Dari Nota Sampai Laporan Keuangan, Emang Bisa 1 Hari?

Dari Nota Sampai Laporan Keuangan, Emang Bisa 1 Hari?

Tumpukan nota di meja udah setinggi tower Jenga. Bulan udah mau tutup. Kamu panik: “Ini kalau dicatatin semua bisa seminggu sendiri!”

Tenang. Pertanyaannya bukan “bisa atau nggak”. Tapi “gimana caranya?”

Jawabannya: Bisa. Asal tau alurnya.

Dari nota berantakan sampai Laporan Keuangan rapi, cuma butuh 7 langkah ini. Kalau kamu fokus & datanya siap, 1 hari kelar.

Masalah Utama UMKM: Kenapa Pembukuan Berasa 1 Abad?

Bukan karena akuntansi susah. Tapi karena 3 ini:

  1. Nunggu akhir bulan baru nyatet. Notanya udah buram, lupa transaksi apa.
  2. Nggak tau urutannya. Loncat-loncat: bikin neraca dulu, eh jurnal belum beres.
  3. Nggak ada template. Bikin format Excel dari nol tiap bulan. Capek duluan.

Solusinya: Pake Siklus Akuntansi. Ini “jalan tol” dari nota ke laporan. Ikutin urutannya, nggak nyasar.

7 Langkah Tol: Dari Nota Jadi Laporan dalam 1 Hari

Anggap ini checklist kamu. Centang satu-satu. Mulai jam 8 pagi, target kelar jam 5 sore.

Langkah 1: Jurnal Umum – Catet Semua Transaksi (Jam 08.00-10.00)

Tugas: Kumpulin semua nota, invoice, bukti transfer. Catet ke Jurnal Umum pake prinsip Debit-Kredit.

Contoh: Jual barang cash Rp500rb → Debit Kas Rp500rb, Kredit Penjualan Rp500rb.

Kunci 1 Hari: Pake aplikasi scan nota atau Excel template. Jangan nulis tangan. Blog: “Jurnal Umum: Catatan Harian Keuangan Biar Nggak Lupa”

Langkah 2: Buku Besar – Kelompokin per Akun (Jam 10.00-11.00)

Tugas: Pindahin semua catatan dari Jurnal Umum ke “kotak” masing-masing. Kotak Kas, Kotak Penjualan, Kotak Gaji, dst.

Hasil: Kamu tau total saldo Kas, total Penjualan, total Utang bulan ini.

Kunci 1 Hari: Kalau pake software/aplikasi, ini otomatis. Kalau Excel, pake rumus SUMIF. Blog: “Buku Besar: Dompet Digital Bisnis Kamu”

Langkah 3: Neraca Saldo – Cek Saldo Bener Apa Nggak (Jam 11.00-11.30)

Tugas: Jumlahin semua saldo Debit vs saldo Kredit dari Buku Besar. Harus sama.

Kalau nggak sama? Berarti ada salah catat di Langkah 1 atau 2. Benerin dulu sebelum lanjut.

Kunci 1 Hari: Ini checkpoint. 30 menit ngecek di sini ngirit 3 jam bingung di belakang. Blog: “Neraca Saldo: Checklist Keuangan Sebelum Lanjut”

Langkah 4: Jurnal Penyesuaian – Rapiin yang Nggantung (Jam 11.30-13.00)

Tugas: Catet beban/pendapatan yang belum tercatat.

  • Gaji karyawan akhir bulan belum dibayar → Utang Gaji
  • Sewa dibayar dimuka → bagi jadi Beban Sewa bulan ini
  • Laptop disusutin → Beban Penyusutan

Kunci 1 Hari: Bikin list penyesuaian rutin. Tiap bulan sama: Gaji, Sewa, Penyusutan, Piutang Tak Tertagih. Tinggal ganti angka. Blog: “Jurnal Penyesuaian: Rapiin Catatan Biar Laba Nggak Palsu”

Langkah 5: Laporan Laba Rugi – Jawab “Untung Apa Rugi?” (Jam 13.00-14.00)

Tugas: Ambil dari Neraca Saldo Disesuaikan. Jumlahin semua Pendapatan, kurangi semua Beban.

Hasil: Laba/Rugi Bersih. Ini “rapor” performa kamu sebulan.

Kunci 1 Hari: Cuma 1 rumus: Pendapatan – Beban. Selesai 1 jam. Blog: “Laporan Laba Rugi: Rapor Bulanan Bisnis Kamu”

Langkah 6: Neraca – Foto Kekayaan Akhir Bulan (Jam 14.00-15.30)

Tugas: Susun HARTA = UTANG + MODAL.

Harta: Kas, Piutang, Stok, Peralatan. Utang: Utang Usaha, Utang Gaji. Modal: Modal Setor + Laba Ditahan.

Kunci 1 Hari: Total Harta harus = Total Utang + Modal. Kalau nggak seimbang, cek lagi Langkah 4. Blog: “Neraca Adalah Foto Kekayaan Usaha Kamu di Akhir Bulan”

Langkah 7: Laporan Arus Kas – Lacak Duit Beneran (Jam 15.30-17.00)

Tugas: Lacak duit masuk-keluar. Pisahin jadi 3 aliran: Operasi, Investasi, Pendanaan.

Hasil: Tau kenapa laba ada tapi kas kosong. Duitnya lari ke stok, piutang, atau bayar utang.

Kunci 1 Hari: Fokus ke Arus Kas Operasi. Harus positif. Kalau negatif, ada yang salah sama model bisnis. Blog: “3 Aliran Duit di Arus Kas yang Wajib Kamu Pantau Tiap Bulan”

Jadi, Emang Bisa 1 Hari? SYARATNYA 3 INI:

Syarat Kalau Nggak Ada Solusi
1. Nota Udah Komplit 1 hari habis buat nyari-nyari bon hilang Biasain foto nota langsung pas transaksi. Pake folder Google Drive per tanggal
2. Pake Template/Software 1 hari habis bikin format Excel dari nol Download template gratis atau pake aplikasi. Langkah 2-7 bisa otomatis
3. Nggak Ditunda Sebulan Transaksi 200 biji numpuk. Otak nge-lag Kerjain mingguan. 30 menit tiap Jumat. Akhir bulan tinggal 1-2 jam

Kesimpulan: Bisa 1 hari kalau kamu nyicil kerjaannya. Kalau ngerjain 30 hari sekaligus dalam 1 hari? Ya tepar.

3 Aliran Duit di Arus Kas yang Wajib Kamu Pantau Tiap Bulan

3 Aliran Duit di Arus Kas yang Wajib Kamu Pantau Tiap Bulan

Kediri – Laporan Laba Rugi bilang kamu untung Rp10 juta. Tapi kok pas cek rekening cuma ada Rp2 juta?

Selamat datang di realita bisnis. Laba itu pendapat. Kas itu kenyataan.

Yang ngasih tau kenyataan itu namanya Laporan Arus Kas. Isinya cuma 3 aliran duit. Kalau kamu paham 3 ini, bisnis kamu susah boncos.

1. Kenapa Laba Beda Sama Kas? Ini Biang Keroknya

Inget prinsip akrual dari blog Jurnal Penyesuaian?

Laba Rugi Catat Arus Kas Catat
Jualan kredit Rp5jt → langsung jadi pendapatan Baru dicatat pas duitnya masuk rekening
Beli stok Rp3jt → belum jadi beban kalau stok belum kejual Langsung dicatat pas duitnya keluar bayar supplier
Penyusutan laptop Rp166rb → jadi beban Nggak dicatat. Kan nggak keluar duit

Jadi wajar: Untung gede tapi kas kering. Duitnya nyangkut di piutang, stok numpuk, atau kepake bayar utang. Laporan Arus Kas yang bongkar semua.

2. Bedah 3 Aliran Duit yang Masuk-Keluar Rekening

Bayangin rekening bisnis kamu punya 3 pipa. Setiap pipa punya nama:

Aliran 1: ARUS KAS OPERASI – Jantung Bisnis Kamu

Isinya: Duit murni dari kegiatan utama jualan.

Duit Masuk dari:

  • Pelanggan bayar cash
  • Pelanggan lunasin piutang

Duit Keluar buat:

  • Bayar gaji karyawan
  • Bayar ke supplier
  • Bayar listrik, internet, sewa
  • Bayar pajak

Kunci: Aliran ini WAJIB POSITIF tiap bulan. Kalau negatif terus, artinya bisnis kamu nggak hasilin duit dari jualan. Bahaya. Itu namanya “gali lubang tutup lubang”.

Aliran 2: ARUS KAS INVESTASI – Duit Buat Masa Depan

Isinya: Duit buat beli/jual aset jangka panjang.

Duit Keluar buat:

  • Beli laptop baru Rp6jt
  • Beli mobil operasional
  • Renovasi toko

Duit Masuk dari:

  • Jual mobil bekas
  • Jual peralatan nggak kepake

Kunci: Wajar kalau aliran ini NEGATIF. Artinya kamu lagi investasi buat gedein bisnis. Tapi kalau negatif terus-terusan padahal omzet nggak naik, boros.

Aliran 3: ARUS KAS PENDANAAN – Duit dari Utang & Modal

Isinya: Duit yang berhubungan sama bank & owner.

Duit Masuk dari:

  • Pinjem duit ke bank Rp50jt
  • Kamu setor modal tambahan

Duit Keluar buat:

  • Nyicil pokok utang bank
  • Bayar bunga utang
  • Owner ambil dividen/prive

Kunci: Kalau POSITIF artinya kamu disuntik dana. Kalau NEGATIF artinya kamu lagi bayar utang/bagi hasil. Dua-duanya normal, tergantung fase bisnis.

3. Contoh Laporan Arus Kas Toko “Maju Jaya” Desember 2026

TOKO MAJU JAYA
LAPORAN ARUS KAS
Untuk Bulan Berakhir 31 Desember 2026

Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Kas diterima dari pelanggan Rp 25.000.000
Kas dibayar ke supplier (Rp 12.000.000)
Kas dibayar untuk gaji (Rp 8.000.000)
Kas dibayar untuk sewa & listrik (Rp 2.000.000)
Arus Kas Bersih Operasi Rp 3.000.000
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Pembelian peralatan (Rp 6.000.000)
Arus Kas Bersih Investasi (Rp 6.000.000)
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Penerimaan pinjaman bank Rp 10.000.000
Pembayaran cicilan pokok utang (Rp 1.000.000)
Prive owner (Rp 2.000.000)
Arus Kas Bersih Pendanaan Rp 7.000.000
KENAIKAN KAS BERSIH Rp 4.000.000
Saldo Kas Awal 1 Des Rp 11.000.000
Saldo Kas Akhir 31 Des Rp 15.000.000

Cek ke Neraca: Saldo Kas Akhir Rp15jt. Sama persis kayak di Neraca blog kemarin. Klop ✅

4. Cara Baca Arus Kas: 4 Skenario Bisnis

Operasi Investasi Pendanaan Artinya
+ +/- Bisnis Sehat & Tumbuh. Mesin duit jalan, lagi ekspansi beli aset.
+ + Bisnis Matang. Nggak ekspansi, jual aset nggak kepake, fokus bayar utang.
+ Startup/Bisnis Rugi. Duit operasi tekor, ditutup pinjeman bank. Bahaya kalau kelamaan.
+ Bisnis Bangkrut. Operasi rugi, jualin aset buat bayar utang. Lampu merah.

Toko Maju Jaya di atas masuk skenario 1. Operasi +, Investasi -, Pendanaan +. Sehat.

Kesimpulan: Cek Rekening Dulu, Baru Percaya Laba

3 Hal wajib kamu pantau tiap akhir bulan:

  1. Arus Kas Operasi harus positif. Ini napas bisnis kamu. Kalau negatif 3 bulan berturut-turut, evaluasi total.
  2. Investasi negatif itu wajar. Asal duitnya buat beli aset yang naikin omzet, bukan foya-foya.
  3. Pendanaan positif/negatif sama-sama normal. Yang penting kamu tau duitnya dari utang atau buat bayar utang.

Rumus pamungkas: Laba Rugi = Nilai. Neraca = Posisi. Arus Kas = Napas. Kalau napas berhenti, yang lain nggak guna.

Neraca Adalah Foto Kekayaan Usaha Kamu di Akhir Bulan

Neraca Adalah Foto Kekayaan Usaha Kamu di Akhir Bulan

Udah bikin jurnal penyesuaian Gaji, Sewa, sama Penyusutan? Bagus.

Sekarang pertanyaannya: Setelah semua dicatat, usaha kamu sebenernya punya apa aja sih?

Jawabannya ada di Neraca. Anggep aja neraca ini foto Polaroid keuangan kamu tanggal 31 Desember. Sekali jepret, keliatan semua.

1. Neraca Itu Apa Sih? Kenapa Disebut “Foto”?

Kalau Laporan Laba Rugi nunjukin performa selama sebulan, Neraca nunjukin posisi di 1 titik waktu.

Ibaratnya:

Laporan Laba Rugi Neraca
Video CCTV sebulan Foto selfie tanggal 31
Nunjukin untung/rugi Nunjukin harta, utang, modal
Jawab “bulan ini gimana?” Jawab “sekarang punya apa?”

Jadi kalau ditanya “Tanggal 31 Desember usaha kamu kaya atau nggak?”, kamu buka Neraca, bukan Laba Rugi.

2. Isi Neraca Cuma 3 Komponen. Simpel Banget

Rumus sakti yang harus kamu hafal: HARTA = UTANG + MODAL

Harus seimbang. Kalau nggak seimbang, berarti ada yang salah catat.

A. HARTA = Semua yang Kamu Punya

Disebut juga Aktiva. Dibagi 2:

  1. Harta Lancar: Gampang jadi duit < 1 tahun. Contoh: Kas, Bank, Piutang Usaha, Persediaan Barang, Perlengkapan.
  2. Harta Tetap: Dipakai lama > 1 tahun. Contoh: Peralatan, Kendaraan, Gedung. Nilainya udah dikurangi Akumulasi Penyusutan.

B. UTANG = Semua yang Kamu Pinjam

Disebut juga Kewajiban/Liabilitas. Dibagi 2:

  1. Utang Lancar: Harus lunas < 1 tahun. Contoh: Utang Usaha, Utang Gaji, Utang Pajak.
  2. Utang Jangka Panjang: Lunasnya > 1 tahun. Contoh: Utang Bank 5 tahun.

C. MODAL = Uang Kamu Sendiri

Disebut juga Ekuitas. Isinya:

  1. Modal Setor: Uang yang kamu tanam pas awal buka usaha.
  2. Laba Ditahan: Akumulasi untung dari awal usaha sampe sekarang yang nggak kamu ambil.

3. Contoh Neraca Toko “Maju Jaya” 31 Des 2026

Ini data setelah semua jurnal penyesuaian Gaji, Sewa, Penyusutan udah masuk ke Neraca Saldo Disesuaikan.

TOKO MAJU JAYA
NERACA
Per 31 Desember 2026

HARTA
Harta Lancar
Kas Rp 15.000.000
Piutang Usaha Rp 5.000.000
Persediaan Barang Rp 8.000.000
Sewa Dibayar Dimuka Rp 11.000.000
Jumlah Harta Lancar Rp 39.000.000
Harta Tetap
Peralatan Rp 6.000.000
Akum. Penyusutan Peralatan (Rp 166.667)
Jumlah Harta Tetap Rp 5.833.333
TOTAL HARTA Rp 44.833.333
UTANG & MODAL
Utang Lancar
Utang Usaha Rp 3.000.000
Utang Gaji Rp 2.000.000
Jumlah Utang Rp 5.000.000
Modal
Modal Tuan Jaya Rp 30.000.000
Laba Ditahan Rp 9.833.333
Jumlah Modal Rp 39.833.333
TOTAL UTANG & MODAL Rp 44.833.333

Cek: HARTA Rp44.833.333 = UTANG Rp5.000.000 + MODAL Rp39.833.333. Seimbang ✅

4. Cara Baca Neraca Buat Pengusaha, Bukan Akuntan

Nggak usah pusing sama istilah. Cukup jawab 3 pertanyaan ini:

  1. “Duit gue ada di mana aja?” → Liat sisi HARTA. Di contoh: Kas Rp15jt, Piutang Rp5jt, Stok Rp8jt. Artinya duit kamu nggak semua cash, sebagian “nyangkut” di piutang & barang.
  2. “Gue punya utang berapa?” → Liat sisi UTANG. Cuma Rp5jt. Masih aman. Bandingin sama Harta Lancar Rp39jt. Utang ketutup 7x lipat.
  3. “Usaha gue beneran nambah kaya nggak?” → Liat Laba Ditahan Rp9,8jt. Itu akumulasi untung yang nggak kamu ambil. Makin gede makin bagus.

Kasus “Untung tapi nggak punya duit”: Bisa jadi Laba Ditahan gede, tapi Kas kecil karena duitnya jadi Piutang & Persediaan. Neraca yang ngasih tau.

Kesimpulan: Neraca = Dashboard Kekayaan

3 Hal wajib kamu inget:

  1. Neraca itu foto di tanggal tertentu, bukan video sebulan.
  2. Rumusnya wajib seimbang: HARTA = UTANG + MODAL.
  3. Gunanya buat cek kesehatan: Punya harta apa aja, utang berapa, modal nambah atau nggak.

Neraca Saldo Disesuaikan → jadi Laporan Laba Rugi + jadi Neraca. 2 laporan ini paket komplit.

Jurnal Penyesuaian Gaji, Sewa, dan Penyusutan Wajib Dicatat Sebelum Tutup Buku

Jurnal Penyesuaian Gaji, Sewa, dan Penyusutan Wajib Dicatat Sebelum Tutup Buku

Kediri – Neraca saldo kamu udah seimbang? Bagus. Tapi jangan seneng dulu.

Kalau langsung bikin laporan laba rugi, hasilnya bisa salah besar. Kenapa? Karena ada transaksi yang “nggak keliatan” tapi harus dicatat dulu.

Namanya Jurnal Penyesuaian. Ini tiket terakhir sebelum laporan keuangan kamu akurat.

1. Kenapa Harus Ada Jurnal Penyesuaian?

Prinsip akuntansi itu akrual, bukan cash basis.

Artinya: Pendapatan dicatat saat kamu kerja, bukan saat dibayar. Beban dicatat saat kamu pakai, bukan saat bayar.

Contoh: Karyawan udah kerja 5 hari di akhir bulan, tapi gajian tanggal 1. Kalau nggak disesuain, beban gaji bulan ini jadi kurang. Laba kamu keliatan lebih gede dari aslinya. Nipu diri sendiri.

Jadi jurnal penyesuaian itu buat “ngepasin” pendapatan & beban biar masuk di bulan yang bener.

2. 3 Jurnal Penyesuaian Paling Wajib Buat Pemula

Kasus 1: Gaji Karyawan yang Belum Dibayar

Masalah: Tanggal 31, karyawan udah kerja 5 hari. Gaji Rp2.000.000 belum dibayar. Gajian tanggal 1 bulan depan.

Logika: Bulan ini kamu udah “ngutang” jasa ke karyawan. Jadi harus muncul Beban Gaji + Utang Gaji.

Jurnalnya:

Tanggal Akun Debit Kredit
31 Des Beban Gaji Rp2.000.000
Utang Gaji Rp2.000.000

Efeknya: Laba bulan ini turun Rp2jt karena ada beban. Di Neraca muncul utang Rp2jt. Fair.

Kasus 2: Sewa Dibayar Dimuka

Masalah: Tanggal 1 Des kamu bayar sewa ruko Rp12.000.000 untuk 1 tahun ke depan.

Logika: Pas bayar, jurnalnya Debit Sewa Dibayar Dimuka Rp12jt. Itu Harta, bukan Beban.

Tapi di akhir Desember, sewa bulan ini udah kepakai 1 bulan = Rp1.000.000. Nah, Rp1jt ini harus jadi Beban Sewa.

Jurnal Penyesuaian 31 Des:

Tanggal Akun Debit Kredit
31 Des Beban Sewa Rp1.000.000
Sewa Dibayar Dimuka Rp1.000.000

Efeknya: Harta Sewa Dibayar Dimuka berkurang Rp1jt, jadi sisa Rp11jt. Beban Sewa nambah Rp1jt. Laba jadi lebih kecil tapi lebih akurat.

Kasus 3: Penyusutan Peralatan

Masalah: Kamu beli laptop Rp6.000.000. Umur pakai 3 tahun = 36 bulan.

Logika: Laptop nggak langsung habis. Nilainya turun tiap bulan. Penyusutan per bulan = Rp6.000.000 / 36 = Rp166.667.

Ini harus dicatat sebagai Beban Penyusutan tiap akhir bulan, walaupun kamu nggak keluar duit.

Jurnal Penyesuaian 31 Des:

Tanggal Akun Debit Kredit
31 Des Beban Penyusutan Peralatan Rp166.667
Akumulasi Penyusutan Peralatan Rp166.667

Catatan: Kreditnya bukan ke akun “Peralatan” langsung, tapi ke “Akumulasi Penyusutan”. Ini akun kontra-harta. Jadi nilai buku laptop = Rp6.000.000 – Rp166.667 = Rp5.833.333.

3. Alur Setelah Jurnal Penyesuaian

  1. Bikin Jurnal Umum Biasa → selama sebulan
  2. Posting ke Buku Besar
  3. Susun Neraca Saldo → Cek seimbang atau nggak
  4. Bikin Jurnal Penyesuaian → Catat Gaji, Sewa, Penyusutan, dll ← Kamu di sini
  5. Susun Neraca Saldo Disesuaikan → Ini baru dipakai buat bikin Laporan Laba Rugi & Neraca

4. Kalau Nggak Dibuat, Seberapa Fatal?

Lupa Sesuain Efek ke Laporan Laba Rugi Efek ke Neraca
Gaji Belum Dibayar Laba kegedean Utang kurang catat
Sewa Dibayar Dimuka Laba kegedean Harta kegedean
Penyusutan Laba kegedean Harta kegedean

Intinya: Laba kamu jadi “palsu”. Keliatan untung, padahal aslinya rugi. Bahaya kalau dipakai buat ambil keputusan.

Kesimpulan

Jurnal penyesuaian itu “bumbu penyedap” akuntansi. Tanpa ini, laporan kamu hambar dan salah rasa.

3 yang wajib diingat:

  1. Gaji: Catat beban walau belum dibayar → Debit Beban Gaji, Kredit Utang Gaji
  2. Sewa: Ubah harta jadi beban sesuai pemakaian → Debit Beban Sewa, Kredit Sewa Dibayar Dimuka
  3. Penyusutan: Turunin nilai aset tiap bulan → Debit Beban Penyusutan, Kredit Akumulasi Penyusutan
Emas Now luncurkan ‘Smart Buy’: Cara revolusioner beli logam mulia lebih murah dan bebas ongkir

Emas Now luncurkan ‘Smart Buy’: Cara revolusioner beli logam mulia lebih murah dan bebas ongkir

Minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas sebagai aset safe haven terus meningkat. Menjawab kebutuhan tersebut, Emas Now resmi meluncurkan inovasi terbaru bernama Emas Now Smart Buy. Program ini menjadi terobosan pertama di Indonesia yang menawarkan cara revolusioner bagi masyarakat untuk memiliki Logam Mulia (Antam, UBS, dan G24) dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan situs resmi produsen maupun toko ritel konvensional.

Berbeda dengan skema pembelian emas pada umumnya, Emas Now Smart Buy mengusung konsep platform unik yang menjual kembali (re-trade) stok Logam Mulia milik Emas Now yang sebelumnya telah dijual kembali oleh para investor.

Jika biasanya perusahaan jual-beli emas mengambil margin keuntungan yang besar dari pasar sekunder (buyback dan jual kembali), Emas Now Smart Buy mendobrak tradisi tersebut dengan filosofi: Margin Lebih Rendah, Nilai Lebih Tinggi, dan Kepercayaan Pelanggan.

Dengan mengalokasikan langsung stok re-trade ini kepada pelanggan yang memenuhi syarat, Emas Now berkomitmen penuh untuk membuat kepemilikan emas menjadi lebih inklusif dan ramah di kantong. Tidak hanya menawarkan harga yang sangat kompetitif, Emas Now juga mengumumkan pencapaian besar lainnya (milestone), yaitu fasilitas gratis ongkos kirim (free shipping) ke seluruh wilayah Indonesia.

“Melalui Emas Now Smart Buy, kami ingin mendefinisikan ulang cara masyarakat Indonesia berinvestasi emas. Kami memangkas margin keuntungan kami demi memberikan nilai maksimal bagi konsumen. Ditambah dengan gratis ongkir ke seluruh Indonesia, kami percaya ini adalah era baru investasi logam mulia yang lebih adil dan transparan,” ujars Alif Fauzan sebagai Direktur Marketing & Operasional emasnow.

Cara Kerja Emas Now Smart Buy

Sesuai dengan slogan, “Harga Terbaik Logam Mulia”, program ini menawarkan kemudahan bagi siapa saja tanpa membedakan gramasi atau seri emas. Konsumen cukup mengikuti beberapa langkah mudah.

Yang pertama adalah registrasi, yaitu melakukan pendaftaran melalui platform resmi emas “Now Smart Buy”. Langkah kedua adalah pantau stok, dimana kita dapat mengakses ketersediaan stok emas hasil re-trade dengan harga khusus.

Langkah berikutnya adalah mendapatkan Informasi harga harian yang akan dipublikasikan secara transparan setiap hari melalui situs resmi dan terakhir mendapatkan alokasi stok, dimana ketersediaan produk sepenuhnya bergantung pada inventaris emas yang dijual kembali oleh investor sebelumnya.

Informasi Penting bagi Calon Pembeli

Mengingat tingginya nilai keuntungan yang ditawarkan, program ini menerapkan beberapa regulasi demi kenyamanan bersama:

  • Stok Terbatas: Kuota emas yang tersedia bersifat terbatas (limited stock).
  • Sistem Antrean: Berlaku sistem antrean dan masa tunggu (waiting period) untuk proses persetujuan maupun pengiriman produk.
  • Seleksi Registrasi: Persetujuan pendaftaran dilakukan secara berkala berdasarkan ketersediaan stok yang ada.
  • Kesempatan Menurun: Jika pendaftaran belum disetujui segera, data calon pembeli otomatis akan masuk ke dalam antrean kuota berikutnya untuk pengajuan ulang.

Masyarakat dan investor yang ingin memanfaatkan peluang emas ini sudah dapat mengunjungi situs resmi di www.emasnowsmartbuy.id untuk melakukan pendaftaran dan melihat informasi lebih lanjut.

Emas Now adalah platform jual-beli Logam Mulia terpercaya di Indonesia yang berkomitmen menyediakan akses investasi emas yang aman, transparan, dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Melalui inovasi berkelanjutan, Emas Now hadir untuk mendukung ketahanan finansial masyarakat Indonesia

sumber : https://www.lensaindonesia.com/emas-now-luncurkan-smart-buy-cara-revolusioner-beli-logam-mulia-lebih-murah-dan-bebas-ongkir/

Rekomendasi Saham 26 Juni 2026: JPFA, MDKA, ASII, DSSA, GULA, RMKE

Rekomendasi Saham 26 Juni 2026: JPFA, MDKA, ASII, DSSA, GULA, RMKE

Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabunan (IHSG) berpeluang naik terbatas pada perdagangan saham Jumat, (26/6/2026). Lalu apa saja rekomendasi saham-nya?

Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, IHSG ditutup naik 1,96% ke level 5.999,04, tetapi masih disertai dengan aksi jual asing Rp 299 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing antara lain saham BMRI, BBRI, KLBF, AMMN dan JSMR.

“Hari ini IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan terbatas,” ujar Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, dalam catatannya.

Ia menuturkan, IHSG akan berada di level support 5.960-5.920 dan level resistance 6.060-6.120 pada perdagangan saham Jumat pekan ini.

Rekomendasi Saham

Untuk rekomendasi saham hari ini, Lutfi memilih saham PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT RMK Energy Tbk (RMKE), dan PT Aman Agrindo Tbk (GULA).

Rekomendasi Teknikal

Trading Idea hari ini: JPFA, MDKA, ASII, GULA, DSSA, dan RMKE

  1. JPFA Spec Buy dengan area beli di 2.010-1.990, dengan target dekat di 2.040-2.070. Cutloss di bawah 1.985.
  2. MDKA Spec Buy dengan area beli di 2.890-2.870, cutloss di bawah 2.860. Target dekat di 2.940-2.980.
  3. ASII Spec Buy dengan area beli di 4.900-4.880, cutloss di bawah 4.870. Target dekat di 5.000-5.075.
  4. GULA Spec Buy dengan area beli di 645-640, dengan target dekat di 655-665. Cutloss di bawah 635.
  5. DSSA Spec Buy dengan area beli di 825-820, cutloss di bawah 820. Target dekat di 845-855.
  6. RMKE Spec Buy dengan area beli di 2.340-2.320, cutloss di bawah 2.320. Target dekat di 2.380-2.410.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Penutupan IHSG 25 Juni 2026

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari ini Kamis (25/6/2026) di zona hijau. Penguatan indeks sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang mendapat dorongan dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta koreksi harga minyak dunia.

IHSG ditutup menguat 115,16 poin atau 1,96 persen ke level 5.999,04. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut naik 9,58 poin atau 1,66 persen menjadi 587,75.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus atau Nico, mengatakan optimisme investor meningkat setelah muncul perkembangan positif dalam upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah kembali turun ke level sebelum konflik meningkat.

“Bursa Asia didominasi penguatan karena sentimen investor didukung oleh kemajuan upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang membantu mendorong harga minyak kembali ke level sebelum konflik,” ujar Nico dikutip dari Antara.

Menurut dia, turunnya harga minyak juga membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global sehingga mengurangi tekanan bagi bank-bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.

Sentimen IHSG Lainnya

Selain sentimen global, pasar juga mendapat dukungan dari kebijakan moneter di kawasan Asia. People’s Bank of China (PBoC) mengumumkan akan melakukan overnight reverse repurchase operations pada Senin (29/6/2026) dan Selasa (30/6/2026) untuk menjaga likuiditas jangka pendek di sistem perbankan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat aliran dana asing terus mengalir ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor satu tahun serta obligasi pemerintah.

Sepanjang Juni 2026 hingga saat ini, dana asing yang masuk ke kedua instrumen tersebut mencapai sekitar Rp 105 triliun.

Di sisi lain, pasar masih mencermati turunnya posisi Indonesia dalam World Competitiveness Ranking, yang turun 21 peringkat. Meski demikian, sentimen tersebut belum mampu membendung optimisme investor di pasar saham.

“IHSG menguat seiring kembali masuknya aksi beli investor yang memburu saham-saham murah setelah pasar menyentuh level terendah dalam dua pekan,” ujar Nico.

IHSG dibuka menguat sejak awal perdagangan dan mampu mempertahankan tren positif hingga penutupan sesi kedua.

Sektor Saham

Penguatan IHSG ditopang oleh kenaikan seluruh sektor dalam Indeks Sektoral IDX-IC.

Sektor infrastruktur menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 3,89 persen. Selanjutnya, sektor kesehatan naik 3,21 persen, disusul sektor barang konsumen primer yang menguat 2,89 persen.

Pada perdagangan hari itu, saham-saham dengan kenaikan tertinggi antara lain RBMS, YUPI, KONI, FUTR, dan ZONE. Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan terbesar meliputi BSSR, HBAT, PTPW, TRUS, dan LUCY.

Aktivitas perdagangan di BEI juga berlangsung cukup ramai. Frekuensi transaksi mencapai sekitar 1,66 juta kali dengan volume perdagangan sebanyak 20,91 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp 13,63 triliun.

Secara keseluruhan, terdapat 562 saham yang menguat, 148 saham melemah, sedangkan 249 saham ditutup tidak mengalami perubahan harga. Kondisi tersebut mencerminkan optimisme pelaku pasar yang kembali meningkat setelah tekanan pada perdagangan beberapa hari sebelumnya mulai mereda.

Sumber : https://www.liputan6.com/saham/read/7999594/rekomendasi-saham-26-juni-2026-jpfa-mdka-asii-dssa-gula-rmke

Rupiah Menguat, Efisiensi Anggaran MBG Jadi Pendorong

Rupiah Menguat, Efisiensi Anggaran MBG Jadi Pendorong

Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (26/6/2026) di zona hijau. Mata uang Garuda menguat 21 poin atau 0,12% menjadi 17.922 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.943 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan rupiah dipicu sentimen positif dari rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran, termasuk penyesuaian belanja untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), guna menjaga stabilitas fiskal.

Menurut Ibrahim, pagu anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) dalam APBN 2026 telah mengalami penyesuaian dari rencana awal sebesar Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun.

“Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun,” ungkap Ibrahim.

Ia menambahkan, berdasarkan pembahasan terbaru, alokasi anggaran tersebut kembali dipertajam menjadi sekitar Rp 228,38 triliun.

Pemerintah juga disebut tengah mengkaji kemungkinan pemangkasan tambahan hingga Rp 50 triliun sebagai langkah memperkuat kondisi fiskal di tengah meningkatnya risiko ekonomi global, menjaga defisit anggaran, sekaligus memperbaiki tata kelola pelaksanaan program.

BI Perkuat Intervensi Pasar untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Selain sentimen fiskal, Ibrahim mengatakan penguatan rupiah turut didukung langkah agresif Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas dan menahan tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.

“Apabila pelemahan masih berlanjut maka strategi yang dilakukan BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan 100 basis poin (bps) hanya dalam waktu dua bulan. Sedangkan yang dibutuhkan pasar saat ini adalah jangkar ekspektasi yang jelas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama serta didukung koordinasi yang erat antara kebijakan moneter dan fiskal,” ujar Ibrahim.

Ia juga menilai BI perlu terus menegaskan konsistensi arah kebijakan, kecukupan cadangan devisa, serta efektivitas instrumen stabilisasi yang dimiliki agar pelemahan rupiah tidak memicu lonjakan inflasi maupun mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Pasar Nantikan Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter

Menurut Ibrahim, kondisi pasar keuangan saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia, tetapi juga sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.

Ia menilai pasar membutuhkan kepastian bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas pemerintah dan bank sentral di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar, pemerintah juga dinilai perlu memastikan kebijakan fiskal tetap kredibel agar mampu mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Efisiensi anggaran, termasuk evaluasi belanja program prioritas seperti MBG, dipandang menjadi salah satu langkah yang dapat memperkuat ruang fiskal sekaligus menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pelaku pasar berharap tekanan terhadap rupiah dapat mereda sehingga stabilitas pasar keuangan tetap terjaga, inflasi terkendali, dan iklim investasi di Indonesia semakin kondusif.

Sumber :https://www.liputan6.com/bisnis/read/8011665/rupiah-menguat-efisiensi-anggaran-mbg-jadi-pendorong

BKI Dorong Kolaborasi untuk Tingkatkan Standar Industri Komponen Kapal

BKI Dorong Kolaborasi untuk Tingkatkan Standar Industri Komponen Kapal

Jakarta – Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) menggelar diskusi bisnis bertajuk “Optimalisasi Industri Pendukung Bersama PT PAL Indonesia”. Forum ini menjadi ajang untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku industri komponen kapal, PT PAL Indonesia, serta PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI dalam meningkatkan daya saing sektor maritim nasional.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh:

  • Kaharuddin Jenod — Direktur Utama PT PAL Indonesia
  • Tunggul Mahardi — Direktur IMATAP
  • Ekki Komaruddin — Ketua Umum PIKKI
  • Para pelaku industri pendukung maritim

Menurut Munir, peningkatan daya saing industri komponen kapal membutuhkan sinergi yang kuat antara pelaku industri, lembaga klasifikasi, pemerintah, dan pengguna akhir seperti PT PAL Indonesia.

“Melalui sinergi antara pelaku industri, lembaga klasifikasi seperti BKI, dan pemangku kepentingan pemerintah serta pengguna akhir seperti PT PAL, kita dapat menciptakan ekosistem yang memfasilitasi peningkatan kapasitas produksi, transfer teknologi, dan standarisasi mutu.”

BKI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis industri melalui penerapan standar klasifikasi yang transparan, efisien, serta berorientasi pada aspek keselamatan dan kualitas.

Selain itu, industri juga dinilai membutuhkan berbagai dukungan, antara lain:

  • Insentif inovasi
  • Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM)
  • Akses pembiayaan
  • Kemudahan masuk ke rantai pasok industri berskala besar

“PIKKI mempunyai peluang untuk menjadi motor penggerak transformasi industri komponen kapal menuju tingkat yang lebih tinggi. Mari kita manfaatkan momentum ini untuk berkolaborasi lebih erat,” tutup Munir.

Melalui forum tersebut, PIKKI, PT PAL Indonesia, dan BKI berharap lahir langkah-langkah konkret yang mampu memperkuat daya saing industri komponen kapal nasional sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian sektor maritim Indonesia.

Sumber : https://www.liputan6.com/bisnis/read/8012173/bki-dorong-industri-komponen-kapal-nasional-perkuat-daya-saing

Menyusun Neraca Saldo: Cek Keseimbangan Sebelum Bikin Laporan

Menyusun Neraca Saldo: Cek Keseimbangan Sebelum Bikin Laporan

Kediri – Udah bikin jurnal, udah posting ke buku besar. Terus ngapain? Sebelum bikin laporan laba rugi atau neraca, kamu wajib “ngecek” dulu.

Ngeceknya pakai Neraca Saldo. Anggap aja ini hasil print mutasi semua rekening tabungan kamu dalam 1 halaman. Kalau nggak seimbang, berarti ada yang salah catat.

1. Neraca Saldo Itu Apa?

Neraca Saldo / Trial Balance = daftar semua akun beserta saldo akhirnya dari buku besar.

Tujuannya cuma 1: Memastikan Total Debit = Total Kredit.

Kalau seimbang, berarti proses nyatet jurnal + posting kamu bener. Kalau nggak seimbang, stop dulu. Jangan lanjut bikin laporan sebelum ketemu salahnya.

2. Format Neraca Saldo

Bentuknya tabel simpel 4 kolom:

No Akun Nama Akun Debit Kredit
101 Kas Rp1.300.000
112 Piutang Usaha Rp500.000
123 Peralatan Rp3.000.000
201 Utang Usaha Rp3.000.000
301 Modal Disetor Rp1.000.000
401 Pendapatan Jasa Rp1.500.000
501 Beban Gaji Rp700.000
Total Rp5.500.000 Rp5.500.000

Lihat baris Total paling bawah. Debit Rp5.500.000 = Kredit Rp5.500.000. Artinya seimbang. Aman.

3. 4 Langkah Menyusun Neraca Saldo

Langkah 1: Buka Semua Buku Besar

Ambil semua akun yang udah kamu punya: Kas, Piutang, Utang, Modal, Pendapatan, Beban, dll. Kalau pakai Excel, tinggal buka semua sheet-nya.

Langkah 2: Salin Saldo Akhir Tiap Akun

Ingat rumus DEAL GIRL:

  • DEA = Debit → Harta, Beban, Prive → Saldonya normal di Debit
  • GIRL = Kredit → Utang, Modal, Pendapatan → Saldonya normal di Kredit

Contoh:

  1. Saldo Kas Rp1.300.000 Debit → Masuk kolom Debit
  2. Saldo Utang Usaha Rp3.000.000 Kredit → Masuk kolom Kredit
  3. Saldo Beban Gaji Rp700.000 Debit → Masuk kolom Debit

Jangan kebalik. Kas itu Harta, jadi saldonya Debit. Kalau kamu masukin ke Kredit, auto nggak seimbang.

Langkah 3: Jumlahkan Kolom Debit dan Kredit

Pakai kalkulator. Totalin semua angka di kolom Debit. Terus totalin semua angka di kolom Kredit.

Langkah 4: Bandingkan. Seimbang Nggak?

Kalau Total Debit = Total Kredit → Selamat. Neraca saldo kamu seimbang. Lanjut bikin laporan keuangan.

Kalau Total Debit ≠ Total Kredit → Ada yang salah. Jangan panik. Cek 3 hal ini:

4. Kalau Nggak Seimbang, Cek 3 Hal Ini Dulu

  1. Salah jumlah: Itung ulang pakai kalkulator. 90% kasus cuma salah pencet.
  2. Lupa posting 1 akun: Cek jurnal umum. Ada transaksi yang belum dipindah ke buku besar nggak?
  3. Salah taruh Debit/Kredit: Balik ke buku besar. Saldo Kas kok kamu taruh di Kredit? Itu salah. Harta saldonya Debit.

Tips: Selisihnya dibagi 2. Kalau hasilnya angka bulet yang ada di jurnal, berarti kamu salah posting Debit jadi Kredit atau sebaliknya.

Contoh: Selisih Rp1.000.000. Dibagi 2 = Rp500.000. Cek jurnal, ada transaksi Rp500.000 nggak? Kalau ada, berarti itu yang kebalik.

5. Neraca Saldo Seimbang ≠ Pasti 100% Bener

Ini penting. Neraca saldo seimbang cuma buktiin debit-kreditnya sama. Tapi nggak bisa deteksi kalau kamu:

  1. Lupa nyatet 1 transaksi: Debit-Kreditnya nggak masuk sama sekali. Ya tetap seimbang.
  2. Salah nama akun: Harusnya Beban Listrik, malah dicatat Beban Air. Jumlahnya sama, tapi salah akun.
  3. Salah jumlah tapi dobel: Debit harusnya Rp200rb, dicatat Rp2jt. Kreditnya juga Rp2jt. Seimbang, tapi angkanya salah.

Jadi neraca saldo itu “pintu pertama”. Kalau udah seimbang, baru aman lanjut.

Kesimpulan

Neraca Saldo = alat cek terakhir sebelum bikin laporan. Isinya cuma mindahin saldo akhir semua akun terus diadu: Debit vs Kredit.

Memindahkan Jurnal ke Buku Besar: Langkah Demi Langkah

Memindahkan Jurnal ke Buku Besar: Langkah Demi Langkah

Kediri – Kalau jurnal umum itu buku harian, maka buku besar itu buku tabungan per akun.

Di jurnal, semua transaksi campur aduk urut tanggal. Di buku besar, transaksi dipisah-pisah: Kas ngumpul sama Kas, Beban Gaji ngumpul sama Beban Gaji.

Proses mindahin dari jurnal ke buku besar namanya “posting”. Ini langkah wajib sebelum kamu bisa bikin laporan keuangan.

1. Apa Bedanya Jurnal Umum vs Buku Besar?

Jurnal Umum Buku Besar
Catat urut tanggal Catat per akun
Semua akun campur 1 akun = 1 halaman/kartu
Belum tahu saldo tiap akun Bisa lihat saldo tiap akun
Kayak struk belanja Kayak mutasi rekening

Jadi kalau mau tau “Saldo Kas sekarang berapa?”, kamu ceknya di Buku Besar Kas, bukan di Jurnal.

2. Bentuk Buku Besar: Pakai Bentuk T atau 3 Kolom

Paling gampang buat pemula pakai Bentuk T atau Bentuk 3 Kolom.

Bentuk T / T-Account

Nama Akun: Kas

Debit Kredit
Rp500.000 Rp200.000
Rp1.000.000

Saldo Kas = Total Debit – Total Kredit = Rp1.500.000 – Rp200.000 = Rp1.300.000 Debit

Bentuk 3 Kolom – Lebih Rapi Buat Laporan

Nama Akun: Kas | No. Akun: 101

Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit Saldo Debit Saldo Kredit
1 Jun 2026 Saldo Awal Rp1.000.000
27 Jun 2026 Pendapatan Jasa JU-1 Rp500.000 Rp1.500.000
28 Jun 2026 Beban Listrik JU-2 Rp200.000 Rp1.300.000

3. 3 Langkah Posting dari Jurnal ke Buku Besar

Kita pakai contoh jurnal dari blog 3 ya:

Jurnal 27 Juni 2026

Keterangan Debit Kredit
Kas Rp500.000
Pendapatan Jasa Rp500.000

Langkah 1: Buka Buku Besar untuk Setiap Akun yang Ada di Jurnal

Di jurnal ada Kas dan Pendapatan Jasa. Berarti kamu buka 2 buku besar:

  1. Buku Besar Kas
  2. Buku Besar Pendapatan Jasa

Kalau akunnya belum ada, buat baru. Kasih nomor akun biar rapi. Contoh Kas = 101, Pendapatan Jasa = 401.

Langkah 2: Pindahkan / Posting Angkanya

Aturannya gampang:

  1. Kalau di jurnal akunnya Debit → di buku besar catat di kolom Debit
  2. Kalau di jurnal akunnya Kredit → di buku besar catat di kolom Kredit

Posting ke Buku Besar Kas:

Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit Saldo
27 Jun 2026 Pendapatan Jasa JU-1 Rp500.000 Rp500.000 D

Posting ke Buku Besar Pendapatan Jasa:

Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit Saldo
27 Jun 2026 Kas JU-1 Rp500.000 Rp500.000 K

Lihat kolom “Keterangan”? Diisi lawan akunnya. Ini biar kamu tau uang Rp500rb di Kas itu asalnya dari Pendapatan Jasa. Kolom “Ref” diisi nomor halaman jurnal, misal JU-1 = Jurnal Umum hal 1.

Langkah 3: Hitung Saldo Akhir Tiap Akun

Setelah semua jurnal bulan Juni diposting, totalin debit dan kredit di tiap akun.

  • Kalau total Debit > Kredit → Saldo Debit
  • Kalau total Kredit > Debit → Saldo Kredit

Contoh saldo akhir Kas = Rp1.300.000 Debit. Artinya sisa uang tunai kamu segitu.

4. Contoh Kasus Lengkap 1 Hari

Misal tanggal 28 Juni ada 2 transaksi:

Jurnal 28 Juni 2026:

  1. Bayar Beban Listrik Rp200.000 tunai
  2. Terima pelunasan Piutang dari Pak Budi Rp1.000.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
28 Jun Beban Listrik Rp200.000
Kas Rp200.000
28 Jun Kas Rp1.000.000
Piutang Usaha Rp1.000.000

Hasil posting ke Buku Besar Kas:

Tanggal Keterangan Debit Kredit Saldo
27 Jun Pendapatan Jasa Rp500.000 Rp500.000 D
28 Jun Beban Listrik Rp200.000 Rp300.000 D
28 Jun Piutang Usaha Rp1.000.000 Rp1.300.000 D

Jadi saldo Kas akhir 28 Juni = Rp1.300.000. Gampang kan kalau udah dipisah?

5. 3 Kesalahan Posting yang Sering Terjadi

  1. Salah kolom: Di jurnal Debit, eh diposting ke Kredit. Solusi: pakai penggaris pas nyalin.
  2. Lupa posting 1 akun: Jurnal ada 2 baris, yang diposting cuma 1. Solusi: centang di jurnal kalau udah diposting.
  3. Salah hitung saldo: Buru-buru ngitung. Solusi: pakai kalkulator, cek 2x.

Kesimpulan

Posting itu intinya mindahin data biar rapi:

  1. Buka buku besar untuk tiap akun di jurnal
  2. Salin angka: Debit ke Debit, Kredit ke Kredit
  3. Tulis keterangan lawan akunnya + nomor referensi
  4. Hitung saldo akhir