Daftar Penyakit Katastropik Sedot Anggaran BPJS Terbesar Sepanjang 2025, Jantung Nomor 1

Daftar Penyakit Katastropik Sedot Anggaran BPJS Terbesar Sepanjang 2025, Jantung Nomor 1

Jakarta – Beban jaminan kesehatan nasional yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan terus mengalami tren peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru, sepanjang tahun 2025, angka pengeluaran biaya untuk pelayanan kesehatan masyarakat melesat hingga mencapai Rp 191,33 triliun. Angka ini mengalami kenaikan sebesar Rp 15,2 triliun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 176,11 triliun. Lonjakan ini mencerminkan bahwa skala perlindungan kesehatan yang diakses oleh rakyat kian meluas.
Namun, di sisi lain, situasi ini memberikan tantangan besar pada aspek sustainability atau keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tercatat, rasio klaim BPJS Kesehatan pada tahun 2025 telah menyentuh angka 108,27 persen, yang berarti beban jaminan kesehatan terpantau lebih besar pasak daripada tiang dibanding pendapatan iuran yang diterima. Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan bahwa seiring dengan peningkatan biaya tersebut, cakupan kepesertaan masyarakat juga tumbuh luar biasa hingga menjelang akhir tahun.

“Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta JKN telah mencapai 282,7 juta jiwa atau mencakup 98,62 persen dari total seluruh penduduk Indonesia,” jelas Pujo dalam agenda BPJS Kesehatan, Kamis (2/7/2026).

Penyakit Katastropik Sedot Anggaran Hingga Rp 50,3 Triliun

Salah satu faktor terbesar yang menyedot anggaran pelayanan kesehatan ini adalah kelompok penyakit katastropik atau penyakit yang membutuhkan perawatan medis jangka panjang dan berbiaya tinggi. Sepanjang tahun 2025, penyakit katastropik menyerap sekitar 26,28% hingga 26,42% dari total seluruh biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan, dengan akumulasi biaya menyentuh Rp 50,3 triliun dari total 59,9 jutaan kasus. Pujo menyayangkan tingginya angka kasus penyakit berbiaya mahal ini, mengingat sebagian besar dari jenis penyakit tersebut sebenarnya masih bisa diantisipasi sejak dini. “Penyakit katastropik ini sebagian besar sebenarnya bisa dicegah melalui penerapan pola hidup sehat dan deteksi dini,” imbau Pujo. Secara rinci, berikut adalah daftar penyakit katastropik yang menjadi beban pembiayaan BPJS Kesehatan sepanjang tahun 2025:

  1. Jantung: Menduduki posisi pertama dengan jumlah kasus fantastis mencapai 29,7 jutaan kasus dengan total biaya Rp 17,3 triliun.
  2. Gagal Ginjal: Mengikuti di posisi kedua dengan 12,6 jutaan kasus yang menelan biaya sebes Rp 13,3 triliun.
  3. Kanker: Menempati posisi ketiga dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 10,3 triliun dari total 7,1 jutaan kasus yang ditangani.
  4. Stroke: Berada di posisi keempat dengan menyerap anggaran sebesar Rp 7,2 triliun dari total sebaran 9,5 jutaan kasus.
  5. Hemofilia: Mencatat total 84,8 ribuan kasus sepanjang tahun dengan penyerapan biaya sebesar Rp 909,6 miliar.
  6. Thalassemia: Menyerap anggaran jaminan kesehatan sebesar Rp 852,7 miliar dengan total sebaran 398,1 ribuan kasus.
  7. Sirosis Hati: Menangani total 311,3 ribuan kasus dengan alokasi pembiayaan sebesar Rp 278,1 miliar.

Sumber : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8556594/daftar-penyakit-katastropik-sedot-anggaran-bpjs-terbesar-sepanjang-2025-jantung-nomor-1

MINDSET CERDAS SAAT MENGHADAPI MASALAH

MINDSET CERDAS SAAT MENGHADAPI MASALAH

Kediri – Masalah adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Setiap orang, tanpa terkecuali, pasti pernah menghadapi tantangan, tekanan, maupun situasi sulit. Kehadiran masalah bukan selalu sesuatu yang buruk, karena sering kali masalah menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami, diperbaiki, atau diputuskan dengan lebih bijak.

Cara seseorang menghadapi masalah sering kali menentukan kualitas keputusan yang diambil. Dengan mindset yang tepat, masalah tidak hanya menjadi beban, tetapi juga bisa menjadi sarana pembelajaran dan pendewasaan diri.

Kembali kepada Allah

Saat menghadapi masalah, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah kembali kepada Allah. Mendekatkan diri melalui doa dan shalat sunnah dapat membantu menenangkan hati sekaligus menguatkan mental.

Ingatlah bahwa sabar adalah kunci. Setiap masalah yang datang adalah ujian yang memiliki tujuan, dan setiap ujian selalu membawa pelajaran bagi orang yang mau mengambil hikmahnya.

Cari Solusi dengan Kepala Dingin, Bukan Emosi

Ketika emosi menguasai, keputusan yang diambil sering kali terburu-buru dan kurang tepat. Karena itu, penting untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mengambil langkah.

Pahami inti masalahnya, lihat dari berbagai sudut pandang, lalu pilih solusi yang paling bijak. Masalah akan jauh lebih mudah diselesaikan ketika pikiran berada dalam keadaan tenang dan jernih.

Evaluasi Diri

Tidak semua masalah datang dari faktor luar. Ada kalanya masalah muncul karena kesalahan atau kekurangan dalam diri sendiri yang belum disadari.

Melalui evaluasi diri, kita dapat memahami bagian mana yang perlu diperbaiki. Sikap ini membantu kita menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijak, dan tidak mudah mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Diskusikan dengan Rekan atau Atasan

Terkadang masalah terasa berat karena kita mencoba memikul semuanya sendirian. Dalam situasi seperti ini, berdiskusi dengan rekan kerja atau atasan bisa menjadi langkah yang sangat membantu.

Masukan dari orang lain sering kali membuka sudut pandang baru yang sebelumnya tidak kita pikirkan. Dengan diskusi yang baik, peluang menemukan jalan keluar yang tepat akan semakin besar.

Yakin Bahwa Setiap Masalah Pasti Ada Hikmah dan Jalan Keluarnya

Setiap masalah pasti membawa hikmah, meskipun terkadang kita belum langsung memahaminya. Karena itu, tetaplah yakin, terus berdoa, dan jangan kehilangan harapan.

Percayalah bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya. Tidak ada keadaan sulit yang berlangsung selamanya, dan selalu ada jalan keluar bagi mereka yang bersabar dan berusaha.

Orang cerdas bukanlah orang yang tidak pernah memiliki masalah. Orang cerdas adalah mereka yang mampu tetap tenang, berpikir jernih, dan mengambil keputusan dengan bijak saat masalah datang.

Sumber : https://www.instagram.com/p/DaMscDtgDpE/?img_index=1

Keunggulan Pemupukan Foliar untuk Pertumbuhan Tanaman yang Lebih Optimal

Keunggulan Pemupukan Foliar untuk Pertumbuhan Tanaman yang Lebih Optimal

Kediri – Dalam dunia pertanian modern, pemenuhan nutrisi tanaman menjadi salah satu faktor utama yang menentukan hasil panen. Salah satu metode pemupukan yang semakin banyak digunakan adalah pemupukan foliar, yaitu metode pemberian nutrisi melalui daun.

Berbeda dengan pemupukan konvensional yang mengandalkan penyerapan melalui akar, pemupukan foliar memungkinkan unsur hara masuk langsung ke jaringan tanaman melalui permukaan daun. Metode ini dinilai efektif untuk membantu tanaman mendapatkan nutrisi secara lebih cepat dan efisien.

Mengapa Pemupukan Foliar Efektif?

  1. Penyerapan Nutrisi Lebih CepatSalah satu keunggulan utama pemupukan foliar adalah kecepatan penyerapan nutrisi. Saat pupuk disemprotkan ke daun, unsur hara dapat langsung diserap melalui jaringan daun.

    Hal ini membuat tanaman mampu merespons lebih cepat, terutama ketika membutuhkan tambahan nutrisi dalam waktu singkat, seperti pada fase pertumbuhan aktif, pembungaan, atau pembentukan buah.

  2. Efektif Saat Kondisi Tanah Kurang Subur atau Akar TergangguTidak semua lahan memiliki kondisi tanah yang ideal. Pada beberapa kondisi, tanah yang kurang subur, pH yang tidak seimbang, atau akar tanaman yang terganggu dapat menghambat penyerapan nutrisi dari tanah.

    Pemupukan foliar menjadi solusi yang efektif karena nutrisi tidak perlu melewati akar terlebih dahulu. Dengan pemberian melalui daun, tanaman tetap bisa memperoleh unsur hara penting meskipun kondisi media tanam kurang optimal.

  3. Lebih Hemat dan Tepat SasaranKeunggulan lainnya adalah penggunaan pupuk yang lebih efisien. Nutrisi dapat langsung diarahkan ke bagian tanaman yang membutuhkan, sehingga mengurangi potensi kehilangan unsur hara akibat penguapan atau pencucian oleh air.

    Dengan dosis yang tepat, pemupukan foliar dapat membantu petani mengoptimalkan penggunaan pupuk sekaligus menjaga efisiensi biaya.

Optimalkan Hasil dengan Nutrisi yang Tepat

Pemupukan foliar dapat menjadi strategi efektif untuk mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat, kuat, dan produktif. Namun, hasil yang optimal juga dipengaruhi oleh kualitas pupuk yang digunakan.

Untuk mendukung kebutuhan nutrisi tanaman secara maksimal, gunakan pupuk cair AGRONIK sebagai solusi pemupukan yang praktis dan efektif.

AGRONIK — Nutrisi Tepat untuk Hasil yang Hebat

By: PT. Dyriz Indonesia

Sumber : https://www.instagram.com/p/DZ9fZMFD-bi/?img_index=1

Investasi Asing di Indonesia Tetap Tangguh

Investasi Asing di Indonesia Tetap Tangguh

TVRINews – Jakarta

Realisasi Penanaman Modal Asing mencapai Rp250 triliun pada kuartal pertama 2026, membuktikan ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.

Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dunia, Indonesia mencatatkan performa investasi yang solid pada awal tahun ini.

Data terbaru dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa kepercayaan investor mancanegara tetap kuat, dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) menyentuh angka Rp250 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026.

Angka tersebut merepresentasikan lebih dari separuh, tepatnya 50,1 persen, dari total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp498,8 triliun pada triwulan pertama. Capaian ini sekaligus memperpanjang tren pertumbuhan investasi asing yang konsisten dalam lima tahun terakhir.

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriandi, menekankan bahwa investasi langsung (FDI) merupakan indikator yang lebih mencerminkan keyakinan jangka panjang dibandingkan volatilitas pasar keuangan.

Juru Bicara Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Dendy Apriand (Foto: Bakom RI)

“Menarik investasi bukanlah pekerjaan yang mudah di tengah situasi geopolitik global saat ini. Data menunjukkan investor asing tetap tertarik berinvestasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari realisasi investasi yang terus tumbuh,” ujar Dendy dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu 1 Juli 2026

Dalam analisis data historis yang dirilis kementerian, pertumbuhan PMA menunjukkan kenaikan bertahap: dari Rp147,2 triliun pada kuartal pertama 2022, hingga mencapai angka Rp250 triliun di kuartal pertama 2026.

Sejumlah negara tercatat sebagai kontributor utama, dengan Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang menempati posisi lima besar asal investasi.

Selain nilai nominal, pemerintah menyoroti dampak ekonomi riil yang dihasilkan dari aliran modal tersebut. Sektor-sektor strategis yang menjadi fokus hilirisasi dinilai mampu menciptakan nilai tambah sekaligus menggerakkan roda ekonomi domestik.

Dampak nyata bagi sektor ketenagakerjaan juga cukup signifikan. Berdasarkan laporan kementerian, realisasi investasi pada kuartal pertama tahun ini berhasil menyerap 706.569 tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.

Menghadapi tantangan global ke depan, Dendy menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membenahi ekosistem investasi melalui penyederhanaan birokrasi perizinan dan penguatan regulasi hilirisasi.

“Investasi hari ini menentukan masa depan generasi selanjutnya. Karena itu, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang semakin ramah bagi investor agar investasi terus tumbuh dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Dendy.

Stabilitas arus investasi ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi Indonesia tahun 2026, di tengah upaya pemerintah mempertahankan daya saing di pasar internasional melalui agenda hilirisasi yang berkelanjutan.

Sumber : https://nasional.tvrinews.com/berita/twgsayy-investasi-asing-di-indonesia-tetap-tangguh

Pertamina Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Hari Ini

Pertamina Turunkan Harga BBM Non-Subsidi Hari Ini

PT Pertamina Patra Niaga resmi memberlakukan penyesuaian harga untuk sejumlah produk bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di seluruh Indonesia mulai Rabu 1 Juli 2026, Diantaranya mencakup penurunan signifikan pada harga produk bensin RON 98 serta varian diesel berkualitas tinggi.

Berdasarkan data terbaru di SPBU wilayah Jakarta, Pertamax Turbo kini dipatok pada harga Rp 19.300 per liter, turun sebesar Rp 1.450 dari periode sebelumnya.

Penurunan lebih tajam terjadi pada produk diesel; Pertamina Dex kini dijual seharga Rp 21.150 per liter, sementara harga Dexlite terkoreksi menjadi Rp 19.700 per liter.

Di sisi lain, perusahaan memutuskan untuk mempertahankan harga produk BBM lainnya. Pertamax (RON 92) tetap stabil di angka Rp 16.250 per liter, dan Pertamax Green 95 di angka Rp 17.000 per liter.

Begitu pula dengan bahan bakar bersubsidi, yaitu Pertalite dan Solar, yang harganya tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap di angka Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter.

Tidak hanya sektor otomotif darat, penyesuaian harga juga menyentuh bahan bakar penerbangan. Harga Avtur di Bandara Internasional Soekarno-Hatta kini tercatat sebesar Rp 19.190 per liter, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 22.190 per liter.

Pada laman resmi Pertamina Rabu 1 juli 2026 menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari prosedur rutin perusahaan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan fluktuasi harga komoditas minyak mentah di pasar global serta keselarasan dengan regulasi pemerintah yang berlaku.

Kebijakan ini mencerminkan dinamika pasar energi global yang belakangan menunjukkan tren positif bagi konsumen domestik, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas biaya operasional transportasi dan logistik di Indonesia.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tn7le8p-pertamina-turunkan-harga-bbm-non-subsidi-hari-ini

Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Luncurkan Skema Pembiayaan Baru UMKM

Pemerintah Indonesia resmi memperkenalkan skema pembiayaan baru yang menyasar pelaku usaha mikro perempuan guna memperluas akses permodalan yang lebih terjangkau, sebagai upaya strategis untuk mengakselerasi inklusi keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata hingga ke level akar rumput.

Hingga 28 Juni 2026, total realisasi penyaluran Kredit Program nasional telah mencapai Rp167,97 triliun, atau merepresentasikan 49,20 persen dari target tahunan sebesar Rp341,39 triliun.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi motor utama dengan kontribusi Rp147,70 triliun yang tersalurkan kepada 2,32 juta debitur, dengan tingkat rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga di angka 2,39 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menyempurnakan ekosistem pembiayaan agar lebih inklusif dan tepat sasaran.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa pemerintah berupaya memastikan pelaku usaha memiliki daya saing yang lebih baik melalui akses modal yang terjangkau.

“Pemerintah tidak hanya memastikan akses pembiayaan bagi UMKM tetap tersedia, tetapi juga terus menyempurnakan berbagai skema Kredit Program agar semakin tepat sasaran, lebih inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha di berbagai sektor.

Melalui penguatan Kredit Program, kita ingin mendorong semakin banyak masyarakat yang naik kelas dan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usahanya,” ujar Haryo dalam keterangan resminya.

Efisiensi Biaya bagi Pelaku Usaha Perempuan

Salah satu terobosan kunci dalam skema baru ini adalah transformasi pembiayaan bagi perempuan pelaku usaha mikro yang sebelumnya berada dalam ekosistem PNM Mekaar. Pemerintah memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga secara signifikan, dari kisaran 18–25 persen per tahun menjadi hanya 8 persen (flat) per tahun.

“Selama ini pembiayaan PNM Mekaar berada pada kisaran 18–25 persen. Melalui Kredit Program bagi perempuan pelaku usaha mikro, pemerintah menurunkan suku bunganya menjadi 8 persen (flat) per tahun sehingga ibu-ibu yang mau berusaha, yang sedang berusaha, dan yang pernah serta akan kembali berusaha dapat memperoleh pembiayaan yang jauh lebih terjangkau,” tambah Haryo.

Skema ini menawarkan plafon pembiayaan hingga Rp15 juta per debitur dengan masa pengembalian atau tenor antara 6 hingga 24 bulan. Kebijakan ini diharapkan mampu meringankan beban biaya modal bagi pelaku usaha mikro perempuan secara berkelanjutan.

Untuk memastikan keberlanjutan program ini, pemerintah telah menyiapkan dukungan fiskal berupa subsidi bunga atau subsidi marjin senilai Rp2,62 triliun sepanjang tahun 2026. Regulasi pendukung saat ini tengah dirampungkan guna memastikan implementasi di lapangan berjalan optimal, melengkapi ekosistem Kredit Program yang telah ada sebelumnya, yakni KUR, Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya, dan Kredit Program Perumahan.

Sumber : https://ekonomi.tvrinews.com/berita/tvb7a2u-pemerintah-luncurkan-skema-pembiayaan-baru-umkm

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kebanjiran Informasi Bikin Pengusaha Kehilangan Arah? Ini Solusi dari Eggy Adityawan (CEO Trisna Group)

Kediri – Di era digital saat ini, informasi berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Hanya dengan sekali klik, seorang pengusaha bisa mendapatkan ribuan strategi bisnis, tips pemasaran, hingga puluhan jadwal workshop. Namun, apakah melimpahnya informasi ini selalu berdampak baik? Nyatanya, tidak sedikit pelaku usaha yang justru merasa bingung, stres, bahkan kehilangan arah karena terjebak dalam information overload.

Dalam sebuah kesempatan, bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group, membagikan pandangannya yang sangat tajam mengenai fenomena ini. Beliau menceritakan sebuah realitas di lapangan yang sering dialami oleh para pengusaha hari ini.

Ketika “Banjir Ilmu” Justru Membawa Kebuntuan

bapak Eggy Adityawan menceritakan pengalaman salah satu rekannya yang enggan lagi mengikuti pelatihan bisnis.

“Ada teman saya coba kasih insight untuk ikut workshop, jawabnya: ‘Saya enggak mau ikut workshop-workshop lagi, karena antara satu workshop dengan workshop lain tuh keilmuannya berbeda’.”
Eggy Adityawan

Fenomena ini sangat sering terjadi. Ketika seorang pengusaha menelan semua informasi dan teori dari berbagai mentor tanpa filter, mereka akan menemukan kontradiksi. Mentor A menyarankan strategi X, sementara Mentor B menyarankan strategi Y. Akibatnya? Bukannya mengeksekusi bisnis, pengusaha justru mengalami analysis paralysis—lumpuh karena terlalu banyak berpikir dan bingung harus mulai dari mana.

Solusi Bukan Berhenti Belajar, tapi Mengasah Filter

Melihat kebingungan tersebut, bapak Eggy Adityawan menegaskan bahwa solusinya bukan dengan menutup diri dari ilmu baru. Menolak informasi dengan menganggap semua pelatihan itu sama saja atau menggeneralisasi bahwa semua informasi luar itu tidak berguna adalah sebuah kekeliruan besar.

Menurut beliau, seorang pengusaha sejati harus tetap mempertahankan mentalitas seorang murid. Namun, ada satu skill krusial yang wajib dimiliki di zaman sekarang: Kecerdasan Emosional (EQ) dalam memilah informasi.

Skill Abad 21: Pilih, Cacah, dan Sesuaikan dengan Goal

Kecerdasan emosional dalam konteks ini bukan sekadar mengatur emosi saat marah, melainkan kemampuan untuk tetap tenang, objektif, dan tidak impulsif di tengah gempuran informasi.

Berikut adalah langkah cerdas dalam mengelola informasi menurut pemimpin Trisna Group ini:

  • Tidak Menelan Mentah-mentah: Jangan langsung mempraktikkan setiap tren atau tips bisnis yang Anda dengar tanpa menganalisis situasinya terlebih dahulu.
  • Tidak Apatis: Jangan malas mencari tahu hanya karena merasa informasi terlalu banyak atau menganggap semua informasi itu bohong.
  • Mencacah dan Memilah: Ambil informasi, bedah isinya, dan saring bagian mana yang benar-benar relevan.
  • Fokus pada Goal: Ambil ilmu yang hanya sesuai dengan target atau tujuan besar (goal) bisnis Anda saat ini. Jika suatu informasi tidak mendukung goal Anda, singkirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi beban pikiran.

Kesimpulan: Menjadi Pembelajar yang Cerdas

Ilmu dan informasi adalah bahan bakar bagi pertumbuhan bisnis, tetapi kecerdasan emosional adalah kemudinya. Tanpa kemudi yang kuat, banyaknya informasi hanya akan membuat bisnis Anda berputar-putar di tempat tanpa arah yang jelas.

Pesan dari bapak Eggy Adityawan mengingatkan kita semua: Jadilah pembelajar yang baik, miliki kecerdasan emosional yang matang untuk menyaring informasi, dan pastikan setiap ilmu yang Anda ambil bekerja untuk mewujudkan goal bisnis Anda, bukan justru menghambatnya.

sumber : https://www.instagram.com/eggy_adityawan/reels/

Bijak AI Menurut Bapak Eggy Adityawan: Mengapa Penyalahgunaan Teknologi Bisa Menjadi “Investasi” Dosa Terbesar Kita?

Bijak AI Menurut Bapak Eggy Adityawan: Mengapa Penyalahgunaan Teknologi Bisa Menjadi “Investasi” Dosa Terbesar Kita?

Kediri – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Di satu sisi, AI mempermudah hidup kita. Namun di sisi lain, teknologi ini menyimpan sisi gelap yang mengerikan jika jatuh ke tangan yang salah.

Dalam sebuah diskusi daring, sebuah pandangan menarik dan mendalam datang dari bapak Eggy Adityawan, CEO Trisna Group, ketika ditanya mengenai fenomena penyalahgunaan AI. Jawabannya singkat, namun sangat menohok: “Takutlah kepada Allah.”

Mengapa urusan teknologi modern ini harus ditarik ke ranah spiritual dan etika yang mendalam? Jawabannya terletak pada dampak nyata yang dihasilkan dari penyalahgunaan tersebut.

Sisi Gelap AI: Dari Manipulasi hingga Fitnah Digital

Saat ini, kita sering melihat teknologi AI digunakan untuk memanipulasi konten digital (deepfake). bapak Eggy Adityawan menyoroti salah satu contoh yang paling sering terjadi: menggabungkan wajah seseorang dengan badan orang lain, atau merekayasa suara dan kalimat yang sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh korban.

Dalam konteks sosial dan bisnis, tindakan ini bukan sekadar “keisengan” atau kreativitas tanpa batas. Dampaknya sangat sistematis:

  • Fitnah Modern: Menyebarkan informasi palsu yang terlihat sangat nyata sehingga merusak reputasi seseorang.
  • Adu Domba: Membenturkan satu pihak dengan pihak lain melalui video atau rekaman suara rekayasa, yang memicu konflik sosial dan perpecahan.

Jebakan Akhirat: Bahaya Menumpuk Dosa Antar-Manusia

Hal paling krusial dari pandangan pemimpin Trisna Group ini adalah pengingat mengenai konsep pertanggungjawaban di akhirat. Dalam prinsip spiritual, dosa atau kesalahan dibagi menjadi dua ranah:

1. Urusan dengan Allah (Habluminallah): Ketika kita melanggar larangan-Nya, pintu tobat selalu terbuka lebar. Selama kita tulus memohon ampun, Allah Maha Pengampun.

2. Urusan dengan Manusia (Habluminannas): Ini adalah bagian yang paling rumit. Jika kita menyakiti, memfitnah, atau merugikan manusia lain, Allah tidak akan mengampuni dosa tersebut sebelum korban memaafkan kita secara langsung.

“Kalau urusan dengan Allah kita minta maaf Insya Allah diampuni, tapi kalau urusan manusia kita harus minta maaf secara langsung. Kalau enggak, gara-gara kita ada musuh satu orang, kita bisa habis di akhirat.”
Eggy Adityawan, CEO Trisna Group

Bayangkan skenario ini di era digital: sebuah video fitnah berbasis AI yang Anda buat atau Anda ikut sebarkan menjadi viral dan ditonton oleh jutaan orang. Berapa banyak manusia yang harus Anda temui satu per satu untuk dimintai maaf agar urusan akhirat Anda selesai?

Kesimpulan: Menjadikan AI sebagai Ladang Pahala, Bukan Dosa

Teknologi AI hanyalah sebuah alat. Menjadi bermanfaat atau membawa petaka, itu sepenuhnya tergantung pada siapa yang mengendalikannya.

Pesan dari bapak Eggy Adityawan adalah sebuah alarm pengingat yang sangat kuat bagi kita semua sebagai pengguna internet. Sebelum membuat, mengedit, atau menyebarkan sesuatu menggunakan AI, tanyakan pada diri sendiri: Apakah konten ini akan membawa berkah, atau justru menjadi investasi dosa jariyah yang akan menghabisi kita di akhirat kelak?

Mari lebih bijak dan takutlah kepada Allah dalam memanfaatkan teknologi digital.

sumber : https://www.instagram.com/eggy_adityawan/reels/

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Perbedaan Cinta dan Wala’ Dalam Islam

Arrahmah.id – Dalam menjelaskan tauhid, sering orang memakai kalimat tauhid ( لا إله إلا الله ) tak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah sebagai tolok ukur penjelasan. Kata disembah sama dengan diberi ibadah atau ubudiyah. Dan salah satu jenis ubudiyah adalah cinta.

Lalu lahirlah frasa “tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah” sebagai padanan frasa “tiada Tuhan kecuali Allah”. Frasa ini mudah dipahami oleh pendengar, tapi tidak akurat. Sebab jika penjelasan tauhid adalah tak ada yang boleh dicintai kecuali Allah, maka kita menjadi salah jika mencintai ibu, bapak, anak dan sebagainya. Padahal cinta kepada orang tua selain sebagai naluri manusia, ia juga bagian dari birrul walidain. Tentu ada yang salah di sini.

Pada sisi lain, wala’ dikampanyekan oleh kaum Liberal atau Pluralis agar tidak bersifat tunggal, tapi fleksibel. Jika ada Nasrani yang sedang Natal, dianjurkan mengucapkan selamat Natal. Jika salam, tak cukup dengan salam versi Islam, harus pula salam versi agama lain. Tindakan ini adalah refleksi wala’ yang ada di hati.

Begitu banyak simpang siur pemahaman soal cinta dan wala’. Karena itu, perlu ada penjelasan yang memadai terhadap kosa kata cinta dan wala’. Bagaimana menempatkan cinta dan wala’ dalam Islam. Apakah cinta sama dengan kesetiaan atau wala’ atau loyalitas? Jika beda, apa perbedaannya?

Cinta Itu Bisa Dibagi

Cinta adalah rasa suka yang ada di hati seseorang terhadap sesuatu. Kata yang paling sering dipakai adalah hubb ( حب ). Manusia punya potensi untuk mencintai banyak hal sekaligus. Misalnya, cinta terhadap rumah, mobil, uang dan sebagainya. Dalam mencintai sesama manusia juga bisa terjadi pada banyak orang. Seorang ayah bisa mencintai seluruh anaknya yang berjumlah 10 orang misalnya.

Demikian pula orang beriman. ia diminta mencintai banyak hal. Cinta terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur’an, As-Sunnah, Islam, Masjid, Sahabat Nabi saw dan sebagainya. Masing-masing dicintai meski dengan kadar cinta yang berbeda.

Rasulullah saw menggambarkan cintanya kepada beberapa orang:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ العَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلاَسِلِ، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: (عَائِشَةُ) ، فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ ، فَقَالَ: (أَبُوهَا)، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ( ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّاب )، فَعَدَّ رِجَالًا”. رواه البخاري في “صحيحه” (رقم/3662) ، ومسلم في “صحيحه” (رقم/2384) .

Amru bin Ash ra menuturkan bahwa Nabi saw mengutusnya dalam ekpedisi Dzat Salasil: Aku menemui Nabi saw, lalu aku tanya: Siapa orang yang paling Anda cintai ? Nabi saw: Aisyah. Aku: Siapa dari laki-laki? Nabi saw: Ayahnya. Aku: Lalu siapa? Nabi saw: Umar bin Khattab. Nabi saw meneruskan dengan menyebut nama-nama lain. (HR. Bukhari no. 3662 dan Muslim no. 2384)

Dalam hadits yang lain Nabi saw mengungkapkan cintanya kepada banyak hal:

قالَ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم (حُبّبَ إِلَيَّ مِنْ دنياكُمُ النّساءُ والطيبُ وجُعِلَتْ قرةُ عينِي في الصّلاةِ)

Rasulullah saw bersabda: Dijadikan hatiku mencintai beberapa hal dari duniamu: wanita dan parfum, dan dijadikan hatiku nyaman dengan shalat. (HR. Hakim)

Dua hadits ini cukup menjadi bukti bahwa di hati Nabi saw ada banyak cinta. Semuanya diungkapkan dengan kata hubb ( حب ). Sudah pasti Nabi saw cinta kepada Allah, Al-Qur’an, orang tua, kerabat, dan seterusnya. Selain itu, sebagaimana dalam dua hadits di atas, ditambah cinta terhadap Aisyah dan tentu saja istri-istrinya yang lain, Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan parfum.

Jika di hati Nabi saw sebagai panutan terdapat cinta yang bercabang terhadap banyak hal, tentu umatnya juga dibolehkan untuk memiliki cinta terhadap banyak hal. Selain bercabang, cinta juga memiliki prosentase masing-masing. Ketika Nabi saw ditanya, siapa orang yang paling dicintai, beliau menjawab: Aisyah. Berarti cinta Nabi saw terhadap Aisyah lebih besar dibanding cintanya terhadap orang lain, misalnya istri yang lain. Lalu cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar As-Shiddiq juga lebih besar dibanding cintanya terhadap Umar bin Khattab dan orang-orang lain.

Karena itu, cinta bisa diperbandingkan. Besar mana cinta Nabi saw terhadap Aisyah ra atau terhadap Ummu Salamah ra yang sama-sama istrinya? Jelas jawabannya: Aisyah ra. Demikian pula, besar mana cinta Nabi saw terhadap Abu Bakar ra atau Umar bin Khattab yang sama-sama sahabatnya? Jelas jawabannya: Abu Bakar.

Perbandingan cinta tak terbatas, bisa antara siapa saja dan apa saja. Tapi ujung dari semua itu, Allah harus ditempatkan sebagai yang paling dicintai, tak boleh dikalahkan oleh cinta terhadap siapapun dan apapun. Inilah makna firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ١٦٥ ( البقرة/2: 165)

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman cinta mereka paling hebat (tak ada tandingannya) kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal). (Al-Baqarah/2:165)

Ayat ini menerangkan bahwa cinta orang beriman paling besar kepada Allah dengan tanpa tandingan. Sementara cinta kaum musyrik terbagi, cinta kepada berhala-berhala pujaan mereka sama besarnya dengan cinta kepada Allah.

Jika kita kombinasikan antara ayat ini dan hadits Nabi saw di atas, diperoleh kesimpulan bahwa seorang mukmin tidak dilarang untuk mencintai selain Allah, seperti cinta terhadap wanita atau parfum. Atau cinta terhadap rumah, mobil, pekarangan, perhiasan dan sebagainya.

Cinta yang dilarang adalah memperbandingkan cinta kepada Allah dengan selain-Nya. Atau meletakkan cinta kepada selain Allah sama besarnya dengan cinta kepada Allah. Apalagi meletakkan cinta kepada selain Allah lebih besar dibanding cinta kepada Allah. Inilah makna dari ayat di bawah ini:

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٢٤ ( التوبة/9: 24)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (At-Taubah/9:24)

Jadi kita tidak dilarang mencintai selain Allah sepanjang tidak melanggar ketentuan cinta yang diatur dalam Islam. Satu hati bisa diisi dengan banyak cinta, dengan prosentase masing-masing sesuai arahan Islam. Cinta kepada satu hal tidak harus membatalkan cinta kepada yang lain. Cinta kepada Allah tak harus membatalkan cinta kepada parfum, wanita, mobil, rumah dan sebagainya, selagi tertata dengan benar.

Wala’ Itu Tunggal

Wala’ adalah kesetiaan atau loyalitas. Kesetiaan bisa berupa rasa dalam hati, bisa tindakan di luar hati, bisa juga kombinasi keduanya. Ini jika kita mengukur kesetiaan dengan kaca mata manusia. Tapi jika kesetiaan diukur menurut pandangan Allah, maka kesetiaan dalam hati wajib ada, lalu dibuktikan dengan kesetiaan lahir (luar hati).

Seorang prajurit pasti setia terhadap komandannya. Apapun perintahnya dia laksanakan. Jika kita mengukur kesetiaan sang prajurit, kita hanya bisa melihat aspek lahirnya, sebab kita tak bisa membaca hatinya. Seandainya hatinya benci terhadap sang komandan, sepanjang si prajurit tetap setia dan taat secara lahir, sudah cukup hal itu menjadi bukti kesetiaan. Berarti, manusia dalam mengukur kesetiaan (wala) manusia lain, hanya mengandalkan indikator lahir, tanpa batin.

Namun kesetiaan manusia jika diukur oleh Allah, karena Allah Maha Tahu isi hati manusia, maka Allah memasukkan dua aspek sekaligus, yaitu kesetiaan batin, dan kesetiaan lahir. Kesetiaan batin wujudnya adalah cinta dan kecondongan hati. Sementara kesetiaan lahir adalah tindakan non hati yang mencerminkan kesetiaan hati tersebut.

Berbeda dengan cinta, kesetiaan itu bersifat tunggal. Sebab orang hanya bisa setia pada satu pihak. Orang tidak mungkin melaksanakan perintah yang berbeda dari dua pihak pada waktu bersamaan. Ia harus memilih, melaksanakan perintah si A atau si B. Sementara cinta, ia bisa membaginya di saat bersamaan. Sebab cinta hanya rasa dalam hati, tak harus ada konsekwensi tindakan non hati.

Seseorang dimungkinkan punya cinta dalam hati kepada dua atau tiga klub sekaligus. Misalnya Barcelona, MU dan Juventus. Tapi saat dua klub yang sama-sama ia cintai itu bertanding – misalnya Barcelona vs MU bertemu di final piala Champion – tentu ia dipaksa oleh keadaan untuk memilih. Hatinya pasti muncul kecondongan klub mana yang lebih dia inginkan untuk menang. Cinta bisa diberikan terhadap lebih dari satu obyek, tapi kecondongan atau keperpihakan hati pasti hanya kepada satu obyek. Inilah perumpamaan antara cinta dengan wala’.

Inilah alasan mengapa wala’ dalam Al-Qur’an tak pernah diperbandingkan. Wala’ ditampilkan dalam diksi pembatasan. Simak ayat berikut:

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ ٥٥ ( الماۤئدة/5: 55)

Wala’mu (kesetiaanmu) itu hanyalah untuk Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah). (Al-Ma’idah/5:55)

Ayat ini dimulai dengan diksi ( إنما ) yang memiliki arti hanya atau cuma atau saja. Ikatan kesetiaan dibatasi hanya untuk Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Sementara orang beriman yang boleh diberi wala’ hanyalah yang berkarakter menegakkan shalat, menunaikan zakat dan selalu ruku atau tunduk kepada Allah.

Pembatasan pada tiga pihak ini tidak bersifat kontradiktif, sebab semuanya pada hakekatnya setia kepada obyek yang satu yaitu Allah. Ketesiaan kepada Rasul-Nya dan orang beriman hanya turunan dari kesetiaan kepada Allah, sebab Rasul-Nya dan orang beriman sama-sama memberikan kesetiaan kepada Allah.

Mari kita lihat pembandingnya di ayat yang lain.

بَشِّرِ الْمُنٰفِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًاۙ ١٣٨ ۨالَّذِيْنَ يَتَّخِذُوْنَ الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ اَيَبْتَغُوْنَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَاِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ ١٣٩ ( النساۤء/4: 138-139)

  1. Berilah kabar ‘gembira’ kepada orang-orang munafik bahwa sesungguhnya bagi mereka azab yang sangat pedih. 139. (Yaitu) orang-orang yang memberikan wala’ kepada orang-orang kafir dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah. (An-Nisa’/4:138-139)

Ayat ini menerangkan, orang munafiq dimurkai Allah karena memberikan wala’ kepada orang kafir dengan mengabaikan orang beriman. Inilah karakter wala’ yang bersifat tunggal tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Wala’ munafiq terhadap orang kafir bersifat meniadakan wala’nya terhadap orang beriman.

Karakter khas orang munafiq adalah menjaga hubungan kepada kedua pihak; mukmin dan kafir. Ia ingin dicitrakan berada di tengah. Moderat. Pluralis. Bhinekais. Liberalis. Humanis. Orang yang luwes dalam pergaulan dan kesetiaan. Kadang ke mukmin kadang ke kafir, tergantung kalkulasi keuntungan yang akan kembali pada dirinya.

Namun ayat ini membantah pencitraan yang dilakukan si munafiq itu. Jika ia memberikan wala’ kepada kafir, itu artinya membatalkan wala’ terhadap mukmin. Sebab tidak ada wala’ ganda. Inilah makna ayat di bawah ini:

مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ ۚوَمَا جَعَلَ اَزْوَاجَكُمُ الّٰـِٕۤيْ تُظٰهِرُوْنَ مِنْهُنَّ اُمَّهٰتِكُمْ ۚوَمَا جَعَلَ اَدْعِيَاۤءَكُمْ اَبْنَاۤءَكُمْۗ ذٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِاَفْوَاهِكُمْ ۗوَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ ٤ ( الاحزاب/33: 4)

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongga (dada)nya, Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia pun tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan sesuatu yang hak dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (Al-Ahzab/33:4)

Ayat ini berbicara tentang hubungan wala’ dalam keluarga. Bahwa anak angkat tetap harus diposisikan sebagai anak angkat, tak bisa dirubah menjadi anak kandung. Meski wala’ dalam keluarga, tapi Al-Qur’an memberikan kesamaan pandangan bahwa wala’ pada dasarnya bersifat tunggal baik dalam masalah ideologi maupun keluarga. Wala’ tak bisa dibagi, berbeda dengan cinta. Satu rongga dada hanya bisa diisi satu ikatan wala’, mustahil untuk diisi dengan dua ikatan wala’ sekaligus.

Karena itu, siapapun yang memenunjukkan wala’ terhadap kaum kafir, baik wala’ batin maupun wala’ lahir atau kombinasi keduanya, maka wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal. Pembatalan wala’ ini diberikan contohnya oleh ayat di bawah ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ٥١ ( الماۤئدة/5: 51)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memberikan wala’ kepada orang Yahudi dan Nasrani, sebab sebagian mereka terikat wala’ dengan sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang memberikan wala’ kepada mereka, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ma’idah/5:51)

Ayat ini menjelaskan, jika mukmin memberikan wala’ kepada orang Yahudi atau Nasrani, maka Allah akan golongkan ia bersama Yahudi atau Nasrani. Mengapa demikian? Sebab wal’a bersifat tunggal, tak bisa dibagi. Ketika orang beriman memberikan wala’ kepada kafir, saat itu juga wala’nya kepada mukmin dinyatakan batal. Dan wala’ terhadap mukmin satu paket dengan wala’ kepada Allah dan Rasul-Nya, karenanya jika dinyatakan batal, maka batal terhadap semuanya.

Lalu statusnya apa jika seorang mukmin wala’nya kepada Allah, Rasul-Nya dan orang beriman dinyatakan batal? Ayat berikutnya memberi penjelasan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٥٤ ( الماۤئدة/5: 54)

Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum(pengganti) yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Ma’idah/5:54)

Ayat ini menjelaskan, jika ada mukmin yang murtad maka Allah akan datangkan orang lain yang akan menggantikan posisinya. Tentu saja dengan karekter yang bertolak belakang. Tidak mungkin Allah datangkan pengganti dengan karakter yang sama. Sebab didatangkannya sosok pengganti adalah dalam rangka mengoreksi kesalahan orang sebelumnya. Jika karekaternya sama, percuma diganti.

Sebagai contoh, seorang suami menceraikan istrinya karena sebuah pelanggaran. Tentu ketika mencari istri lagi sebagai pengganti, pasti mencari yang mengoreksi sebelumnya. Jika sebelumnya boros, pasti mencari istri baru yang pandai mengatur keuangan. Jika sebelumnya selingkuh, pasti mencari istriu baru yang setia. Begitulah sunnatullah kehidupan.

Ayat tersebut tidak menyebutkan apa kesalahan si mukmin sehingga dianggap murtad oleh Allah. Tapi hal itu bisa disimpulkan dari sosok pengganti yang Allah datangkan. Mari kita analisa ciri-ciri sosok pengganti:

Pertama, Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah. Bukankah timbal balik cinta merupakan akar wala’?

Kedua, bersikap lemah lembut atau penyayang kepada mukmin dan tegas kepada kafir. Bukankah ini refleksi lahir dari wala’ yang ada di hatinya?

Ketiga, berjihad di jalan Allah yang maksudnya adalah berperang di jalan Allah. Bukanlah jihad penuh resiko, baik harta dan nyawa. Ketika seseorang sukarela berangkat jihad, bukanlah itu bermakna puncak pengorbanan kepada Allah? Dan itu artinya cerminan wala’ yang ada di hatinya?

Keempat, tidak takut celaan orang yang mencela demi sang Kekasih yaitu Allah SWT. Bukankah ini mental yang lahir dari wala’ yang ada dalam hati?

Jadi ayat tersebut secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa siapapun mukmin yang mencintai kafir dan orang kafir mencintai mereka (kebalikan dari dicintai dan mencintai Allah), hatinya lebih condong kepada kafir dan galak kepada mukmin, enggan berkorban jiwa raga demi membela Allah, dan serba takut mendapat cibiran di jalan Allah, maka dianggap murtad oleh Allah. Sebab sikap-sikap tersebut menunjukkan bahwa wala’nya bukan untuk Allah tapi untuk musuh Allah.

Mukmin yang punya karakter pengkhianat tersebut disingkirkan oleh Allah, tidak lagi diakui sebagai loyalis Allah. Dalam dunia partai, dipecat oleh partai karena terbukti main mata dengan partai lain. Meski yang bersangkutan masih pakai atribut partai, tapi partai sudah berlepas diri darinya.

Jadi betapa seriusnya wala’ ganda. Siapapun yang punya wala’ ganda; satu kaki bersama mukmin dan kaki yang lain bersama kafir, maka Allah akan batalkan wala’nya kepada mukmin dan yang diakui hanya wala’ kepada kafir. Sebab Allah itu idealis, tak mau diduakan atau dikhianati. Allah tidak bisa menerima orang yang bermain-main dalam masalah loyalitas.

Konsistensi Al-Qur’an dalam memandang wala’ sebagai kesetiaan tunggal bisa dilihat di bawah ini:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ࣖ ٢٥٧ ( البقرة/2: 257)

Allah adalah wali (ikatan wala’) orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang kafir, wali-wali (ikatan wala’) mereka adalah taghut. Mereka (taghut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah/2:257)

Ayat ini menjelaskan bahwa garis loyalitas mukmin adalah Allah. Sementara garis loyalitas kafir adalah Thaghut dengan beragam versinya, seperti berhala, dewa dan sebagainya. Garis loyalitas itu tunggal, tak bisa ganda apalagi lebih.

Suporter Persija saja punya semboyan loyalitas tanpa batas terhadap klubnya. Loyalitas tunggal. Jika terhadap Persija orang bisa memahami, tentu ketika Allah meminta loyalitas tunggal lebih harus bisa dipahami. Sebab Allah adalah Rabbul Alamin, Pencipta jagat raya. Sudah sepantasnya Allah meminta itu. Dan sudah wajar jika Allah menganggap murtad siapapun yang punya loyalitas ganda.

Tauhid Cinta dan Tauhid Wala’

Mentauhidkan Allah dalam bab cinta adalah mencintai Allah dengan tanpa memperbandingkan cinta itu dengan selain Allah. Tapi bukan berarti tidak boleh mencintai yang lain. Kita masih boleh mencintai selain Allah dalam porsi yang secukupnya, seperti cinta terhadap wanita dan parfum. Sementara memberikan porsi cinta kepada musuh atau tandingan Allah sama sekali dilarang, seperti berhala dan semacamnya.

Adapun tauhid dalam bab wala’ adalah memberikan kesetiaan dan loyalitas tunggal hanya kepada Allah dan turunannya yaitu Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kita dilarang memberikan wala’ kepada selain Allah apalagi musuh Allah, sebab hal itu bermakna membatalkan wala’ kepada Allah. Pada akhirnya yang bersangkutan akan diberi status murtad oleh Allah.

Mentauhidkan Allah bukan hanya menganggap Allah tunggal, one and anly secara jumlah. Tapi juga menjadikan Allah sebagai one and only dalam masalah loyalitas. Mari kita jaga wala’ kita. Jangan sampai kita menyekutukan Allah dalam hal wala’ jika tak ingin ‘dipecat’ oleh Allah.

والله أعلم بالصواب

Sumber : https://www.arrahmah.id/perbedaan-cinta-dan-wala-dalam-islam

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Syekh Abdur Rasyid Shufi: Al-Qur’an, Investasi Terbesar untuk Anak yang Mengantarkan ke Surga!

Dalam kehidupan ini, banyak orang tua berlomba-lomba memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Sekolah terbaik, les tambahan, hingga berbagai kursus demi masa depan yang cerah. Namun, Syekh Abdur Rasyid Shufi** mengingatkan bahwa ada satu investasi yang jauh lebih berharga dan berdampak kekal: mendidik anak dengan Al-Qur’an.

Dalam sebuah kajian Ramadan, beliau menegaskan bahwa mengajarkan anak Al-Qur’an sejak dini bukan sekadar memberikan ilmu, tetapi juga membangun pondasi kehidupan yang kokoh, baik di dunia maupun di akhirat.

Mengapa Al-Qur’an adalah Investasi Terbesar?

Menurut Syekh Shufi, banyak orang tua fokus pada pendidikan duniawi tanpa menyadari bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang membawa keberkahan dalam segala aspek kehidupan. Anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an tidak hanya lebih berakhlak, tetapi juga cenderung lebih cerdas dan sukses dalam bidang lain.

“Anak yang menghafal Al-Qur’an biasanya lebih unggul dalam pelajaran lainnya, karena mereka terbiasa dengan konsentrasi, disiplin, dan daya ingat yang kuat,” ujar beliau.

Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah satu-satunya investasi yang terus mengalirkan pahala hingga setelah kematian. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Seorang anak yang dibekali dengan Al-Qur’an akan terus mengirimkan pahala bagi orang tuanya, bahkan setelah mereka tiada.

Pola Asuh yang Salah, Penyebab Anak Menjauhi Al-Qur’an

Sayangnya, banyak anak yang justru menjauhi Al-Qur’an karena pola asuh yang kurang tepat. Syekh Shufi menyoroti kesalahan dalam mengajarkan Al-Qur’an dengan cara yang keras dan penuh paksaan.

“Jangan pernah memaksa anak belajar Al-Qur’an dengan cara yang kasar, karena itu hanya akan membuat mereka semakin menjauh,” tegasnya.

Islam adalah agama yang penuh kasih sayang, dan begitu pula dalam mengajarkan Al-Qur’an. Daripada memaksa dan menghukum, orang tua seharusnya membuat anak mencintai Al-Qur’an dengan metode yang menyenangkan, seperti melalui kisah-kisah inspiratif, permainan, atau mengikuti kompetisi hafalan.

Al-Qur’an: Sumber Ketenangan dan Kekuatan Hidup

Syekh Shufi juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah sumber ketenangan hati dan kekuatan dalam menghadapi ujian hidup. Ia mencontohkan bagaimana anak-anak di Gaza tetap tegar menghadapi peperangan karena mereka dekat dengan Al-Qur’an.

“Lihatlah anak-anak Gaza, mereka begitu kuat meskipun hidup dalam penderitaan. Rahasianya? Al-Qur’an ada di hati mereka,” ungkapnya.

Kita semua pasti menghadapi ujian dalam hidup, baik dalam bentuk kesulitan ekonomi, kesehatan, atau masalah keluarga. Namun, orang yang dekat dengan Al-Qur’an akan selalu memiliki ketenangan dan jalan keluar dari setiap masalah.

Kesimpulan: Jangan Sampai Menyesal!

Di akhir ceramahnya, Syekh Shufi mengingatkan agar jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena tidak mengajarkan anak-anak kita Al-Qur’an sejak dini.

“Jadikanlah Al-Qur’an sebagai bagian dari hidup kita dan anak-anak kita. Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membacanya, merenungkannya, dan mengamalkannya.”

Maka, jika ingin anak-anak sukses di dunia dan akhirat, mulailah dari sekarang. Tanamkan cinta Al-Qur’an dalam hati mereka, dan lihat bagaimana hidup mereka dipenuhi keberkahan.

** Syekh Abdur Rasyid Shufi adalah seorang qāriʾ asal Somalia yang ahli dalam sepuluh qirā’āt Al-Qur’an. Lahir di Mogadishu pada 1962, beliau menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar dan pernah menjadi mufti di Somalia. Sejak 1991, ia menetap di Qatar dan aktif mengajarkan Al-Qur’an, mendirikan pusat pembelajaran, serta membimbing banyak murid. Bacaan Al-Qur’annya yang merdu dikenal luas di dunia Islam.

Sumber : https://www.arrahmah.id/syekh-abdur-rasyid-shufi-al-quran-investasi-terbesar-untuk-anak-yang-mengantarkan-ke-surga