Jangan BJE, Mentalitas Pemimpin di Tengah Ekonomi yang Sulit

Jangan BJE, Mentalitas Pemimpin di Tengah Ekonomi yang Sulit

Kediri – Setiap kali kondisi ekonomi memburuk, selalu ada alasan yang bisa dijadikan pembenaran. Nilai tukar mata uang naik turun, harga bahan baku semakin mahal, daya beli masyarakat menurun, konflik geopolitik memengaruhi pasar, hingga regulasi yang semakin kompleks. Semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Namun, menurut Pak Eggy, seorang pemimpin tidak boleh menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Justru di saat keadaan sulit, kualitas seorang pemimpin benar-benar diuji.

Ekonomi Sulit Adalah Fakta, Bukan Alasan

Tidak ada yang menyangkal bahwa dunia usaha saat ini menghadapi banyak tantangan. Fluktuasi kurs, kenaikan harga, perubahan kebijakan pemerintah, hingga persaingan yang semakin ketat menjadi bagian dari dinamika bisnis modern.

Dalam dunia konstruksi misalnya, proses perizinan kini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu. Jika dahulu masyarakat mengenal IMB, kini terdapat PBG, SLF, serta berbagai persyaratan administrasi lainnya. Bahkan untuk membangun sebuah hotel, dokumen yang harus dipersiapkan bisa mencapai puluhan berkas.

Semua itu memang membuat proses menjadi lebih panjang. Namun menurut Pak Eggy, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menyalahkan keadaan.

Jangan BJE (Blame, Justify, Excuse)

Salah satu pesan yang paling ditekankan oleh Pak Eggy adalah menghindari mentalitas BJE.

  • Blame — Menyalahkan orang lain atau keadaan.
  • Justify — Membenarkan kegagalan dengan berbagai alasan.
  • Excuse — Terlalu banyak mencari pembenaran sehingga tidak mengambil tindakan.

Ketiga hal tersebut sering kali menjadi penghambat terbesar dalam perkembangan bisnis. Saat seorang pemimpin terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, ia kehilangan waktu untuk mencari solusi.

Pemimpin Harus Memiliki Mental Pemenang

Pak Eggy mengingatkan bahwa seorang pengusaha harus memiliki mental pemenang dan pola pikir yang positif. Mental pemenang bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan mampu menghadapi setiap tantangan tanpa kehilangan fokus.

Orang dengan mental pemenang akan bertanya:

  • Apa yang masih bisa saya lakukan?
  • Bagaimana cara saya beradaptasi?
  • Apa yang harus saya perbaiki?

Sebaliknya, orang yang terjebak dalam BJE lebih sering bertanya:

  • Kenapa ekonomi sedang buruk?
  • Kenapa pemerintah membuat aturan seperti ini?
  • Kenapa pesaing saya lebih mudah berkembang?

Pertanyaan seperti itu tidak menghasilkan perubahan karena fokusnya berada pada sesuatu yang berada di luar kendali kita.

Evaluasi Boleh, Menyalahkan Jangan

Pesan lain yang tidak kalah penting adalah mengenai evaluasi. Menurut Pak Eggy, seorang pemimpin tetap harus melakukan evaluasi terhadap tim maupun perusahaan. Evaluasi merupakan bagian dari proses perbaikan.

Namun evaluasi berbeda dengan menyalahkan.

Evaluasi bertujuan menemukan akar masalah dan mencari solusi, sedangkan menyalahkan hanya mencari pihak yang harus bertanggung jawab tanpa menghasilkan perbaikan yang nyata.

Karena itu, sebelum menunjuk kesalahan orang lain, seorang pemimpin sebaiknya terlebih dahulu mengevaluasi dirinya sendiri. Apakah strategi yang digunakan sudah tepat? Apakah sistem yang dibangun sudah berjalan dengan baik? Apakah komunikasi kepada tim sudah jelas?

Ketika seorang pemimpin mau memulai evaluasi dari dirinya sendiri, budaya belajar dan bertumbuh akan lebih mudah tercipta di dalam organisasi.

Fokus Pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Banyak hal dalam bisnis yang tidak dapat kita kendalikan. Kita tidak bisa mengatur nilai tukar mata uang, menghentikan perang, menentukan kebijakan pemerintah, ataupun mengendalikan kondisi ekonomi global.

Yang dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita merespons semua perubahan tersebut.

  • Meningkatkan kualitas pelayanan.
  • Memperbaiki efisiensi operasional.
  • Mengembangkan kemampuan tim.
  • Mencari peluang baru.
  • Beradaptasi dengan perubahan.

Di situlah letak perbedaan antara pemimpin yang terus bertumbuh dengan pemimpin yang terjebak dalam alasan.

Penutup

Keadaan ekonomi mungkin tidak selalu berpihak kepada kita. Regulasi bisa berubah, biaya operasional dapat meningkat, dan tantangan bisnis akan terus bermunculan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan seorang pengusaha.

Namun seperti yang disampaikan oleh Pak Eggy, seorang pemimpin tidak boleh memiliki mental BJE. Jangan menyalahkan keadaan, jangan menyalahkan orang lain, dan jangan terus mencari alasan.

Bangun mental pemenang, miliki pola pikir yang positif, lakukan evaluasi secara objektif, lalu fokuslah pada tindakan yang benar-benar bisa kita lakukan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah bisnis lebih banyak ditentukan oleh kualitas kepemimpinan daripada kondisi yang sedang dihadapi.

sumber : https://www.instagram.com/p/DYy-OIFsTSj/