Selangor, negara bagian dengan perekonomian terbesar di Malaysia, membuka peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas pasar industri halal ke tingkat regional.
Melalui ajang Selangor International Business Summit (SIBS)@ASEAN di Bandung, pemerintah Selangor menawarkan diri sebagai pintu masuk strategis bagi produk dan investasi Indonesia menuju Malaysia sekaligus pasar ASEAN yang terus berkembang.
Di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk halal dunia, langkah Selangor dinilai bukan sekadar promosi investasi, melainkan strategi membangun ekosistem industri halal lintas negara.
Bagi Indonesia yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dan tengah mengembangkan ekonomi syariah, kerja sama ini membuka peluang memperkuat rantai pasok halal regional, mulai dari produksi, logistik, teknologi, hingga distribusi ke pasar internasional.
Menteri Besar Selangor, Malaysia, YAB Dato’ Seri Amirudin bin Shari menegaskan komitmen tersebut saat membuka rangkaian kegiatan SIBS@ASEAN.
“Pesan kami kepada pelaku usaha Indonesia sangat sederhana. Selangor siap menjadi pintu masuk Anda ke Malaysia dan pasar ASEAN,” kata Amirudin pada hari pertama SIBS@ASEAN di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Pasar Halal ASEAN
Ajakan Selangor hadir ketika perdagangan bilateral Indonesia-Malaysia menunjukkan tren yang semakin menguat. Pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai 26,51 miliar dolar Amerika Serikat.
Indonesia pun menempati posisi sebagai mitra dagang terbesar kesembilan Malaysia secara global sekaligus mitra dagang terbesar ketiga di kawasan ASEAN.
Momentum positif itu berlanjut sepanjang Januari hingga Mei 2026. Volume perdagangan bilateral meningkat 2,6 persen menjadi 47,62 miliar ringgit Malaysia. Dalam periode yang sama, ekspor Malaysia ke Indonesia naik 8,8 persen menjadi 22,63 miliar ringgit Malaysia.
“Angka ini menunjukkan bahwa hubungan komersial kedua negara semakin mendalam. Dalam ekonomi hari ini, daya saing tidak lagi tentang bergerak sendirian. Daya saing sejati adalah tentang tumbuh bersama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan arah kerja sama ekonomi ASEAN.
Jika sebelumnya hubungan dagang lebih banyak bertumpu pada ekspor dan impor, kini kolaborasi diarahkan pada pembentukan rantai nilai regional yang memungkinkan pelaku usaha kedua negara tumbuh bersama dalam menghadapi persaingan global.
Ekosistem Halal
Selangor menawarkan lebih dari sekadar lokasi investasi. Wilayah ini telah berkembang sebagai pusat industri dan logistik Malaysia dengan dukungan infrastruktur bertaraf internasional, kemampuan advanced manufacturing, jaringan distribusi yang efisien, serta tenaga kerja terampil.
Bagi pelaku usaha Indonesia, khususnya sektor halal, ekosistem tersebut dapat menjadi jalur strategis untuk memperluas akses pasar ASEAN tanpa harus membangun jaringan distribusi secara mandiri.
Sejumlah sektor yang diprioritaskan dalam kerja sama mencakup industri halal, energi terbarukan, manufaktur tingkat lanjut, logistik, ekonomi digital, pelayanan kesehatan, dirgantara (aerospace), pendidikan, kota pintar (smart city), hingga ketahanan pangan.
Melalui platform SIBS, pelaku usaha Indonesia didorong menjajaki pembentukan usaha patungan (joint venture), alih teknologi, kemitraan manufaktur, inovasi industri, serta penguatan rantai pasok regional bersama investor dan perusahaan multinasional.
Investasi Melonjak
Kepercayaan investor terhadap Selangor tercermin dari capaian investasinya sepanjang 2025. Di bawah pengelolaan Menteri Besar Selangor (Incorporated) atau MBI Selangor, wilayah ini berhasil membukukan investasi yang disetujui sebesar 83,9 miliar ringgit Malaysia, melampaui target awal sebesar 65 miliar ringgit.
Dari total tersebut, investasi domestik mencapai 48,9 miliar ringgit atau sekitar 58,3 persen, sedangkan investasi asing menyumbang 35 miliar ringgit Malaysia. Realisasi investasi tersebut diklaim menciptakan lebih dari 61 ribu lapangan kerja baru.
Lonjakan tersebut turut mengantarkan Malaysia mencatat rekor investasi nasional sebesar 426,7 miliar ringgit sepanjang 2025.
MBI Selangor juga menjalankan agenda transformasi “THRIVE28” yang berfokus pada penguatan tata kelola, keberlanjutan finansial, digitalisasi, keunggulan operasional, serta optimalisasi portofolio bisnis guna mempercepat layanan kepada investor.
Bangun Kepercayaan
Amirudin menegaskan lanskap investasi global telah berubah. Investor kini tidak lagi hanya mempertimbangkan besarnya insentif yang ditawarkan suatu wilayah, tetapi juga kepastian regulasi, daya tahan ekonomi, dan kecepatan memasuki pasar.
“Selangor menawarkan ketiganya. Investasi yang sukses tidak dibangun melalui insentif semata. Ia dibangun melalui kepercayaan, kerja sama, dan pelaksanaan yang efektif,” kata Amirudin menambahkan.
Bagi Indonesia, terutama pelaku industri halal, tawaran Selangor membuka peluang strategis yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan ekspor.
Kolaborasi itu dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rantai pasok halal ASEAN yang lebih terintegrasi, memperkuat daya saing produk halal Indonesia, sekaligus memperluas akses menuju pasar global yang terus tumbuh.
Sumber : https://mozaik.inilah.com/news/selangor-siapkan-jalur-emas-ekspansi-bisnis-halal-indonesia-ke-asean




