ITS Bikin Traktor Perahu Listrik untuk Lahan Gambut

ITS Bikin Traktor Perahu Listrik untuk Lahan Gambut

INSTITUT Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi traktor perahu listrik untuk pertanian lahan gambut. Traktor ini diklaim mampu memangkas biaya operasional secara signifikan dan hemat energi dibanding traktor berbahan bakar fosil.

Manajer Tim Bengkel Science Techno Park (STP) Otomotif, Prof. Bambang Sudarmanta, mengatakan inovasi ini berawal dari data yang menunjukkan bahwa produktivitas lahan gambut di Indonesia masih rendah. Mereka pun mencari solusi terhadap tantangan kondisi tersebut berupa traktor perahu listrik.

“Berbeda dengan traktor pada umumnya, kendaraan ini didesain menyerupai bentuk kapal agar mampu bergerak optimal di atas lahan basah tanpa risiko tenggelam,” ujar Bambang lewat keterangannya, Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut Bambang, sistem elektrifikasi traktor perahu tersebut menggabungkan prinsip flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi guna meningkatkan produktivitas lahan. “Sistem ini akan meminimalisir degradasi struktur tanah, serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi,” tuturnya.

Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut menjelaskan bahwa traktor ini dirancang dengan fokus pada optimasi torsi tinggi, bukan kecepatan, sehingga traktor ini bisa memenuhi kebutuhan operasional membajak sawah.

Bambang melanjutkan, secara teknis traktor ini digerakkan oleh motor listrik 10 kilowatt (kW) serta dilengkapi layar elektronik untuk memudahkan petani memantau kondisi baterai, pengontrol suhu, dan tegangan baterai secara real-time.

Bambang mengatakan bahwa traktor listrik ini jauh lebih hemat biaya dibandingkan traktor konvensional berbasis bensin atau solar karena sumber energi traktor ini memanfaatkan daya listrik yang murah dan mudah diakses di rumah warga.

“Keunggulan lainnya ialah respons torsi yang instan saat gas diaktifkan, sehingga menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah,” terang pakar teknik pembakaran dan bahan bakar tersebut.

Terkait spesifikasi daya, traktor ini bekerja pada tegangan optimal sekitar 72 volt dan arus 32 Ampere, yang menghasilkan daya sekitar 10 kW dengan kapasitas baterai sebesar 140 Ampere per hour (Ah). Dengan demikian, traktor dapat digunakan selama 3 sampai 4 jam dalam kondisi penuh.

“Berdasarkan hasil uji coba, traktor ini diestimasikan mampu membajak lahan seluas 1 hektare,” paparnya.

Traktor ini juga diuji pada lahan 1 hektare yang memiliki dimensi lebar 100 meter dan panjang 100 meter. Dengan menggunakan bajak traktor selebar 1,8 meter, traktor ini memerlukan sebanyak 56 lintasan atau 5,6 kilometer untuk menyelesaikan area tersebut.

Bambang mengatakan tim terus melakukan pengembangan dan validasi. Pada uji coba langsung di sawah sebelumnya, tim menemui kendala teknis berupa panas berlebih sehingga diputuskan untuk menambahkan sistem pendingin sebagai komponen krusial yang baru.

Sumber : https://www.tempo.co/sains/its-bikin-traktor-perahu-listrik-untuk-lahan-gambut-2275905

Apple Gugat OpenAI, Tuding Curi Rahasia Dagang demi Kembangkan Perangkat AI

Apple Gugat OpenAI, Tuding Curi Rahasia Dagang demi Kembangkan Perangkat AI

Apple resmi menggugat OpenAI atas dugaan pencurian rahasia dagang dan pelanggaran kontrak. Apple menuduh OpenAI secara sistematis memperoleh informasi rahasia dari mantan karyawan Apple untuk mempercepat pengembangan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan (artifical intelligence/AI).

Gugatan tersebut diajukan pada Jumat (10/10) ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Utara California. Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa dugaan pelanggaran itu dilakukan atas arahan jajaran petinggi OpenAI, termasuk Chief Hardware Officer Tang Tan, yang sebelumnya menghabiskan 24 tahun berkarier di Apple dan terakhir menjabat sebagai Vice President of Product Design untuk iPhone dan Apple Watch.

Gugatan ini muncul di tengah rumor OpenAI yang disebut sedang mengembangkan perangkat keras pertamanya dan diperkirakan akan bersaing langsung dengan iPhone.

Pada April lalu, analis industri Ming-Chi Kuo menyebut perangkat tersebut kemungkinan berupa smartphone yang mengandalkan agen AI sebagai pengganti aplikasi konvensional. Jika benar, produk itu berpotensi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi bisnis perangkat keras Apple.

Ambisi OpenAI di sektor perangkat keras semakin kuat setelah perusahaan itu mengakuisisi startup perangkat milik mantan kepala desain Apple, Jony Ive, yakni io, dalam kesepakatan senilai 6,5 miliar dolar AS tahun lalu. Meski nama io disebut dalam gugatan, Jony Ive sendiri tidak menjadi pihak yang dituduh.

Selain Tang Tan, Apple juga menyeret nama mantan karyawan lain yang kini bekerja di OpenAI, Chang Liu. Apple menuduh Liu tidak mengembalikan laptop milik perusahaan setelah keluar dari Apple pada 2026. Selama masih menguasai perangkat tersebut, Liu diduga mengunduh berbagai dokumen teknis rahasia milik Apple.

Menurut Apple, dokumen yang diambil mencakup informasi mengenai teknologi, fitur, dan produk yang belum dirilis, termasuk spesifikasi teknis, presentasi internal untuk tim rekayasa, hingga data proyek yang bersifat rahasia.

Liu juga dituduh membagikan informasi rahasia Apple kepada mantan rekan kerjanya yang sedang melamar pekerjaan di OpenAI. Bahkan, ia disebut memberi arahan mengenai materi yang perlu dipelajari sebelum mengikuti proses wawancara.

Apple Sebut OpenAI Terapkan Strategi Sistematis

Dalam gugatannya, Apple mengeklaim telah mengirim surat kepada OpenAI pada Februari untuk menyampaikan kekhawatiran terkait dugaan penyalahgunaan informasi rahasia. Namun, OpenAI tidak pernah memberikan tanggapan.

Apple menilai tindakan para mantan karyawannya tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi OpenAI untuk memperoleh informasi rahasia perusahaan. Menurut Apple, OpenAI diduga meminta calon karyawan membawa desain, prototipe, hingga menjelaskan proses pemilihan komponen dan pemasok yang digunakan Apple dalam mengembangkan produknya.

Apple juga mengeklaim investigasi internal menemukan OpenAI dan sejumlah mitranya telah memanfaatkan informasi rahasia dari Apple dalam mengembangkan perangkat keras mereka sendiri.

Salah satu contohnya adalah penggunaan metal finishing yang dipatenkan Apple. Dalam gugatan disebut OpenAI membuat salah satu mitranya percaya mereka telah mendapatkan izin untuk menggunakan teknologi milik Apple tersebut. Apple menegaskan praktik semacam ini menjadi ancaman serius terhadap hak kekayaan intelektual perusahaan.

“Ini hanyalah puncak gunung es. Apple tidak memiliki visibilitas terhadap apa yang terjadi di balik pintu tertutup OpenAI, tempat praktik semacam ini dinormalisasi dan dicontohkan oleh para pemimpinnya,” tulis Apple dalam dokumen gugatan.

Perusahaan itu juga menuduh bisnis perangkat keras OpenAI dibangun di atas fondasi yang rapuh karena bergantung pada rahasia dagang yang diperoleh secara ilegal.

Apple Minta Pengadilan Hentikan Penggunaan Rahasia Dagang

Melalui gugatan tersebut, Apple meminta pengadilan melarang OpenAI menggunakan atau mengungkapkan rahasia dagang miliknya. Apple juga meminta seluruh dokumen dan materi rahasia dikembalikan, serta memerintahkan OpenAI untuk menyimpan seluruh bukti yang berkaitan dengan perkara ini. Dalam pernyataan resminya, Apple tegas akan terus melindungi hasil inovasi para insinyurnya.

“Di Apple, tim kami terus mengembangkan teknologi terobosan untuk menghadirkan produk dan layanan terbaik di dunia. Melindungi hasil kerja dan kekayaan intelektual mereka merupakan hal yang kami anggap sangat serius,” tulis Apple.

“Baru-baru ini muncul bukti kuat yang menunjukkan bahwa individu yang bekerja di OpenAI secara tidak sah mengambil informasi rahasia Apple terkait teknologi, proses, dan produk yang belum dirilis. Kami akan selalu membela hasil kerja keras dan inovasi tim kami, serta mengambil langkah yang diperlukan untuk melindunginya.”

Menanggapi gugatan tersebut, OpenAI menyatakan tidak memiliki kepentingan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Melalui pernyataan yang diunggah di platform X.

“Kami tidak memiliki ketertarikan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Fokus kami tetap pada pengembangan teknologi inovatif yang memberdayakan masyarakat di seluruh dunia,” papar OpenAI.

Sumber : https://kumparan.com/kumparantech/apple-gugat-openai-tuding-curi-rahasia-dagang-demi-kembangkan-perangkat-ai-27laYwxz4U4

Perbandingan Fiber Optic, Wireless, dan Satelit: Mana Jaringan Internet Terbaik?

Perbandingan Fiber Optic, Wireless, dan Satelit: Mana Jaringan Internet Terbaik?

Di era digital yang saling terhubung saat ini, konektivitas internet yang andal bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan primer. Hampir seluruh aktivitas—mulai dari komunikasi, kolaborasi kerja, streaming, hingga operasional bisnis real-time—sangat bergantung pada kualitas jaringan yang Anda gunakan.

Setiap jenis jaringan internet memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Lalu, mana yang paling tepat untuk memenuhi kebutuhan digital Anda?

Perbandingan Teknologi Jaringan Internet

Untuk memahami solusi konektivitas yang paling pas, mari kenali tiga teknologi jaringan yang paling populer saat ini:

Jenis Jaringan Cara Kerja Keunggulan Kekurangan
Fiber Optic Menggunakan serat kaca untuk mengirimkan data melalui sinyal cahaya. Kecepatan sangat tinggi, latensi rendah, bandwidth besar, dan stabil di segala kondisi cuaca. Membutuhkan pemasangan infrastruktur kabel fisik ke lokasi.
Wireless (FWA) Memancarkan sinyal internet nirkabel (mirip seluler) via modem WiFi. Fleksibel, instalasi cepat tanpa tarik kabel, dan relatif terjangkau. Rentan terhadap cuaca buruk, terpengaruh jarak menara pemancar, dan bisa melambat jika banyak pengguna.
Satelit Mengirimkan sinyal via gelombang radio ke satelit di luar angkasa. Cakupan sangat luas, solusi terbaik untuk area pelosok atau daerah 3T (sulit jangkauan). Latensi cukup tinggi (ada jeda pemrosesan data akibat jarak transmisi bumi-angkasa).

Dari perbandingan di atas, ketiganya bisa saling melengkapi untuk pemerataan akses internet di Indonesia. Namun, untuk kebutuhan aktivitas digital intensitas tinggi di perkotaan dan perumahan modern, Fiber Optic jelas menjadi primadona.

4 Alasan Utama Kabel Fiber Optic Lebih Unggul

Di balik kelancaran work from home, live streaming, bermain game online, hingga pemrosesan Kecerdasan Buatan (AI), terdapat infrastruktur fisik yang harus bekerja ekstra keras. Berikut adalah alasan mengapa fiber optic sangat diandalkan:

Kecepatan Tinggi yang Simetris: Mampu mentransfer data dalam jumlah masif tanpa penurunan kualitas. Kinerja upload dan download yang simetris menjadikannya sangat ideal untuk aktivitas heavy-duty.

Latensi Sangat Rendah: Karena data dikirimkan dalam bentuk cahaya, respons yang didapat saat membuka aplikasi atau website terjadi dalam hitungan milidetik (ping kecil), meminimalisasi gangguan jeda (lag).

Kapasitas Bandwidth Raksasa: Satu kabel fiber berisi ratusan hingga ribuan serat. Satu serat saja mampu menghantarkan data hingga 1 Gbps bahkan lebih, menjamin kelancaran multitasking seisi rumah.

Ketahanan dan Keamanan Ekstra: Infrastruktur ini tidak terpengaruh oleh gangguan elektromagnetik, cuaca buruk, maupun perubahan suhu. Fiber optic juga memiliki tingkat keamanan yang sangat tinggi dari risiko penyadapan siber.

Kapasitas bandwidth ditingkatkan menjadi 30% lebih cepat dengan kecepatan mencapai 500 Mbps. Menariknya, harga layanan ini tidak naik, bahkan menjadi jauh lebih terjangkau, dimulai dari Rp150.000/bulan (bergantung pada lokasi kota dan kabupaten).

Dengan kecepatan upload dan download yang simetris serta stabilitas di segala kondisi cuaca, beralih ke jaringan fiber optic Biznet adalah investasi cerdas untuk keluarga modern. Daftar sekarang melalui situs resmi di biznethome.net dan buktikan sendiri kenyamanannya!

sumber : https://www.inilah.com/perbandingan-fiber-optic-wireless-dan-satelit-mana-jaringan-internet-terbaik

Model AI Grok 4.5 Meluncur, Diklaim Lebih Kencang dan Hemat Token

Model AI Grok 4.5 Meluncur, Diklaim Lebih Kencang dan Hemat Token

KOMPAS.com – Perusahaan kecerdasan buatan (AI) milik Elon Musk, SpaceXAI (dulu xAI), resmi merilis model AI terbarunya, Grok 4.5.

Grok 4.5 menjadi model AI pertama yang diluncurkan SpaceXAI setelah perusahaan tersebut melantai di bursa (go public) beberapa pekan lalu.

Dalam unggahan blog resmi, SpaceXAI menjelaskan bahwa Grok 4.5 diposisikan sebagai model andalan (workhorse) yang mampu menangani berbagai tugas umum.

Beberapa di antaranya, yaitu pemrograman (coding), pembuatan aplikasi, tugas administrasi/perkantoran, riset, penulisan, hingga pekerjaan berbasis pengetahuan lainnya.

Salah satu peningkatan yang paling diunggulkan dari Grok 4.5 adalah efisiensi penggunaan token. Menurut SpaceXAI, model AI terbarunya ini hemat token dua kali lebih banyak dibandingkan model AI populer lain.

Di dunia AI, token merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur jumlah teks yang diproses model AI.

Semakin efisien penggunaan token, semakin rendah pula biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan model tersebut.

Apabila klaim perusahaan terbukti benar, Grok 4.5 berpotensi menjadi model AI alternatif yang lebih murah dibandingkan model AI pesaing lain.

Di sisi lain, perusahaan juga merilis hasil pengujian (benchmark) yang menunjukkan Grok 4.5 mampu bersaing dengan sejumlah model AI terkemuka, seperti Opus 4.8 max, GPT 5.5 xhigh, serta Fable max.

Diklaim lebih cepat dari Claude Opus 4.7

Dalam unggahan di platform X (dulu Twitter), Elon Musk selaku founder SpaceXAI mengatakan, Grok 4.5 memiliki kemampuan yang sebanding dengan Claude Opus 4.7.

Sebagai informasi, Claude Opus 4.7 merupakan model AI buatan Anthropic yang diranang untuk menangani tugas-tugas kompleks berdurasi panjang dengan teliti dan konsisten.

Musk menyebut, Grok 4.5 punya keunggulan dalam hal kecepatan pemrosesan, efisiensi penggunaan token, hingga biaya operasional yang lebih rendah.

“Penilaian internal kami menunjukkan bahwa Grok 4.5 kurang lebih sebanding dengan Opus 4.7, tetapi jauh lebih cepat. Kombinasi kemampuan, kecepatan, dan biaya yang lebih rendah itulah yang membuatnya kompetitif,” tulis Musk.

Harga Grok 4.5

SpaceXAI membanderol penggunaan Grok 4.5 sebesar 2 dollar AS (sekitar Rp 36.125) per satu juta token input dan 6 dollar AS (sekitar Rp 108.347) per satu juta token output.

Adapun harga tersebut dinilai cukup kompetitif apabila kemampuan Grok sesuai dengan klaim yang digembar-gemborkan perusahaan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari TechCrunch.

Sebagai perbandingan, Claude Opus 4.7 dipatok dengan tarif lebih mahal, yaitu 5 dollar AS (sekitar Rp 90.295) per satu juta token input dan 25 dollar AS (sekitar Rp 451.475) per satu juta token output.

Sumber : https://tekno.kompas.com/read/2026/07/09/14020077/model-ai-grok-4.5-meluncur-diklaim-lebih-kencang-dan-hemat-token

Samsung Galaxy Z Fold 8 Tembus Rp50 Juta, Masih Mau Bilang Murah?

Samsung Galaxy Z Fold 8 Tembus Rp50 Juta, Masih Mau Bilang Murah?

Samsung Electronics menghadapi tantangan besar menjelang peluncuran lini ponsel lipat terbarunya, Galaxy Z Fold 8 Series.

Di tengah kenaikan harga komponen semikonduktor atau chipflation, harga perangkat flagship terbaru itu diperkirakan melonjak hingga menembus 3 juta won atau sekitar Rp35 juta-Rp38 juta di sejumlah pasar.

Samsung dijadwalkan memperkenalkan jajaran ponsel lipat terbarunya dalam ajang Galaxy Unpacked yang digelar di London pada 22 Juli 2026. Namun sebelum peluncuran resmi, bocoran harga dari sejumlah distributor Eropa mengindikasikan adanya kenaikan harga dibanding generasi sebelumnya.

Galaxy Z Fold 8 Ultra Diprediksi Makin Mahal

Laporan media Korea Selatan asiae.co.kr menyebut varian tertinggi, Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra dengan kapasitas 256 GB, diperkirakan dibanderol 2.199 euro atau sekitar Rp41 jutaan di Eropa.

Sementara varian 512 GB diprediksi dijual 2.399 euro, sedangkan model 1 TB bisa mencapai 2.799 euro atau sekitar Rp52 juta.

Untuk pasar Amerika Serikat, Galaxy Z Fold 8 Ultra disebut berpotensi dibanderol mulai US$2.099, sedangkan Galaxy Z Fold 8 reguler diperkirakan mulai US$1.899.

Apabila dikonversi ke mata uang Korea Selatan, sebagian besar model Galaxy Z Fold 8 diperkirakan akan dijual di atas 3 juta won, menjadikannya salah satu smartphone Samsung dengan harga tertinggi.

Chipflation Jadi Penyebab Utama

Kenaikan harga tersebut disebut tidak lepas dari fenomena chipflation, yaitu lonjakan harga komponen semikonduktor yang terjadi dalam dua tahun terakhir.

Menurut data Counterpoint Research, meningkatnya permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) membuat harga memori DRAM dan NAND Flash naik tajam.

Pada smartphone premium dengan harga sekitar US$800, porsi biaya memori meningkat dari 14 persen pada awal 2025 menjadi sekitar 40 persen pada pertengahan 2026.

Dalam periode yang sama, biaya komponen DRAM dan NAND meningkat dari US$63 menjadi US$291, atau naik sekitar 4,6 kali lipat.

Kondisi tersebut membuat produsen smartphone premium, termasuk Samsung, harus menyesuaikan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.

Samsung Hadapi Dua Tantangan Sekaligus

Selain tekanan biaya produksi, Samsung juga harus menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar ponsel lipat.

Laporan tersebut menyebut desain baru Galaxy Z Fold 8 dengan rasio layar 4:3 saat dibuka merupakan salah satu strategi Samsung untuk mengantisipasi kehadiran iPhone lipat pertama yang juga dirumorkan menggunakan rasio serupa.

Apple sendiri diperkirakan akan meluncurkan foldable iPhone pada 2027 dengan kisaran harga yang tidak jauh berbeda dari Galaxy Z Fold 8 Ultra.

Persaingan ini membuat Samsung harus memastikan kenaikan harga tetap diimbangi dengan peningkatan pengalaman penggunaan, terutama melalui integrasi AI yang menjadi fokus utama Galaxy Z Fold generasi terbaru.

Galaxy S26 Jadi Modal Optimisme

Meski menghadapi tantangan, Samsung memiliki modal positif.

Seri Galaxy S26 berhasil mencatat penjualan 3 juta unit hanya dalam 117 hari di Korea Selatan, menjadi rekor tercepat perusahaan untuk lini Galaxy S.

Kesuksesan tersebut diharapkan dapat berlanjut pada lini foldable, terutama ketika pasar smartphone lipat global diperkirakan terus berkembang.

Counterpoint Research memperkirakan pengiriman panel smartphone lipat dunia mencapai 27,5 juta unit pada 2026 atau tumbuh sekitar 24 persen dibanding tahun sebelumnya.

Samsung diproyeksikan tetap menjadi pemimpin pasar foldable dengan pangsa sekitar 31 persen, sementara Apple diperkirakan langsung menempati posisi kedua dengan 29 persen setelah memasuki segmen tersebut.

Dengan harga yang semakin premium dan persaingan yang makin ketat, peluncuran Galaxy Z Fold 8 Series akan menjadi salah satu ujian terbesar Samsung untuk mempertahankan dominasinya di pasar smartphone lipat.

Sumber : https://www.inilah.com/samsung-galaxy-z-fold-8-tembus-rp50-juta-masih-mau-bilang-murah

BRIN akan Luncurkan Satelit NEO 1 Buatan Lokal pada Januari 2027

BRIN akan Luncurkan Satelit NEO 1 Buatan Lokal pada Januari 2027

Liputan6.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersiap mengukir sejarah baru dalam dunia kedirgantaraan kebangsaan, yaitu peluncuran satelit buatan lokal.

Pada Januari 2027, BRIN dijadwalkan meluncurkan Nusantara Earth Observation (NEO 1), sebuah satelit observasi bumi mutakhir yang murni dirancang oleh para peneliti Tanah Air dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 65 persen.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan proyek ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia berhasil melakukan regenerasi inovasi di bidang teknologi antariksa secara mandiri.

“Peluncuran NEO 1 ini akan menjadi tonggak penting yang menunjukkan Indonesia semakin mampu menguasai seluruh rantai teknologi satelit,” ujar Arif, dikutip dari Antara, Kamis (9/7/2026).

Langkah ini dinilai sebagai lompatan besar karena seluruh aset dan proses pengembangan NEO 1 mengandalkan keahlian anak bangsa.

Mulai dari perancangan misi, desain sistem, pengujian perangkat lunak, operasi satelit, hingga dukungan stasiun bumi–semuanya digarap secara domestik.

NEO 1 sendiri dikategorikan sebagai satelit kelas mini (minisat). Meski berukuran ringkas, satelit ini dibekali kemampuan pencitraan Bumi dengan resolusi tinggi dan menengah.

Multifungsi untuk Berbagai Sektor

Nantinya, satelit NEO 1 akan memegang peran strategis dalam menyediakan data citra nasional. Data tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan krusial, di antaranya:

  • Pemetaan wilayah dan pemantauan lingkungan.
  • Sektor pertanian dan kehutanan.
  • Sektor kelautan, termasuk pemantauan aktivitas kapal melalui sistem Automatic Identification System (AIS).
  • Mitigasi bencana alam.

Selain mendukung riset industri dan layanan publik, kehadiran NEO 1 diharapkan mampu memenuhi kebutuhan data pencitraan berbasis satelit bagi pemerintah secara mandiri.

Menuju Kedaulatan Digital

Keberhasilan NEO 1 diproyeksikan menjadi batu loncatan bagi BRIN untuk mengembangkan jenis satelit lainnya. Target berikutnya adalah pengembangan satelit telekomunikasi nasional demi memperkuat konektivitas dan persatuan bangsa.

Arif menambahkan penguasaan teknologi ini bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan investasi strategis jangka panjang.

Langkah ini penting untuk memperkuat kedaulatan digital, mendongkrak daya saing ekonomi, serta mengikis ketergantungan Indonesia terhadap penyedia teknologi dan layanan dari luar negeri.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8242199/brin-akan-luncurkan-satelit-neo-1-buatan-lokal-pada-januari-2027

Amazon tengah siapkan Alexa jadi asisten AI lebih canggih & responsif

Amazon tengah siapkan Alexa jadi asisten AI lebih canggih & responsif

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan teknologi asal AS, Amazon, dikabarkan tengah menyiapkan asisten kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) besutannya Alexa agar memiliki kemampuan yang lebih canggih dan responsif.

Dilaporkan Engadget, Rabu (8/7), kemampuan baru tersebut bakal memperluas kemampuan Alexa+ yang sudah ada saat ini.

Business Insider yang pertama kali melaporkan mengklaim bahwa pihaknya telah melihat dokumen perencanaan internal Amazon yang merinci proyek pengembangan Alexa ini dengan kode nama Moonraker.

Proyek ini merancang asisten AI Alexa agar mampu menangani interaksi yang lebih kompleks dan berisi banyak permintaan simultan.

Fokus utama proyek Moonraker ini tampaknya adalah membangun kemampuan agentik Alexa.

Dalam dokumen tersebut disertakan juga contoh termasuk meminta asisten untuk memesan tumpangan dan mengirim pesan teks kepada teman dalam satu interaksi.

Apabila pengembangan ini berhasil, maka ini dapat menjadi langkah Amazon membuat Alexa untuk bersaing lebih baik dengan model AI agentik dari perusahaan seperti Google, Anthropic , dan OpenAI.

Poin penting lainnya dari rencana Amazon adalah biaya dari upaya tersebut. Mereka memproyeksikan biaya GPU lebih dari 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,8 triliun) untuk 2026. Dengan biaya tersebut, dokumen itu menyarankan perusahaan untuk menunda atau mengurangi ambisi Moonraker.

Business Insider diberitahu oleh pihak internal yang mengetahui masalah ini bahwa beberapa petinggi di Amazon berpikir perusahaan telah menghabiskan terlalu banyak uang untuk model AI yang mendukung Alexa saat ini. Sehingga kepastian proyek ini masih belum jelas.

Terpisah dari dokumen terbaru, publikasi Business Insider juga mengklaim telah melihat dokumen terpisah dari akhir tahun 2025 yang merinci rencana Amazon untuk menggunakan “ratusan” GPU NVIDIA untuk mendukung proyek Moonraker, serta model Soneta Antropik untuk menguji penalaran tingkat lanjut dan respons visual.

Membahas sepak terjang Alexa, layanan Alexa+ terbilang baru diluncurkan pada awal 2026 di AS.

Di negara-negara seperti Inggris, hingga saat ini Alexa+ masih dalam tahap Early Access.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/5642468/amazon-tengah-siapkan-alexa-jadi-asisten-ai-lebih-canggih-responsif

WhatsApp Username: Baik untuk Privasi atau Karpet Merah bagi Penipu Digital?

WhatsApp Username: Baik untuk Privasi atau Karpet Merah bagi Penipu Digital?

Liputan6.com, Jakarta – WhatsApp resmi memulai uji coba fitur reservasi username pekan ini, menjelang peluncuran globalnya pada akhir 2026. Langkah ini menandai perubahan besar bagi pengguna untuk saling mengidentifikasi.

Pengguna tidak lagi wajib membagikan nomor telepon, melainkan cukup menggunakan nama pengguna khusus. Meski Meta (induk perusahaan WhatsApp) mengklaim inovasi ini bakal mendongkrak privasi digital, gelombang kritik justru datang dari para pakar keamanan dan regulator di India.

Dengan basis lebih dari 500 juta pengguna di negara tersebut, fitur baru ini dikhawatirkan memicu ledakan kasus penipuan bermodus penyamaran akun (impersonation).

Dalam uji coba awal, sebagaimana dikutip dari TechCrunch, Kamis (2/7/2026), ditemukan fakta mengejutkan. Sejumlah username yang mirip dengan nama politisi, selebritas, hingga lembaga resmi masih tersedia bebas untuk diklaim.

Nama-nama seperti “indiamodi” (merujuk PM Narendra Modi), “shahrukh.actor”, “teamamitabh”, hingga “rbi_verify” (merujuk Bank Sentral India) belum diproteksi.

Di tempat terpisah, pendiri Binance, Changpeng Zhao, juga mengeluhkan lewat media sosial X bahwa dirinya tidak bisa memesan nama pengguna “cz_binance”.

Menanggapi hal ini, Meta berdalih bahwa mereka telah memesan atau memblokir username tokoh publik dan instansi pemerintah agar tidak disalahgunakan.

Sayangnya, raksasa teknologi itu enggan membeberkan indikator dan mekanisme sistem penyaringan mereka terhadap variasi nama tiruan tersebut.

Pemerintah Intervensi, Aktivis Kritik

Kondisi ini langsung memicu respons keras dari Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India (Ministry of Electronics and Information Technology/MeitY).

Dalam surat teguran resminya kepada WhatsApp, pemerintah memperingatkan bahwa fitur ini berpotensi meningkatkan kasus phishing, penipuan berkedok aparat, dan serangan siber lainnya karena pelaku bisa bersembunyi di balik identitas anonim tanpa melacak nomor ponsel.

MeitY pun meminta WhatsApp menangguhkan peluncuran fitur ini hingga proses konsultasi selesai.

Namun, intervensi pemerintah ini menuai kritik dari kelompok hak digital Internet Freedom Foundation (IFF). Mereka menilai langkah sepihak kementerian tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan berisiko memberi kekuasaan berlebih bagi pemerintah untuk mendikte desain produk sebuah platform digital.

Dilema Privasi dan Keamanan

Pakar keamanan siber sekaligus CEO SocialProof Security, Rachel Tobac, melihat fitur ini bak pisau bermata dua.

Di satu sisi, menyembunyikan nomor telepon adalah kemenangan besar untuk privasi karena melindungi pengguna dari bahaya pembajakan kartu SIM (SIM-swap). Di sisi lain, risiko salah sasaran akibat nama yang mirip tetap mengintai.

“Menggunakan username itu langkah bagus agar nomor ponsel tidak bocor ke orang asing. Namun, verifikasi identitas di dalam fungsi tersebut tetap menjadi hal krusial,” ujar Tobac.

Sebagai antisipasi, Tobac menyarankan pengguna untuk memilih nama yang tidak mudah ditebak demi menghindari pesan spam dan perundungan digital.

Monopoli Identitas Meta?

Selain isu keamanan, Mozilla Foundation menyoroti aspek monopoli ekosistem digital Meta. WhatsApp diketahui mengizinkan pengguna mengimpor username dari Instagram atau Facebook mereka.

Meski langkah ini diklaim Meta untuk mempermudah verifikasi kreator dan bisnis, Mozilla menilai hal ini memperlihatkan betapa kuatnya Meta dalam mengikat identitas digital pengguna lintas aplikasi, sementara pengguna tetap tidak bisa memindahkan basis data kontak mereka ke platform pesaing.

Menanggapi polemik global ini, WhatsApp menyatakan akan bergerak perlahan. “Kami meluangkan waktu dan mendengarkan masukan agar saat diluncurkan secara luas akhir tahun ini, semuanya berjalan dengan tepat,” tulis WhatsApp dalam laman tanya-jawab resminya.

Sumber : https://www.liputan6.com/tekno/read/8165586/whatsapp-username-baik-untuk-privasi-atau-karpet-merah-bagi-penipu-digital

Keunggulan Pemupukan Foliar untuk Pertumbuhan Tanaman yang Lebih Optimal

Keunggulan Pemupukan Foliar untuk Pertumbuhan Tanaman yang Lebih Optimal

Kediri – Dalam dunia pertanian modern, pemenuhan nutrisi tanaman menjadi salah satu faktor utama yang menentukan hasil panen. Salah satu metode pemupukan yang semakin banyak digunakan adalah pemupukan foliar, yaitu metode pemberian nutrisi melalui daun.

Berbeda dengan pemupukan konvensional yang mengandalkan penyerapan melalui akar, pemupukan foliar memungkinkan unsur hara masuk langsung ke jaringan tanaman melalui permukaan daun. Metode ini dinilai efektif untuk membantu tanaman mendapatkan nutrisi secara lebih cepat dan efisien.

Mengapa Pemupukan Foliar Efektif?

  1. Penyerapan Nutrisi Lebih CepatSalah satu keunggulan utama pemupukan foliar adalah kecepatan penyerapan nutrisi. Saat pupuk disemprotkan ke daun, unsur hara dapat langsung diserap melalui jaringan daun.

    Hal ini membuat tanaman mampu merespons lebih cepat, terutama ketika membutuhkan tambahan nutrisi dalam waktu singkat, seperti pada fase pertumbuhan aktif, pembungaan, atau pembentukan buah.

  2. Efektif Saat Kondisi Tanah Kurang Subur atau Akar TergangguTidak semua lahan memiliki kondisi tanah yang ideal. Pada beberapa kondisi, tanah yang kurang subur, pH yang tidak seimbang, atau akar tanaman yang terganggu dapat menghambat penyerapan nutrisi dari tanah.

    Pemupukan foliar menjadi solusi yang efektif karena nutrisi tidak perlu melewati akar terlebih dahulu. Dengan pemberian melalui daun, tanaman tetap bisa memperoleh unsur hara penting meskipun kondisi media tanam kurang optimal.

  3. Lebih Hemat dan Tepat SasaranKeunggulan lainnya adalah penggunaan pupuk yang lebih efisien. Nutrisi dapat langsung diarahkan ke bagian tanaman yang membutuhkan, sehingga mengurangi potensi kehilangan unsur hara akibat penguapan atau pencucian oleh air.

    Dengan dosis yang tepat, pemupukan foliar dapat membantu petani mengoptimalkan penggunaan pupuk sekaligus menjaga efisiensi biaya.

Optimalkan Hasil dengan Nutrisi yang Tepat

Pemupukan foliar dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat, kuat, dan produktif. Namun, hasil yang optimal juga dipengaruhi oleh kualitas pupuk yang digunakan.

Untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman secara maksimal, gunakan pupuk cair AGRONIK sebagai solusi pemupukan yang praktis dan efektif.

AGRONIK — Nutrisi Tepat untuk Hasil yang Hebat

By: PT. Dyriz Indonesia

Sumber : https://www.instagram.com/p/DZ9fZMFD-bi/?img_index=1

Google tengah uji Gmail Live pada platform Android dan iOS

Google tengah uji Gmail Live pada platform Android dan iOS

Jakarta (ANTARA) – Google dikabarkan tengah menguji layanan Gmail Live yang bakal hadir melalui sistem operasi Android maupun iOS.

Layanan itu diumumkan dalam ajang Google I/O 2026 yang berlangsung pada bulan lalu dan kini tampaknya semakin dekat dengan perilisan versi stabilnya.

Mengutip laporan 9to5 Google, Senin (29/6), Gmail Live memungkinkan penggunanya untuk mencari keperluannya melalui kotak masuk hanya dengan suara. Pengguna bisa memposisikan fitur itu selayaknya asisten kecerdasan artifisial (AI) Gemini Live yang dioptimalkan untuk layanan surel atau surat elektronik.

Google menghadirkan fitur itu sebagai bantuan bagi pengguna yang tengah mencari sesuatu di aplikasi Gmail, namun, tidak memiliki waktu untuk menelusurinya satu persatu.

Untuk versi teks, pengguna bisa mengakses layanan ini lewat bilah pencarian Ask Gmail.

Sama seperti penggunaan fitur itu menggunakan suara, pengguna dapat mengeksplorasi kebutuhannya di Gmail dengan bahasa sehari-hari dan mendapatkan Ringkasan AI.

Dalam versi Beta, ikon Gmail Live akan muncul di dekat kolom pencarian, tepat di luar bilah tersebut terdapat tombol panel samping Gemini. Ketika pengguna mengetuknya, pengguna akan diarahkan mengakses layanan Gmail Live ke tampilan antarmuka layar penuh.

Asisten AI di layanan itu akan menampilkan beberapa saran termasuk “Kapan tanggal perjalanan saya selanjutnya?”, “Bagaimana perkembangan pesanan terbaru saya?”. Ketika interaksi dimulai, cahaya biru bakal menyinari tepi layar pengguna, sementara perintah yang diajukan tengah diproses oleh AI.

Gmail Live membutuhkan waktu sejenak untuk memproses perintah pengguna, dengan respons yang dibacakan dan ditampilkan di layar. Tombol kontrol di bagian bawah memungkinkan pengguna untuk membisukan mikrofon dan keluar dari Gmail Live kembali ke tampilan kotak masuk pada umumnya.

Gmail Live saat ini sedang dalam tahap pengujian dan akan diluncurkan untuk pelanggan Google AI Pro dan Ultra pada musim panas ini. Pengguna juga dapat menantikan Docs Live dan fungsi serupa di Keep untuk membuat dokumen saat bepergian.

sumber : https://www.antaranews.com/berita/5629176/google-tengah-uji-gmail-live-pada-platform-android-dan-ios