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial secara lebih rasional, termasuk ketika ditawari fasilitas kredit digital.
Pertumbuhan layanan paylater juga menjadi perhatian. Indah menyebut outstanding paylater tumbuh sekitar 70 persen per tahun dan layanan tersebut banyak ditawarkan melalui aplikasi belanja daring. Kemudahan akses membuat masyarakat perlu memahami bahwa paylater tetap merupakan kewajiban yang harus dibayar, bukan tambahan penghasilan.
Literasi keuangan, kata Indah, juga tidak sebatas kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran. Bagi keluarga, kemampuan mengelola uang berkaitan dengan upaya mengurangi konflik rumah tangga, menekan stres, membangun kerja sama antara suami dan istri, serta melindungi anak dari dampak persoalan finansial.
Karena itu, keluarga perlu memahami bahwa kebutuhan keuangan berubah mengikuti tahapan kehidupan. Indah membaginya dalam sejumlah fase, mulai dari pondasi awal, akumulasi awal, akumulasi cepat, puncak pendapatan, financial freedom, hingga distribusi kekayaan.
Pada tahap apa pun, prinsip dasarnya tetap sama: pengeluaran tidak boleh lebih besar daripada pemasukan. Jika membutuhkan pinjaman, utang yang lebih disarankan adalah utang produktif yang dapat menciptakan nilai atau menunjang kemampuan menghasilkan pendapatan.
Indah menyarankan total cicilan seluruh utang dijaga di bawah 30 persen dari penghasilan bulanan. Sebelum mengambil pinjaman, calon debitur juga perlu bertanya kepada diri sendiri apakah mampu membayar cicilan dan apakah utang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar untuk mengikuti gaya hidup.
Untuk membantu keluarga menyusun rencana keuangan, Indah menyarankan penggunaan prinsip SMART. Tujuan finansial harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu. Tujuan tersebut kemudian dapat dibagi menjadi target jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dana darurat juga perlu disiapkan sebelum keluarga menghadapi kebutuhan yang tidak terduga. Bentuknya dapat berupa tabungan maupun tabungan emas yang dikumpulkan secara bertahap. Menurut Indah, nominal awal bukan persoalan utama karena yang lebih penting adalah konsistensi.
Di tengah semakin banyaknya transaksi digital, kemampuan mengenali modus penipuan juga menjadi bagian dari literasi keuangan. Masyarakat perlu memahami ciri-ciri penipuan berbasis digital agar uang yang telah dikelola dengan baik tidak kembali hilang karena menjadi korban kejahatan.
Indah merangkum pengelolaan keuangan keluarga dalam lima langkah, yakni mencatat dan menyadari kondisi keuangan, membedakan kebutuhan dengan keinginan, menyiapkan dana darurat, menjauhi utang konsumtif dan paylater, serta menyusun rencana keuangan menggunakan tujuan SMART.
“Keuangan keluarga yang sehat bukan ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh kebijaksanaan dalam mengelola rupiah yang Allah titipkan kepada kita,” ujar Indah.
Sumber : https://www.tempo.co/gaya-hidup/paylater-dan-fomo-mengintai-keuangan-keluarga-muda-2280893




