Senja Kala Toko Buku UI: Dulu Diburu Mahasiswa, Kini Menanti Pembeli di Gang Sepi

Senja Kala Toko Buku UI: Dulu Diburu Mahasiswa, Kini Menanti Pembeli di Gang Sepi

DEPOK, KOMPAS.com – Gang kecil selepas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Stasiun Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, tampak lengang siang itu.

Deretan toko yang dulu ramai kini banyak yang tutup. Hanya beberapa toko makanan, minuman, dan aksesori yang masih bertahan menjajakan dagangannya.

Di tengah deretan toko yang semakin sepi, dua toko buku masih berdiri.

Tumpukan buku memenuhi bagian dalam toko hingga teras. Sebagian buku tampak telah lama tersimpan, menunggu pembeli yang datang. Salah satunya adalah Toko Buku Jenny.

Pemilik Toko Buku Jenny, Rahidin Manullang (59), masih bertahan di tengah kondisi tersebut. Dari tokonya, ia menyaksikan satu per satu toko buku di sekitar UI tutup.

“Di sini, dari sini ada 10 dulu. Sekarang tinggal dua. Tutup semua baru-baru ini,” ujar Wahidin saat ditemui Kompas.com di tokonya, Depok, Kamis (13/8/2026).

Sebanyak 10 toko buku yang dulu berjejer di kawasan tersebut menjadi bagian dari ramainya aktivitas mahasiswa.

Buku kuliah, buku referensi, hingga buku-buku yang menjadi kebutuhan mahasiswa mudah ditemukan di sana.

Kini, pemandangan itu berubah. Toko-toko yang sebelumnya menjadi tempat mahasiswa mencari buku sudah banyak yang tutup.

Sebagian pedagang, kata Rahidin, memilih tidak lagi menyewa tempat dan membawa buku-buku mereka ke rumah untuk dijual secara daring. Rahidin pun sebenarnya berencana melakukan hal serupa akhir tahun ini.

Dari Senen hingga Bertahan di Sekitar UI

Rahidin bukan orang baru dalam bisnis buku. Sejak muda, ia sudah berjualan buku.

Sebelum membuka Toko Buku Jenny di sekitar kampus UI sekitar lima tahun lalu, ia lebih dulu berjualan di kawasan Senen, Jakarta Pusat dan Stasiun Pondok Cina, Depok.

Kala itu, berjualan buku masih menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan.

Ketika pindah ke kawasan UI, kondisi toko juga masih cukup baik. Mahasiswa menjadi pembeli utama, terutama ketika memasuki tahun ajaran baru.

Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik perubahan. Ketika perkuliahan beralih ke sistem pembelajaran daring, mahasiswa tidak lagi datang ke kampus seperti sebelumnya. Kebutuhan membeli buku fisik pun ikut menurun.

“Di sini sebelum Covid bagus, mahasiswa masih banyak yang beli buku. Setelah Covid itu karena belajar di rumah, online, jadi langsung turun,” kata Rahidin.

Penurunan tersebut dirasakan sangat tajam. Sebelum pandemi, omzet toko Rahidin bisa mencapai sekitar Rp 2 juta dalam sehari.

Ketika memasuki tahun ajaran baru, pendapatannya bahkan bisa lebih besar karena mahasiswa biasanya membeli beberapa buku sekaligus.

Satu mahasiswa bisa membeli dua hingga lima buku dalam sekali datang. Buku untuk berbagai jurusan, mulai dari hukum, ilmu sosial dan politik, sastra hingga matematika dan ilmu pengetahuan alam, dulu masih banyak dicari.

Namun kini, situasinya jauh berbeda. Untuk mendapatkan omzet Rp 1 juta dalam sebulan saja, Rahidin mengaku tidak selalu berjalan mulus. “Dulu satu hari bisa Rp 2 juta. Sekarang kan enggak nentu sih, kalau terjual satu buku sehari saja sudah syukur kalau musim-musim begini,” ucapnya.

Hanya Ramai Saat Tahun Ajaran Baru

Penjualan buku di toko Rahidin kini sangat bergantung pada musim. Momen paling ramai biasanya terjadi ketika tahun ajaran baru dimulai. Itu pun tidak berlangsung sepanjang tahun.

Mahasiswa baru biasanya masih membeli buku-buku dasar yang dianggap penting untuk perkuliahan. Setelah masa tersebut berlalu, jumlah pembeli kembali turun.

“Kalau tahun ajaran baru itu biasa buku-buku dasar, kayak hukum, buku-buku wajibnya harus beli dulu dasarnya semua,” kata dia.

Untuk semester berikutnya, penjualan biasanya semakin menurun. Di sekitar UI, buku hukum menjadi salah satu jenis buku yang masih dicari.

Lokasi toko yang berdekatan dengan fakultas hukum membuat mahasiswa dari jurusan tersebut masih datang untuk mencari buku.

Namun, jumlahnya tidak lagi seperti dulu.

Perubahan kebutuhan perkuliahan juga ikut berpengaruh. Ia menyebut sejumlah buku dasar yang dahulu hampir pasti dibeli mahasiswa kini sudah jarang dicari.

Buku-buku seperti Pancasila, kewarganegaraan, hingga mata kuliah dasar lainnya tidak lagi menjadi barang yang rutin dibeli mahasiswa seperti pada masa lalu.

“Kalau dulu mahasiswa masuk semester satu, namanya PKN harus satu seorang, Pancasila satu seorang. Sekarang enggak ada lagi,” tuturnya.

Lima Tahun Tak Lagi Berani Menambah Stok

Sepinya pembeli membuat Wahidin harus berhati-hati dalam mengelola stok. Ia tidak lagi berani berbelanja buku dalam jumlah banyak kepada penerbit.

Buku-buku yang berada di tokonya sebagian besar merupakan stok lama yang sudah dimiliki sejak beberapa tahun lalu.

“Kalau bikin stok enggak berani lagi belanja,” katanya.

Sudah sekitar lima tahun Rahidin tidak banyak menambah stok buku. Kondisi tersebut berbeda dengan masa ketika toko masih ramai.

Dulu, ia bisa memesan buku dari penerbit dan stok tersebut kemudian dijual kepada mahasiswa. Kini, membeli stok baru justru berisiko membuat modal tertahan.

Perubahan itu juga terasa pada buku-buku hukum. Buku hukum memiliki pasar tersendiri karena mahasiswa masih membutuhkannya.

Namun, perubahan undang-undang membuat buku lama tidak selalu bisa dijual. Materi yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan harus mengikuti aturan terbaru. Buku yang memuat ketentuan lama akhirnya semakin sulit dicari pembelinya.

“Yang lama enggak laku. Harus diselesaikan. Paling pengantar-pengantarnya enggak berubah. Kalau masalah undang-undang kan berubah,” ucapnya.

Meski begitu, buku lama tetap memiliki pembeli. Menurutnya, mahasiswa terkadang masih mencari buku lama untuk memahami dasar suatu materi.

Oleh karena itu, ia tidak serta-merta membuang seluruh stok yang tersisa. Buku-buku tersebut tetap disimpan sambil menunggu seseorang datang mencarinya.

Ketika Buku Mulai Ditinggalkan

“Apalagi teknologi baru sekarang AI itu sudah lebih canggih lagi,” ujarnya.

Tak hanya itu, menurut dia kebiasaan membaca generasi muda saat ini juga ikut berubah. Rahidin melihat mahasiswa sekarang tidak lagi sebanyak dulu membeli buku untuk menunjang perkuliahan lantaran sebagian materi bisa diperoleh dari internet atau sumber digital lainnya.

Buku-buku komunikasi, misalnya, yang dahulu cukup banyak dicari kini tidak lagi menjadi andalan penjualan.

“Anak komunikasi dulu paling banyak bukunya. Sekarang enggak jalan itu komunikasi semua. Pengantar komunikasi, komunikasi antarbudaya, enggak pernah dicari lagi,” katanya.

Bertahan Lewat Toko Online

Di tengah penjualan toko fisik yang terus merosot, Rahidin akhirnya beralih mengandalkan penjualan daring.

Ia memiliki toko online bernama Catherine Book yang dipasarkan melalui sejumlah platform, termasuk Shopee dan TikTok Shop.

Ia mengaku pesanannya memang tidak langsung membanjir. Biasanya hanya ada satu atau dua pesanan dalam sehari. Pada kondisi paling ramai, pesanan bisa mencapai lima buku sehari.

Namun, bagi Rahidin, pesanan tersebut cukup berarti untuk membuatnya tetap bertahan.

“Lebih sering ada dari online. Ini kadang-kadang laku dalam satu minggu ada satu hari, dua,” kata dia.

Buku yang dijual secara daring bukan hanya berasal dari toko fisik. Sebagian besar stok justru berada di rumah Rahidin.

Toko yang berada di sekitar UI kini hanya menjadi salah satu tempat penyimpanan buku karena rumahnya tidak dapat menampung seluruh buku-buku dagangannya.

Ia bercerita, setiap pagi ia sendiri yang menyiapkan dan mengemas pesanan sebelum berangkat ke toko pada siang harinya.

Jika menggunakan jasa ekspedisi yang mengharuskan paket diantar, ia akan membawa paket tersebut ke agen. Sementara beberapa layanan lain memungkinkan paket dijemput oleh kurir.

Aktivitas tersebut menjadi rutinitas baru bagi Wahidin. Pagi hari, ia bisa menghabiskan waktu di rumah untuk merapikan pesanan daring. Setelah itu, ia datang ke toko sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB.

Ia menuturkan, Toko Buku Jenny biasanya buka hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Sebab, pada pagi dan malam hari tidak banyak orang datang.

Sewa Toko Tetap Berjalan

Masalahnya, toko fisik tetap membutuhkan biaya meskipun pembeli datang semakin jarang.

Rahidin harus membayar sewa sekitar Rp 1 juta setiap bulan.

Pada masa toko masih ramai, biaya tersebut tidak menjadi persoalan besar. Namun, ketika omzet merosot, biaya sewa menjadi beban tersendiri.

Rahidin bahkan mengaku saat ini ia tengah menunggak pembayaran hingga dua bulan.

“Kadang-kadang ketutup, kadang-kadang enggak,” ujarnya.

Ia masih mempertahankan toko karena tidak ingin begitu saja meninggalkan buku-buku yang tersisa.

Selain itu, rumahnya tidak cukup luas untuk menampung seluruh stok buku. Buku-buku yang tidak ditempatkan di toko disimpan di rumah dan sebagian diletakkan hingga ke teras. Yang penting, kata Rahidin, buku-buku tersebut tidak terkena air.

Namun, bertahan dengan kondisi seperti ini tentu tidak mudah. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, istrinya ikut mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pengemudi ojek daring dan mengantarkan pesanan makanan.

Menunggu Tahun Ajaran Baru

Karena penjualan sangat bergantung pada musim, Rahidin kini hanya bisa berharap pada tahun ajaran baru.

Saat mahasiswa baru mulai berdatangan, toko biasanya kembali mendapat pembeli.

Untuk satu bulan, pada periode tersebut, penjualan bisa mencapai sekitar 10 buku per hari.

Namun setelah masa tahun ajaran baru selesai, pembeli kembali sepi. Rahidin pun tidak tahu sampai kapan kondisi tersebut bisa dipertahankan.

Ia dan istrinya sudah mulai membicarakan kemungkinan menutup toko jika penjualan tidak juga membaik. Rencananya, jika hingga tahun ini kondisi masih sama, toko fisik akan ditutup.

Buku-buku yang masih layak jual akan dibawa ke rumah dan dipasarkan secara daring. Sementara buku yang benar-benar tidak laku akan dijual ke tempat loak.

“Kalau enggak dipilih lagi, yang kira-kira enggak laku kita buang, kita kiloin lagi. Jadi sampah,” tutur Rahidin.

Sumber : https://megapolitan.kompas.com/read/2026/08/14/14372631/senja-kala-toko-buku-ui-dulu-diburu-mahasiswa-kini-menanti-pembeli-di