TRIBUNNEWS.COM – Setiap orang tentu memiliki pandangan berbeda tentang seperti apa kehidupan yang baik. Bagi sebagian orang, kehidupan ideal mungkin berarti sejahtera secara finansial sementara bagi yang lain, kehidupan yang baik berarti mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekat.
Pandangan tersebut juga dapat berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Setelah menjalani berbagai pengalaman, ukuran kehidupan yang dianggap baik bisa menjadi lebih luas. Dari sinilah muncul berbagai pertanyaan seperti:
“Apa artinya memiliki penghasilan tinggi jika tubuh selalu kelelahan?”
“Apa artinya memiliki karir yang sukses jika pekerjaan justru membuat kita terus-menerus merasa burnout?”
“Apa artinya memiliki banyak kenalan jika tidak ada orang yang benar-benar bisa diandalkan ketika menghadapi masalah?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa ada beragam aspek yang menentukan apakah seseorang memiliki kehidupan yang terasa utuh, bermakna, dan terus berkembang.
Gagasan tentang kehidupan yang terus berkembang inilah yang kemudian dikenal dengan istilah human flourishing. Dikutip dari yadema.org, menurut Global Flourishing Study (GDS), konsep human flourishing adalah kondisi ketika seluruh aspek kehidupan seseorang berada dalam keadaan paripurna. Perspektif ini melihat kehidupan manusia secara lebih menyeluruh, bukan sekadar kebahagiaan atau keberhasilan material.
6 Dimensi yang Membentuk Kehidupan yang Berkembang
Human flourishing dapat dipahami dengan melihat berbagai sisi kehidupan secara utuh. Dalam konsep ini, terdapat enam dimensi yang dapat membantu menggambarkan seperti apa kehidupan yang berkembang dan bahwa kehidupan yang baik tidak berdiri di atas satu aspek saja.
Keenam aspek itu terdiri dari happiness and life satisfaction, mental and physical health, meaning and purpose, character and virtue, close social relationships, serta financial and material stability.
1. Happiness and Life Satisfaction (Kebahagiaan dan Kepuasan Hidup)
Kebahagiaan mungkin menjadi hal pertama yang terlintas ketika membicarakan kehidupan yang baik. Namun, bahagia bukan berarti seseorang harus selalu merasa senang setiap saat.
Dimensi happiness and life satisfaction melihat seberapa puas seseorang terhadap kehidupannya secara keseluruhan dan seberapa bahagia yang biasanya ia rasakan. Dengan demikian, pengalaman seperti kecewa, lelah, atau menghadapi hari yang buruk tidak serta-merta berarti seseorang memiliki kehidupan yang tidak baik.
Contohnya, seseorang mungkin tidak memiliki pekerjaan dengan gaji tertinggi di lingkungannya. Namun, ia merasa cukup puas karena pekerjaan tersebut sesuai dengan minat, lingkungan kerjanya nyaman, dan masih memiliki waktu untuk keluarga maupun kegiatan yang disukai.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki pencapaian karier tinggi belum tentu merasa puas apabila setiap hari dipenuhi tekanan dan tidak memiliki kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Artinya, kehidupan yang berkembang bukan hanya tentang mendapatkan sebanyak mungkin hal yang menyenangkan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memandang dan menilai kehidupannya secara keseluruhan.
2. Mental and Physical Health (Kesehatan Mental dan Fisik)
Kehidupan yang berkembang juga sulit dipisahkan dari kondisi tubuh dan pikiran. Dimensi mental and physical health melihat bagaimana seseorang menilai kondisi kesehatan fisik dan kesehatan mentalnya secara keseluruhan.
Seseorang mungkin memiliki pekerjaan yang menjanjikan dan penghasilan yang cukup, akan tetapi tubuh dan mentalnya terus terasa lelah karena kesibukannya sehari-hari, sehingga kualitas kehidupannya dapat ikut terdampak.
Sebaliknya, memiliki waktu istirahat yang cukup, rutin bergerak, menjaga kondisi tubuh, serta memperhatikan kesehatan mental dapat membantu seseorang menjalani berbagai aktivitas dengan lebih baik. Sebab, pencapaian akan sulit dinikmati apabila tubuh dan pikiran tidak berada dalam kondisi yang mendukung.
Dengan kata lain, kehidupan yang berkembang bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil dicapai, tetapi juga apakah seseorang memiliki kondisi fisik dan mental yang memungkinkan dirinya menjalani kehidupan tersebut.
3. Meaning and Purpose (Makna dan Tujuan Hidup)
Apakah kamu pernah merasa sudah sangat sibuk sepanjang hari, tetapi ketika berhenti sejenak justru bertanya, “Sebenarnya saya melakukan semua ini untuk apa?”
Pertanyaan tersebut berkaitan dengan dimensi meaning and purpose. Dimensi ini melihat apakah seseorang memahami tujuan hidupnya dan merasa bahwa hal-hal yang dilakukan dalam kehidupannya memiliki nilai.
Makna hidup tidak harus selalu berupa pencapaian besar. Seseorang mungkin bekerja setiap hari dan merasa lelah dengan rutinitasnya, tetapi tetap merasa pekerjaannya bernilai karena penghasilan yang diperoleh dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Begitu pula seorang guru yang mungkin merasa lelah setelah seharian mengajar. Namun, ketika melihat muridnya memahami pelajaran atau berkembang menjadi lebih percaya diri, pekerjaan tersebut dapat terasa memiliki arti.
Makna juga dapat ditemukan melalui kegiatan seperti belajar, berkarya, membantu orang lain, membangun keluarga, atau melakukan sesuatu yang dianggap penting. Ketika seseorang memahami alasan di balik apa yang dilakukan, rutinitas sehari-hari tidak hanya terasa sebagai kewajiban, tetapi juga memiliki tujuan.
4. Character and Virtue (Karakter dan Kebajikan)
Dimensi character and virtue berkaitan dengan upaya seseorang untuk melakukan kebaikan dalam berbagai keadaan, termasuk ketika menghadapi situasi yang sulit. Dimensi ini juga melihat kemampuan untuk mengorbankan sebagian kebahagiaan saat ini, demi sesuatu yang dianggap lebih baik di masa depan.
Contohnya, seseorang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara yang tidak jujur. Ia mungkin tidak akan ketahuan saat mengambil kesempatan tersebut, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya karena menganggap kejujuran lebih penting.
Contoh lain dapat ditemukan dalam keputusan sehari-hari. Seseorang mungkin ingin menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membeli barang yang sudah lama diinginkan. Namun, ia memilih menyisihkan sebagian uang untuk tabungan atau kebutuhan masa depan.
Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan yang berkembang juga berkaitan dengan nilai-nilai yang dipegang seseorang serta kemampuannya menentukan tindakan berdasarkan hal yang dianggap baik.
Dengan kata lain, flourishing bukan hanya tentang merasa baik, tetapi juga tentang berusaha melakukan hal yang baik.
5. Close Social Relationships (Hubungan Sosial yang Dekat)
Manusia tidak menjalani kehidupannya seorang diri. Kedekatan dalam hubungan sosial menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan yang berkembang. Dimensi ini melihat apakah seseorang merasa puas dengan pertemanan dan hubungan yang dimiliki serta apakah hubungan tersebut memberikan kepuasan sesuai dengan yang diharapkan.
Seseorang mungkin memiliki ratusan teman atau pengikut di media sosial, tetapi ketika menghadapi masalah belum tentu ia memiliki orang yang benar-benar dapat dihubungi. Sebaliknya, seseorang dengan lingkaran pertemanan yang kecil bisa merasa kehidupannya lebih baik karena memiliki beberapa orang yang dekat, saling mendukung, dan dapat dipercaya.
Hubungan seperti ini juga membutuhkan perhatian. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar, meluangkan waktu untuk bertemu, mendengarkan cerita dengan sungguh-sungguh, atau sekadar makan bersama keluarga dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan.
6. Financial and Material Stability (Stabilitas Finansial dan Material)
Setelah membahas berbagai aspek kehidupan yang bersifat personal dan sosial, kondisi finansial juga tetap memiliki peran penting. Financial and material stability berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup serta merasa aman terhadap kondisi kehidupan sehari-hari.
Seseorang tidak harus memiliki rumah mewah, mobil mahal, atau tabungan dalam jumlah besar untuk merasa stabil secara finansial. Dalam pengukurannya, dimensi ini melihat apakah seseorang mampu memenuhi pengeluaran hidup bulanan serta kebutuhan dasar seperti keamanan, makanan, dan tempat tinggal.
Jika ia memiliki penghasilan yang cukup untuk membayar kebutuhan dasar tanpa terus-menerus dihantui kekhawatiran, kondisi tersebut dapat memberikan rasa aman.
Sebaliknya, penghasilan yang besar belum tentu berarti seseorang memiliki kehidupan yang stabil apabila pengeluaran terus meningkat atau kondisi keuangannya tidak memberikan rasa aman.
Hal ini menunjukkan bahwa materi memang penting dalam kehidupan yang baik, tetapi bukan satu-satunya ukuran. Kondisi finansial dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar dan memberikan rasa aman, tetapi tetap perlu berjalan berdampingan dengan aspek kehidupan lainnya.
Kehidupan yang Baik Tidak Hanya Soal Materi
Enam dimensi dari konsep flourishing memperlihatkan bahwa kualitas kehidupan manusia tidak dapat diukur hanya dari satu sisi. Konsep ini juga tidak menuntut kehidupan yang sepenuhnya bebas dari kesulitan. Yang penting adalah bagaimana berbagai aspek kehidupan tetap dapat berkembang dan memiliki nilai bagi seseorang.
Human flourishing melihat kehidupan sebagai sesuatu yang lebih luas daripada sekadar pencapaian material. Rasa puas terhadap hidup, kesehatan, makna dan tujuan, karakter, hubungan dengan orang lain, serta kestabilan finansial dan material menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membentuk kehidupan yang berkembang.
Sebagai informasi, artikel ini merupakan bagian dari rangkaian acara Global Ethics Forum (GEF) 2026 bertema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology, and Policy”.




