ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen

ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen

KOMPAS.com – Guru Besar ke-254 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Arip Dwiyantoro mengembangkan teknologi energi surya terintegrasi (integrated solar cell) untuk meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Hasil penelitian Bambang menunjukkan, konfigurasi teknologi yang dikembangkan mampu meningkatkan daya listrik hingga lebih dari 750 persen dibandingkan model standar.

Menurut Bambang, temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja PLTS tidak selalu harus dilakukan dengan memperbesar ukuran sistem. Efisiensi juga dapat ditingkatkan melalui rekayasa desain dan integrasi sejumlah teknologi.

“Pendekatan ini membuka peluang penerapan pembangkit listrik tenaga surya yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan kondisi wilayah Indonesia,” ujar Bambang, dilansir dari laman resmi ITS, Kamis (6/8/2026).

Salah satu teknologi yang dikembangkan Bambang adalah Solar Chimney Power Plant (SCPP). Sistem ini memanfaatkan panas matahari untuk menghasilkan aliran udara yang kemudian digunakan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Bambang mengoptimalkan desain absorber dan geometri cerobong melalui pendekatan eksperimen serta simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Optimalisasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan performa sistem dalam mengonversi energi matahari menjadi listrik.

Manfaatkan limbah untuk pendingin panel

Selain mengembangkan sistem solar chimney, Bambang merancang teknologi pendingin pasif untuk panel surya menggunakan serat kelapa sawit dan ampas tebu.

Pemanfaatan limbah biomassa lokal tersebut ditujukan untuk menjaga temperatur panel tetap optimal tanpa membutuhkan tambahan energi listrik.

“Ini sekaligus meningkatkan nilai guna limbah pertanian melalui konsep ekonomi sirkular,” kata Bambang yang merupakan alumnus doktoral National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Bambang juga mengembangkan teknologi solar tracking untuk PLTS terapung serta sistem PLTS hibrida berbasis Energy Management System (EMS).

Berbagai inovasi tersebut kemudian diintegrasikan dalam konsep Integrated Sustainable Solar Energy System, yakni sistem yang menggabungkan peningkatan efisiensi panel surya, penyimpanan energi, dan pengelolaan distribusi daya secara berkelanjutan.

Ke depan, Bambang berencana mengembangkan teknologi Solar Chimney melalui integrasi thermal energy storage, kecerdasan buatan (AI), serta desain dalam skala yang lebih besar.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi konversi energi sekaligus mendukung sistem energi yang lebih bersih dan tangguh.

“Pengembangan energi terbarukan tidak sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi juga menjadi investasi bagi masa depan bangsa,” tutur dosen Departemen Teknik Mesin ITS tersebut.

Bambang menyampaikan berbagai inovasi tersebut dalam orasi ilmiah bertajuk “Optimalisasi Teknologi Panel Surya dan Solar Chimney untuk Mendukung Kemandirian Energi”.

Menurut dia, pengembangan teknologi energi surya menjadi penting bagi Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tuntutan transisi menuju energi bersih.

PLTS Indonesia masih tertinggal

Di sisi lain, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi pertumbuhan kapasitas.

Analis Sistem Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan Institute for Essential Services Reform (IESR), Alvin Putra Sisdwinugraha, mengatakan pemanfaatan PLTS berkembang pesat secara global, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Namun, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

Menurut Alvin, semakin efisiennya modul surya dan semakin rendahnya biaya produksi, terutama produk dari China, menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan PLTS di berbagai negara.

Di Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan Malaysia juga telah lebih dahulu mendorong pengembangan PLTS melalui kebijakan feed-in tariff (FiT) sebelum 2020.

Meskipun kebijakan FiT tersebut kini telah dihentikan, kapasitas PLTS di ketiga negara tersebut terus bertambah. Kapasitas PLTS atap di masing-masing negara bahkan telah mencapai lebih dari 1 gigawatt (GW).

Sementara itu, pertumbuhan PLTS di Indonesia dinilai masih relatif lambat.

“PLTS atap memang tumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pendorong utamanya adalah sektor industri dan komersial yang menerapkan standar hijau,” ujar Alvin dalam webinar, Selasa (2/9/2025).

Sumber : https://lestari.kompas.com/read/2026/08/08/105249986/its-kembangkan-teknologi-plts-terintegrasi-efisiensi-daya-bisa-naik-750