Hindari “Cocokologi”, Berikut Lima Pilar Penting dalam Integrasi Islam dan Sains

Hindari “Cocokologi”, Berikut Lima Pilar Penting dalam Integrasi Islam dan Sains

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Muttaqin menilai Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah membuat lompatan penting dalam mengoperasionalkan integrasi Islam dan ilmu pengetahuan, khususnya melalui penyusunan panduan penelitian integratif.

Hal itu disampaikan Ahmad Muttaqin dalam Seminar dan Sosialisasi Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan yang diselenggarakan Center for Islamic Studies and Civilization (CISIC) UMY, Kamis (13/8). Menurutnya, panduan tersebut memiliki kesesuaian yang sangat kuat dengan berbagai regulasi dan pedoman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang telah diterbitkan Majelis Diktilitbang.

Ahmad menjelaskan, Muhammadiyah sebenarnya telah memiliki sejumlah pedoman terkait AIK, mulai dari Pedoman Pendidikan AIK yang diterbitkan pada 2012, Standar Mutu AIK dalam SPMI 4.0 tahun 2020, Panduan Implementasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa pada 2025, hingga panduan pengembangan kurikulum pendidikan AIK untuk jenjang S1, S2, S3, dan profesi.

“Kesimpulannya secara metodologis dan yuridis organisatoris, draf naskah panduan penelitian integratif UMY ini memiliki tingkat kesesuaian mencapai 90 sampai 95 persen,” ujarnya.

Menurut Ahmad, kesesuaian tersebut menunjukkan bahwa panduan penelitian integratif UMY memiliki alignment yang kuat dengan regulasi AIK tingkat pusat yang didistribusikan Majelis Diktilitbang. Namun, kekuatan panduan tersebut menurutnya terletak pada langkah UMY menerjemahkan prinsip integrasi ke dalam petunjuk teknis penelitian.

“UMY tidak hanya berhasil melakukan kepatuhan administratif, melainkan berhasil melakukan creative leap, lompatan yang kreatif berupa operasionalisasi teknis riset integratif yang selama ini memang di tingkat majelis belum ada,” katanya.

Ia menilai panduan UMY memiliki keunggulan karena disusun secara operatif dan relatif mudah dipahami oleh akademisi dari berbagai latar belakang. Pendekatan tersebut berbeda dengan sejumlah perguruan tinggi yang menggunakan metafora tertentu untuk menjelaskan konsep integrasi ilmu.

“Di UMY memang tidak pakai metafor, tapi langsung memberikan panduan to the point, operatif,” ujarnya.

Lima Pilar Integrasi Islam dan Ilmu Pengetahuan

Menurut Ahmad, terdapat lima pilar yang menjadi kekuatan utama panduan integrasi UMY. Pilar tersebut mencakup inklusivitas integrasi, peta operasional dan model penelitian, upaya menghindari pendekatan apologetik, sistem eskalasi yang bertahap, serta akar genealogi keilmuan Muhammadiyah yang bersumber dari produksi pengetahuan, aturan, dan fatwa Majelis Tarjih.

Salah satu hal yang dinilai penting adalah pengakuan bahwa penelitian integratif tidak selalu harus mencantumkan ayat Al-Qur’an secara eksplisit. Nilai Islam dapat menjadi titik berangkat penelitian ketika orientasi riset diarahkan pada kemaslahatan.

Ahmad mencontohkan penelitian mengenai material bangunan murah agar rumah masyarakat miskin menjadi lebih aman. Penelitian semacam itu, menurutnya, tetap dapat dipandang sebagai bentuk integrasi karena memiliki orientasi nilai yang jelas.

“Pengakuan akan nilai ini saya kira penting,” katanya.

Ia juga mengapresiasi keberadaan delapan model penelitian integratif yang ditawarkan UMY. Menurutnya, keberagaman model tersebut menunjukkan kematangan epistemologis karena karakter penelitian di bidang kedokteran, teknik, sosial-humaniora, dan bidang lainnya tidak dapat diperlakukan secara seragam.

Kekuatan lain yang disoroti Ahmad adalah upaya panduan tersebut menghindari apologetic dan justificationism, termasuk kecenderungan concordism atau mencocok-cocokkan temuan sains dengan teks agama.

“Kekuatan terbesar dari draf ini adalah kejujuran intelektualnya,” ujarnya.

Menurutnya, transparansi terhadap ketegangan yang belum terselesaikan antara sains dan teks keagamaan justru penting dalam menjaga integritas akademik. Dengan pendekatan tersebut, peneliti tidak dipaksa menemukan kesesuaian antara teori ilmiah dan teks suci.

“Jadi menghindari cocokologi,” tegasnya.

Meski demikian, Ahmad melihat sejumlah hal yang perlu diperkuat. Salah satunya adalah potensi ketegangan antara visi UMY sebagai Leading Entrepreneur University dengan orientasi Muhammadiyah terhadap kemaslahatan umat dan masyarakat.

Menurutnya, orientasi terhadap inovasi, komersialisasi, paten, dan industri perlu dijembatani dengan nilai keadilan sosial dan keberpihakan kepada masyarakat. Ia mengusulkan pengembangan konsep Islamic social entrepreneurship sebagai salah satu titik temu.

“Inovasi teknologi ditujukan untuk value creation yang model bisnisnya berorientasi pada penyelesaian masalah umat, bukan sekadar mengikuti kapitalisasi atau kapitalisme pasar,” katanya.

Tantangan lain adalah ketersediaan sumber daya manusia yang mampu memahami dua epistemologi sekaligus. Panduan integratif mensyaratkan proses penjaminan mutu lintas disiplin, sementara jumlah akademisi yang menguasai sekaligus metodologi sains dan studi Islam masih terbatas.

Karena itu, Ahmad mengusulkan program bootcamp dan sertifikasi bagi dosen lintas bidang. Dosen sains perlu mendapatkan pemahaman dasar mengenai usul fikih, sementara dosen agama perlu memahami metodologi penelitian ilmiah.

“Bisa menggunakan program bootcamp khusus untuk mensertifikasi dosen sains agar memahami usul fikih dasar dan dosen agama agar memahami metodologi sains,” ujarnya.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan pendekatan tafsir ilmi dalam penelitian. Menurutnya, temuan sains modern tidak boleh dipakai untuk memvalidasi Al-Qur’an secara mutlak karena teori ilmiah bersifat tentatif dan dapat berkembang.

Sains, menurut Ahmad, lebih tepat digunakan untuk memperluas pemahaman terhadap ayat-ayat kauniah melalui proses dialog.

“Tambahan klausulnya, tafsir ilmi ini tidak boleh digunakan untuk memvalidasi Al-Qur’an menggunakan sains, melainkan menggunakan sains untuk memperluas pemahaman atas ayat kauniah dengan kesadaran bahwa sains itu bersifat tentatif,” jelasnya.

Untuk pendekatan irfani yang bersifat personal dan pengalaman batin, ia mengusulkan penggunaan perangkat metodologis dari ilmu sosial seperti fenomenologi keagamaan dan etnografi living Qur’an serta living hadith. Dengan demikian, pengalaman batin tidak berhenti sebagai klaim personal peneliti, tetapi dapat diterjemahkan menjadi objek penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ahmad kemudian menilai panduan penelitian integratif UMY memiliki posisi yang cukup kuat dibandingkan sejumlah model integrasi ilmu di perguruan tinggi lain. Menurutnya, UMY memiliki tingkat operasionalisasi yang tinggi karena panduan tersebut telah diarahkan secara langsung pada praktik penelitian.

Ia bahkan mengusulkan istilah “gradual proporsional” untuk menggambarkan paradigma integrasi UMY yang dinilainya lebih realistis dalam menerapkan integrasi ilmu sesuai kebutuhan dan karakter disiplin.

“UMY kalau sejauh yang saya baca dari beberapa model integrasi keilmuan milik PTKIN tampaknya mungkin yang lebih rasional, lebih objektif dan lebih realistis dalam memetakan itu,” tuturnya.

Di akhir pemaparannya, Ahmad memberikan apresiasi terhadap UMY yang menurutnya telah berada di garis depan dalam mengembangkan panduan integrasi yang secara khusus mencakup penelitian.

“Kalau ini terbit, ini akan menjadi yang pertama di lingkungan PTMA yang memiliki khusus sampai ke riset,” katanya.

Ia menilai panduan tersebut berpotensi memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu. Integrasi yang dikembangkan UMY diharapkan dapat mendorong perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan yang lahir dari pengalaman, tradisi, dan praktik Muhammadiyah sendiri.

“Pilar kelima ini saya kira penting agar kemudian integrasi-interkoneksi itu betul-betul memunculkan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu,” pungkasnya.

Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/08/hindari-cocokologi-berikut-lima-pilar-penting-dalam-integrasi-islam-dan-sains/