Bukan Bulan Sial, Mari Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram

Bukan Bulan Sial, Mari Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram

YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Royan Utsani mengajak umat Islam menjadikan bulan Muharam sebagai momentum memperbaiki diri. Menurutnya, Muharam merupakan bulan mulia yang sarat dengan pelajaran sejarah dan keutamaan ibadah.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kajian Kitab Riyādhuṣ Ṣāliḥīn di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (25/06).

Memasuki pembahasan tentang Muharam, Royan meluruskan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat, khususnya mitos Jawa yang menganggap bulan Sura sebagai waktu yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan.

Menurutnya, keyakinan tersebut bertentangan dengan syariat Islam karena Muharam justru merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah.

“Kadang-kadang mitos dan syariat itu tidak bertemu. Padahal Muharam adalah bulan yang baik dan penuh pahala,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah memang diawali dengan bulan Muharam meskipun hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah menuju Madinah berlangsung mulai bulan Safar dan tiba di Madinah pada Rabiulawal.

Menurut Royan, Muharam dipilih sebagai awal kalender Hijriah karena menjadi masa persiapan hijrah. Ia mengibaratkannya seperti membangun rumah yang diawali dengan menyiapkan pondasi sebelum bangunan benar-benar berdiri.

“Dalam hidup itu perlu perencanaan. Hijrah mengajarkan pentingnya planning sebelum melangkah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi simbol perjuangan hidup seorang Muslim.

“Hidup itu adalah perjuangan. Seorang Muslim akan terus berjuang hingga kedua kakinya masuk ke dalam surga.”

Peristiwa Penting di Bulan Muharam

Royan menjelaskan bahwa Muharam menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi.

Di antaranya adalah keselamatan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun yang terjadi pada tanggal 10 Muharam atau hari Asyura. Peristiwa inilah yang menjadi dasar disyariatkannya puasa Asyura.

Ia mengisahkan bahwa ketika Rasulullah saw. melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut, beliau menjelaskan bahwa umat Islam lebih berhak menghormati Nabi Musa. Karena itu, Rasulullah menganjurkan berpuasa pada tanggal 10 Muharam dan berniat menambah puasa pada tanggal 9 Muharam (Tasua) agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi.

Selain kisah Nabi Musa, Royan juga menyinggung beberapa riwayat yang mengaitkan bulan Muharam dengan diterimanya tobat Nabi Adam a.s., keselamatan Nabi Nuh a.s. setelah banjir besar, serta kisah Nabi Yunus yang diselamatkan Allah setelah berdoa di dalam perut ikan.

Menurutnya, seluruh kisah tersebut mengandung pesan bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bersabar, dan terus berzikir kepada-Nya.

Perbanyak Puasa Sunnah di Bulan Muharam

Royan menjelaskan bahwa Muharam merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah sebagaimana firman-Nya dalam QS. at-Taubah ayat 36.

Ia juga mengutip sabda Rasulullah saw.:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharam.” (HR. Muslim)

Menurutnya, penyebutan Muharam sebagai Syahrullah (bulan Allah) menunjukkan kemuliaan bulan tersebut sehingga umat Islam hendaknya memperbanyak ibadah.

Ia mengingatkan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu.

Sebagai penutup, Royan mengajak jamaah memanfaatkan momentum Muharam untuk memperbanyak puasa sunah, zikir, menuntut ilmu, serta melakukan berbagai amal saleh sebagai bekal memperbaiki kualitas keimanan.

“Semoga kita semua mampu memaksimalkan bulan Muharam dengan amal-amal terbaik dan memperoleh pahala yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya.

sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/06/bukan-bulan-sial-mari-perbanyak-puasa-sunah-di-bulan-muharram/