Membangun bisnis yang mampu bertahan hingga puluhan tahun—bahkan melewati angka 20 sampai 30 tahun—bukanlah perkara yang mudah. Di tengah dinamisnya industri media, seorang founder dituntut tidak hanya memiliki keberanian, tetapi juga visi yang sangat jelas dan terukur.
Dalam perbincangannya di kanal YouTube Pecah Telor, Eggy Adityawan, CEO dari Trisna Group, membagikan pandangan mendasar mengenai bagaimana sebuah bisnis media seharusnya dirancang agar memiliki fondasi yang kuat dan berdaya tahan panjang.
Berikut adalah tiga pelajaran utama dari Pak Eggy Adityawan bagi para pelaku bisnis media:
1. Menembus Batas Mimpi dengan Benchmark Global
Banyak pelaku bisnis pemula terjebak dalam skala pemikiran lokal atau target yang terlalu rendah di awal berdiri. Menurut Pak Eggy, jika ingin membangun bisnis media yang bertaraf panjang, founder harus berani berkaca pada para raksasa media dunia.
Strategi awal yang perlu dilakukan adalah memetakan perolehan dan ekosistem dari pemain-pemain utama di industri global, lalu menyamakan (atau bahkan melampaui) standar mimpi tersebut.
“Kita tinggal nyontoh tiga besar, lima besar bisnis media di dunia itu bisa menghasilkan berapa miliar per tahunnya… Gas mimpinya harus disamakan seperti itu atau lebih tinggi.” — Eggy Adityawan, CEO Trisna Group
Mengenai modal atau pendanaan yang terbatas di awal, Pak Eggy menekankan bahwa urusan ekosistem pendukung seperti kolaborasi hingga melantai di bursa saham (Initial Public Offering/IPO) adalah langkah operasional yang bisa dipikirkan berjalan, selama visinya sudah terkunci sejak awal.
“Lha kalau nanti kalau dananya gimana? Pecah telur, bisa IPO, bisa kolaborasi… Tapi visi ini harus segera ditangkap, ditulis, setelah itu harus segera dikejar.”
2. Visi Tidak Cukup Kata-Kata, Harus Dinominalkan
Salah satu kekeliruan umum dalam merumuskan visi perusahaan adalah penggunaan kata-kata naratif yang terlalu abstrak tanpa angka yang jelas. Menurut Pak Eggy, selain narasi kebermanfaatan, visi sebuah bisnis media harus berbentuk angka konkret (quantifiable).
Target angka nominal ini akan menjadi kompas operasional yang memberi arah pasti ke mana perusahaan bergerak.
“Kalau saya cenderung visi itu selain kata-kata, yang bisa dinominalkan Pak… 100 miliar per tahunnya.” — Eggy Adityawan, CEO Trisna Group
Mematok nominal target seperti Rp100 miliar per tahun memaksa pemilik bisnis untuk berpikir secara rasional tentang potensi pasar (market size) dan bentuk produk/layanan media yang memang mampu menghasilkan perputaran uang sebesar itu.
3. Keyakinan Founder dan Proses Breakdown Strategi
Target puluhan hingga ratusan miliar tidak akan pernah tercapai jika founder-nya sendiri ragu. Pak Eggy menegaskan bahwa keyakinan mutlak dari sang pemimpin adalah fondasi utama sebelum strategi diturunkan ke langkah kerja nyata.
“Nah si founder ini harus, misalkan pecah telur, harus sangat-sangat yakin bahwa pecah telur ini bisa menghasilkan 100 miliar per tahunnya bersih. Harus yakin dulu.” — Eggy Adityawan, CEO Trisna Group
Setelah keyakinan itu terbentuk, langkah berikutnya adalah melakukan breakdown atau pembongkaran strategi. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan melihat kenyataan di industri bahwa ekosistem dan model bisnis media bernilai ratusan miliar itu memang nyata dan ada di pasar.
“Dari yakin, keyakinan itu nanti di-breakdown… Ada nggak bisnis media yang 100 miliar? Ada, saya yakin.”
Referensi : https://www.instagram.com/p/DaTgiCrArEF/




