Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Indonesia resmi memperkenalkan skema pembiayaan baru yang menyasar pelaku usaha mikro perempuan guna memperluas akses permodalan yang lebih terjangkau, sebagai upaya strategis untuk mengakselerasi inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata hingga ke level akar rumput.

Hingga 28 Juni 2026, total realisasi penyaluran Kredit Program nasional telah mencapai Rp167,97 triliun, atau merepresentasikan 49,20 persen dari target tahunan sebesar Rp341,39 triliun.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi motor utama dengan kontribusi Rp147,70 triliun yang tersalurkan kepada 2,32 juta debitur, dengan tingkat rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga di angka 2,39 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menyempurnakan ekosistem pembiayaan agar lebih inklusif dan tepat sasaran.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa pemerintah berupaya memastikan pelaku usaha memiliki daya saing yang lebih baik melalui akses modal yang terjangkau.

“Pemerintah tidak hanya memastikan akses pembiayaan bagi UMKM tetap tersedia, tetapi juga terus menyempurnakan berbagai skema Kredit Program agar semakin tepat sasaran, lebih inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha di berbagai sektor.

Melalui penguatan Kredit Program, kita ingin mendorong semakin banyak masyarakat yang naik kelas dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usahanya,” ujar Haryo dalam keterangan resminya.

Efisiensi Biaya bagi Pelaku Usaha Perempuan

Salah satu terobosan kunci dalam skema baru ini adalah transformasi pembiayaan bagi perempuan pelaku usaha mikro yang sebelumnya berada dalam ekosistem PNM Mekaar. Pemerintah memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga secara signifikan, dari kisaran 18–25 persen per tahun menjadi hanya 8 persen (flat) per tahun.

“Selama ini pembiayaan PNM Mekaar berada pada kisaran 18–25 persen. Melalui Kredit Program bagi perempuan pelaku usaha mikro, pemerintah menurunkan suku bunganya menjadi 8 persen (flat) per tahun sehingga ibu-ibu yang mau berusaha, yang sedang berusaha, dan yang pernah serta akan kembali berusaha dapat memperoleh pembiayaan yang jauh lebih terjangkau,” tambah Haryo.

Skema ini menawarkan plafon pembiayaan hingga Rp15 juta per debitur dengan masa pengembalian atau tenor antara 6 hingga 24 bulan. Kebijakan ini diharapkan mampu meringankan beban biaya modal bagi pelaku usaha mikro perempuan secara berkelanjutan.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, pemerintah telah menyiapkan dukungan fiskal berupa subsidi bunga atau subsidi marjin senilai Rp2,62 triliun sepanjang tahun 2026. Regulasi pendukung saat ini tengah dirampungkan guna memastikan implementasi di lapangan berjalan optimal, melengkapi ekosistem Kredit Program yang telah ada sebelumnya, yakni KUR, Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya, dan Kredit Program Perumahan.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tvb7a2u-pemerintah-luncurkan-skema-pembiayaan-baru-umkm

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kediri – Di era digital saat ini, informasi berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Hanya dengan sekali klik, seorang pengusaha bisa mendapatkan ribuan strategi bisnis, tips pemasaran, hingga puluhan jadwal workshop. Namun, apakah melimpahnya informasi ini selalu berdampak baik? Nyatanya, tidak sedikit pelaku usaha yang justru merasa bingung, stres, bahkan kehilangan arah karena terjebak dalam information overload.

Dalam sebuah kesempatan, bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group, membagikan pandangannya yang sangat tajam mengenai fenomena ini. Beliau menceritakan sebuah realitas di lapangan yang sering dialami oleh para pengusaha hari ini.

Ketika “Banjir Ilmu” Justru Membawa Kebuntuan

bapak Eggy Adityawan menceritakan pengalaman salah satu rekannya yang enggan lagi mengikuti pelatihan bisnis.

“Ada teman saya coba kasih insight untuk ikut workshop, jawabnya: ‘Saya enggak mau ikut workshop-workshop lagi, karena antara satu workshop dengan workshop lain tuh keilmuannya berbeda’.”
Eggy Adityawan

Fenomena ini sangat sering terjadi. Ketika seorang pengusaha menelan semua informasi dan teori dari berbagai mentor tanpa filter, mereka akan menemukan kontradiksi. Mentor A menyarankan strategi X, sementara Mentor B menyarankan strategi Y. Akibatnya? Bukannya mengeksekusi bisnis, pengusaha justru mengalami analysis paralysis—lumpuh karena terlalu banyak berpikir dan bingung harus mulai dari mana.

Solusi Bukan Berhenti Belajar, tapi Mengasah Filter

Melihat kebingungan tersebut, bapak Eggy Adityawan menegaskan bahwa solusinya bukan dengan menutup diri dari ilmu baru. Menolak informasi dengan menganggap semua pelatihan itu sama saja atau menggeneralisasi bahwa semua informasi luar itu tidak berguna adalah sebuah kekeliruan besar.

Menurut beliau, seorang pengusaha sejati harus tetap mempertahankan mentalitas seorang murid. Namun, ada satu skill krusial yang wajib dimiliki di zaman sekarang: Kecerdasan Emosional (EQ) dalam memilah informasi.

Skill Abad 21: Pilih, Cacah, dan Sesuaikan dengan Goal

Kecerdasan emosional dalam konteks ini bukan sekadar mengatur emosi saat marah, melainkan kemampuan untuk tetap tenang, objektif, dan tidak impulsif di tengah gempuran informasi.

Berikut adalah langkah cerdas dalam mengelola informasi menurut pemimpin Trisna Group ini:

  • Tidak Menelan Mentah-mentah: Jangan langsung mempraktikkan setiap tren atau tips bisnis yang Anda dengar tanpa menganalisis situasinya terlebih dahulu.
  • Tidak Apatis: Jangan malas mencari tahu hanya karena merasa informasi terlalu banyak atau menganggap semua informasi itu bohong.
  • Mencacah dan Memilah: Ambil informasi, bedah isinya, dan saring bagian mana yang benar-benar relevan.
  • Fokus pada Goal: Ambil ilmu yang hanya sesuai dengan target atau tujuan besar (goal) bisnis Anda saat ini. Jika suatu informasi tidak mendukung goal Anda, singkirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi beban pikiran.

Kesimpulan: Menjadi Pembelajar yang Cerdas

Ilmu dan informasi adalah bahan bakar bagi pertumbuhan bisnis, tetapi kecerdasan emosional adalah kemudinya. Tanpa kemudi yang kuat, banyaknya informasi hanya akan membuat bisnis Anda berputar-putar di tempat tanpa arah yang jelas.

Pesan dari bapak Eggy Adityawan mengingatkan kita semua: Jadilah pembelajar yang baik, miliki kecerdasan emosional yang matang untuk menyaring informasi, dan pastikan setiap ilmu yang Anda ambil bekerja untuk mewujudkan goal bisnis Anda, bukan justru menghambatnya.

sumber : https://www.instagram.com/eggy_adityawan/reels/

Bijak AI Menurut Bapak Eggy Adityawan: Mengapa Penyalahgunaan Teknologi Bisa Menjadi “Investasi” Dosa Terbesar Kita?

Bijak AI Menurut Bapak Eggy Adityawan: Mengapa Penyalahgunaan Teknologi Bisa Menjadi “Investasi” Dosa Terbesar Kita?

Kediri – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Di satu sisi, AI mempermudah hidup kita. Namun di sisi lain, teknologi ini menyimpan sisi gelap yang mengerikan jika jatuh ke tangan yang salah.

Dalam sebuah diskusi daring, sebuah pandangan menarik dan mendalam datang dari bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group, ketika ditanya mengenai fenomena penyalahgunaan AI. Jawabannya singkat, namun sangat menohok: “Takutlah kepada Allah.”

Mengapa urusan teknologi modern ini harus ditarik ke ranah spiritual dan etika yang mendalam? Jawabannya terletak pada dampak nyata yang dihasilkan dari penyalahgunaan tersebut.

Sisi Gelap AI: Dari Manipulasi hingga Fitnah Digital

Saat ini, kita sering melihat teknologi AI digunakan untuk memanipulasi konten digital (deepfake). bapak Eggy Adityawan menyoroti salah satu contoh yang paling sering terjadi: menggabungkan wajah seseorang dengan badan orang lain, atau merekayasa suara dan kalimat yang sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh korban.

Dalam konteks sosial dan bisnis, tindakan ini bukan sekadar “keisengan” atau kreativitas tanpa batas. Dampaknya sangat sistematis:

  • Fitnah Modern: Menyebarkan informasi palsu yang terlihat sangat nyata sehingga merusak reputasi seseorang.
  • Adu Domba: Membenturkan satu pihak dengan pihak lain melalui video atau rekaman suara rekayasa, yang memicu konflik sosial dan perpecahan.

Jebakan Akhirat: Bahaya Menumpuk Dosa Antar-Manusia

Hal paling krusial dari pandangan pemimpin Trisna Group ini adalah pengingat mengenai konsep pertanggungjawaban di akhirat. Dalam prinsip spiritual, dosa atau kesalahan dibagi menjadi dua ranah:

1. Urusan dengan Allah (Habluminallah): Ketika kita melanggar larangan-Nya, pintu tobat selalu terbuka lebar. Selama kita tulus memohon ampun, Allah Maha Pengampun.

2. Urusan dengan Manusia (Habluminannas): Ini adalah bagian yang paling rumit. Jika kita menyakiti, memfitnah, atau merugikan manusia lain, Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut sebelum korban memaafkan kita secara langsung.

“Kalau urusan dengan Allah kita minta maaf Insya Allah diampuni, tapi kalau urusan manusia kita harus minta maaf secara langsung. Kalau enggak, gara-gara kita ada musuh satu orang, kita bisa habis di akhirat.”
Eggy Adityawan, CEO Trisna Group

Bayangkan skenario ini di era digital: sebuah video fitnah berbasis AI yang Anda buat atau Anda ikut sebarkan menjadi viral dan ditonton oleh jutaan orang. Berapa banyak manusia yang harus Anda temui satu per satu untuk dimintai maaf agar urusan akhirat Anda selesai?

Kesimpulan: Menjadikan AI sebagai Ladang Pahala, Bukan Dosa

Teknologi AI hanyalah sebuah alat. Menjadi bermanfaat atau membawa petaka, itu sepenuhnya tergantung pada siapa yang mengendalikannya.

Pesan dari bapak Eggy Adityawan adalah sebuah alarm pengingat yang sangat kuat bagi kita semua sebagai pengguna internet. Sebelum membuat, mengedit, atau menyebarkan sesuatu menggunakan AI, tanyakan pada diri sendiri: Apakah konten ini akan membawa berkah, atau justru menjadi investasi dosa jariyah yang akan menghabisi kita di akhirat kelak?

Mari lebih bijak dan takutlah kepada Allah dalam memanfaatkan teknologi digital.

sumber : https://www.instagram.com/eggy_adityawan/reels/

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Arrahmah.id – Dalam menjelaskan tauhid, sering orang memakai kalimat tauhid ( لا إله إلا الله ) tak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah sebagai tolok ukur penjelasan. Kata disembah sama dengan diberi ibadah atau ubudiyah. Dan salah satu jenis ubudiyah adalah cinta.

Lalu lahirlah frasa “tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah” sebagai padanan frasa “tiada Tuhan kecuali Allah”. Frasa ini mudah dipahami oleh pendengar, tapi tidak akurat. Sebab jika penjelasan tauhid adalah tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah, maka kita menjadi salah jika mencintai ibu, bapak, anak dan sebagainya. Padahal cinta kepada orang tua selain sebagai naluri manusia, ia juga bagian dari birrul walidain. Tentu ada yang salah di sini.

Pada sisi lain, wala’ dikampanyekan oleh kaum Liberal atau Pluralis agar tidak bersifat tunggal, tapi fleksibel. Jika ada Nasrani yang sedang Natal, dianjurkan mengucapkan selamat Natal. Jika salam, tak cukup dengan salam versi Islam, harus pula salam versi agama lain. Tindakan ini adalah refleksi wala’ yang ada di hati.

Begitu banyak simpang siur pemahaman soal cinta dan wala’. Karena itu, perlu ada penjelasan yang memadai terhadap kosa kata cinta dan wala’. Bagaimana menempatkan cinta dan wala’ dalam Islam. Apakah cinta sama dengan kesetiaan atau wala’ atau loyalitas? Jika beda, apa perbedaannya?

Cinta Itu Bisa Dibagi

Cinta adalah rasa suka yang ada di hati seseorang terhadap sesuatu. Kata yang paling sering dipakai adalah hubb ( حب ). Manusia punya potensi untuk mencintai banyak hal sekaligus. Misalnya, cinta terhadap rumah, mobil, uang dan sebagainya. Dalam mencintai sesama manusia juga bisa terjadi pada banyak orang. Seorang ayah bisa mencintai seluruh anaknya yang berjumlah 10 orang misalnya.

Demikian pula orang beriman. ia diminta mencintai banyak hal. Cinta terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, As-Sunnah, Islam, Masjid, Sahabat Nabi saw dan sebagainya. Masing-masing dicintai meski dengan kadar cinta yang berbeda.

Rasulullah saw menggambarkan cintanya kepada beberapa orang:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلاَسِلِ، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: (عَائِشَةُ) ، فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ ، فَقَالَ: (أَبُوهَا)، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّاب )، فَعَدَّ رِجَالًا”. رواه البخاري في “صحيحه” (رقم/3662) ، ومسلم في “صحيحه” (رقم/2384) .

Amru bin Ash ra menuturkan bahwa Nabi saw mengutusnya dalam ekpedisi Dzat Salasil: Aku menemui Nabi saw, lalu aku tanya: Siapa orang yang paling Anda cintai ? Nabi saw: Aisyah. Aku: Siapa dari laki-laki? Nabi saw: Ayahnya. Aku: Lalu siapa? Nabi saw: Umar bin Khattab. Nabi saw meneruskan dengan menyebut nama-nama lain. (HR. Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)

Dalam hadits yang lain Nabi saw mengungkapkan cintanya kepada banyak hal:

قالَ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم (حُبّبَ إِلَيَّ مِنْ دنياكُمُ النّساءُ والطيبُ وجُعِلَتْ قرةُ عينِي في الصّلاةِ)

Rasulullah saw bersabda: Dijadikan hatiku mencintai beberapa hal dari duniamu: wanita dan parfum, dan dijadikan hatiku nyaman dengan shalat. (HR. Hakim)

Dua hadits ini cukup menjadi bukti bahwa di hati Nabi saw ada banyak cinta. Semuanya diungkapkan dengan kata hubb ( حب ). Sudah pasti Nabi saw cinta kepada Allah, Al-Qur’an, orang tua, kerabat, dan seterusnya. Selain itu, sebagaimana dalam dua hadits di atas, ditambah cinta terhadap Aisyah dan tentu saja istri-istrinya yang lain, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan parfum.

Jika di hati Nabi saw sebagai panutan terdapat cinta yang bercabang terhadap banyak hal, tentu umatnya juga dibolehkan untuk memiliki cinta terhadap banyak hal. Selain bercabang, cinta juga memiliki prosentase masing-masing. Ketika Nabi saw ditanya, siapa orang yang paling dicintai, beliau menjawab: Aisyah. Berarti cinta Nabi saw terhadap Aisyah lebih besar dibanding cintanya terhadap orang lain, misalnya istri yang lain. Lalu cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar As-Shiddiq juga lebih besar dibanding cintanya terhadap Umar bin Khattab dan orang-orang lain.

Karena itu, cinta bisa diperbandingkan. Besar mana cinta Nabi saw terhadap Aisyah ra atau terhadap Ummu Salamah ra yang sama-sama istrinya? Jelas jawabannya: Aisyah ra. Demikian pula, besar mana cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar ra atau Umar bin Khattab yang sama-sama sahabatnya? Jelas jawabannya: Abu Bakar.

Perbandingan cinta tak terbatas, bisa antara siapa saja dan apa saja. Tapi ujung dari semua itu, Allah harus ditempatkan sebagai yang paling dicintai, tak boleh dikalahkan oleh cinta terhadap siapapun dan apapun. Inilah makna firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ١٦٥ ( البقرة/2: 165)

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman cinta mereka paling hebat (tak ada tandingannya) kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqarah/2:165)

Ayat ini menerangkan bahwa cinta orang beriman paling besar kepada Allah dengan tanpa tandingan. Sementara cinta kaum musyrik terbagi, cinta kepada berhala-berhala pujaan mereka sama besarnya dengan cinta kepada Allah.

Jika kita kombinasikan antara ayat ini dan hadits Nabi saw di atas, diperoleh kesimpulan bahwa seorang mukmin tidak dilarang untuk mencintai selain Allah, seperti cinta terhadap wanita atau parfum. Atau cinta terhadap rumah, mobil, pekarangan, perhiasan dan sebagainya.

Cinta yang dilarang adalah memperbandingkan cinta kepada Allah dengan selain-Nya. Atau meletakkan cinta kepada selain Allah sama besarnya dengan cinta kepada Allah. Apalagi meletakkan cinta kepada selain Allah lebih besar dibanding cinta kepada Allah. Inilah makna dari ayat di bawah ini:

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٢٤ ( التوبة/9: 24)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At-Taubah/9:24)

Jadi kita tidak dilarang mencintai selain Allah sepanjang tidak melanggar ketentuan cinta yang diatur dalam Islam. Satu hati bisa diisi dengan banyak cinta, dengan prosentase masing-masing sesuai arahan Islam. Cinta kepada satu hal tidak harus membatalkan cinta kepada yang lain. Cinta kepada Allah tak harus membatalkan cinta kepada parfum, wanita, mobil, rumah dan sebagainya, selagi tertata dengan benar.

Wala’ Itu Tunggal

Wala’ adalah kesetiaan atau loyalitas. Kesetiaan bisa berupa rasa dalam hati, bisa tindakan di luar hati, bisa juga kombinasi keduanya. Ini jika kita mengukur kesetiaan dengan kaca mata manusia. Tapi jika kesetiaan diukur menurut pandangan Allah, maka kesetiaan dalam hati wajib ada, lalu dibuktikan dengan kesetiaan lahir (luar hati).

Seorang prajurit pasti setia terhadap komandannya. Apapun perintahnya dia laksanakan. Jika kita mengukur kesetiaan sang prajurit, kita hanya bisa melihat aspek lahirnya, sebab kita tak bisa membaca hatinya. Seandainya hatinya benci terhadap sang komandan, sepanjang si prajurit tetap setia dan taat secara lahir, sudah cukup hal itu menjadi bukti kesetiaan. Berarti, manusia dalam mengukur kesetiaan (wala) manusia lain, hanya mengandalkan indikator lahir, tanpa batin.

Namun kesetiaan manusia jika diukur oleh Allah, karena Allah Maha Tahu isi hati manusia, maka Allah memasukkan dua aspek sekaligus, yaitu kesetiaan batin, dan kesetiaan lahir. Kesetiaan batin wujudnya adalah cinta dan kecondongan hati. Sementara kesetiaan lahir adalah tindakan non hati yang mencerminkan kesetiaan hati tersebut.

Berbeda dengan cinta, kesetiaan itu bersifat tunggal. Sebab orang hanya bisa setia pada satu pihak. Orang tidak mungkin melaksanakan perintah yang berbeda dari dua pihak pada waktu bersamaan. Ia harus memilih, melaksanakan perintah si A atau si B. Sementara cinta, ia bisa membaginya di saat bersamaan. Sebab cinta hanya rasa dalam hati, tak harus ada konsekwensi tindakan non hati.

Seseorang dimungkinkan punya cinta dalam hati kepada dua atau tiga klub sekaligus. Misalnya Barcelona, MU dan Juventus. Tapi saat dua klub yang sama-sama ia cintai itu bertanding – misalnya Barcelona vs MU bertemu di final piala Champion – tentu ia dipaksa oleh keadaan untuk memilih. Hatinya pasti muncul kecondongan klub mana yang lebih dia inginkan untuk menang. Cinta bisa diberikan terhadap lebih dari satu obyek, tapi kecondongan atau keperpihakan hati pasti hanya kepada satu obyek. Inilah perumpamaan antara cinta dengan wala’.

Inilah alasan mengapa wala’ dalam Al-Qur’an tak pernah diperbandingkan. Wala’ ditampilkan dalam diksi pembatasan. Simak ayat berikut:

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ ٥٥ ( الماۤئدة/5: 55)

Wala’mu (kesetiaanmu) itu hanyalah untuk Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah). (Al-Ma’idah/5:55)

Ayat ini dimulai dengan diksi ( إنما ) yang memiliki arti hanya atau cuma atau saja. Ikatan kesetiaan dibatasi hanya untuk Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sementara orang beriman yang boleh diberi wala’ hanyalah yang berkarakter menegakkan shalat, menunaikan zakat dan selalu ruku atau tunduk kepada Allah.

Pembatasan pada tiga pihak ini tidak bersifat kontradiktif, sebab semuanya pada hakekatnya setia kepada obyek yang satu yaitu Allah. Ketesiaan kepada Rasul-Nya dan orang beriman hanya turunan dari kesetiaan kepada Allah, sebab Rasul-Nya dan orang beriman sama-sama memberikan kesetiaan kepada Allah.

Mari kita lihat pembandingnya di ayat yang lain.

بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ ١٣٨ ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ ١٣٩ ( النساۤء/4: 138-139)

  1. Berilah kabar ‘gembira’ kepada orang-orang munafik bahwa sesungguhnya bagi mereka azab yang sangat pedih. 139. (Yaitu) orang-orang yang memberikan wala’ kepada orang-orang kafir dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah. (An-Nisa’/4:138-139)

Ayat ini menerangkan, orang munafiq dimurkai Allah karena memberikan wala’ kepada orang kafir dengan mengabaikan orang beriman. Inilah karakter wala’ yang bersifat tunggal tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Wala’ munafiq terhadap orang kafir bersifat meniadakan wala’nya terhadap orang beriman.

Karakter khas orang munafiq adalah menjaga hubungan kepada kedua pihak; mukmin dan kafir. Ia ingin dicitrakan berada di tengah. Moderat. Pluralis. Bhinekais. Liberalis. Humanis. Orang yang luwes dalam pergaulan dan kesetiaan. Kadang ke mukmin kadang ke kafir, tergantung kalkulasi keuntungan yang akan kembali pada dirinya.

Namun ayat ini membantah pencitraan yang dilakukan si munafiq itu. Jika ia memberikan wala’ kepada kafir, itu artinya membatalkan wala’ terhadap mukmin. Sebab tidak ada wala’ ganda. Inilah makna ayat di bawah ini:

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ ۚوَمَا جَعَلَ اَزْوَاجَكُمُ الّٰـِٕۤيْ تُظٰهِرُوْنَ مِنْهُنَّ اُمَّهٰتِكُمْ ۚوَمَا جَعَلَ اَدْعِيَاۤءَكُمْ اَبْنَاۤءَكُمْۗ ذٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِاَفْوَاهِكُمْ ۗوَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ ٤ ( الاحزاب/33: 4)

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga (dada)nya, Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia pun tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan sesuatu yang hak dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (Al-Ahzab/33:4)

Ayat ini berbicara tentang hubungan wala’ dalam keluarga. Bahwa anak angkat tetap harus diposisikan sebagai anak angkat, tak bisa dirubah menjadi anak kandung. Meski wala’ dalam keluarga, tapi Al-Qur’an memberikan kesamaan pandangan bahwa wala’ pada dasarnya bersifat tunggal baik dalam masalah ideologi maupun keluarga. Wala’ tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Satu rongga dada hanya bisa diisi satu ikatan wala’, mustahil untuk diisi dengan dua ikatan wala’ sekaligus.

Karena itu, siapapun yang memenunjukkan wala’ terhadap kaum kafir, baik wala’ batin maupun wala’ lahir atau kombinasi keduanya, maka wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal. Pembatalan wala’ ini diberikan contohnya oleh ayat di bawah ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٥١ ( الماۤئدة/5: 51)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memberikan wala’ kepada orang Yahudi dan Nasrani, sebab sebagian mereka terikat wala’ dengan sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang memberikan wala’ kepada mereka, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ma’idah/5:51)

Ayat ini menjelaskan, jika mukmin memberikan wala’ kepada orang Yahudi atau Nasrani, maka Allah akan golongkan ia bersama Yahudi atau Nasrani. Mengapa demikian? Sebab wal’a bersifat tunggal, tak bisa dibagi. Ketika orang beriman memberikan wala’ kepada kafir, saat itu juga wala’nya kepada mukmin dinyatakan batal. Dan wala’ terhadap mukmin satu paket dengan wala’ kepada Allah dan Rasul-Nya, karenanya jika dinyatakan batal, maka batal terhadap semuanya.

Lalu statusnya apa jika seorang mukmin wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal? Ayat berikutnya memberi penjelasan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٥٤ ( الماۤئدة/5: 54)

Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum(pengganti) yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Ma’idah/5:54)

Ayat ini menjelaskan, jika ada mukmin yang murtad maka Allah akan datangkan orang lain yang akan menggantikan posisinya. Tentu saja dengan karekter yang bertolak belakang. Tidak mungkin Allah datangkan pengganti dengan karakter yang sama. Sebab didatangkannya sosok pengganti adalah dalam rangka mengoreksi kesalahan orang sebelumnya. Jika karekaternya sama, percuma diganti.

Sebagai contoh, seorang suami menceraikan istrinya karena sebuah pelanggaran. Tentu ketika mencari istri lagi sebagai pengganti, pasti mencari yang mengoreksi sebelumnya. Jika sebelumnya boros, pasti mencari istri baru yang pandai mengatur keuangan. Jika sebelumnya selingkuh, pasti mencari istriu baru yang setia. Begitulah sunnatullah kehidupan.

Ayat tersebut tidak menyebutkan apa kesalahan si mukmin sehingga dianggap murtad oleh Allah. Tapi hal itu bisa disimpulkan dari sosok pengganti yang Allah datangkan. Mari kita analisa ciri-ciri sosok pengganti:

Pertama, Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. Bukankah timbal balik cinta merupakan akar wala’?

Kedua, bersikap lemah lembut atau penyayang kepada mukmin dan tegas kepada kafir. Bukankah ini refleksi lahir dari wala’ yang ada di hatinya?

Ketiga, berjihad di jalan Allah yang maksudnya adalah berperang di jalan Allah. Bukanlah jihad penuh resiko, baik harta dan nyawa. Ketika seseorang sukarela berangkat jihad, bukanlah itu bermakna puncak pengorbanan kepada Allah? Dan itu artinya cerminan wala’ yang ada di hatinya?

Keempat, tidak takut celaan orang yang mencela demi sang Kekasih yaitu Allah SWT. Bukankah ini mental yang lahir dari wala’ yang ada dalam hati?

Jadi ayat tersebut secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa siapapun mukmin yang mencintai kafir dan orang kafir mencintai mereka (kebalikan dari dicintai dan mencintai Allah), hatinya lebih condong kepada kafir dan galak kepada mukmin, enggan berkorban jiwa raga demi membela Allah, dan serba takut mendapat cibiran di jalan Allah, maka dianggap murtad oleh Allah. Sebab sikap-sikap tersebut menunjukkan bahwa wala’nya bukan untuk Allah tapi untuk musuh Allah.

Mukmin yang punya karakter pengkhianat tersebut disingkirkan oleh Allah, tidak lagi diakui sebagai loyalis Allah. Dalam dunia partai, dipecat oleh partai karena terbukti main mata dengan partai lain. Meski yang bersangkutan masih pakai atribut partai, tapi partai sudah berlepas diri darinya.

Jadi betapa seriusnya wala’ ganda. Siapapun yang punya wala’ ganda; satu kaki bersama mukmin dan kaki yang lain bersama kafir, maka Allah akan batalkan wala’nya kepada mukmin dan yang diakui hanya wala’ kepada kafir. Sebab Allah itu idealis, tak mau diduakan atau dikhianati. Allah tidak bisa menerima orang yang bermain-main dalam masalah loyalitas.

Konsistensi Al-Qur’an dalam memandang wala’ sebagai kesetiaan tunggal bisa dilihat di bawah ini:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ ٢٥٧ ( البقرة/2: 257)

Allah adalah wali (ikatan wala’) orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang kafir, wali-wali (ikatan wala’) mereka adalah taghut. Mereka (taghut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah/2:257)

Ayat ini menjelaskan bahwa garis loyalitas mukmin adalah Allah. Sementara garis loyalitas kafir adalah Thaghut dengan beragam versinya, seperti berhala, dewa dan sebagainya. Garis loyalitas itu tunggal, tak bisa ganda apalagi lebih.

Suporter Persija saja punya semboyan loyalitas tanpa batas terhadap klubnya. Loyalitas tunggal. Jika terhadap Persija orang bisa memahami, tentu ketika Allah meminta loyalitas tunggal lebih harus bisa dipahami. Sebab Allah adalah Rabbul Alamin, Pencipta jagat raya. Sudah sepantasnya Allah meminta itu. Dan sudah wajar jika Allah menganggap murtad siapapun yang punya loyalitas ganda.

Tauhid Cinta dan Tauhid Wala’

Mentauhidkan Allah dalam bab cinta adalah mencintai Allah dengan tanpa memperbandingkan cinta itu dengan selain Allah. Tapi bukan berarti tidak boleh mencintai yang lain. Kita masih boleh mencintai selain Allah dalam porsi yang secukupnya, seperti cinta terhadap wanita dan parfum. Sementara memberikan porsi cinta kepada musuh atau tandingan Allah sama sekali dilarang, seperti berhala dan semacamnya.

Adapun tauhid dalam bab wala’ adalah memberikan kesetiaan dan loyalitas tunggal hanya kepada Allah dan turunannya yaitu Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kita dilarang memberikan wala’ kepada selain Allah apalagi musuh Allah, sebab hal itu bermakna membatalkan wala’ kepada Allah. Pada akhirnya yang bersangkutan akan diberi status murtad oleh Allah.

Mentauhidkan Allah bukan hanya menganggap Allah tunggal, one and anly secara jumlah. Tapi juga menjadikan Allah sebagai one and only dalam masalah loyalitas. Mari kita jaga wala’ kita. Jangan sampai kita menyekutukan Allah dalam hal wala’ jika tak ingin ‘dipecat’ oleh Allah.

والله أعلم بالصواب

Sumber : https://www.arrahmah.id/perbedaan-cinta-dan-wala-dalam-islam

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Dalam kehidupan ini, banyak orang tua berlomba-lomba memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Sekolah terbaik, les tambahan, hingga berbagai kursus demi masa depan yang cerah. Namun, Syekh Abdur Rasyid Shufi** mengingatkan bahwa ada satu investasi yang jauh lebih berharga dan berdampak kekal: mendidik anak dengan Al-Qur’an.

Dalam sebuah kajian Ramadan, beliau menegaskan bahwa mengajarkan anak Al-Qur’an sejak dini bukan sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membangun pondasi kehidupan yang kokoh, baik di dunia maupun di akhirat.

Mengapa Al-Qur’an adalah Investasi Terbesar?

Menurut Syekh Shufi, banyak orang tua fokus pada pendidikan duniawi tanpa menyadari bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang membawa keberkahan dalam segala aspek kehidupan. Anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an tidak hanya lebih berakhlak, tetapi juga cenderung lebih cerdas dan sukses dalam bidang lain.

“Anak yang menghafal Al-Qur’an biasanya lebih unggul dalam pelajaran lainnya, karena mereka terbiasa dengan konsentrasi, disiplin, dan daya ingat yang kuat,” ujar beliau.

Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah satu-satunya investasi yang terus mengalirkan pahala hingga setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Seorang anak yang dibekali dengan Al-Qur’an akan terus mengirimkan pahala bagi orang tuanya, bahkan setelah mereka tiada.

Pola Asuh yang Salah, Penyebab Anak Menjauhi Al-Qur’an

Sayangnya, banyak anak yang justru menjauhi Al-Qur’an karena pola asuh yang kurang tepat. Syekh Shufi menyoroti kesalahan dalam mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang keras dan penuh paksaan.

“Jangan pernah memaksa anak belajar Al-Qur’an dengan cara yang kasar, karena itu hanya akan membuat mereka semakin menjauh,” tegasnya.

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, dan begitu pula dalam mengajarkan Al-Qur’an. Daripada memaksa dan menghukum, orang tua seharusnya membuat anak mencintai Al-Qur’an dengan metode yang menyenangkan, seperti melalui kisah-kisah inspiratif, permainan, atau mengikuti kompetisi hafalan.

Al-Qur’an: Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Syekh Shufi juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ketenangan hati dan kekuatan dalam menghadapi ujian hidup. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak di Gaza tetap tegar menghadapi peperangan karena mereka dekat dengan Al-Qur’an.

“Lihatlah anak-anak Gaza, mereka begitu kuat meskipun hidup dalam penderitaan. Rahasianya? Al-Qur’an ada di hati mereka,” ungkapnya.

Kita semua pasti menghadapi ujian dalam hidup, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, kesehatan, atau masalah keluarga. Namun, orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan selalu memiliki ketenangan dan jalan keluar dari setiap masalah.

Kesimpulan: Jangan Sampai Menyesal!

Di akhir ceramahnya, Syekh Shufi mengingatkan agar jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena tidak mengajarkan anak-anak kita Al-Qur’an sejak dini.

“Jadikanlah Al-Qur’an sebagai bagian dari hidup kita dan anak-anak kita. Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membacanya, merenungkannya, dan mengamalkannya.”

Maka, jika ingin anak-anak sukses di dunia dan akhirat, mulailah dari sekarang. Tanamkan cinta Al-Qur’an dalam hati mereka, dan lihat bagaimana hidup mereka dipenuhi keberkahan.

** Syekh Abdur Rasyid Shufi adalah seorang qāriʾ asal Somalia yang ahli dalam sepuluh qirā’āt Al-Qur’an. Lahir di Mogadishu pada 1962, beliau menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar dan pernah menjadi mufti di Somalia. Sejak 1991, ia menetap di Qatar dan aktif mengajarkan Al-Qur’an, mendirikan pusat pembelajaran, serta membimbing banyak murid. Bacaan Al-Qur’annya yang merdu dikenal luas di dunia Islam.

Sumber : https://www.arrahmah.id/syekh-abdur-rasyid-shufi-al-quran-investasi-terbesar-untuk-anak-yang-mengantarkan-ke-surga

Warga Makassar, Surabaya, & Jakarta Merapat! Parfum UMAIR & Zalilla Hadirkan Rangkaian Aroma Eksklusif

Warga Makassar, Surabaya, & Jakarta Merapat! Parfum UMAIR & Zalilla Hadirkan Rangkaian Aroma Eksklusif

Kediri – Brand wewangian eksklusif, UMAIR dan Zalilla, bersiap menyapa langsung para pencinta fragrance di tanah air melalui rangkaian roadshow di tiga kota besar di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, dalam eksibisi kali ini mereka akan memboyong hingga 17 varian parfum andalan—semua koleksi Extrait de Parfum seperti Umair Naim, Umair Badrison dan Umair Firdaus—untuk memberikan pilihan aroma yang kaya dan eksklusif bagi para pengunjung.

Rangkaian perjalanan pameran ini akan diawali di wilayah Indonesia Timur. Parfum UMAIR dan Zalilla bakal memeriahkan ajang Makassar Beaute Festival yang digelar di Trans Studio Makassar mulai tanggal 1 hingga 5 Juli. Pengunjung festival kecantikan ini dapat mencoba langsung beragam karakter wewangian yang dihadirkan di stan mereka.

Tak berselang lama, rangkaian roadshow berlanjut ke Jawa Timur. Koleksi lengkap dari UMAIR dan Zalilla akan hadir menyapa masyarakat Surabaya dalam gelaran Halal Market yang berlokasi di Balai Pemuda No. 17 Surabaya pada tanggal 3-5 Juli. Kehadiran brand ini sekaligus menegaskan komitmen mereka dalam menghadirkan lini parfum berkualitas tinggi yang relevan bagi pasar gaya hidup halal.

Sebagai penutup agenda, UMAIR dan Zalilla akan kembali ke ibu kota untuk berpartisipasi dalam pameran internasional Saudi Education Expo. Event ini akan diselenggarakan di Smesco, Jakarta Selatan, mulai tanggal 31 Juli hingga 2 Agustus.

Bagi Anda warga Makassar, Surabaya, dan Jakarta, jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk mengeksplorasi keunikan 13 varian aroma dari UMAIR dan Zalilla, serta menikmati berbagai promo spesial yang hanya tersedia di lokasi acara.

4 Syafaat Nabi di Hari Kiamat

4 Syafaat Nabi di Hari Kiamat

Pada Hari Kiamat nanti, setiap manusia akan membawa satu hal yang sama, berhajat akan rahmat Allah Ta’ala. Tidak ada yang dapat mengandalkan kekuatan, jabatan, kekayaan, atau keturunannya. Semua berdiri sendiri di hadapan Allah Ta’ala. Di hari yang penuh kegelisahan itu, ada satu karunia besar yang menjadi harapan kaum beriman, yaitu syafaat Rasulullah ﷺ.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata:
شَفَاعَاتُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَرْبَعَةٌ
“Syafaat Nabi Muhammad ﷺ pada Hari Kiamat ada empat macam.”

1. Syafaat yang Mempercepat Manusia dari Hisab yang Sangat Berat

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:
الْأُولَى: الشَّفَاعَةُ الْعَامَّةُ لِأَهْلِ الْمَوْقِفِ، لِيُعَجَّلَ حِسَابُهُمْ وَيُرَاحُوا مِنْ هَوْلِ ذَلِكَ الْمَوْقِفِ
“Syafaat umum bagi seluruh manusia yang berada di Padang Mahsyar agar hisab mereka dipercepat dan mereka dibebaskan dari dahsyatnya keadaan tersebut.”

Bayangkan sebuah penantian yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Semua makhluk berkumpul. Hati dipenuhi kecemasan. Setiap orang hanya memikirkan nasib dirinya sendiri.

Di saat itulah Rasulullah ﷺ memohon kepada Allah agar proses hisab segera dimulai.

2. Syafaat untuk Masuk Surga Tanpa Hisab

الثَّانِيَةُ: فِي إِدْخَالِ طَائِفَةٍ مِنْ أُمَّتِهِ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ
“Syafaat untuk memasukkan sekelompok umat beliau ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa azab.”

Ini adalah karunia yang luar biasa.

Ada hamba-hamba Allah yang memperoleh anugerah khusus. Mereka tidak melewati hisab yang panjang. Tidak menunggu dengan penuh ketegangan. Tidak pula merasakan azab.

Dengan rahmat Allah dan syafaat Nabi ﷺ, mereka dipersilakan memasuki surga secara langsung.

3. Syafaat untuk Mengeluarkan Ahli Tauhid dari Neraka

Inilah salah satu bentuk syafaat yang paling menunjukkan luasnya rahmat Allah.
الثَّالِثَةُ: فِي إِخْرَاجِ مُوَحِّدِي أُمَّتِهِ مِمَّنْ دَخَلَ النَّارَ بِذُنُوبِهِمْ، فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا وَيُدْخَلُونَ الْجَنَّةَ
“Syafaat untuk mengeluarkan orang-orang yang bertauhid dari umat beliau yang masuk neraka karena dosa-dosa mereka, lalu mereka dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.”

Manusia bukan malaikat. Ia bisa tergelincir, lalai, dan berbuat dosa.

Namun selama seseorang masih membawa tauhid dan tidak mati dalam kekafiran, pintu rahmat Allah tetap terbuka.

Setelah menjalani hukuman yang Allah kehendaki, mereka mendapatkan syafaat Nabi ﷺ. Mereka dikeluarkan dari neraka dan akhirnya masuk ke dalam surga.

Karena itulah, seorang mukmin tidak boleh merasa aman dari dosa, tetapi juga tidak boleh putus asa dari rahmat Allah.

4. Syafaat untuk Meninggikan Derajat Penghuni Surga.

Banyak orang mengira bahwa setelah masuk surga semua urusan selesai.

Padahal surga memiliki tingkatan yang sangat banyak.

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan:
الرَّابِعَةُ: فِي زِيَادَةِ دَرَجَاتِ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَرَفْعِ مَنَازِلِهِمْ فِيهَا
“Syafaat untuk menambah derajat dan meninggikan kedudukan penghuni surga.”

Ada orang yang masuk surga karena amalnya. Namun dengan syafaat Nabi ﷺ, kedudukannya diangkat lebih tinggi lagi. Nikmatnya bertambah. Kemuliaannya bertambah. Derajatnya ditinggikan melebihi apa yang ia bayangkan. Inilah bukti bahwa karunia Allah jauh lebih luas daripada amal yang kita lakukan.

Semoga kita termasuk orang yang mendapat syafaat di hari kiamat.

Sumber : https://portal-islam.id/4-syafaat-nabi-di-hari-kiamat/

Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis

Masjid dan Mushalla menurut Al-Quran dan Hadis

Hidayatullah.com | DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan istilah masjid dan mushalla secara bergantian. Namun dalam kajian fiqih, keduanya memiliki pengertian, fungsi, dan konsekuensi hukum yang berbeda.

Mari kita pahami bersama apa saja perbedaan antara masjid dan mushalla, sekaligus makna spiritual yang menyertainya.

Masjid: Tempat Sujud yang Dimuliakan

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ
Rasulullah ﷺ bersabda: “Para Malaikat berdoa untuk salah seorang dari kalian selama ia masih pada posisi shalatnya dan belum berhadats, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’ Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat. Tidak ada yang menghalanginya untuk kembali kepada keluarganya kecuali karena shalat itu.” (HR. al-Bukhari, 619)

Secara bahasa, masjid berarti tempat sujud. Secara istilah, masjid adalah tempat yang dipersiapkan secara khusus dan diwakafkan untuk pelaksanaan shalat lima waktu berjamaah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 114)

Masjid disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 18 kali, menunjukkan betapa pentingnya kedudukannya dalam Islam.

Ada pula istilah Masjid al-Jami’, yakni masjid yang digunakan untuk shalat Jumat atau dapat menampung jamaah dalam jumlah besar.

Sebagaimana dijelaskan oleh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam al-Masajid (hal. 7), disebut “al-Jami’” karena pada hari Jumat banyak orang berkumpul di dalamnya. Namun, walau ukurannya kecil, jika masjid itu digunakan untuk pelaksanaan shalat Jumat, maka ia tetap disebut masjid jami’.

Mushalla: Tempat Shalat yang Lebih Fleksibel

Sementara itu, istilah mushalla memiliki beberapa makna dalam konteks syariat:

Pertama, lapangan terbuka untuk Shalat Id

Dalam hadits Abu Umair bin Anas disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk menuju mushalla saat Idul Fitri setelah terlihat hilal.

Mushalla dalam konteks ini merujuk pada tanah lapang yang dipakai untuk pelaksanaan shalat hari raya.

Kedua, tempat shalat pribadi atau sementara

Mushalla juga dapat bermakna tempat shalat seseorang, baik di rumah, kantor, atau sudut ruangan. Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyebutkan bahwa malaikat akan mendoakan orang yang masih berada di mushalla-nya.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ إِلَى الْمُصَلَّى

“Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para wanita haid pada dua hari raya menuju musholla.” (HR. Bukhari, no. 324 dan Muslim, no. 890)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ…

“Para malaikat terus mendoakan salah satu dari kalian selama ia berada di mushollanya (tempat shalatnya)…” (HR. Bukhari, no. 619 dan Muslim, no. 649)

Di sini, mushalla bisa merujuk pada tempat shalat pribadi, bukan masjid secara umum.

Dari kedua pengertian tersebut, disimpulkan bahwa setiap masjid adalah mushalla, tetapi tidak setiap mushalla adalah masjid.

Penjelasan Ulama tentang Perbedaan Keduanya

Imam Az-Zarkasyi dalam kitab I’lam as-Sajid bi Ahkami al-Masajid menjelaskan bahwa penyebutan masjid berasal dari kata sujud, sebagai posisi paling mulia dan dekat kepada Allah dalam shalat.

Sedangkan mushalla lebih merujuk pada tempat berkumpulnya jamaah untuk shalat Id atau shalat sunnah lainnya yang tidak rutin lima waktu.

Adapun menurut masyarakat Indonesia, masjid umumnya dipahami sebagai tempat shalat berjamaah lima waktu dan juga digunakan untuk shalat Jumat.

Sementara mushalla (sering disebut surau atau langgar) adalah tempat shalat dengan kapasitas terbatas, yang tidak digunakan untuk shalat Jumat.

Namun, ulama seperti Syihabuddin ar-Ramli menegaskan bahwa shalat Jumat tidak disyaratkan harus dilakukan di masjid, selama tempatnya memadai.

Status Kepemilikan

Masjid adalah tempat yang telah diwakafkan dan tidak boleh diperjualbelikan. Imam Nawawi dalam Minhaj ath-Thalibin menjelaskan bahwa kepemilikan tanah masjid berpindah kepada Allah secara hukum.

Sebaliknya, mushalla masih bisa dimiliki pribadi dan boleh dipindahkan, dijual, atau disewa.

Orang yang junub atau haid dilarang tinggal di masjid, namun tidak di mushalla.

Ibadah Tertentu

I’tikaf, thawaf, dan shalat tahiyatul masjid hanya sah dilakukan di masjid. Hal ini ditegaskan al-Khatib asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj“Tidak ada suatu ibadah yang membutuhkan masjid kecuali tahiyatul masjid, i’tikaf, dan thawaf.”

Bangunan Tambahan

Tidak diperbolehkan membangun tempat tinggal di atas masjid. Ibnu ‘Abidin menegaskan dalam Hasyiyah-nya bahwa jika masjid telah selesai dibangun, maka membangun rumah imam di atasnya harus dicegah.

Kemuliaan Shalat

Baik masjid maupun mushalla adalah tempat-tempat mulia yang menjadi penghubung antara hamba dengan Rabb-nya. Rasulullah ﷺ menyebut tempat sujud sebagai tempat yang dihadiri malaikat, bahkan doa-doa dari para malaikat senantiasa mengiringi siapa pun yang menunggu shalat berikutnya di mushallanya.

Sebagai umat Islam, memahami perbedaan antara keduanya bukan hanya masalah istilah, tapi juga menjadi pijakan dalam menghidupkan sunnah dan menegakkan hukum-hukum syariat dalam beribadah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimuliakan karena menjaga masjid, menghidupkan mushalla, dan istiqamah dalam shalat berjamaah. Wallahu a’lam.*/Dr. Ahmad Zain an-Najah, Pusat Kajian Fiqih Indonesia)

sumber : https://hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/2025/05/05/293796/masjid-dan-mushalla-menurut-al-quran-dan-hadis.html

7 Tanda Ginjal Bermasalah, Bisa Terlihat di Kulit

7 Tanda Ginjal Bermasalah, Bisa Terlihat di Kulit

Jakarta, CNN Indonesia — Ginjal memiliki fungsi penting sebagai pembersih atau penyaring racun dan kotoran dari darah. Saat ada gangguan fungsi, organ ini bakal memberikan sejumlah sinyal tanda bahaya. Sebaiknya kenali tanda ginjal bermasalah agar tidak terlambat penanganan.
Apa yang terjadi saat petugas kebersihan absen? Sampah di rumah menumpuk, menimbulkan bau, dan membuat lingkungan rumah jadi tidak nyaman. Situasi ini menggambarkan fungsi ginjal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Tubuh tidak bisa membuang racun, kotoran, sisa metabolisme dan aneka ‘sampah’ lain sehingga menumpuk. Kemudian timbul masalah keseimbangan cairan tubuh berikut tekanan darah.

Tanda ginjal bermasalah
Jika dibiarkan maka muncul sejumlah penyakit seperti infeksi ginjal batu ginjal, gagal ginjal akut, penyakit ginjal kronis, bahkan kanker ginjal.

Agar tidak terlambat penanganan, kamu harus mengenali tanda-tanda ginjal bermasalah. Apa saja?

1. Gampang lelah
Tumpukan racun dan kotoran di darah dapat memengaruhi aliran darah ke otak. Kamu dapat merasa lelah dan susah konsentrasi. Rasa lelah ini muncul tanpa kamu mengerjakan pekerjaan berat atau kegiatan lain.

Masalah pada ginjal kadang diikuti dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sehingga tubuh jadi lesu.

2. Kulit kering dan gatal
Masalah pada ginjal dapat dikenali lewat kondisi kulit. Tumpukan racun yang tidak terbuang akan menumpuk di darah lalu memicu ruam atau gatal.

Ketika kondisi ini dibiarkan, seiring waktu ginjal tidak mampu menyeimbangkan mineral dan nutrisi tubuh. Kondisi ini kemudian membuat kulit kering.

3. Wajah dan kaki bengkak
Ginjal berfungsi menjaga kadar natrium tetap seimbang. Namun ketika kinerjanya terganggu, kelebihan natrium membuat tubuh kelebihan cairan.

Akibatnya, tangan, pergelangan kaki, tungkai, hingga wajah membengkak.

4. Urine berbusa

Ginjal erat kaitannya dengan kebiasaan buang air kecil dan urine. Kamu dapat mengetahui tanda ginjal bermasalah dari kondisi urine salah satunya urine berbusa.

Kenapa bisa muncul busa? Ginjal yang rusak sulit menyaring darah dan ikut melepas protein ke darah yang akhirnya terbuang lewat urine.

Urine mengandung protein albumin yakni protein yang sama seperti protein telur. Tak heran busa pada urine mirip seperti telur yang dikocok.

5. Darah pada urine
Pada beberapa orang dengan masalah ginjal, urine dapat ditemukan berubah warna. Kondisi ginjal rusak membuat sel-sel darah bocor ke urine sehingga warnanya jadi kemerahan.

Tanda ini tidak boleh disepelekan dan harus dibawa ke dokter. Darah pada urine dapat menunjukkan tanda penyakit seperti infeksi atau tumor pada saluran kemih.

6. Nafsu makan menurun

Penurunan nafsu makan sebenarnya bukan tanda khas masalah ginjal. Namun kamu perlu tetap waspada apalagi penurunan nafsu makan terjadi dalam jangka panjang tanpa ada sebab pasti.

7. Kram otot
Kram otot jadi salah satu tanda ginjal bermasalah. Fungsi ginjal terganggu berarti ada ketidakseimbangan kadar elektrolit dan mineral tubuh.

Kondisi ini turut memengaruhi kadar kalsium dan fosfor. Saat kadar keduanya tidak terkontrol kamu bisa sering kram otot.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260701070324-255-1375367/7-tanda-ginjal-bermasalah-bisa-terlihat-di-kulit

Ada Indonesia, Ini Daftar 3 Pulau Surga Tersembunyi di Asia Tenggara

Ada Indonesia, Ini Daftar 3 Pulau Surga Tersembunyi di Asia Tenggara

Jakarta, CNN Indonesia — Tak semua destinasi wisata populer dipenuhi keramaian. Di berbagai penjuru dunia, masih ada pulau-pulau yang menawarkan ketenangan, alam yang masih terjaga, dan pengalaman liburan jauh dari hiruk-pikuk wisata massal.
Majalah perjalanan Travel + Leisure memasukkan tiga pulau di Asia Tenggara ke dalam daftar 30 destinasi pulau tersembunyi terbaik di dunia. Ketiganya dinilai menawarkan keindahan alam yang autentik, suasana tenang, serta pengalaman berlibur yang berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.

Menariknya, salah satu pulau yang masuk dalam daftar tersebut berasal dari Indonesia, yakni Gili Trawangan di Nusa Tenggara Barat. Berikut tiga pulau di Asia Tenggara yang dinobatkan sebagai destinasi tersembunyi terbaik dunia, mengutip VNExpress:

1. Con Dao, Vietnam
Terletak di lepas pantai tenggara Vietnam, Kepulauan Con Dao dikenal sebagai salah satu surga tropis yang masih relatif sepi wisatawan. Pulau terbesar di gugusan ini, Con Son, memiliki tebing granit yang menjulang, pantai berpasir putih, serta laut sebening kristal.

Pengembangan pariwisata yang masih terbatas membuat ekosistem alam di Con Dao tetap terjaga. Wisatawan dapat menikmati suasana yang tenang sambil menjelajahi pulau menggunakan sepeda motor melalui jalan pesisir yang indah.

Beberapa tempat yang bisa dikunjungi antara lain mercusuar bersejarah dari abad ke-19 hingga kawasan alami Dam Tre yang masih sangat asri.

Tak hanya menyuguhkan panorama alam, Con Dao juga terkenal dengan hasil laut segarnya. Berbagai hidangan seafood disajikan dengan cita rasa sederhana yang menonjolkan kesegaran bahan utama, sementara keramahan masyarakat lokal menjadi nilai tambah bagi pengalaman berwisata di pulau ini.

2. Gili Trawangan, Indonesia
Indonesia turut masuk dalam daftar lewat Gili Trawangan, pulau kecil di lepas pantai Lombok yang sudah lama dikenal sebagai destinasi favorit pencinta pantai dan aktivitas bawah laut.

Meski populer di kalangan wisatawan, Gili Trawangan tetap mempertahankan pesona santainya. Kafe-kafe di tepi pantai, sekolah selancar, hingga pusat penyelaman tersebar di berbagai sudut pulau, menciptakan suasana liburan yang santai tanpa kehilangan nuansa alami.

Salah satu keunikan Gili Trawangan adalah tidak adanya kendaraan bermotor. Seluruh aktivitas transportasi dilakukan dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan cidomo, kereta kuda khas setempat. Aturan ini membuat udara tetap bersih dan suasana pulau terasa lebih tenang.

Keindahan pantai, air laut yang jernih, serta kehidupan bawah laut yang kaya menjadikan Gili Trawangan sebagai salah satu destinasi favorit untuk snorkeling maupun menyelam.

3. Pulau Mabul, Malaysia
Pulau Mabul di Sabah, Malaysia, menjadi destinasi berikutnya yang masuk daftar. Pulau kecil ini dikenal luas sebagai salah satu lokasi menyelam terbaik di Asia Tenggara.

Perairan di sekitar Mabul menyimpan keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, bahkan disebut mampu bersaing dengan sejumlah lokasi diving terbaik dunia.

Penyelam dapat menemukan berbagai spesies unik, mulai dari sea moth, bobtail squid, hingga paintpot cuttlefish yang tergolong langka. Kekayaan biota laut tersebut menjadikan Mabul sebagai surga bagi fotografer bawah air maupun pencinta kehidupan laut.

Selain menikmati keindahan bawah laut, wisatawan juga dapat merasakan suasana pulau yang tenang dengan hamparan pasir putih dan laut berwarna biru kehijauan yang masih alami.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260630144328-269-1375121/ada-indonesia-ini-daftar-3-pulau-surga-tersembunyi-di-asia-tenggara