Jakarta, CNN Indonesia — Memiliki anak dengan kecerdasan emosional atau EQ yang baik tentu menjadi harapan banyak orang tua. Soalnya, kesuksesan anak di masa depan tidak hanya ditentukan oleh IQ, tetapi juga oleh EQ.
EQ membantu anak memahami emosi, berempati, mengelola stres, dan menyelesaikan konflik dengan lebih sehat. Namun untuk meningkatkan EQ anak, penting bagi orang tua untuk menjadi role model bagi anak.
Sayangnya, ada sejumlah kebiasaan orang tua yang merusak EQ anak tanpa disadari. Ini dia beberapa di antaranya:
1. Terlalu sering menghindarkan anak dari kegagalan
Sebagai orang tua, wajar jika ingin melindungi anak dari kesulitan. Namun, terlalu sering turun tangan untuk mencegah anak gagal justru membuat mereka tidak belajar menghadapi tantangan.
Menurut CNBC Make It, anak perlu merasakan kegagalan sebagai bagian dari proses tumbuh kembang. Dari kegagalan, mereka belajar bangkit, mencoba lagi, dan membangun ketangguhan emosional.
2. Meremehkan perasaan anak
Kalimat seperti “jangan lebay” atau “itu bukan masalah besar” sering terdengar sepele, tetapi dampaknya cukup dalam. Saat perasaan anak diremehkan, mereka belajar emosinya tidak penting.
Akibatnya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengekspresikan perasaan dengan sehat. Orang tua perlu memvalidasi emosi anak, lalu bantu dengan mencari solusi bersama.
3. Menuntut kesempurnaan
Mendorong anak untuk berprestasi memang baik, tetapi menuntut kesempurnaan secara terus-menerus bisa menjadi beban psikologis.
Kebiasaan orang tua yang satu ini dapat merusak EQ anak. Ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membuat anak takut salah, mudah cemas, dan kehilangan rasa percaya diri.
4. Mengancam akan meninggalkan anak
Saat anak tantrum di tempat umum, orang tua mungkin tergoda mengucapkan ancaman seperti, “Kalau kamu tidak ikut, Ayah/Ibu tinggal.”
“Mengancam anak bisa sangat menakutkan karena anak-anak mengandalkan orang dewasa untuk menjaga keselamatan mereka,” kata pakar perkembangan anak, Tovah Klein, seperti dilansir Business Insider.
Jika rasa aman itu terganggu, anak bisa menjadi cemas dan takut ditinggalkan. Disiplin tetap penting, tetapi gunakan cara yang tegas tanpa menakut-nakuti.
5. Selalu berusaha membuat anak bahagia
Ingin anak bahagia adalah hal yang sangat wajar. Namun, berusaha membuat anak senang sepanjang waktu justru tidak realistis. Anak juga perlu belajar menghadapi rasa kecewa, kesal, dan sedih.
“Hal itu tidak memberi anak kesempatan untuk belajar mengatasi perasaan negatif. Ketika anak-anak mengalami stres ringan, mereka belajar mengatasi rintangan. Hal itu membantu membangun resiliensi,” ujar Klein.
6. Pengabaian emosional
Pengabaian emosional terjadi saat orang tua kurang memberikan perhatian, validasi, dan dukungan emosional pada anak. Kondisi ini bisa membuat anak merasa tidak dicintai, tidak berharga, dan kesepian.
Mengutip Healtians, dalam jangka panjang, pengabaian ini dapat memicu rendahnya harga diri, kecemasan, hingga depresi.
7. Terlalu mengontrol atau micromanaging
Orang tua yang terlalu mengatur setiap langkah anak dapat membuat mereka kehilangan rasa mandiri. Sikap terlalu mengontrol ini sering membuat anak merasa tidak dipercaya, mudah tertekan, dan takut mengambil keputusan.
Padahal, EQ berkembang saat anak diberi ruang untuk berpikir, memilih, dan belajar dari konsekuensi. Jika semua hal diatur orang tua, anak akan kesulitan mengenali kemampuan dirinya sendiri.
Membesarkan anak dengan EQ tinggi membutuhkan kesabaran, empati, dan komunikasi yang sehat. Hindari kebiasaan orang tua yang dapat merusak EQ anak seperti yang disebutkan di atas.




