Pelajari Hukum dan Hadis Larangan Mencela Makanan dalam Islam, Lengkap dengan Alasannya

Pelajari Hukum dan Hadis Larangan Mencela Makanan dalam Islam, Lengkap dengan Alasannya

Tidak semua makanan yang tersaji di hadapan kita selalu sesuai dengan selera.

Meski begitu, Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang Muslim tetap menjaga lisannya dan tidak mencela makanan yang disajikan.

Sikap inilah yang menjadi salah satu bentuk adab dalam Islam ketika menikmati rezeki dari Allah SWT.

Di samping itu, anjuran untuk tidak mencela makanan sendiri juga pernah disebutkan dalam sebuah hadis sahih.

Hadis Rasulullah SAW tentang Larangan Mencela Makanan

Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik dalam bersikap saat menikmati hidangan. Beliau tidak pernah mengeluhkan atau merendahkan makanan yang disajikan di hadapannya.

Hal ini dijelaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dan disepakati kesahihannya (muttafaq ‘alaih):

مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Latin: Maa ‘aaba Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallama tha’aaman qaththu. Inisytahaahu akalahu, wa in karihahu tarakahu.

Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lewat hadis ini, Rasulullah mengajarkan sikap yang sederhana dengan tidak melanjutkan makan hidangan yang tidak disukainya, alih-alih mencela hidangan tersebut.

Mengapa Islam Melarang Mencela Makanan?

1. Bentuk Kufur Nikmat dan Kesombongan

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa mencela makanan bisa menjadi tanda kurang bersyukur atas rezeki yang telah Allah SWT berikan.

Sikap seperti ini juga mencerminkan kesombongan karena meremehkan nikmat yang sebenarnya harus disyukuri.

2. Menjaga Perasaan Orang yang Memasak

Setiap hidangan pada dasarnya dibuat dengan waktu, tenaga, dan usaha.

Karena itu, komentar seperti “tidak enak” atau “gagal masaknya” bisa melukai perasaan orang yang telah memasaknya, baik itu pasangan, anggota keluarga, maupun tuan rumah yang sedang menjamu tamu.

3. Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Ada sebuah kisah yang cukup terkenal ketika Rasulullah SAW menerima hadiah berupa buah jeruk.

Setelah dicicipi, ternyata rasanya sangat asam. Namun, beliau tetap memakannya sendiri hingga habis.

Ketika para sahabat bertanya mengapa buah itu tidak dibagikan, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa beliau khawatir para sahabat akan menunjukkan ekspresi tidak suka.

Hal itu dikhawatirkan membuat orang yang memberi hadiah merasa sedih atau kecewa.

Kisah ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW sangat menjaga perasaan orang lain, bahkan dalam hal yang terlihat sederhana.

Apa Bedanya Mencela Makanan dan Memberikan Kritikan?

Tidak semua komentar tentang makanan termasuk mencela.

Para ulama menjelaskan adanya perbedaan antara celaan dan masukan yang bertujuan memperbaiki.

Berikut adalah penjelasan selengkapnya:

Contoh Celaan yang Dilarang

Dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ucapan seperti “terlalu asin”, “hambar”, “masih keras”, atau “belum matang” bisa termasuk celaan apabila diucapkan dengan maksud merendahkan makanan.

Kritik yang Diperbolehkan

Berbeda halnya jika komentar tersebut disampaikan sebagai masukan yang baik.

Dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin dijelaskan bahwa memberikan evaluasi untuk memperbaiki masakan diperbolehkan.

Misalnya, seseorang berkata, “Masakan hari ini agak terlalu banyak garamnya. Mungkin lebih baik jika sedikit dikurangi takarannya”

Jika disampaikan dengan sopan dan bertujuan memperbaiki hasil masakan di kemudian hari, ucapan seperti ini tidak termasuk mencela.

Sumber : https://mozaik.inilah.com/dakwah/pelajari-hukum-dan-hadis-larangan-mencela-makanan-dalam-islam-lengkap-dengan-alasannya