Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Termasuk Rukun Iman, Ini 13 Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar dalam Islam

Dalam kehidupan di dunia ini, tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.

Ada kalanya kita merasa bahagia, namun ada juga saat kita harus menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Di tengah berbagai keadaan tersebut, keimanan kepada qada dan qadar menjadi salah satu pegangan penting bagi seorang Muslim.

Lantas, apa saja hikmah yang bisa kita dapatkan dari beriman kepada qada dan qadar dalam kehidupan sehari-hari?

Hikmah Beriman kepada Qada dan Qadar bagi Kehidupan Muslim

1. Tergolong sebagai Kelompok Orang yang Beriman

Mengimani qada dan qadar merupakan bagian penting dalam kesempurnaan iman seorang Muslim.

Keyakinan terhadap takdir, baik yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan, menjadi bagian dari keimanan yang harus dijaga.

Dengan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas ketetapan Allah SWT, seorang Muslim termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah riwayat Imam Muslim.

2. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan kepada Allah SWT

Ketika kita memperhatikan bagaimana alam semesta berjalan dengan begitu teratur, seimbang, dan penuh ketetapan, kita akan semakin menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Keteraturan tersebut merupakan bagian dari sunnatullah, yaitu ketentuan dan hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan.

Kesadaran ini perlahan dapat menumbuhkan rasa kagum, cinta, takut, dan takwa yang semakin kuat kepada Sang Pencipta.

3. Menumbuhkan Rasa Sabar yang Mendalam ketika Menghadapi Ujian

Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kesedihan, rasa sakit, kehilangan, dan berbagai ujian kehidupan.

Namun, keimanan kepada qada dan qadar membantu kita memahami bahwa setiap kejadian berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT.

Keyakinan tersebut dapat membuat hati lebih sabar ketika menghadapi musibah.

Kita pun menjadi lebih tenang, tidak mudah terbawa emosi, dan mampu menghadapi masalah dengan pikiran yang lebih jernih sambil berusaha mencari jalan keluarnya.

4. Melatih dan Mendidik Diri untuk Selalu Bersyukur

Ketika sedang mendapatkan kesehatan, rezeki yang cukup, keluarga yang menyayangi, atau berbagai kemudahan dalam hidup, iman kepada takdir mengingatkan kita bahwa semua itu merupakan karunia dari Allah SWT.

Kesadaran ini membuat kita tidak mudah terlena dengan kenikmatan yang dimiliki.

Sebaliknya, kita terdorong untuk mensyukurinya dan menyadari bahwa segala nikmat yang ada pada diri kita pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam surat An-Nahl ayat 53:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Latin: Wa maa bikum minni’matin faminal laahi summa izaa massakumud durru fa ilaihi taj’aroon

Artinya: “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”

5. Menjauhkan Diri dari Sifat Sombong dan Angkuh

Kesuksesan dalam pekerjaan, kondisi finansial yang baik, maupun prestasi yang membanggakan terkadang membuat seseorang merasa bahwa semua itu semata-mata berasal dari kemampuan dirinya sendiri.

Di sinilah iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk tetap rendah hati.

Kita menyadari bahwa keberhasilan yang diraih tidak terlepas dari izin, pertolongan, dan ketetapan Allah SWT.

Karena itu, pencapaian yang dimiliki seharusnya mendorong kita untuk bersyukur, bukan menyombongkan diri. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Latin: Wa laa tusa’ir khaddaka linnaasi wa laa tamshi fil ardi maarahan innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhoor

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.

Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”

6. Menjauhkan Diri dari Sifat Putus Asa

Kegagalan dalam pekerjaan, usaha, pendidikan, maupun kehidupan pribadi bisa membuat seseorang kehilangan semangat.

Namun, seorang Muslim yang beriman kepada qada dan qadar tidak seharusnya larut dalam keputusasaan.

Ia percaya bahwa apa yang terjadi berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah SWT, sehingga kegagalan yang dialami tidak selalu menjadi akhir dari segalanya.

Bisa jadi, ada kebaikan dan pelajaran yang belum terlihat di balik kejadian tersebut.

Karena itu, iman kepada takdir membantu kita untuk tetap memiliki harapan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat Yusuf ayat 87:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Latin: Yaa baniyyaz haboo fatahassasoo miny Yoosufa wa akheehi wa laa tai’asoo mir rawhil laahi innahoo laa yai’asu mir rawhil laahi illal qawmul kaafiroon

Artinya: “Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.”

7. Menumbuhkan Sifat Optimis dan Semangat Berikhtiar

Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa pun.

Justru, keyakinan kepada qada dan qadar seharusnya membuat seorang Muslim semakin terdorong untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.

Kita menjalankan ikhtiar sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Sikap ini membuat kita tetap optimis dalam menghadapi kehidupan dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Semangat untuk bekerja dan berusaha juga ditegaskan Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Latin: Wa quli’maloo fasayaral laahu ‘amalakum wa Rasooluhoo walmu’minoona wa saturaddoona ilaa ‘Aalimil Ghaibi washshahaadati fa yunabbi’ukum bimaa kuntum ta’maloon

Artinya: Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,

dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

8. Membentuk Prasangka Baik kepada Allah SWT

Ada kalanya, kenyataan yang kita hadapi berjalan jauh dari apa yang telah direncanakan.

Pada saat seperti itu, iman kepada qada dan qadar membantu kita untuk tetap berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah SWT.

Kita percaya bahwa setiap ketetapan-Nya memiliki hikmah, meskipun hikmah tersebut belum tentu langsung terlihat.

Peristiwa yang terasa berat atau menyakitkan pun dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk belajar, tumbuh, dan menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

9. Menumbuhkan Sikap Tawakal

Iman kepada qada dan qadar juga mengajarkan kita tentang makna tawakal yang sebenarnya.

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar sebaik mungkin.

Dengan sikap ini, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang karena ia memahami bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah SWT.

Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Pengasih.

Allah SWT berfirman:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

10. Membentuk Mental yang Kuat dan Mandiri

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada saatnya kita menghadapi kegagalan, kehilangan, kesulitan, atau keadaan yang terasa sangat berat.

Keimanan kepada qada dan qadar membantu membentuk mental yang lebih kuat dalam menghadapi semua itu.

Seorang Muslim belajar untuk tidak mudah menyerah, tidak terlalu larut dalam keadaan, dan berani bangkit ketika mengalami kegagalan.

Keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui dan menetapkan segala sesuatu juga membuat kita lebih mampu menghadapi perubahan hidup dengan sabar dan tetap berusaha.

11. Memotivasi Manusia untuk Kreatif Mengungkap Sunnatullah

Beriman kepada takdir Allah SWT juga tidak menghalangi manusia untuk berpikir, belajar, dan melakukan penelitian.

Sebaliknya, keyakinan bahwa alam semesta berjalan berdasarkan ketentuan dan keteraturan yang Allah ciptakan dapat mendorong rasa ingin tahu manusia untuk mempelajarinya lebih jauh.

Dari sinilah manusia terdorong untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengungkap berbagai sunnatullah yang terdapat di alam.

Pengetahuan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk memberikan kemaslahatan bagi kehidupan manusia.

12. Menenangkan Jiwa dan Menenteramkan Hati

Salah satu hikmah yang paling terasa dari iman kepada qada dan qadar adalah hadirnya ketenangan dalam hati.

Ketika seseorang menyadari bahwa hidup berada dalam pengetahuan dan ketetapan Allah SWT, ia tidak perlu terus-menerus dikuasai oleh rasa takut terhadap masa depan.

Bukan berarti ia tidak memiliki kekhawatiran sama sekali, tetapi ia belajar untuk menghadapinya dengan keyakinan dan tawakal.

Ketenangan hati tersebut juga berkaitan erat dengan kebiasaan mengingat Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

13. Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta

Pada akhirnya, salah satu hikmah terbesar dari beriman kepada qada dan qadar adalah semakin dekatnya hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Dalam keadaan senang maupun susah, ia belajar untuk selalu mengingat Allah, berdoa, bersandar, dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Keyakinan terhadap takdir juga membantu hati agar tidak terlalu terpaut pada kehidupan dunia dan segala sesuatu yang bersifat sementara.

Dengan begitu, orientasi hidup perlahan diarahkan kepada hal yang lebih utama, yaitu mencari keridaan Allah SWT.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/termasuk-rukun-iman-ini-13-hikmah-beriman-kepada-qada-dan-qadar-dalam-islam