JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika banjir dan longsor memutus akses menuju sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya keterbatasan bahan pangan. Energi juga menjadi kebutuhan yang paling mendesak.
Bahan bakar dibutuhkan untuk kendaraan evakuasi, LPG diperlukan agar dapur umum tetap beroperasi, sementara pasokan listrik menjadi penopang berbagai layanan darurat.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan pengalaman tersebut kembali menegaskan bahwa energi merupakan salah satu fondasi utama dalam proses pemulihan pascabencana.
“Inti dari survival adalah energi,” ujar Arya dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).
Menurut dia, pengalaman menghadapi bencana hidrometeorologi itu juga menjadi alasan Pertamina memilih memperingati hari ulang tahunnya pada Desember lalu melalui operasi kemanusiaan, bukan kegiatan seremonial.
Dalam operasi tersebut, Pertamina bekerja sama dengan TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendistribusikan LPG dan memastikan pasokan energi tetap tersedia di wilayah yang akses daratnya terputus.
Ratusan pekerja Pertamina bersama operator SPBU turut membantu menjaga distribusi energi di berbagai titik terdampak. Namun bagi Pertamina, penanganan darurat hanya menjadi langkah awal.
Arya mengatakan tantangan yang lebih besar adalah bagaimana masyarakat tetap memiliki akses terhadap energi ketika harus menghadapi situasi terisolasi akibat bencana.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pertamina mengembangkan program “Desa Energi Berdikari”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat memanfaatkan sumber energi yang tersedia di lingkungan sekitar.
Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 262 desa di berbagai wilayah Indonesia.
Berbeda dengan bisnis utama perusahaan yang bergerak di sektor energi, dalam program ini masyarakat justru didorong untuk memanfaatkan energi nonfosil sesuai potensi daerah masing-masing, mulai dari biogas, tenaga surya, mikrohidro, hingga gas metana dari tempat pembuangan akhir.
“Kami tidak mengajarkan mereka menggunakan energi fosil. Yang kami lakukan adalah membantu masyarakat melihat potensi energi yang ada di sekitar mereka sehingga tetap memiliki sumber energi ketika menghadapi situasi darurat,” kata Arya.
Mitigasi risiko
Menurut dia, pendekatan tersebut bertujuan membangun ketahanan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana maupun keterisolasian.
Salah satu contoh penerapan program tersebut berada di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Wilayah yang sebelumnya belum terjangkau jaringan listrik kini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi utama.
Ketersediaan listrik tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dimanfaatkan nelayan untuk mengoperasikan mesin pendingin hasil tangkapan sehingga kualitas ikan dapat dipertahankan lebih lama. Di wilayah yang sama, masyarakat juga mulai memanfaatkan sistem peringatan dini banjir rob berbasis Internet of Things (IoT).
Selain mendukung akses energi, Pertamina menyebut sejumlah desa binaan juga memanfaatkan pasokan energi terbarukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian melalui pengelolaan lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.
Arya menambahkan bahwa pengalaman menangani berbagai bencana juga mendorong perusahaan memanfaatkan kemampuan teknis yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, termasuk penyediaan air bersih.
Dengan keahlian yang selama ini digunakan dalam kegiatan eksplorasi migas, tim teknis Pertamina melakukan pemboran air di sejumlah wilayah terdampak bencana. Menurut Arya, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara memanfaatkan kompetensi perusahaan untuk mendukung proses pemulihan masyarakat.
Baginya, ketahanan energi tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan bakar atau listrik, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk tetap bertahan ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.
Melalui pendekatan itu, keberlanjutan dipandang bukan sekadar upaya mengurangi emisi, melainkan membangun komunitas yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai risiko di masa depan.




